Pak Satpam, Marry Me...!!!

Pak Satpam, Marry Me...!!!
36 - Godaan Bumil


__ADS_3

Bulan sedang bersantai di atas ranjang sambil membaca manga romance, hingga sampai pada satu halaman yang membuat mata Bulan tidak berkedip dengan mulut terbuka. Kemudian ia terlihat mesem-mesem, sesekali ia melirik kearah suaminya yang duduk diatas sofa sedang menyelesaikan kerjaannya yang sempat tertunda saat di Hotel tadi karena kedatangannya.


Sebuah ide muncul di kepalanya, ia menyimpan komik nya di atas nakas. Dengan gaya menggoda ia berjalan kearah Alif yang masih fokus menatap layar didepannya.


“Mas!” panggil Bulan sembari memeluk suaminya dari belakang dengan kedua tangannya melingkar dileher Alif.


“Apa sayang?” jawab Alif pelan, satu tangannya terangkat mengusap lembut wajah chubby itu.


“Mau manja-manja,” Alif memejamkan matanya, saat satu tangan Bulan sudah bermain-main lembut di dadanya.


“Sayang...”


“Apa.” Bisik Bulan ditelinga Alif dengan suara menggoda, kemudian Bulan juga menggigit-gigit kecil daun telinga suaminya. Membuat Alif mengeram, menahan sesuatu yang bergejolak dalam dirinya.


“Mas selesaikan dulu kerjaannya sedikit lagi ya sayang,”


“Selesaikan aja, Bulan cuma meluk Mas. Ngga ganggu kerjaan Mas.” Jemari tangan istrinya semakin tidak terkondisikan.


Kamu ngga ganggu kerjaan, tapi kamu ganggu konsentrasi Mas sayang. Gini amat ya godaan Bumil. Kata hati Alif.


Alif semakin di buat frustasi, jari lentik istrinya semakin menyusuri hingga ke perut. “Sayang, jangan mancing!” Alif menahan tangan sang istri yang sudah memegang sesuatu yang sudah membuat Bulan kembung.


“Mancing apa, Mas? Disini ngga ada ikan,” Bulan menenggelamkan wajahnya diceruk leher Alif, sedikit menggigit dan menghisap.


“Kamu yang mulai, jangan minta ampun.” Alif akhirnya menyerah, ia menutup laptopnya meletakkan asal diatas sofa. Sudut bibir Bulan tertarik membentuk sebuah senyuman yang lebar, senyum penuh kemenangan. Dengan sekali hentakan, Bulan sudah berada diatas pangkuannya.


“Awwhh.. Mas!” Kaget Bulan, dengan gerakan cepat suaminya.

__ADS_1


“Kenapa, hm? Ayo kita lanjutkan,” Alif mengedip istrinya dengan tatapan mesum.


“Ayo, siapa takut!” tantang Bulan langsung menyambar bibir suaminya, Alif tersenyum tipis diantara ciuman mereka, ia tidak menyangka istrinya itu bisa seagresif seperti sekarang ini.


Bulan mengalungkan tangannya dileher sang suami, Alif pun tidak tinggal diam tangannya sudah masuk kedalam piyama milik sang istri. Menyentuh dua buah benda kenyal yang semakin besar.


Mereka saling berpagut, lidah keduanya saling berbelit hingga terdengar suara decapan. Sentuhan-sentuhan yang diberikan suaminya membuat Bulan mendesah disela ciuman mereka. Alif yang sudah di selimuti kabut gairah, mengangkat tubuh Bulan membawanya ke atas ranjang tanpa melepaskan ciuman mereka yang semakin panas dan menuntut untuk melakukan lebih.


Pasangan suami istri itu kembali menyatu, menyalurkan rasa cinta dan sayang satu sama lain. Suasana kamar panas membara, penuh de-sahan dan erangan cinta dari bibir dua insan yang sedang menapaki puncak Nirwana. Hingga akhirnya mereka kelelahan dan terlelap dengan tubuh yang masih polos hanya berselimutkan selembar bad cover.


*****


Hari ini jadwal Ibra ke Rumah Sakit untuk mengecek kondisi kakinya, Nura pagi-pagi sekali sudah datang kerumah Ibra untuk menyiapkan segala keperluan laki-laki yang sekarang berstatus sebagai kekasihnya.


“Ib, maaf ya. Aku bisanya cuma beliin kamu sarapan, kamu pasti bosankan makan makanan luar terus?” ucap Nura saat ia sedang menyiapkan sarapan mereka.


