
Setelah drama pagi Bumil, Bulan dan Alif kini dalam perjalanan ke kampung halaman Alif. Bahkan Bulan berangkat dalam keadaan belum mandi, hanya menggosok gigi dan cuci muka saja, Alif benar-benar dibuat geleng-geleng kepala oleh tingkah Bulan. Entah itu benar kemauan Bulan sendiri atau murni ulah anaknya, hanya mereka berdua yang tau.
Menempuh perjalanan selama tiga jam, akhirnya mereka tiba di kampung. Alif tersenyum melihat istrinya yang tertidur begitu damai dengan diatas pangkuannya banyak cemilan dan juga buah, karena selama diperjalanan tadi Bulannya terus saja mengunyah.
Tokk tokk tokk
Alif mengetuk pintu rumah dengan Bulan yang berada dalam gendongannya, setelah menunggu sebentar pintu rumah dibuka dari dalam.
“Nang, ini beneran kamu?” perempuan yang tidak lagi muda itu tampak terkejut dengan kedatangan Putranya dan juga sang menantu yang digendong oleh anaknya.
“Bukan Mbok, ini anak tetangga nyasar kesini mau numpang makan.” Kata Alif disertai guyonan.
“Kamu ini, ya sudah bawa masuk istrimu kedalam.” Alif membawa istrinya kedalam dan membaringkan Bulan di kamar yang pernah di tempati Bulan sewaktu berkunjung kesana bersama Nura tempo hari. Alif mengecup sebentar kening istrinya, Bulan sedikit pun tidak terusik, mungkin efek kenyang dan juga lelah karena perjalanan yang jauh.
“Kenapa ngga kasih kabar mau kemari, Nang?” tanya si Mbok setelah Alif keluar dari kamar.
“Ini juga dadakan Mbok, bangun tidur pagi tadi Bulan langsung minta kesini, bahkan Bulan belum mandi sama sekali, maunya mandi disini.” Jelas Alif setelah mencium punggung tangan si Mbok. Kemudian
“Kalau ngga di turuti, mau berangkat sendiri kesininya?” tambah Alif kemudian.
“Udah seperti orang ngidam saja, istrimu.” Si Mbok tertawa kecil.
“Memang, menantu kesayangan Mbok itu sedang ngidam.” Alif tersenyum lebar.
“Alhamdulillah.” Ucap Mbok Maryam bahagia, matanya berkabut perlahan air mata mengalir dari sudut matanya yang sudah keriput. Mbok Maryam berharap semoga saja dia masih diberi umur untuk melihat cucunya lahir.
“Mbok kenapa menangis?”
“Mbok menangis bahagia, gusti Allah cepat memberi kalian amanah untuk jadi orang tua. Mbok dulu harus menunggu bertahun-tahun, sampai akhirnya kamu hadir.” Alif memeluk tubuh ringkih itu dengan sayang.
__ADS_1
*****
“Mbok, liat Bulan?” tanya Alif tiba-tiba dari pintu belakang rumahnya. Ia sangat panik ketika tidak mendapati istrinya dikamar.
“Bukannya istrimu tidur?” Mbok Maryam yang sedang memetik sayur menoleh pada Putranya.
“Ngga ada Mbok, Alif udah cari kemana-mana ngga ketemu.” Alif mengusap kasar wajahnya. “Sayang kalian dimana?” gumam Alif pelan. Si Mbok pun ikut cemas, karena menantunya itu sedang dalam keadaan mengandung.
“Sudah cari ke depan? Siapa tau ia lagi mengambil mangga. Istrimu itu sangat suka mangga.”
“Udah Mbok, tapi ngga ada juga!”
“Mungkin istrimu sedang jalan-jalan sekitar kampung sini, coba kamu cari.” Mbok Maryam meninggalkan sayurnya yang belum selesai dipetik, ikut mencari Bulan sang menantu.
Saat Alif lewat dibawah pohon jambu, kepalanya kejatuhan sisa jambu yang sudah dimakan, Alif pun mendongak. Mata Alif terbelalak sempurna melihat siapa yang menjatuhkan sisa jambu itu.
