Pak Satpam, Marry Me...!!!

Pak Satpam, Marry Me...!!!
59 - Mau Di Peluk


__ADS_3

Wajah Bulan tampak pucat dan lelah, setelah Alif menjemputnya di apartemen Alin tadi, Bulan lebih banyak diam. Entah apa yang sedang di pikirkan wanita hamil itu, selesai makan malam Bulan hanya terbaring lemas di atas tempat tidurnya. Sementara Alif sendiri, ia sedang membuat susu hamil di dapur untuk istrinya.


Alif kembali kekamar dengan segelas susu hangat ditangannya, dengan langkah gontai ia mendekati ranjang dan meletakkan susu hangat itu di atas nakas.


“Sayang... Bangun, minum susunya dulu.” Alif dengan lembut mengusap pipi chubby Bulan dengan punggung tangannya. Bulan yang merasa ada sesuatu ditangannya, dengan perlahan membuka matanya. Tampak mata itu sayu menatap suaminya.


“Apa yang tidak membuatmu nyaman, katakan pada Mas.” Kata Alif sambil membelai rambut Istrinya.


“Mau di peluk.” Pinta Bulan dengan manja, Alif pun tersenyum. Pria itu membetulkan posisi duduknya, kemudian membawa tubuh sang istri kedalam pelukannya.


Alif juga memberi kecupan- kecupan kecil di puncak kepala Bulan dengan penuh cinta. Bulan menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya, tempat paling nyaman. Kedua tangannya ia lingkarkan di pinggang suaminya, memeluk dengan posesif dengan mata terpejam menghirup aroma tubuh suaminya.


Alif bisa merasa istrinya itu saat ini sedang dalam mode manja, apa penyebabnya ia sendiri tidak tau. Mungkin bawaan hamil, pikirnya.


“Sayang minum susunya dulu, ya? Nanti keburu dingin.” Alif ingin meraih susu di atas nakan, tapi Bulan menggeleng, “Mau peluk Mas aja ngga mau susu.” Kata Bulan semakin memperat lilitan tangannya.

__ADS_1


“Abis minum, peluk lagi.” Bujuk Alif. Bulan mendongak, menatap cemberut suaminya dengan memperlihatkan mata puppy eyes nya. Gemes? Tentu saja Alif sangat gemas, ingin ia melahap istrinya saat itu juga.


“Jangan mancing sayang, kondisi kamu sedang tidak fit.”


“Makanya peluk.” ucap Bulan dengan bibir mengerucut, Alif mendesah pelan.


“Minum dulu, setelah itu Mas akan peluk kamu dan anak kita sampai kalian puas.”


Bulan tersenyum, kemudian ia meminum susu hamilnya sampai tanda.


Alif mencium, melu-mat sekejap bibir istrinya yang terdapat sisa susu. Saat Alif akan menarik diri, ternyata Bulannya tidak memberi ijin. Bulan membalas lu-matan suaminya dengan pelan dan lembut, Alif tersenyum di antara ciuman mereka, Alif pun tidak menyia-nyiakannya angin surga dari istrinya.


Mereka saling berpagut, mengesap hingga terdengar decapan pertukaran saliva dua insan manusia yang terikat ikatan pernikahan. Mereka saling menyalurkan rasa cinta, hingga Alif melepaskan pagutan mereka kala merasa Bulannya kehabisan pasokan udara


Bulan sudah seperti ikan kekurangan air, dengan nafas tersengal wanita hamil itu menghirup udara sebanyak yang ia mampu untul memenuhi rongga dadanya yang terasa kosong melompong.

__ADS_1


“Sekarang tidur ya, kamu harus banyak istirahat. Mas ngga mau kalian sampai kenapa-kenapa,” tangannya mengelus perut istrinya yang tertutup piyama tidur.


“Mas mau kemana?” Bulan memegang tangan suaminya.


“Mas mau simpan gelas ini kebawah, biar ngga bersemut."


"Jangan lama-lama Mas, tadi udah janji mau peluk sampai kami puas."


"Iya, Mas cuma bentar." Alif membantu istrinya untuk berbaring, menarik selimut hingga menutupi perut atas istrinya.


Alif menepatinya janjinya, pria itu memeluk istrinya yang sudah lebih dulu terlelap. Alif menatap teduh wajah istrinya yang sedikit pucat, menghadiahkan kecupan di kening istrinya.


"Makasih sayang...Semoga mimpi indah."


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


__ADS_2