
“Mbok, tolong bawa pergi jauh dan jaga Putraku seperti anak si Mbok sendiri. Dan tolong berikan dia nama yang sudah di siapkan oleh Ayahnya,” Anisa menyerahkan bayi berjenis kelamin laki-laki itu pada si Mbok dengan berlinang air mata dan sebuah amplop putih.
Anisa terlihat sesesukan harus berpisah dengan putranya yang masih merah, bahkan ASI pun baru sekali ia berikan. Ia harus melakukannya demi keselamatan anaknya, biarlah suatu saat nanti jika Putranya mengetahui jati dirinya dan sang anak membencinya karena memberikannya pada orang lain dan menganggap ia anak yang tidak di inginkan oleh orang tuanya.
“Tolong Mbok buka saat sudah sampai di tempat yang akan si Mbok tinggal.”
“Tapi Bu...”
“Tolong Mbok pergi sekarang, sebelum semuanya terlambat.” Pinta Anisa dengan tatapan memohon dan kedua tangan menyatu di depan dadanya.
Mbok Maryam dan suaminya pun bergegas meninggalkan ruang perawatan Anisa, sebelum menutup kembali pintu ruang itu Mbok Maryam menoleh ke belakang tampak Anisa tersenyum sembari mengangguk pelan.
*****
Setelah kembali dari kampung beberapa waktu lalu, baik Alif, Ibra maupun Bagas mereka kembali menjalani hari-harinya seperti biasa. Tidak ada lagi pembicaraan yang menyinggung tentang jati diri mereka, Alif tetap menganggap mereka adik-adiknya, terlepas benar atau tidaknya mereka bersaudara.
Mbok Maryam sendiri bisa bernafas lega, sudah terlepas dari beban yang selama ini di simpannya. Bagi Alif sendiri Mbok Maryam tetaplah Ibunya, tidak ada yang berubah. Begitu juga Arman dan Suci, Alif tetaplah menantunya tidak peduli dari siapa orang tuanya. Mereka disini hanya anak-anak korban dari keserakahan nenek mereka.
*****
“Sayang, password wifinya ganti ya?” tanya Alif pada sang istri yang sedang menikmati cemilannya sambil menonton film, karena Alif sejak tadi mengirim email selalu gagal. Bulan mengangguk dengan mulut penuh.
“Apa passwordnya?” jari Alif sudah berada di atas keyboard laptopnya siap mengetik.
“Rahasia perusahaan,” jawab Bulan tanpa menoleh, wanita hamil itu sangat fokus dengan film yang di tontonnya.
Kening Alif tampak berlipat, “Sayang, Mas tanya password wifi loh. Kenapa jadi rahasia perusahaan?” Alif memiringkan kepalanya melihat sang istri.
“Iya Mas, passwordnya rahasia perusahaan.”
“Sayang, kok main rahasia-rahasia sih?”
“Siapa yang main rahasia, Mas?”
“Tuh, kamu. Mas tanya password wifi kamu ngga mau kasih tau.”
“Kan Bulan udah bilang rahasia perusahaan,”
__ADS_1
“Iya.. Iya, rahasia perusahaan. Mas janji setelah selesai kirim email, Mas langsung diskonek deh. Mas pakai bentar aja ya...? Pleeeease kasih tau Mas.”
Bulan memutar bola matanya jengah sembari menghela nafas panjang, “Mas sayang... Bulan udah bilang password wifinya itu RA-HA-SI-A PE-RU-SA-HA-AN.” Bulan mengeja dengan penuh penekanan.
“RAHASIA PERUSAHAAN!” Bulan mengulang sekali lagi.
“Iya deh.. Iya, Mas ngga akan tanya lagi.” Alif mengalah, ia menutup laptop kerjanya.
"Loh kok di tutup," Bulan heran dengan alis bertaut melihat suaminya yang bersandar pada sofa dengan pandangan melihat layar besar di depannya.
"Ngga bisa kerja sayang, ngga ada koneksi jaringan internetnya."
Saking gregetnya Bulan terhadap suaminya, ia menatap Alif dengan horor seakan ingin menerkam suaminya itu. Kepalanya bertanduk, suaminya itu tidak mudeng-mudeng. Udah jelas-jelas di kasih tau passwordnya masih juga ngeyel.
Bulan membuka kembali laptop suaminya, “Eh? Sayang kamu mau ngapain?” Bulan tidak menjawab, jari tangannya dengan cepat mengetik password yang di katakannya tadi dan langsung konek.