“Aku lagi pengen makan jambu lilin Mas, tapi maunya langsung diatas pohon. Anak kamu loh Mas yang minta bukan Bulan.” Alif memijit pelipisnya, mendadak dia jadi migrain dengan segala tingkah istrinya yang tidak bisa ditebak. Sepertinya hormon kehamilan sang istri membuat Alif serasa naik roller coaster.
Kamu masih dalam kandungan, Nak. Tapi udah bikin kepala Ayah mendadak migrain . Jerit hati Alif.
“Tapi itu bahaya sayang, kalau kamu tergelincir bagaimana? Ngga hanya bahaya untuk kamu aja, tapi anak kita juga.” Ucap Alif dengan lembut.
“Nang, kenapa masih disini katanya mau cari istrimu?” kata Mbok Maryam dari arah belakang ingin menyusul Alif mencari Bulan.
“Orang yang dicari diatas Mbok!” tunjuk Alif lesu.
Si Mbok pun mendongak kearah yang di tunjuk Putranya, “Nduk, suamimu udah kelimpungan nyari kamu, eh! Kamu enak-enakan makan jambu diatas sana.” Si Mbok tertawa, “Yang sabar yo Nang!” Mbok Maryam menepuk-nepuk lengan sambil tersenyum melihat wajah anaknya yang tampak frustasi.
“Sekarang turun ya? Udah kesampaian kan makan langsung diatas pohon?” Bujuk Alif, yang sudah merecharge ulang stock sabarnya.
__ADS_1
Bulan mengangguk, kemudian ia ingin turun tapi wajahnya tampak kebingungan.
“Mas cara turunnya gimana? Hiks.. Bulan takut..“ Bulan memeluk erat batang pohon jambu, matanya sudah berkaca-kaca dengan kaki terjuntai kebawah. Alif menepuk jidatnya, “Tadi kamu naiknya gimana? Kok turun malah ngga bisa?” ledek Alif.
“Mbok, liat Mas Alif malah ledekin Bulan?” adunya pada mertua.
“Sudah! ambil tangga sana, kasian istrimu itu!”
“Kamu tunggu disitu, jangan gerak. Okey?” Bulan mengganguk cepat.
Alif mengambil tangga dari belakang rumahnya yang biasa ia gunakan untuk mengambil mangga. Dengan perlahan Alif menurunkan Bulan yang memeluknya dengan tangan gemetar.
“Pelan-pelan sayang.” Alif harus berhat-hati karena sebelah tangannya menahan bobot tubuh Bulan dan satunya memegang tangga.
*****
Saat ini Bulan dan Alif sedang berada di halaman belakang, Bulan duduk selonjoran diatas sebuah kursi panjang yang terbuat dari rotan. Sementar Alif sedang mengeringkan rambut istrinya yang baru saja selesai di mandikannya. Suasana yang tenang dan asri dari kehijau-hijauan tumbuhan yang ada disana membuat Bulan begitu rileks ditambah dengan angin yang sepoi-sepoi.
Selesai mengeringkan rambut Bulan, Alif masuk kedalam rumah tidak berapa lama ia keluar dengan membawa satu kantong plastik berukuran besar.
“Mas, tau aja Bulan lapar.” Ucapnya nyengir.
“Kalau ngga tau bukan suami kamu namanya.” Alif mencubit hidung Bulan, kemudian mengambil dan membuka sebungkus biskuit yang biasa dimakan istrinya selama hamil, Alif begitu protektif terhadap apapun yang boleh dan tidak yang dimakan oleh Bulan dan Bulan pun tidak pernah protes apa yang suaminya itu lakukan. Sejauh ini Bulannya tidak pernah meminta makanan yang aneh-aneh, hanya tingkahnya saja yang bikin Alif sakit kepala.
Keduanya sangat menikmati waktu santai mereka, sambil sesekali Alif menjahili istrinya yang berakhir Bulannya ngamuk-ngamuk. Mbok Maryam yang melihat kemesraan anak dan menantunya semakin bertambah bahagia, tanpa terasa air matanya ikut menetes. Tidak ada yang diinginkannya didunia ini selain kebahagiaan rumah tangga Putranya.
“Semoga hanya maut yang memisahkan kalian.” Doa tulus Mbok Maryam sambil menyeka air matanya.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
__ADS_1