
Bima hampir saja menyerah dengan menghibur diri dan menganggap bahwa matanya memang telah salah melihat sosok Seiyna saat diparkiran tadi.
Lagipula memang sangat mustahil jika Seiyna bisa berada ditempat seperti ini, kan? apalagi dengan kondisi malam yang mulai larut.
Tadi sore Bima bahkan sempat mendengar gadis itu meminta ijin kepada Ibu Arini untuk menghabiskan weekend dirumah keluarga Wijaya, bersama Riri sahabatnya.
Seiyna bahkan membawa beberapa buku pelajaran untuk dipakai belajar bersama dengan Riri.
Selama ini Seiyna dan Riri memang bersahabat dengan baik. Adik satu-satunya Sean dan Rei itu memang sangat kompak sejak kecil.
Sekali lagi Bima nyaris menyerah, namun saat Bima hendak berbalik, sepasang matanya yang awas telah menangkap sosok Seiyna yang keluar dari salah satu pintu private room.
Bima urung membalikkan tubuh, dan dengan langkah secepat kilat ia telah menyusul sosok Seiyna yang berjalan tergesa menuju arah toilet.
"Seiyna.."
Seiyna nyaris memekik saat sosok kekar Bima telah menghalangi jalannya.
"B-bang.. Bima.." tergeragap. Detik berikutnya Seiyna nyaris pingsan saat meyakini bahwa dihadapannya saat ini Bima telah berdiri tegak dengan tatapan yang lurus dan tajam.
"Sudah kuduga, aku memang tidak mungkin salah mengenalimu."
"Bang Bima, tolong jangan katakan pada siapapun.." Seiyna berucap hampir menangis. "Jangan katakan kepada Daddy apalagi Mommy.. apalagi Kak Sean.. tolong Bang Bima.." ujarnya lagi seraya mengatupkan dua telapak tangannya, benar-benar memohon.
Bima menggeleng-gelengkan kepalanya sejenak, sebelum akhirnya berucap dengan dingin. "Ayo pulang."
Seiyna menggeleng pelan begitu seraut wajah Riri melintas dibenaknya. "Tunggu sebentar, Abang.. pliiss.. aku.. aku harus.." kepala Seiyna menoleh kesana kemari seolah mencari sesuatu tapi ia enggan mengucapkannya.
"Mencari siapa?"
"T-tidak.."
"Jangan bohong."
"A-anu.. Bang.. Riri.."
"Astaga.." Bima menepuk jidatnya yang mendadak pening. "Kalian berdua ini benar-benar.." rutuk Bima geram, kembali menoleh pada seraut wajah Seiyna yang pucat pasi menahan kegugupannya dihadapan Bima atas aksi nekadnya malam ini.
Bukan apa-apa, karena selama ini dimata Seiyna, Bima sungguh menakutkan.
Selama ini Bima adalah mata dan telinga Daddy dan Mommy, lalu bagaimana mungkin Seiyna tidak merasa takut dengan sosok tinggi tegap berwajah super dingin dihadapannya ini..?
Selama mengenal Bima, Seiyna bahkan tidak pernah bicara panjang lebar dengan sosok itu, bicara hanya seperlunya saja itupun kalau Seiyna merasa tidak ada lagi orang yang bisa ia tanyakan.
Bima adalah pria super dingin dengan sorot mata yang tajam, Seiyna bahkan bergidik saat sekedar bersisian atau berpapasan dengan Bima dirumah.
"Kebetulan sekali Sean dan Rei berada ditempat ini. Mereka harus tau kenakalan kalian.. ayo.." Bima langsung menangkap pergelangan tangan Seiyna begitu saja, menyeretnya tanpa ampun dari tempat itu.
"Abang, tunggu.. tunggu dulu sebentar.. Abang tolong, dengar dulu."
Seiyna terlihat mencoba memberontak dengan berusaha melepaskan pergelangan tangan Bima yang mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat, namun sepertinya usahanya tidak membuahkan hasil berarti.
"Abang.. tolong dengar dulu.."
"Jangan sampai Kak Rei dan Kak Sean tau.."
__ADS_1
"Ishh.. Abang..!"
Seiyna membali berusaha menarik tangannya dengan sekuat tenaga.
"Diam..!"
"A-abang.. Bi.. ma.." air mata Seiyna langsung luruh mendapati bentakan keras itu.
Tidak bisa ditahan lagi, saat ini ketakutan Seiyna benar-benar telah berada dilevel tertinggi, Seiyna telah sesegukan dihadapan Bima yang tak kalah terhenyak saat menyadari satu bentakan kerasnya telah membuat Seiyna meleleh seperti margarin yang berada diatas wajan panas.
"Abang pliss.. j-jangan bilang.. Seiyna ta.. kut.. Ri.. ri.."
"Riri kenapa?" suara Bima sedikit melunak, hatinya diliputi iba melihat air mata Seiyna yang berlinang deras.
"T-tidak ada.. Riri.. Riri.. tidak kem.. bali.. dari toilet.. huhu.. aku takut, Abang.."
Mendengar penjelasan Seiyna yang terbata-bata mampu membuat Bima kalang kabut.
Riri tidak kembali?
Bagaimana mungkin?
Bima memijat dahinya kalut.
"Aku akan mencari, Riri, tapi sebelum itu, tunggu aku dimobil." Bima memutuskan, mencoba berpikir dengan cepat.
"Aku akan ikut mencari.."
"Jangan membantah. Kalau kamu nekat berkeliaran ditempat ini, bisa-bisa Rei melihatmu.." ujar Bima sambil melirik jam yang berada dipergelangan tangannya.
