
Rei nyaris tidak percaya jika Nisa bisa menghakiminya begitu rupa, mengungkit kebiasaan Rei setiap malam guna menyudutkan Rei dengan telak, terlebih mengucapkan kalimat beruntun tanpa tersendat.
"Wahh, Nisa, kamu benar-benar yah. Berani sekali kamu.. sejak tadi membantah semua ucapanku, bahkan balik menuding.."
"Apanya yang menuding. Lihat saja tumpukan bantal dan guling ini." Nisa terlihat menepuk beberapa guling yang tertumpuk diantara mereka. "Memangnya siapa yang selalu meminta extra guling ke pihak hotel setiap kali check in? siapa juga yang menyusunnya setiap malam..?"
Rei terdiam. Semua ucapan Nisa tidak hanya menohok ulu hatinya dengan keras, tapi juga mampu membuat kedua telinga Rei memerah dalam sekejap.
"Kenapa Rei? katakan alasannya kenapa melakukan semua itu? sekeras itukah kamu harus menjaga dirimu..? biar apa coba..?"
Rei masih diam, membiarkan semua ungkapan hati Nisa yang seolah menjadi refleksi kekecewaan gadis itu dari dalam lubuk hatinya selama ini.
"Oh.. aku tau.. kamu begitu takut aku menyentuhmu? kamu takut aku bermimpi buruk, lalu memelukmu tanpa sengaja? kamu tidak ingin aku.."
"Sudah cukup." tepis Rei gerah. "Bicara yang tidak-tidak, menyimpulkan seenaknya, apa kamu memang suka melakukan semua itu? memangnya kamu tau apa?" cibirnya.
"Memangnya apa yang tidak aku tau? aku ingin membuatmu terkesan kamu melarangku, aku berpakaian bagus kamu menertawaiku.."
"Jadi benarkan? semua sikap menyebalkanmu malam ini lagi-lagi dikarenakan pakaian aneh itu..?" Rei mulai gusar.
"Apa..? pakaian aneh..? itu adalah pakaian yang dipilih mommymu untukku, dengan tujuan untuk membuatmu terkesan..!"
Rei melengos. "Benarkah? lalu kamu mau membuatku terkesan padamu, atau malah mau membuat seisi dunia ini yang terkesan padamu..?" tuding Rei dengan suara yang mulai naik satu oktaf, setara dengan nada suara Nisa yang juga belum ada tanda-tanda untuk mengakhiri perang dingin diantara mereka.
"Apa maksudmu, Rei..? aku tidak bermaksud mencari perhatian semua orang.."
"Aku sampai membatalkan reservasi gara-gara pakaianmu itu!"
"Bukan karena pakaianku, bilang saja karena kamu malu pergi keluar untuk makan malam denganku..!"
"Lalu kamu ingin aku bagaimana? tetap mengajakmu makan malam diluar dan membiarkan kamu pergi dengan pakaian seperti itu? agar semua orang diluar sana bisa ikut menikmati kecantikan istriku? begitu?"
Nisa terhenyak mendengar penuturan yang dipenuhi amarah itu.
"Aku mengajakmu makan malam dikamar dengan pakaianmu itu agar hanya aku yang bisa melihat semua kecantikanmu. Lalu kamu menganggap aku salah?"
"Rei.. kamu.."
'Buk.. bukk..! bukkk..!!'
Rei terlihat bangkit dari duduknya, kemudian dengan gusar dia menendang tumpukan bantal yang berada ditengah tempat tidur mereka dengan sekuat tenaga sehingga bantal-bantal tersebut melayang dan berhamburan kelantai.
__ADS_1
Nisa kembali terdiam melihat pemandangan itu. Ia menelan ludahnya kelu begitu menyadari wajah Rei telah memerah dan mengeras sempurna, menandakan kemarahan pria itu yang telah sampai diubun-ubun.
Semua pemandangan menakutkan itu telah membuat nyali Nisa yang semula berkobar saat nekad berdebat sesaat yang lalu, langsung menciut dalam sekejap.
"Itukah yang ingin kamu lihat?"
Rei masih berdiri sambil mengarahkan tatapannya kebawah, kearah Nisa yang terduduk gelisah.
"Sudah kan..? tempat tidur yang tanpa penghalang.. kamu pikir untuk apa aku melakukannya? untuk menjaga diriku..? begitu?"
"Aku.. aku.."
"Aku seorang lelaki. Apanya yang harus aku jaga? apa yang harus aku takuti?"
Sinar mata Rei menyorot tajam dari atas sana, terasa menghakimi Nisa yang duduk berselonjor diatas ranjang dengan wajah memucat.
