Pak Satpam, Marry Me...!!!

Pak Satpam, Marry Me...!!!
12 - Akhirnya Halal


__ADS_3

Hari istimewa yang ditunggu pun datang, terutama bagi calon pengantin yang sudah tidak sabar menunggu hari ini. Bibir Bulan terus tersenyum, melihat bayangan dirinya yang terpantul pada cermin. Bulan terlihat sangat cantik dengan balutan kebaya berwarna putih yang dikenakan, pakaian adat Sunda yang dipilihnya untuk acara akad nikah.


Alif sudah duduk dikursi akad nikah yang telah disiapkan, ia terlihat sangat tegang. Berkali-kali Alif menarik nafasnya dalam-dalam untuk mengurangi rasa gugupnya. Orang tua Bulan benar-benar menyiapkan acara pernikahan yang begitu megah. Walaupun konsep outdoor yang diusung acara akad nikah itu terlihat sangat mewah.


Bulan menuruni anak tangga bak seorang Putri, dibelakangnya ada Nura dan Alin bestienya. Semua tamu undangan yang datang mengalihkan pandangan mereka kearah calon pengantin wanita yang baru saja memasuki tempat akad dilangsungkan. Semua terkagum akan penampilan dan kecantikan Bulan saat ini, bahkan Alif saja tidak berkedip saat melihat calon Istrinya yang sangat berbeda.


"Cantik." Gumam Alif pelan namun masih bisa didengar oleh Bulan yang sudah duduk disebelahnya, Bulan tampak tersenyum malu.


Tidak lama kemudian dengan mantap Alif menjabat tangan Papa Arman, ia menjawab dengan lantang dan satu tarikan nafas.


"Bagaimana saksi? sah?" tanya pak penghulu.


"SAAAAHHHH....." Ucap semua dengan lantang.


Kata sah membuat hati Bulan tak bisa berkata-kata, keinginan menikah dengan pak Satpam yang disukainya telah terjadi. Pangeran pujaan hatinya kini telah resmi menjadi Suaminya.


"Alhamdulillah." Semuanya berucap syukur Ijab Qabul berjalan lancar.


"Sekarang silahkan nak Bulan mencium tangan Suaminya." Titah pak penghulu.


Bulan menoleh kearah Suaminya, Alif mengulurkan tangannya perlahan Bulan mencium tangan Alif dengan lelehan air mata. Alif mencium kening Bulan begitu lama, gadis yang selalu mengejarnya-ngejarnya hingga pernikahan ini pun terjadi.


Setelah acara Ijab Qabul berjalan lancar serta acara sungkeman kedua pengantin kepada orang tuanya dengan penuh haru. Pasangan pengantin baru itu kini sudah duduk diatas pelaminan dengan senyum yang terus mengembang. Menyambut para tamu yang ingin memberikan selamat dan doa kepada pengantin baru yang beberapa saat lalu telah menjadi Suami Istri.


"Kak.." Mata Bulan berkaca-kaca saat melihat sang kakak berjalan kearahnya dengan senyum manisnya.


"Selamat ya sayang, jadilah Istri yang baik patuh dan nurut sama Suami. Kakak pasti akan sangat merindukanmu." Ujar Bintang sambil memeluk adiknya, ia pun ikut meneteskan air mata. Kemudian ia beralih pada adik iparnya, menatap pria yang telah menjadi Suami adiknya itu dengan tatapan tak terbaca.


"Jagain adik gue, kalau sampai lu bikin dia nangis apalagi kecewa. Lu bakalan berurusan sama gue." Ucap Bintang tegas, ia juga memeluk Alif sambil menepuk-nepuk punggungnya.


"Pasti kak, aku janji akan menjaga dan membahagiakannya."


"Gue pegang janji lu." Bintang berlalu meninggalkan pelaminan bergabung bersama teman-temannya yang juga hadir disana.


"Kenapa ngga pernah bilang sama Mas, kamu punya seorang kakak?" bisik Alif pelan. Ia tadi sempat cemburu saat Bintang langsung memeluk Bulan.


Bulan tersenyum, "Mas cemburu?" Bulan mengedipkan mata pada Suaminya.


"Kamu berani menggoda Mas, hm? ngga Mas kasih ampun kamu nanti malam." bisik Alif tersenyum penuh arti, bulu kuduk Bulan meremang seketika.


Mampus lu, Lan! harimau tidur lu bangunin. maki Bulan Salam hati.


Tak ketinggalan juga para relasi bisnis sang Papa dan teman-teman sesama pengacara turut hadir juga rekan kerja Alif di hotel.


"Selamat bestie, semoga SaMaWa ya. Cepetan kasih gue ponakan, engga sabar gue liat hasil cetaknya nanti kayak apa." Ucap Nura tulus lalu berisik pelan di telinga Bulan, membuat Bulan melotot.


"Selamat ya Mas Alif, harus tahan banting ya sama Bulan."


"Selamat bestie, akhirnya dapet juga Hermesnya. Berarti kalau kita belanja gratis yakan, Lan?" Nura melotot langsung membekap mulut Alin, menyeretnya turun dari atas pelaminan sebelum makin merambat jauh kemana-mana.

__ADS_1


"Waah... selamat adikku, kau tau hampir serangan jantung aku waktu kubaca nama kau di undangan. Rezeki kau jadi mantu pak Boss, Akhirnya halal juga kalian, walaupun udah DP,, hehehe." Wajah Bulan memerah menahan malu mendengar ucapan Bang Ucok yang terkesan ambigu tapi ia tau maksudnya.