Seiyna memilih mempercayai pria itu sepenuhnya, dan meyakini bahwa Bima mampu mengendalikan semua kekacauan akibat ulah egoisnya malam ini.
Beberapa saat kemudian Seiyna telah berada didalam Rubicon hitam milik Bima.
"Kunci pintunya dari dalam, jangan pernah membukanya selain aku.."
Itu pesan Bima sebelum menutup pintu mobil.
Baru saja Bima berniat meninggalkan Seiyna dan kembali kedalam The Reds manakala dari kejauhan matanya telah menangkap sosok Rei yang berjalan keluar dengan tergesa bersama istrinya yang terlihat kesulitan mensejajari langkahnya yang panjang dan lebar.
Bima belum sempat mengurai kondisi keadaan seperti apa yang sedang terjadi, manakala dirinya menangkap sosok yang lain, berada beberapa meter dibelakang Rei yang terlihat berwajah geram.
'Sean..?'
Bima berlari kecil untuk mendekati tiga sosok tersebut, sudut matanya sempat menangkap sosok Seiyna yang menggelosor kebawah mobil untuk menyembunyikan diri.
Didalam sana, Seiyna pastinya juga telah mengenali kehadiran tiga sosok tersebut, makanya gadis itu terlihat menyembunyikan dirinya sebaik mungkin.
"Rei.. tunggu.. aku bilang tunggu..!" Sean nekad menarik bahu Rei yang hendak menaiki mobilnya, namun tangannya telah ditepis kasar.
"Pergi..!"
Bima telah berada diantara keduanya, meskipun belum sepenuhnya mengerti apa yang terjadi. Sementara Nisa terlihat berada disisi mobil yang lain, juga terlihat urung memasuki mobil. Memilih menatap kedua wajah Rei dan Sean berganti-ganti dengan tatapan yang sama bingungnya dengan Bima.
"Rei, berikan aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya.."
__ADS_1
Mendengar itu Rei malah tertawa mengejek. "Semuanya sudah jelas. Apalagi yang mau dijelaskan..?"
"Rei.."
"Sean. Kamu benar-benar tidak sabaran yah.. kamu bahkan tidak bisa menunggu barang sejenak, sampai aku benar-benar pergi..?!"
"Rei.."
"Lalu untuk apa memaksaku datang dan mengajak bertemu? sengaja ingin membuatku melihatnya..? kamu memang sengaja melakukannya, kan..?!" hardik Rei penuh emosi.
Sean nampak menggeleng lesu. Penampilannya saat ini sungguh sangat kusut masai. Rambutnya berantakan, kemejanya terlihat lusuh bahkan belum terkancing sempurna.
Bima masih membisu. Belum bisa meraba insiden apa yang sedang terjadi didalam The Reds, yang luput dari pantauannya, sehingga memicu ketegangan sepasang sahabat yang dulunya sangat kompak ini, karena yang ada dimata Bima sekarang adalah Rei yang berdiri dengan wajah yang dipenuhi amarah, Nisa yang terlihat bingung seperti dirinya, dan Sean yang penampilannya sudah tak ada bedanya dengan seorang tersangka penggerebekan, yang bahkan hampir tidak sempat memakai pakaiannya dengan benar.
"Rei.."
"Baji ngan..!"
Sean menarik nafasnya. "Aku minta maaf.." memilih menundukkan wajahnya, seperti seorang terdakwa yang sedang menunggu penghakiman, tidak bisa lagi membela dirinya sendiri.
Bukk..!!
Semua yang ada ditempat itu telah terhenyak tanpa terkecuali, saat Rei meninju bemper mobilnya keras.
Nisa yang berada di seberang sana bahkan sempat terpekik dan menutup mulutnya. Baru kali ini Nisa melihat kemarahan Rei yang seperti saat ini, dan itu cukup membuatnya khawatir meskipun ia juga tidak terlalu memahami perseteruan apa yang telah terjadi sehingga situasi antara Sean dan Rei menjadi memanas.
Seingatnya, setelah memasuki The Reds beberapa saat yang lalu, mereka mengambil tempat disebuah meja untuk menunggu kehadiran Sean yang tak kunjung tiba, serta begitu sulit dihubungi.
Kemudian, Rei hanya pamit sebentar untuk memesan air mineral untuknya dimeja bartender.
Hanya kira-kira berselang lima menit pria itu telah kembali dengan wajah murka, dan langsung menyeretnya keluar begitu saja dari The Reds, dengan Sean yang telah mengejar mereka sampai ditempat ini, seraya meminta maaf berkali-kali.
"Brengsek..!!" umpat Rei keras dengan sepasang mata memerah menandakan kemarahan.
Melihat penampakan menakutkan itu Sean menelan ludahnya, lidahnya kini terasa semakin kelu. "Rei.." lirihnya penuh sesal.
"Ambil.."
"Apa..?"
"Ambil dia untukmu.."
"Rei.. dia.."
"Liliyana. Heh.. perempuan pela cur itu, memang pantas untuk sahabat baji ngan seperti dirimu..!" tuding Rei seraya masuk kemobilnya begitu saja, diikuti Nisa yang juga tergopoh-gopoh masuk kedalam mobil, sebelum mobil tersebut menancap gas dengan kencang.. meninggalkan kepulan debu pada udara malam yang kelam..
.
.
.
Bersambung..
LIKE and Support dong.. 🥰
__ADS_1
Thx and Lophyuuuu my kesayangann.. 😘