
Bulan menompang dagunya dengan botol air mineral, pikirannya melayang pada Aya anak dari Mang Udin. Remaja cantik yang masih berusia sekitar lima belas tahun, ia berpikir bagaimana cara membantu mereka. Saat sedang larut dengan pikirannya, sang bestie datang membuyarkan semuanya.
“Woii, melamun. Udah dianter suami pergi kerja, ditemanin beli pukis. Udah kecup-kecup juga, masih aja melamun. Heran gue!” Nura menepuk pundak Bulan hingga Bulan tersentak.
“Ngga ada lembutnya lu jadi perempuan, menyebalkan!” sungut kesal Bulan.
“Lagian sok tau lu, gue kecup-kecupan. Bilang aja lu iri kan? lu pengen rasain kecupan, iyakan? hayoo ngaku.” Cecar Bulan.
“Iiiss, lu tuh ya. Sangat-sangat menyebalkan tau ngga? Mana ada gue pengen.” Bantah Nura, Bulan mendekati meja kerja Nura. Meletakkan kedua tangannya diatas meja tersebut sebagai tumpuan. Mendorong tubuhnya lebih dekat ke Nura.
“Kalau ngga pengen, itu muke lu napa merah Jubaedah.” Tunjuk Bulan pada wajah Nura yang sudah merona. “Atau...? Jangan-jangan lu udah lagi sama Ibra.” Bulan membuat kedua tangannya seperti sedang berciuman, “Hayo ngaku ngga lu!” desak Nura.
“Kagak, kagak ada ya Lan. Jangan aneh-aneh lu!” Nura menegang. Ia yang selama ini tidak bisa pernah menyembunyikan apapun dari Bulan, seperti sedang tertangkap basah oleh bestienya itu.
“Kalau ngga ada ya udin, jangan tegang gitu, woles ya bestie.” Bulan tersenyum dengan seringai diwajahnya. Bulan balik ke meja kerjanya, ia mengambil ponselnya kemudian menekan-nekan nomor seseorang.
Nura memperhatikan gerak-gerik Bulan, bestienya itu sangat mencurigakan. Sesaat kemudian matanya membelalak seakan bola matanya itu akan lepas dari kelopak matanya saat sebuah nama terucap dari bibir Bulan.
“Halo, Ib. Gue mau tanya sesuatu yang sedikit pribadi nih ama lu, boleh ngga?” tanya Bulan, matanya melirik Nura.
“Lu udah begituan ya sama Nura?” Nura mendelik, ia spontan langsung menyerbu Bulan merebut ponsel yang dipegang oleh Bulan.
“Eh kampret, lu gila ya?” hardik Nura, menatap tajam Bulan yang merasa tidak bersalah.
Bulan mengangkat bahunya acuh, “Yang penting gue dapat jawaban.”
“Emang sarap lu ya,” kesal Nura.
“Terus masih ngga mau jujur sama gue, Ibra aja jujur.” Sindir Bulan.
Nura mendengus kasar, ia pasti akan kalah kalau debat dengan Bulan. Bestienya itu akan punya seribu cara untuk membuka mulut lawannya.
“Iya ya, gue udah sama Ibra. Puas lu?” Nura membuat kedua tangannya layaknya orang berciuman dengan wajah yang udah semerah tomat. Bulan tergelak, ia bahkan tertawa terpingkal-pingkal sampai otot perutnya terasa keram.
“Akhirnya lu ngaku juga,” ucap Bulan disela tawanya. “Padahal gue ngga ada nelp siapa-siapa.” Bulan masih saja tertawa. Nura sangat kesal, bisa-bisanya ia masuk jebakan Bulan.
“Arrgghhh... Tau ah! Dasar pengacara gila lu!” teriak frustasi Nura.
*****
__ADS_1
Siang harinya, Bulan yang ditemani Nura sedang menikmati makan siang mereka di pantry. Bulan membawa bekal makanan yang dimasak oleh suaminya. Pagi tadi mereka seperti Tom n Jerry, sekarang mereka sangat akur. Bahkan Nura memotongi buah untuk Bulan.
“Nih, buah lu.” Nura menyodorkan semangkuk buah didepan Bulan.
“Makasih bestie. Lu emang terbaik!”
“Baru sadar lu!”
“Isss, gue tarik balik deh ucapan gue.”
“Itu aja ngambek, dasar Bumil.”
“Bodo!”
