
Seperti keinginan Bumil, Bagas saat ini sedang menangkap ikan di tambak belakang. Bulan menungguinya duduk pada sebuah bangku kayu, Alif sendiri sedetikpun tidak beranjak dari sisi istrinya. Jangan tanya wajah masam Alif setiap kali Bulan memanggil Bagas dengan panggilan adik tampan.
“Mas, kenapa mukanya masam gitu, usah seperti belimbing wuluh. Jelek tau, liat tuh Bagas kena lumpur aja masih tetap tersenyum. Makin cakep aja adik tampan.” Ucap Bulan terkesima dengan senyum lebar tak lepas dari wajahnya.
Wajah Alif makin di tekuk berkali-kali lipat, istrinya itu terang-terangan memuji laki-laki lain dihadapannya. Rasanya Alif ingin mengkarungi sang istri dan menyimpannya di dalam kamar supaya mata istrinya tidak melihat pria lain selain dirinya.
Alif yang sudah kebakaran jenggot karena api cemburu, berdiri dari duduknya. Ia tidak mau kalah dari Bagas, Alif ingin ikut masuk kedalam tambak dan membuktikan pada wanita yang sedang mengandung benih cintanya bahwa ia tidak kalah tampan dari laki-laki muda itu.
“Loh Mas, mau ngapain?” tanya Bulan bingung melihat Alif sudah menggulung celana panjangnya hingga kelutut.
“Mau tunjukkin sama kamu, kalau suami kamu ini tidak kalah tampan dari dia!” Kata Alif sambil menunjuk Bagas dengan ujung matanya.
“Eeehh... Jangan-jangan, Mas ngga boleh turun. Mas temanin Bulan disini, biar adik tampan aja yang ambil ikannya. Nanti bagian Mas yang bakar.” Bulan menarik tangan suaminya agar kembali duduk disampingnya. Mau tidak mau Alif terpaksa duduk lagi. Saking kesalnya Alif, sandal yang dipakainya ia gesek-gesekan pada tanah. Persis seperti anak kecil yang lagi merajuk tidak di beliin mainan oleh emaknya.
Adik tampan.. Adik tampan, jelas-jelas suaminya lebih tampan kemana-mana. Umpat Alif dalam hatinya.
Wanita hamil itu, seolah tidak peduli dengan suaminya yang sedang kesal. Ia terus saja mengoceh memberikan pujian untuk Bagas, laki-laki yang sudah menolongnya waktu itu.
Dari kejauhan terlihat pasangan pengantin baru itu sedang berjalan mendekat ke arah Bulan dan suaminya yang terlihat tidak seperti biasanya. Nura yang mendorong kursi roda suaminya itu, memperhatikan raut wajah suami bestienya itu terlihat berbeda.
“Yang, mereka sedang berantem ya? Muka Mas Alif kecut banget.” Bisik Nura pada suaminya.
“Mungkin bawaan hamilnya sekarang pindah, yang.” Pasangan pengantin baru itu tertawa kecil.
__ADS_1
“Gilaa.. Ikannya banyak banget?” pekik Nura melihat hasil tangkapan Bagas didalam keranjang.
“Gas, lu tangkap segini banyak siapa yang makan?” tanya Nura.
“Ya kitalah yang makan, kampret!” Bulan yang menyahut bestienya.
“Emang habis, bego? Lu kagak kemasukan jin kan? Makan ikan segini banyak?” cecar Nura dengan banyak pertanyaan.
“Kita liat nanti, awas aja lu kalau sampai nagih terus minta nambah gue satein lu sekalian.”
“Gas, jangan heran ya. Mereka berdua kalau udah bersama ya seperti kucing sama tikus!” tukas Ibra yang tau kebingungan Bagas yang aneh melihat dua perempuan itu seperti mau ngajak gelut.
Bumil sengaja meminta Bagas mengambil ikannya agak banyakan, karena ia yakin mereka tidak akan cukup makan hanya seekor ikan saja. Seperti ia dulu karena rasanya yang sangat enak, ia sendiri sampai habis empat ekor. Karena itulah Bulan mengambil lebih daripada kurang.
