Pak Satpam, Marry Me...!!!

Pak Satpam, Marry Me...!!!
47 - Hari Bahagia


__ADS_3

Kediaman orang tua Nura hari ini tampak ramai, sebuah pernikahan sederhana akan dilangsungkan yang hanya dihadiri oleh kerabat terdekat dan beberapa kolega bisnis dari orang tuanya Nura.


Setelah mengucapkan kata sakral yang mengikat mereka dalam sebuah hubungan pernikahan yang sah, kini mereka telah resmi menjadi sepasang suami istri. Binar bahagia terlukis di wajah pengantin baru itu. Senyum terus merekah di bibir keduanya, Bulan beserta suami dan kedua orang tuanya juga ikut merasakan aura kebahagiaan dari pasangan pengantin baru itu.


“Selamat ya Ib sudah mendapatkan pujaan hati yang sok jual mahal.” Nura melirik tajam pada bestienya, ketika Bulan menyindirnya. Yang di lirik se bodo amat, lalu ia beralih memeluk bestienya itu.


“Selamat ya kampreto udah ganti gelar, ganti status. Ngga suka ngga suka, ujung-ujungnya sah juga.” Bulan mencibir bestienya.


“Elu kagak nyinyir sehari meriang badan lu ya, kasiannya ponakan gue punya emak kayak lu,” Nura memegang perut Bulan yang sudah membuncit.


“Lagian apa bedanya gelar sama status bego, sama aja bukan?” imbuhnya.


“Beda dong, gimana sih lu! Status istri, nah gelar Nyonya Ibra Faris Ar..” Ucapannya tergantung, Bulan melirik Ibra.


“Ar... Ar apa sih Ib? Lidah gue belibet ucapnya.”


“Arsenio.” Ucap Ibra.


“Haa.. Nyonya Arsenio. Itu gelar lu?” ucap Bulan seraya tersenyum.


“Sama aja, lu aja yang ribet.” Ketus Nura.


“Haiss....di kasih tahu minta tempe nih kampret! Untung hari ini hari bahagia lu, kalau ngga udah gue acak-acak rambut lu.” Kata Bulan dengan gemas.


“Eh iya Ib, kenapa selama ini lu cuma nulis inisial FA aja di belakang nama lu, udah kayak penasehat keuangan aja.” Kekeh Bulan.


“Biar orang penasaran.” Jawab Ibra asal.


“Sok iyes lu,”


“Selamat ya Ibra, semoga pernikahan kalian langgeng sampai maut memisahkan.” Doa Arman tulus, mengusap pundak Ibra.


“Makasih banyak Om, Ibra tidak tau bagaimana harus membalas semua kebaikan Om dan keluarga.”


“Gampang kalau kamu ingin membalas semua kebaikan kami.”


“Caranya Om?” tanya Ibra serius.


“Beri Om segera cucu.”

__ADS_1


Blusshh


Wajah Ibra memerah, Nura yang berada disamping nya hanya bisa menunduk malu. Ngga anak, Bapak nya pun sama. Sangat suka menggoda pengantin baru itu.


Untuk segala keperluan pernikahan, Arman dan Suci yang mempersiapkannya. Baik itu seserahan atau perintilan lainnya, Ibra hanya menyiapkan mahar untuk calon istrinya. Enak banget jadi lu ya Ib, Papa Arman terimalah aku jadi mantumu. Anak lajang Papa masih single kan? Sabilah jadi Ibu Bhayangkari.


*****


Bulan sedang menikmati berbagai macam hidangan makanan, tiba-tiba Bulan teringat akan sesuatu hal.


“Sayang kamu kenapa?” tanya Alif, tangan istrinya yang memegang sendok yang berisi puding menggantung di udara.


“Sayang...” Alif menyentuh bahu sang istri.


“Hah... apa Mas?”


“Kamu kenapa kok seperti orang bingung?”


“Mas ingat Bagas?” alis Alif bertaut, wajah Alif menunjukkan rasa tidak suka. Ia teringat bagaimana Bulannya mengagumi ketampanan laki-laki muda itu.


“Kenapa?” tanya Alif datar.


“Mungkin orang tua mereka suka dengan nama Arsenio, sayang. Sudah ya, jangan membahas pria lain, sekarang kamu makan ya? Tadi katanya lapar.”