“Loh sayang, katanya rahasia perusahaan. Kenapa malah kamu kasih?” tanya Alif dengan wajah bingung dan polos.
Bulan mengepal tangannya dengan geram di depan wajahnya.
“Mas itu yang ngga ngerti-ngerti!” ucap Bulan kesal dengan wajah memberengut, ia malas sekali dengan suaminya itu. Dengan pipi gembung mata memicing ekspresi Bulan jika sedang ngambek, Bulan meninggalkan suaminya yang plonga plongo.
“Sayang, tunggu! Mas kan udah ngga minta lagi. Jangan marah dong?” bujuk Alif yang ingin mengejar istrinya tapi suara Arman menghentikan langkahnya.
“Bulan kenapa Lif?” tanya Arman yang muncul di ruang itu.
“Marah Pa, karena Alif tanya password wifi.” Arman mengernyit.
“Kenapa bisa marah?” tanya Arman lagi dengan heran.
“Iya Pah, kata Bulan password wifinya rahasia perusahaan. Tapi Alif minta pakai bentar aja, Bulannya kekeuh ngga mau kasih tau.” Jelas Alif. Arman tergelak, ia tertawa terpingkal-pingkal. Sedangkan Alif makin dibuat bingung oleh kelakuan mertuanya.
Emang ada yang lucu dengan ucapanku? Kenapa Papa ketawa sampai ngakak gitu? Batin Alif.
“Pah, ada apa? Ketawa nya ampe kedengaran ke dapur loh?” Suci datang dengan nampan ditangannya membawa teh herbal dan beberapa kudapan untuk menemani waktu santai mereka.
“Ini loh Mah, menantu kamu.” Kata Arman di sela tawanya yang masih belum berhenti.
__ADS_1
“Kenapa Alif?” Suci melihat menantunya itu berdiri dengan wajah bingung, “Loh Bulannya kemana?” ketika menyadari sang Putrinya tidak ada di sana.
“Putrimu ngambek, perkara password wifi!" kata Arman.
"Bulan udah ganti password, Mah! Menantumu ini mau pakai terus nanya ke istrinya, tau ngga apa jawaban Putrimu?” Suci menggelengkan kepalanya.
“Kata anakmu Mah, password wifinya rahasia perusahaan. Tapi suaminya ini tidak paham maksud istrinya, padahal jelas-jelas udah di kasih tau, tapi masih ngotot minta passwordnya.”
Suci menatap menantunya sambil terkekeh, “Alif... Alif... Terus sekarang kamu sudah tau passwordnya?”
Alif menggeleng, “Tadi Bulan udah masukin passwordnya Mah, sambil merajuk.” Jujur Alif sembari menggaruk pipinya.
“Sekarang coba kamu diskonekkan terus masukin ulang passwordnya.” Titah Suci.
“Tapi Alif ngga tau passwordnya, Mah.” Kata Alif melihat kedua mertuanya secara bergantian.
“Kamu diskonekkan dulu, Papa kasih tau passwordnya.” Sahut Arman.
Alif pun menurut apa yang dikatakan mertuanya.
“Udah?” tanya Arman, Alif pun mengangguk.
“Kamu ketik di kolom passwordnya rahasia perusahaan, ayo ketik.” Pinta Arman yang melihat kebingungan sang menantu, lalu Alif pun mengetik dan langsung terkonek kejaringan internetnya.
Alif ternganga, jadi passwordnya ini...? pantesan aja istrinya ngamuk. Orang passwordnya udah di kasih tau tapi suaminya aja yang loadingnya lama.
“Konek?” tanya Arman tersenyum.
“Konek Pa.”
“Ya sudah, sekarang kamu susul istrimu sana. Jangan sampai kamu di suruhnya tidur diluar,” kekeh Arman, Alif menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan canggung.
Alif pun pamit dan berlalu dari hadapan kedua mertuanya, menyusul sang istri yang sedang merajuk. Gimana ngga merajuk coba? udahlah lagi nonton film kesukaannya di ganggu pas lagi seru-serunya, terus suaminya udah di kasih tau passwordnya tapi masih ngga ngerti. Double kill dah Bumil itu, yang sabar ya babam...
Setelah Alif meninggalkan mertuanya, kedua orang tua itu saling pandang kemudian terdengar gelak tawa mereka. Perkara password wifi anaknya ngambek.
“Anak kamu Mah, ada-ada aja bikin passwordnya."
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