"Baiklah.. kemari.."
Rei telah membaringkan tubuhnya lagi keatas ranjang, tangannya menepuk-nepuk dadanya berkali-kali, membuat Nisa meliriknya dengan kikuk.
"Ayo sentuh aku.. cepat peluk aku. Aku sama sekali tidak takut kamu mau memeluk tubuhku sengaja atau tidak sengaja, mau mimpi buruk atau mimpi yang 'uwwu'.. buatku sama saja..! ayo cepat peluk aku..!!"
Nisa terhenyak. Diam-diam selain wajahnya merona malu mendengar kalimat Rei, Nisa juga bergidik menyadari kemarahan Rei yang sepertinya belum juga usai.
Nisa menelan ludahnya melewati tenggorokan yang kelu. Jemarinya mempermainkan ujung selimut guna membagi keresahan yang tiba-tiba memeluk hatinya, membuatnya semakin gugup.
Dan otaknya belum bisa mencerna apa sebenarnya yang ingin Rei mengerti dari dirinya, manakala Nisa bisa merasakan sebuah tangan kekar menarik lengannya begitu saja kebelakang, membuat tubuh Nisa tertarik dan mendarat sukses diatas sebuah dada yang bidang dan keras.
Merasa panik, Nisa ingin mengambil jarak secepat kilat, tapi yang ada pria dibawahnya telah bergerak lebih dahulu, begitu cepat membalikkan keadaan sehingga membuat tubuh Nisa tiba-tiba saja sudah berada dibawah kungkungan sempurna dua buah lengan yang kekar, sementara wajah Rei hanya berada sekitar satu jengkal dari wajahnya.
Namun setelah beberapa saat saling menatap tanpa kata, tiba-tiba tatapan pria itu melembut.
Nisa menggigit bibirnya dalam diam, begitu menyadari tangan kanan Rei terangkat guna membelai rambutnya yang meriap. Dadanya berdebar tak karuan mendapati sikap pria itu yang mengendur.
"Aku melakukan semuanya untuk menjaga keutuhanmu, tapi kamu malah terus menguji sejauh mana aku bisa bertahan.." berucap lirih dengan sepasang mata yang mengunci kedua bola mata Nisa sekaligus.
"Rei, aku.."
"Anisa Handayani.. kamu adalah pemenangnya. Karena jika aku memaksa bertahan lebih lama.. maka bisa-bisa, aku yang akan menjadi gila.."
Usai berucap demikian Rei melabuhkan bibirnya diatas bibir Nisa yang masih terkesima, melu matnya dengan begitu lembut namun menuntut dan semakin dalam.
__ADS_1
Kemudian setelah beberapa saat, dengan dibantu kemahiran dua tangannya, Rei berusaha menggiring tubuh Nisa yang terhenyak kaku dalam kekuasaannya yang dominan, berusaha membuat Nisa menerima satu persatu sentuhan tertunda yang seharusnya telah ia berikan sejak awal.
"Rei.."
Rei membungkam lagi mulut yang hendak mengajukan keberatannya, begitu menyadari kedua tangan nakal miliknya yang ingin menerobos kedalam piyama yang dikenakan Nisa, seolah tidak puas jika hanya menyentuhnya dari luar.
Nisa yang mulai mendapatkan kesadaran serta pengendalian dirinya berusaha menerima semuanya dengan susah payah.
Sesungguhnya Nisa pun sangat menginginkan Rei, tapi disisi lain, hatinya bahkan meragukan hati pria itu.
Rei bukannya tidak bisa merasakan kebimbangan yang sedang mengacaukan keyakinan Nisa. Karena itulah ia telah menutup semua celah, sekecil apapun itu, agar Nisa tidak memiliki kesempatan untuk menolaknya.
Dengan segala kelembutan akhirnya Rei bisa meyakinkan Nisa untuk menerima semua keindahan yang ia suguhkan sedikit demi sedikit..
Ibarat menaiki sebuah sampan, Rei terus mengajak Nisa mengayuh hingga ketengah..
Membuat Nisa melupakan daratan, sehingga bisa menerima kehadiran dirinya untuk berada dikedalaman sana..
Dengan sepenuh hati..
.
.
.
Bersambung..
Thank's God I found you, by. Mariah Carey, ada visual videonya Rei & Nisa 🤗
(Seiyna & Bima, Sean & Riri juga ada)
Follow akun author sosmed author :
IG. @khalidiakayum
Fb. Lidia Rahmat
__ADS_1
Support yah 🙏 Loophyuu all.. 😘