
Hai, dengan berat hati mau mengatakan bahwa PASUTRI mau tamat nih.. 🥺
...
Ini penyiksaan bathin..!
Bima merutuk dalam hati.
Bagaimana mungkin tidak tersiksa jika dihadapkan pada situasi seperti ini..?
Usai bunyi suara petir yang sahut menyahut yang membuat Seiyna memeluk tubuhnya kuat-kuat, Bima telah memutuskan untuk mendudukkan dirinya ditepi ranjang, berharap dengan demikian Seiyna bisa memejamkan matanya, tidur dengan tenang, dan membebaskan dirinya dari penyiksaan bathin.
Mana ia tau jika setelahnya Seiyna malah langsung beringsut masuk kedalam pelukannya begitu saja tanpa merasa rikuh..?
Benar-benar diluar dugaan Bima! hatinya, jantungnya, bahkan seluruh tubuhnya.. belum siap dikejutkan seperti ini!
Setelah bejenak-jenak lamanya otak Bima yang sempat nge-lag karena belum juga bisa mengurai dengan baik apa yang sedang terjadi, Bima pun memilih menyandarkan punggungnya kekepala ranjang milik Seiyna, mencoba menegakkan punggungnya yang menegang sementara Seiyna malah membuat dirinya menjadi semakin nyaman dengan bersandar penuh diatas dadanya.
"S-seiyna jangan seperti ini.." bisik Bima kaku, ia sungguh merasa tidak nyaman dengan tubuh Seiyna yang kini menempel sempurna ditubuhnya.
Wajah Seiyna bersembunyi didada Bima, sepasang bukit kembar menekan bagian perut, sebelah pahanya yang putih mulus terbalut sepasang piyama dengan potongan celana mirip hot pants bertengger diatas paha Bima, belum lagi jemari gadis itu bergerak-gerak gelisah dipermukaan kaos berwarna biru navy yang melekat ditubuh Bima.
Mendapati semua itu bagaimana mungkin otak Bima tidak menjadi semakin kalut..?
Bima sangat khawatir, kalau terus berada diposisi seperti ini, bahkan degup jantungnya yang menggila bisa didengar Seiyna dengan mudah, apalagi makhluk nakal yang berada dibawah sana terasa mulai menyesakkan celana jeans yang dipakai Bima.
"Seiyna.."
"Abang kenapa sih..? daritadi protes terus.." Seiyna mendongakkan wajahnya, membuat nafas hangatnya menyapu leher Bima, membuat seluruh bulu kuduk milik Bima meremang sekaligus.
Bima lagi-lagi menelan ludah, membathin dengan gemas.
'Astaga.. apa gadis ini tidak menyadari jika saat ini dia sedang melakukan hal berbahaya untuk seorang pria..?'
Rutuk Bima lagi, nyaris putus asa mengendalikan dirinya.
"Seiy.."
"Hmm.."
"Tolong jangan seperti ini kepada pria lain.."
"Ih, Bang Bima..! memangnya aku mau melakukan ini kepada siapa..?" ucap Seiyna sewot, refleks menjauhkan tubuhnya yang sejak tadi bersandar manja didada bidang milik Bima.
"Maksud aku.."
"Aku memeluk Bang Bima karena Abang suami aku. Kalau bukan suami masa mau aku peluk sih..?!" protes Seiyna lagi dengan wajah kesal.
__ADS_1
'Suami..?'
'Oh my God.. Seiyna, kamu ini sedang bicara apaaa..? apa saat ini kamu memang sengaja ingin membuatku gila..?'
'Bima, tolong fokus. Tolong jangan pernah lengah sedikitpun hanya karena Seiyna mengakui dirimu sebagai suaminya..!'
Bima memijat dua alisnya sekaligus, mencoba menetralisir perasaannya yang telah dikacaukan Seiyna dengan begitu mudah.
Bima tau dirinya bukan malaikat. Sejak tadi tubuh serta naluri kelelakiannya terus diprovokasi oleh wanita secantik Seiyna yang notabene adalah istrinya.. sungguh Bima harus bekerja keras!
Bima terus menanamkan kepada dirinya, bahwa meskipun ia memiliki hak penuh atas semua yang ada didiri Seiyna, tapi mau bagaimana lagi.. Bima bukanlah pria yang pantas sehingga bisa meminta semua haknya sebagai suami seenaknya.
"Seiyna, bukan maksud aku untuk mengatakan hal yang bukan-bukan. Tapi aku hanya.. hanya.."
Mengambang.
Bima sendiri bingung harus menjelaskannya seperti apa tanpa harus membuat Seiyna tersinggung. Bahwa dirinya tidak ingin Seiyna memeluknya lagi seperti tadi.
Sedangkan Seiyna yang selama ini selalu merasa kesulitan untuk memahami bagaimana Bima memaknai dirinya, justru merasa bahwa semua keengganan Bima saat ini, membuat Seiyna benar-benar tidak ingin berhenti.
