
Sore itu, Rei sedang melakukan video call dengan Liliyana di sofa panjang yang ada dekat jendela. Entah apa yang menjadi topik pembicaraan mereka sehingga membuat Rei nampak tergelak begitu Nisa masuk kekamar mereka dengan sebuah nampan berisi bolu pisang dan secangkir kopi.
"Sudah dulu yah sayang, nanti malam aku telpon lagi.. bye.." ujar Rei cepat, langsung mengakhiri pembicaraan itu sepihak begitu sudut matanya menangkap bayangan Nisa yang masuk kamar.
"Maaf, aku mengganggu yah..?" tanya Nisa sambil menaruh nampan diatas meja. Hatinya terasa sakit saat melihat Rei yang tertawa bahagia bersama Liliyana, namun ia bahkan tidak bisa menunjukkan rasa cemburu dan kemarahannya.
Rei menggeleng acuh, tangannya langsung menyambar garpu kecil untuk mengambil potongan bolu pisang yang berada di piring yang juga berukuran kecil, yang baru saja disuguhkan Nisa.
"Enak tidak..?" tanya Nisa sambil mengawasi wajah Rei yang sedang mengunyah kue tanpa kata.
"Hhmm.. pasti kamu yang buat, kan?" tebaknya karena istri pilihan Mommynya ini memang paling handal jika sudah bicara urusan dapur. Tapi yang ada Nisa malah menggeleng sambil tersenyum.
"Bukan."
"Bibik..?"
"Bukan juga."
Rei mengerinyit. "Lalu siapa..?"
"Riri.."
"Cihh.. tidak mungkin.." cibir Rei begitu membayangkan pengacau kecil seperti Riri yang bisanya hanya bermain-main setiap hari itu bisa membuat kue seenak ini.
Nisa tertawa. "Serius. Aku cuma bantuin, kasih arahan sedikit, selebihnya dia semua yang bikin dari awal sampai finish.." ujar Nisa sambil mengulum senyum.
"Bocah itu akhirnya ada gunanya juga.." gumam Rei akhirnya, seolah pada dirinya sendiri, kembali mencomot bolu pisang yang ukurannya tinggal separuh karena separuhnya lagi sudah berpindah keperut.
"Mau lagi..?" tanya Nisa ketika melihat betapa lahapnya Rei mengunyah kue hasil belajar kilat Riri.
"Tidak lagi." Rei menggeleng tegas."Huhhf.. aku tidak sanggup membayangkan menghabiskan waktu dengan makan tidur selama satu minggu kedepan.." berucap demikian sambil selonjoran acuh diatas sofa panjang. Kemudian ia menatap Nisa yang ada disebelahnya. "Nis, memangnya kamu tidak merasa bosan..?" tanyanya dengan raut wajah penasaran. "Susah payah menimba ilmu, memangnya tidak terpikir untuk menerapkannya..?"
"Kata siapa tidak ingin? sebelum menikah kilat denganmu, aku telah memasukkan CV ke Best Corporation. Aku bahkan telah melalui test wawancara dikantor Daddy dengan baik, tinggal menunggu panggilan bekerja saja.." kilah Nisa membuat Rei terkejut.
"Benarkah..? jadi kita akan bekerja ditempat yang sama dong.."
"Sepertinya.."
"Hebat. Wah.. selamat atas pekerjaanmu yang baru yah.." ujar Rei tulus, kemudian ia menambahkan lagi.. "Akh, aku jadi semakin tidak sabar untuk kembali bekerja, karena dengan bekerja bisa membuat adrenalin dan semangat bisa terpacu." kilahnya kembali menampakkan wajah yang kembali kuyu.
Nisa mengangkat bahu. "Kalau kamu merasa bosan, lakukan saja apa yang membuatmu tidak bosan. Olahraga misalnya.."
"Sudah tadi pagi.."
"Jalan-jalan..?"
__ADS_1
"Tidak terlalu suka."
"Nonton..?"
"Males."
"Lalu..?" alis Nisa bertaut menyadari bahwa Rei tipikal pria yang mager juga.
"Aku ingin pergi kekantor. Tapi Daddy sudah melarang datang untuk satu minggu ini."
"Kamu workholic yah?"
"Tidak juga. Tapi kalau otakku sedang sakit, bekerja bisa membuatku lupa dengan persoalan. Makanya aku menyukainya.."
"Aku yang membuat otakmu sakit..?" pungkas Nisa lagi.
"Egh..?" sontak menggeleng.
Rei terkesiap mendengar kalimat Nisa. Lagi-lagi. Ia mengaruk kepala, seolah menyadari bahwa meskipun terlihat selow Nisa punya kepribadian yang unik. Terlihat polos bahkan terkesan agak cupu, tapi anehnya punya skill untuk memojokkan lawan bicara hanya dengan sekali ceplos.
Wanita seperti Nisa pasti tipe wanita cerdas, hanya tidak suka terlalu terlihat saja.. begitu pikir Rei saat melirik wajah lembut Nisa yang ada disampingnya.
"Akhir-akhir ini aku sedang getol bekerja karena aku punya target yang sedang aku tangani.." ujar Rei kemudian, berusaha mengalihkan pembicaraan setelah beberapa saat diantara mereka hanya terisi keheningan. "Makanya aku menolak tinggal dirumah. Aku sedang kejar setoran, sekaligus pembuktian diri.."