Siang harinya diatas pematang sawah yang hijau, dibawah sebuah pohon yang rindang dengan beralaskan tikar. Bulan beserta keluarganya menyantap makan siang dengan begitu lahap dan nikmat, ikan bakar bumbu rujak buatan Alif di cocol sambal kecap dan berbagai macam lalapan seperti ketimun, selada, kemangi, leunca, labu siam dan sambal terasi membuat selera makan bertambah (hadeuuh,,,othor nulis ini ampe nces.. )
“Pak Pri, Pak Salman di tambah ikannya jangan takut ngga cukup. Bulan sengaja ambil banyak, biar pada puas makannya.” Kata Bulan pada kedua sopir Papanya yang hanya mengambil seekor ikan bakar di atas daun pisang sebagai alas makan mereka.
“Iya non, habis kan ini dulu.” Sahut Pak Pri tersenyum ke arah anak majikannya itu yang memang sangat baik, makanya kedua pria paruh baya itu yang usianya lebih tua dari Arman betah kerja disana. Mereka sudah mengabdi pada keluarga itu saat Bintang masih berusia lima tahun.
Alif membawa keluarganya ke sawah yang tidak jauh dari rumahnya, ia tidak mungkin mengajak mertuanya ke sawah yang dulu pernah di datangi Bulan. Bukan tanpa sebab, bisa jadi nanti mereka akan bertemu juragan Syamsol atau si Rainbow Cake. Alif tidak ingin merusak suasana makan siang mereka.
Bunyi-bunyian kaleng yang digantung pada seutas tali dan plastik yang membentang ditengah-tengah sawah, cara yang masih di pakai oleh warga kampung tersebut untuk mengusir burung yang ingin memakan padi mereka. Terdapat juga orang-orangan sawah, membuat suasana siang itu menjadi ramai, sesuatu yang tidak bisa di lihat di kota besar.
__ADS_1
Hembusan angin sepoi-sepoi, membuat mata ingin terpejam apalagi setelah perut terisi penuh. Arman benar-benar menikmati liburannya kali ini, perkampungan yang benar-benar masih sangat alami.
“Lif, ini sawah milik siapa?” tanya Arman memperhatikan tumbuhan padi yang melambai-lambai.
“Bang Marto Pah.” Sahut Alif.
“Sawah kamu yang mana? Dulu kamu pernah ambil libur, katanya lagi masa panen waktu itu.” Arman menatap menantunya.
“Alif tidak punya sawah Pah, itu semua punya peninggalan Bapak. Tapi...” Alif menjeda sekejap melihat si Mbok. Kemudian ia kembali berucap, “Tapi sekarang udah ngga ada Pah, udah di serahin sama juragan Syamsol.” Kata Alif dengan jujur.
Arman mengerutkan keningnya tidak mengerti, “Maksud kamu dijual gitu?”
“Maaf Pak, mungkin lebih tepatnya saya melepaskan sawah itu untuk kebahagiaan Alif. Karena sewaktu Alif masih kecil, kami pernah gagal panen dan juragan Syamsol mengalami kerugian yang besar. Karena harus membayar kerugian itu, juragan meminta sawah-sawah yang ada tapi mendiang suami saya tidak mau menyerahkannya. Jadi dengan terpaksa kami menjadi berhutang kepada juragan.”
“Hingga Alif besar, beliau memaksa Alif untuk menikah dengan anaknya jika masih ingin sawah itu. Saya menolak, tapi Alif memaksa untuk tetap mempertahankan sawah-sawah itu. Sampai akhirnya Bulan datang dan saya melihat kebahagiaan Alif ada pada Bulan. Saya meminta Alif memperjuangkan Bulan dan saya ikhlaskan sawah-sawah itu untuk juragan Syamsol agar tidak mengganggu anak dan menantu saya.” Jelas Mbok Maryam.
“Tapi tidak bisa seperti itu dong Mbok, itu sudah masuk dalam pasal perampasan. Benarkan Lan?” kata Arman bertanya pada sang Putri yang jauh lebih mengerti tentang hukum.
“Iya Pah, itu bisa kena ancaman pidana penjara paling lama sembilan tahun.” Jelas Bulan.
“Dan kamu Lif, kenapa diam saja tidak melapor. Untuk apa juga kamu punya istri pengacara, tapi tidak di mintai tolong.” Semprot Arman pada menantunya.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
__ADS_1