Hening
“Emm... Lan, gue pengen ngomong serius sama lu.” Nura terlihat gugup ia menggigit bibir bawahnya, jari telunjuknya ia putar-putar dibibir gelas.
Bulan memutar kepalanya kesamping kanan dimana Nura duduk dengan gelisah, bestie yang biasanya tidak pernah serius kalau diluar urusan kerjaan. Kini wajah itu tampak tegang dan serius.
“Mau ngomong apa? Ngomong aja lagi,” ucap Bulan sambil menyuapi buah kedalam mulutnya.
“Lu serius?” Nura mengangguk, Bulan tampak menarik nafas dalam-dalam.
“Ibra udah lamar lu?” Nura menggeleng, kening Bulan berkerut berkali-kali lipat.
“Terus?”
Nura kembali menarik dalam-dalam nafasnya, “Jika kami menikah, gue akan lebih banyak waktu untuk mengurus dan merawatnya. Kayak sekarang ini, gue cuma bisa ada saat gue pulang kerja. Setelah itu Ibra akan sendirian dirumah, gue khawatir Lan?”
“Ra, sekarang gue tanya sama lu, dan tolong lu jawab dengan jujur.” Nura mengangguk. “Lu udah cinta atau hanya kasian? Atau karena lu merasa bersalah?” Nura tampak terdiam, ia sendiri masih bingung dengan perasaannya.
“Ra, kalau lu hanya merasa kasian sebaiknya jangan. Gue ngga mau nantinya Ibra semakin terluka karena hanya dia yang cinta sama lu, sedangkan lu..” Nura menyela cepat.
“Tapi gue merasa nyaman saat dengannya, Lan. Kalau jauh gue ngerasa rindu, bila dekat dengannya jantung berdebar-debar udah kayak orang sakit jantung gue. Apa itu bisa di bilang cinta?”
“Bisa jadi, tapi ada baiknya lu yakinkan dulu hati lu, Ra. Gue berharap pernikahan lu menjadi pernikahan pertama dan terakhir, hanya maut yang memisahkan.” Bulan menasehati sang bestie dengan sangat bijak.
Nura memeluk Bulan, ia merasa terharu. “Makasih ya Lan, gue merasa tenang sekarang.”
__ADS_1
“Itulah, gunanya bestie. Udah ah, jangan sedih-sedih ntar anak gue ikutan sedih."
“Siap Bumil,” ucap Nura sambil membentuk huruf O dengan ibu jari dan telunjuk tangannya.
*****
Waktu menunjukkan pukul empat sore, Bulan dan Nura sudah meninggalkan kantor mereka. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju Hotel tempat Alif bekerja, Bulan akan menyamperin suaminya itu.
“Lu abis nganter gue langsung ke rumah Ibra?”
“Iya, udah kangen gue pengen meluk doi?”
“Cie.. Cieee.. Udah blak-blakan aja nih ceritanya,” ledek Bulan membuat pipi Nura bersemu merah.
“Beuuh...tadi pagi aja, sok-sokan rahasia-rahasian.” Sindir Bulan.
“Gue kan malu, soalnya gue yang mulai duluan.”
“AAPAAAA...!!” pekik Bulan, ia langsung merubah posisi duduknya dari lurus menghadap kedepan kini menyamping tepat menghadap Nura yang sedang menyetir.
“Lu bisa ngga sih? Ngga usah pake teriak. Kalau kita sampai nabrak, terus koid, gimana?” omel Nura.
“Ya jangan dong, kasian anak gue belum liat dunia tipu-tipu.”
“Jadi... Jadi lu yang sosor duluan tuh anak orang?” lanjut Bulan lagi dengan menahan senyum.
“Huum..”
“Buseeeet, seorang Nura gitu loh! yang katanya anti cowo berubah agresif gegara terpikat pesonanya Babang Ibra, Hahahahaha....” ejek Bulan yang sangat suka membuat bestienya keki.
“Iihh malah ketawa lagi.” Wajah Nura berubah masam antara malu dan sebal.
“Terus gue harus nangis gitu? Ekhem...” Bulan berdehem menghentikan tawanya, “kelamaan ngejomblo sih lu, begitu dapat mangsa langsung main hajar, hahahaha....” Bulan kembali tertawa, rasanya meledek bestienya itu sangat menyenangkan.
“Haisss, dasar nyebelin lu mah.”
“Kalau ngga nyebelin bukan gue dong.” Bulan masih saja tertawa sampai matanya berair.
“Tau ah, males gue sama lu!”
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