Resepsi pesta sore hari mengambil konsep modern internasional, mereka melakukan resepsi hanya sampai sore hari. Walaupun pesta resepsi mereka diadakan dikediaman keluarga Bulan, tapi suasana serta dekorasi sore ini tidak jauh berbeda dengan hotel-hotel mewah.


Walaupun pernikahan mereka terkesan terburu-buru, namun Arman sang Papa mampu menghandle semuanya dibantu oleh banyak pihak. Dalam waktu sepuluh hari, semua pihak WO yang menangani pernikahan ini bekerja keras hingga semua persiapan selesai dengan baik dan tepat waktu. Kalau UANG sudah berbicara yang lain bisa apa.


Bulan tampak sangat cantik dengan gaun putih mewah yang bertabur Swaroski. Begitu juga Alif sangat gagah dan tampan dengan tuxedo senada dengan gaun sang Istri. Senyuman Bulan semakin melebar kala melihat Alif sudah siap menyambutnya di depan gerbang pintu bunga, Bulan menerima uluran tangan Suaminya dengan senang hati.


Semua tamu undangan yang hadir sore ini dibuat kagum dengan pasangan Bulan dan Alif yang tampak serasi. Senyum tak pernah luntur dari kedua bibir pasangan itu, kini sepasang pengantin baru itu berjalan pelan memasuki area dansa.


"Kamu bahagia, sayang?" bisik Alif disela dansa mereka. Kening keduanya saling menempel hingga hembusan nafas hangat begitu terasa diwajah masing-masing.


Bulan membalas dengan anggukan bersamaan butiran crystal yang jatuh mewakili semua rasa yang ada didalam hatinya, ia tidak tau bagaimana cara mengatakan betapa bahagianya dia. Alif tersenyum, menyeka air mata Bulan dengan satu tangannya. Sementara tangan kirinya merangkul posesif pinggang ramping Bulan.


Cup


Alif mencium bibir ranum itu, melu matnya sebentar dengan lembut. Suara tepuk tangan dan sorakan dari tamu tidak mengusik kegiatannya.


Pesta telah usai, kediaman keluarga Bulan tampak sepi, kini pasangan pengantin baru itu tengah berada dikamar pengantin mereka.


*****


"Maaas.."


"Hm.."


"Tahan bentar."


Di depan pintu kamar pengantin baru itu seorang pria paruh baya tidak sengaja mendengar bising-bising dari dalam kamar Bulan saat akan melintas didepannya.


Ia mendekati dirinya ke pintu, menempelkan telinganya pada daun pintu yang tertutup dapat itu. Menajamkan pendengarannya, ingin mengetahui apa yang terjadi di dalam.


"Pah, ngapain?" tanya Suci yang ingin menyusul Suaminya ke kamar untuk istirahat, menatap curiga pada kelakuan Suaminya itu.


"Mah, sini." panggilnya pelan dengan melambaikan tangan pada sang Istri.


Suci mendekat, "Apa sih pah?" tanyanya heran.


"Ssstt...Mamah jangan keras-keras, nanti ketauan. Coba Mama dengar deh." Suci pun menurut perintah Suaminya, menempelkan telinganya seperti yang dilakukan Suaminya itu.


"Awwh.. Mas iihhh.... pelan-pelan, sakit banget tau ngga!"


"Ini udah pelan sayang.."


"Kalau pelan ngga akan sakit, Maaas...!"


"Kuat aja nih, biar engga sakit."


"Aaakhh... STOOOPP! !! Mas stop nyeri banget,,,"

__ADS_1


"Astoge Pah, menantumu DAHSYAATT...." Pasangan Suami Istri itu cekikian sambil menutup mulut mereka dengan tangan.


"Ssstt..." Papa Arman meletakkan telunjuk diatas bibirnya. Kedua orang tua itu melanjutkan kegiatan haram mereka menguping kamar sang anak.


"Makanya jangan seperti ulat bulu, kalau ngga mau sakit."


"Aduh Mas, aduuh,,,, sakit banget. Ngga mau lagi!!!"


"Aaakhh,,,, kenapa kamu jambak Mas?"


"Biar adil...!"


"Putrimu GANAS, Mah!!" Arman terkekeh.


Plaaakk


"Mama, malah nabok Papa sih?"


"GANAS nya nurun dari Papa!"


"Yakiiiin... dari Papa? apa perlu Papa ingatin?" Goda Arman pada Suci menaik turunkan alisnya dengan senyum mautnya.


"Apaan sih, Pah. Ingat umur, jangan mesum!"


"Lha, apa hubungan sama umur, Mah? yang mesum siapa?"


"Itu, omongan Papa tadi apa maksudnya coba?"


"Ketauankan siapa yang MESUM.." Arman mengulum bibirnya menahan tawa, melihat sang Istri cemberut.


"Pah denger deh,,," Kata Suci mencoba mengalihkan tatapan jail Suaminya.


"Tahan sayang, dikit lagi.."


"Aw.. au.. mas STOP!! lanjut besok lagi. Serius sakit banget, Bulan ngga kuat."


"Nanggung sayang,"


"Mas, pleeease...."


"Ngga bisa sayang, udah tanggung ini,"


"Aaaaaakkhhhhh....."


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Babam, hatiku patah-patah...🥺


Bahagiamu lukaku, Asal kau Bahagia aku Tegar🤧

__ADS_1


__ADS_2