Alif tampak gerah, ia menghabiskan air di gelas yang di pegangnya dengan sekali teguk. Rasanya ada api di dadanya, panas...panas, bisa-bisanya istrinya itu teringat laki-laki muda itu.


Bulan kembali memakan puding strawberry miliknya dengan santai, ia tidak tau jika suaminya itu sudah seperti ulat nangka. Gelisah dia gelisah wo wo wo la la la la.. seperti lirik lagu, reader kalian bacanya sambil nyanyi ya.. Hehehe...


“Mas..”


“Hm..”


“Emm... Bulan pengen makan gurami bakar!” Ucap Bulan mengigit bibir bawahnya, melihat suaminya itu tanpa ekspresi menatap dirinya.


“Mau makan sekarang?” Bulan menggelengkan kepalanya, “Terus?” Alif mengerutkan keningnya.


“Bulan mau Bagas yang tangkap ikannya langsung di kolam.” Mata Alif sontak membesar, ia tidak salah dengarkan? Bagas? laki-laki muda itu? Istrinya ingin laki-laki itu yang tangkap ikannya. Ya Tuhan ya Tuhan... Cobaan apa lagi ini? De-sah Alif kasar.


Belum hilang gerah panas hatinya, sekarang istrinya itu semakin menyiram bensin.

__ADS_1


“Mas kok diam?” Bulan menarik-narik tangan suaminya.


“Sayang, Mas aja yang tangkap ikannya ya?” bujuk Alif lembut selembut-lembutnya agar istrinya itu luluh dan mengganti keinginannya.


“Bulan maunya Bagas yang tangkap ikannya, itu juga harus di kolam belakang rumah si Mbok.” Kata-kata Bulan seperti petir menyambar siang bolong.


Jederr


Jederrrr


Alif terdiam dengan tubuh kaku, sudahlah tangkap ikan, sekarang di tambak rumah si Mbok di kampung pula. Alif menghela nafas dengan kasar, Alif memijit pelipisnya yang mendadak berdenyut. Ia kembali menghela nafasnya, Alif menangkup pipi istrinya.


“Sayang, kita baru balik dari kampung. Sekarang kamu ingin kesana lagi?” Bulan menganggukkan kepalanya.


“Kita cari gurami disini aja ya, kita cari yang masih di kolam biar Mas yang tangkap.” Bujuk Alif.


Bulan menggeleng, “Bulan maunya Bagas dan maunya ikan di kolam si Mbok! Kalau Mas ngga mau, biar Bulan pergi sendiri.” Raung Bulan, entah kenapa dia tiba-tiba ingin makan gurami bakar.


Alif memejamkan matanya sejenak, menekan rasa yang bergemuruh di dadanya. Cemburu? jelas Alif cemburu karena sang istri sangat terkagum-kagum akan ketampanan laki-laki muda itu, bahkan Alif masih mengingat jelas istrinya memanggil dengan sebutan adik tampan.


Ia melihat mata istrinya sudah berkaca-kaca, Bulan menepis tangan suaminya yang berada di pipinya. Dengan air mata yang sudah menetes meninggalkan suaminya, Alif mengusap kasar wajahnya menghela nafas berkali-kali.


“Bulan, kamu kenapa sayang? Kok nangis?” Suci mencegat anaknya yang melewati dirinya dan suami sambil menangis, Suci menatap Putrinya dengan penuh tanda tanya dan terlihat Alif menyusul di belakang.


“Lif, Bulan kenapa?” tanya Arman pada menantunya itu.


“Bulan ingin makan gurami bakar Pah,” sahut Alif.


“Ya sudah tinggal kamu beli, kenapa harus sampai nangis begini.” Ucap Suci.


“Bulan maunya gurami di kampung Mah, dan....” Alif menjeda ucapannya menatap Bulan yang menunduk.


“Maunya laki-laki lain yang menangkap ikannya.” Suara Alif terdengar lirih terselip rasa cemburu.


“APA?” Arman dan Suci bersuara secara bersamaan.


“Benar apa yang dikatakan suami mu?” Suci mengangkat wajah Putrinya yang sedari tadi terus menunduk, Bulan mengangguk pelan.


Suci dan Arman saling tatap, seperkian detik kemudian keduanya tergelak. Apalagi melihat raut wajah Alif yang masam bukannya prihatin dengan menantunya yang sedang menahan rasa cemburu, mereka malah semakin tertawa.

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


__ADS_2