Sikap pria itu memang sangat baik dan lembut dalam menghadapi Seiyna, namun terlihat sekali bahwa selama ini Bima terlalu berhati-hati.
Tadi saja Seiyna bahkan bisa mendengar bunyi debaran jantung Bima yang seolah menggila didalam dada.
'Ini semua salahku..!'
Rutuk Seiyna tak habis-habisnya menyesali diri, namun disisi lain menjadikan dirinya ikut tertantang menebus kesalahan, meskipun tidak tau entah dengan cara bagaimana.
"Hhmm.."
"Kenapa Bang Bima senang sekali menyembunyikan apapun dariku. Apa semenyenangkan itu bisa membohongi aku..?"
Bima terhenyak mendengar tuduhan itu. "Seiyna kamu ini bicara apa..?"
"Bicara tentang Bang Bima yang gemar menyembunyikan sesuatu."
"Memangnya apa yang sudah aku sembunyikan darimu..?"
"Nomor ponsel."
"Apa..?" alis Bima bertaut
"Ternyata Abang punya dua nomor ponsel, kan? lalu kenapa selama ini tidak pernah mengatakannya..?" todong Seiyna dengan wajah kesal.
Terang saja kesal, pantas saja selama ini ia sering kehilangan jejak Bima, ternyata pria itu memiliki sebuah nomor khusus yang Seiyna tidak tau.
Dan jangan tanya darimana Seiyna mengetahuinya. Darimana lagi kalau bukan dari Tomi, sumber informasi terbaik Seiyna akhir-akhir ini perihal semua yang menyangkut suaminya.
__ADS_1
"Oh Itu.." sejenak Bima terlihat salah tingkah. "Yang satunya adalah nomor khusus untuk pekerjaan, Seiy.."
"Pantas saja aku kesulitan menghubungi, karena ponsel abang selalu tidak aktif. Apakah abang memang sengaja selalu mematikan dayanya agar aku tidak bisa mengganggu, Abang..?"
"Seiyna, bukan begitu.."
"Kenyataannya begitu..! aku kelimpungan mencari tau keberadaan Bang Bima..!"
"Itu hanya perkara kecil, aku juga tidak menyangka kalau kamu memerlukan nomorku yang lain.."
"Lalu kenapa nomor yang satunya selalu dinonaktifkan..?! Abang tau tidak kalau aku sering khawatir..?"
"Justru karena itu. Aku tidak ingin membuat orang lain khawatir." Bima bergumam perlahan seolah bicara pada dirinya sendiri.
"Ap-pa..? orang lain..? tapi.. tapi aku kan istri Abang.. Abang tega sekali menyebutku orang lain..!" air mata Seiyna nampak jatuh berlomba-lomba, membuat Bima semakin panik
"Aduh, Seiyna.. kenapa menangis sih? aku tidak bermaksud begitu.."
"Abang jahat.."
"Seiyna.."
"Aku dengar Abang juga pernah terluka waktu menemani Daddy saat ada pihak yang mengklaim lahan yang akan Daddy bangun lapangan golf.."
"Haaihhh.. apa lagi ini..?" Bima terlihat sedikit gusar saat mengetahui berbagai hal yang tidak pernah ingin ia tunjukkan malah semuanya telah diketahui Seiyna.
"Tapi benarkan..? dan aku tidak pernah tau bahwa waktu itu Abang terluka.."
"Itu hanya luka kecil untuk apa dipermasalahkan.." ujar Bima acuh.
"Tidak hanya itu..!"
"Baiklah apa lagi sekarang..?" ujar Bima dengan suara perlahan.
"Saat pulang dari menemani Kak Sean ke luar kota, katanya Bang Bima sempat sakit tapi bukannya pergi ke dokter, malah memilih tidur di apartemen seharian.."
Bima terlihat mengusap wajahnya sesaat. "Waktu itu aku hanya sedikit pening karena kelelahan dan kurang tidur saja.."
"Kalau tidak bisa pergi ke dokter, lalu apa susahnya mengatakan semuanya kepadaku? Abang selalu membuatku khawatir. Aku benci..!"
Bima menarik nafas panjang saat menyadari Seiyna telah tersedu dihadapannya.
"Iya, baiklah aku minta maaf yah. Lainkali kalau terluka aku akan bilang, kalau sakit aku juga akan bilang. Tapi tolong jangan menangis.."
Mendengar itu tangis Seiyna malah semakin keras, membuat Bima semakin salah tingkah sendiri, tidak tau harus berbuat apa.
Bima menyentuh sedikit ujung rambut milik seiyna, hanya diujung, namun detik berikutnya seolah tersadar Bima pun menelan ludah sambil menurunkan tangannya, menjauhi tangannya dari seluruh tubuh Seiyna yang berguncang kecil akibat tangis gadis itu yang sesegukan, sengaja memberi jarak aman agar hatinya tidak mudah memanipulasi jemarinya untuk menyentuh Seiyna lagi meskipun hanya seujung rambut.. sesuai janjinya sejak awal.
__ADS_1
...
Next boleh, tapi jangan lupa di support yah.. 🤗