Kini mereka sudah duduk di meja makan menikmati sarapan yang dibawa oleh Nura, Nura tidak ada bedanya dengan Bulan kalau untuk urusan dapur mereka pasti mines.


“Tapi setidaknya kamu bisa masak, sedangkan aku sama sekali ngga bisa. Jangankan masak, bumbu dapur aja aku ngga tau.” Keluh Nura.


“Terus masalahnya dimana, hm?”


“Laki-laki itu, sukanya wanita yang bisa masak. Yang bisa manjain perut suaminya kelak kalau udah menikah!” Nura menunduk, wajahnya tampak murung.


Ibra tersenyum, “Tapi bagi aku ngga masalah mau pintar masak atau ngga. Kita bisa beli diluar, atau aku yang masak kalau kita nikah nanti.”


“Ki.. Kita?” Nura spontan mengangkat wajahnya, menatap bingung pada laki-laki di depannya itu.

__ADS_1


“Iya, kita. Apa kamu ngga mau menikah dengan aku, kamu malu karena kondisi aku udah ngga sempurna lagi.” Kini gantian raut wajah Ibra berubah mendung, Nura yang menyadari perubahan wajah laki-laki didepannya langsung berdiri dari duduknya.


Nura menarik kursi roda Ibra sedikit kebelakang kemudian ia berjongkok didepannya, meraih tangan Ibra lalu mengecup punggung dan telapak tangannya.


“Aku tidak pernah malu, aku malah bangga jika bisa menikah dengan laki-laki seperti kekasihku ini. Walaupun diberi cobaan sebesar ini, tapi dia masih mau berjuang untuk sembuh seperti dulu. Biar kata Dokter tidak ada harapan, tapi laki-laki didepan aku ini tidak menyerah dan aku akan jadi wanita yang mendampinginya sekarang maupun nanti.” Nura tersenyum, matanya memanas. “Aku mencintaimu.” Ucap Nura kemudian di iringi air mata.


“Jangan nangis,” Ibra menyeka air mata diwajah cantik itu.


“Aku mencintaimu... Aku mencintaimu...Ibra.” Nura menjatuhkan diri kedalam pelukan Ibra, ia menangis tersedu-sedu. Ibra membalas pelukan wanitanya dengan lembut tangannya mengusap-usap punggung Nura. Setelah merenung dan meyakinkan hatinya, kini Nura mantap mengikrarkan cintanya pada sang kekasih hati.


Ibra sangat bahagia, wanita yang dicintainya selama ini membalas perasaan cintanya. Ia semakin semangat untuk sembuh, Dokter bisa mengatakan apapun. Tapi keajaiban itu pasti ada, Ibra mengurai pelukan mereka, menyeka sisa air mata disudut mata Nura dengan Ibu jari tangannya.


“Udah nangisnya, liat tuh mata kamu udah kayak ikan koi.” Nura mengerucutkan bibirnya.


“Ini kenapa manyun-manyun? Kode?” tunjuk Ibra pada bibir Nura.


*****


Ternyata tidak hanya Ibra dan Nura yang mendatangi Rumah Sakit, Bulan dan Alif Pun mendatangi Rumah Sakit. Pagi tadi saat dalam perjalanan menuju kantornya, perut Bulan tiba-tiba keram. Alif yang cemas langsung membawa istrinya ke Rumah Sakit untuk di periksa. Ia tidak ingin terjadi apa-apa pada istri dan calon anak mereka.


“Mas, itu si kampret.” Tunjuk Bulan saat melihat Nura mendorong kursi roda Ibra di koridor Rumah Sakit, mereka berdua asik bercanda tidak memperhatikan sekitar sehingga tidak menyadari jika Bulan ada disana.


“Eleeh... Eleeh.. Yang lagi pacaran,” ledek Bulan menghadang jalan sepasang kekasih itu, tentu saja Ibra dan Nura terkejut dengan hadirnya Bulan tiba-tiba di depan mereka membuat pasangan kekasih itu menjadi salah tingkah.


“Cieee.. Pake malu-malu meong lagi. Gemes deh, jadi pengen nyubit!” Bulan menyentuh Ibu jari dengan telunjuknya di masing-masing tangan seperti mencubit, Alif geleng-geleng kepala seraya tersenyum melihat tingkah istrinya yang sangat senang menggoda kedua temannya.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


__ADS_2