"Mengembalikan kejayaan sebuah jaringan hotel lawas yang punya cabang dibeberapa kota, dan pernah menjadi rantai hotel terbesar pada masanya.."
"Wah.. terdengar hebat.."
"Iya dong, pernah dengar hotel Mercy..?"
Mata Nisa membulat. Tentu saja. Siapa yang tidak tau Hotel Mercy? meskipun merupakan hotel tua, namun Hotel Mercy tidak pernah ketinggalan passionnya untuk selalu bebenah dan mengikuti perkembangan.
"Jadi hotel itu.." mengambang.
Rei mengangguk bangga, membuat Nisa terkesima. Nisa pernah membaca disalah satu artikel online yang membahas tentang sejarah dunia perhotelan di negeri ini, bahwa Hotel Mercy dan Mercy Green Resort yang legendaris itu dulunya merupakan milik keluarga Hasyim, sebelum kepemilikan sahamnya terpecah seimbang pada beberapa pemegang saham sekaligus.
Lalu bagaimana mungkin saat ini dengan begitu percaya diri Rei bisa bertingkah seolah-olah itu miliknya seorang..?
"Kebenaran dari semua sejarah adalah, bahwa pada kenyataannya, jaringan hotel Mercy merupakan warisan dari keluarga Hasyim.." ucap Rei seolah bisa membaca semua tanda tanya yang ada diotak Nisa.
"W-warisan dari keluarga Hasyim..? lalu bagaimana mungkin warisan itu bisa jatuh padamu..?"
"Karena aku adalah anak dari Ariella Hasyim. Aku pewaris satu-satunya keluarga Hasyim. Mommyku anak tunggal, dan dia meninggal saat umurku belum genap tiga tahun. Selama ini semua yang menyangkut jaringan hotel Mercy sebenarnya diam-diam dikendalikan oleh Daddy dari belakang layar. Itu adalah kesepakatan yang alot antara Daddy melawan nenek dan kakekku sendiri pada kurang lebih dua puluh tahun yang lalu. Sesuai kesepakatannya, seharusnya sekarang sudah saatnya aku mengambil alih semuanya.. tapi.. sepertinya semuanya tidak semudah itu.."
Tatapan Nisa masih fokus pada Rei dengan segala kisah yang tidak pernah terbersit dalam benak Nisa sedikipun, terlebih mengenai Rei yang ternyata bukan anak kandung Mommy Meta.
__ADS_1
Kenyataan itu sungguh mengejutkan Nisa, karena selama ini tidak ada satu pun clue yang bisa ditangkap dari Mommy Meta, yang mengesankan bahwa Rei bukanlah anak kandungnya.
Wanita itu bahkan telah menangis tersedu-sedu dihadapan Nisa, menggambarkan ungkapan ketidakrelaannya jika Rei bersama Liliyana, hanya karena mengkhawatirkan masa depan Rei.
"Belum apa-apa sudah mengatakan tidak mudah.." celetuk Nisa. "Aku bahkan sangat yakin kamu bisa melakukannya.."
Rei melirik Nisa sekilas. "Tidak mudah.."
"Belum mulai sudah menyerah.."
Rei tertawa mendengar cibiran itu. "Katakan padaku, kenapa kamu begitu yakin jika aku mampu melakukannya..?"
Nisa berpikir sejenak. "Entahlah.. tapi aku memang meyakininya. Lagipula Hotel Mercy masih terlihat sangat menawan.. masih berkelas dan.."
Rei tertawa mendengarnya. "Nisa, aku tidak bicara tentang Hotel Mercy saja. Tapi jaringannya.."
"Maksudnya..?" alis Nisa semakin bertaut tak mengerti.
"Kamu hanya melihat Hotel Mercy yang mewah kan? tapi sayangnya aku tidak hanya bicara tentang hotel mewah yang terletak dijantung ibukota itu, melainkan jaringan hotel Mercy yang berada dibeberapa provinsi yang ada di negeri ini.." Rei mengulum senyum, berbeda dengan Nisa yang malah menatapnya kaget.
"A-appa..?"
"Total keseluruhannya ada empat belas rantai bisnis termasuk Hotel Mercy dan Mercy Green Resort. Sepuluh unit dengan kondisi tidak prima, dua diantaranya namanya bahkan nyaris tenggelam."
Dan kali ini Nisa benar-benar tidak bisa lagi menyembunyikan keterkejutannya. Empat belas jaringan hotel di beberapa Provinsi sekaligus..? Nisa semakin terhenyak, mulutnya terbuka sambil menatap Rei tanpa kata.
Namun reaksi Nisa itu semuanya tidak seberapa, karena pada detik berikutnya Rei juga telah melakukan hal yang sama..
Terpana dengan mulut sedikit terbuka, mendapati wajah polos Nisa yang seolah berubah menjadi manekin cantik yang kaku, dengan sepasang mata bulat yang terbingkai oleh bulu mata yang lentik sempurna. Sungguh mempesona.
Dua lembar belahan bibir Nisa yang sedikit terbuka mampu membuat Rei gagal fokus hingga menelan ludahnya sendiri berkali-kali, sibuk memikirkan mengapa pemandangan itu terlihat begitu menggairahkan..?
Begitu basah.. dan seperti buah cherry yang memerah..
.
.
.
Bersambung...
Like dan Support Rei yah.. 🤗
Thx and Lophyuu all.. 😘
__ADS_1