
Pov beberapa saat yang lalu..
Pada detik dimana Sean luruh diatas tubuh yang juga bersimbah peluh yang sama, seisi ruangan itu telah dikuasai keheningan.
Tidak ada lagi suara de sahan, erangan, hembusan nafas yang memburu.. bunyi khas yang memacu..
Yang tersisa benar-benar hanyalah keheningan.
Begitu panjang.. dan lama..
Sebelum akhirnya..
"Maaf.."
Saat membisikkan kalimat itu, Sean merasa dirinya hampir menangis.
Penyesalan memang selalu datangnya terlambat. Begitu pula yang dirasakan Sean sekarang.
Namun seberapa besar penyesalan yang Sean rasakan akibat ketidakmampuannya mengendalikan diri dan hawa nafsunya, masih lebih besar lagi perasaan menyesal yang Sean rasakan, begitu Sean tersadar dirinya telah gagal menjaga seorang gadis, yang selama ini baginya sudah tak ubahnya bak adik sendiri.
Kenyataannya yang ada sekarang, kesucian Riri justru terkoyak olehnya. Yah.. olehnya.. orang yang seharusnya menjadi pria yang melindungi Riri selayaknya ia menjaga Sheiyna selama ini.
"Riri.."
Sean mengangkat wajahnya agar sedikit berjarak, mencoba memberanikan diri menatap Riri yang sejak tadi hanya membisu, diam tanpa kata.
Riri membuang wajahnya kesamping begitu tatapan Sean lekat padanya.
Sungguh Riri merasa tidak bisa membenci. Tapi untuk membalas tatapan mata Sean pun ia tak mampu lagi.
Riri tau dirinya telah kehilangan sesuatu yang paling berharga, tapi Riri bahkan tidak bisa menyalahkan Sean. Pria itu telah berusaha menolaknya sekuat tenaga.. namun akhirnya kalah karena semua sikapnya yang memprovokasi dan memaksa.
Drrrttt.. drrrtt..
Getaran ponsel Sean yang berada diatas ranjang mengalihkan perhatian Sean sejenak, membuat tubuhnya sedikit beringsut menjauh.
'Sean, bantu aku menemukan Riri, sebelum ada orang yang berniat jahat..'
Sean terpekur membaca chat Bima, yang dengan sendirinya seolah ingin mengatakan bahwa Bima telah mengetahui jika Riri berada di The Reds malam ini, dalam keadaan yang sedang tidak baik-baik saja.
Sean jadi tidak habis pikir, entah siapa orang yang telah begitu tega mengerjai Riri sedemikian rupa, sehingga sesaat yang lalu Riri bisa berada dibawah pengaruh obat perangsang.
Namun pada akhirnya Sean memilih mengurungkan niatnya, tidak bermaksud lagi untuk mencari tau lebih banyak.
Saat ini, mengetahui semua pokok kebenaran sepertinya tidak ada gunanya lagi.
__ADS_1
Apa gunanya..?
Karena siapapun yang telah berbuat iseng pada Riri, pada akhirnya justru dirinyalah orang jahat itu, yang dengan brengseknya telah merampas masa depan Riri, merusaknya dalam sekejap.
"Ri, aku tau, perbuatanku ini sangat salah, tidak bisa aku tebus hanya dengan kata maaf, tapi aku akan tetap mengatakannya.." Sean mengatur nafasnya agar tidak dikuasai emosi. "Riri.. maafkan aku.." lirih suara Sean, yang begitu terucap langsung disambut sebuah bening yang meluncur dari sepasang kelopak mata Riri yang menatap hampa kearah diniding yang bercat putih, tetap tak berani menatap wajah Sean yang sedang menatapnya lekat.
"Riri.. tolong bicara. Bahkan kalau kamu ingin marah, memaki, atau memukulku sekalian, maka lakukan saja. Aku pantas menerimanya.. tapi tolong jangan diam begini.." ujar Sean lagi nyaris putus asa menghadapi kediaman Riri yang tak kunjung bicara sepatah katapun.
"Riri.."
"Kak Sean maafkan aku juga.."
Tenggorokan Sean seolah tercekat mendengarnya. Sean tidak menyangka jika dalam keadaan seperti ini.. Riri malah berbalik meminta maafnya.
"Tolong jangan katakan apa-apa lagi, Kak. Tolong jangan bicara lagi tentang ini pada siapapun. Aku takut, aku malu, ini mimpi buruk. Tolong lupakan.. aku tidak mau mengingatnya.. tidak mau lagi.."
Sean meraih tubuh yang bergetar itu, memeluknya erat, menangis disana bersama Riri.
"Baiklah.. baik.. jangan menangis. Aku berjanji tidak akan mengungkitnya dihadapanmu.. atau dihadapan siapapun. Mari anggap ini mimpi buruk, dan semoga semua ingatan akan terhapus.."
Sean mengatakannya sesuai keinginan Riri, meskipun ia juga tidak yakin, apakah bisa menghapus ingatan buruk pada malam ini dari benaknya.. terlebih dari benak Riri.
Sean sengaja mengatakannya agar bisa membuat Riri tenang, berusaha mengikuti kemauan gadis itu, apapun keinginannya, jika saja itu benar-benar bisa menghapus semua ingatan buruk Riri akan semua yang telah terjadi malam ini.
Sean dan Riri terduduk begitu saja dengan tatapan bingung.
"Sean..! buka ! aku tau kamu ada didalam sana..! cepat.. buka, atau aku menghancurkan pintu ini..!!"
Suara dibalik daun pintu itu terdengar begitu kuat, seolah ingin menyaingi dentuman house music yang masih begitu jelas terdengar.
"Kak Rei.. itu suara Kak Rei.." Riri bergumam panik, mulai menangis lagi.
Sean berniat bangkit dari ranjang, namun pergelangan tangannya kirinya telah dicekal oleh Riri dengan kedua tangannya sekaligus.
Saat Sean menatap Riri, seluruh wajah gadis itu telah dipenuhi air mata. Riri menggelengkan kepalanya berkali-kali, membuat Sean merasa iba.
"Aku mohon jangan, Kak.. jangan sampai Kak Rei tau.."
Sean menggeleng, tangannya refleks terangkat untuk mengusap kedua pipi Riri dengan lembut.
"Tidak. Percayalah padaku.." janji Sean penuh kesungguhan, seraya menatap manik mata Riri dalam, seolah ingin memberikan Riri keyakinan.
Perlahan Sean beringsut turun dari ranjang tersebut, sambil mencoba meraih setiap lembar pakaiannya yang bertebaran tak beraturan dilantai.
Riri membuang muka begitu mendapati tubuh nyaris naked milik Sean yang hanya terlilit ujung selimut yang menutupi bagian tervitalnya, sehingga memudahkan Riri untuk melihat semuanya dengan begitu nyata.. yakni tubuh kekar dan liat.
__ADS_1
Riri merasa malu saat mendapati beberapa bekas cakaran dipunggung yang gagah itu, yang membuat Riri refleks membenamkan seluruh tubuh dan wajahnya dibawah selimut.
XXXXX
Mobil Rei telah menghilang dari pandangan, meninggalkan Sean dan Bima diparkiran tersebut tanpa bisa berbuat apapun.
"Sean.." panggil Bima seraya mendekati Sean yang masih berdiri ditempatnya dengan penampilan kusut masai. Kedua tangan Bima terbenam di saku celana jeansnya. "Bukankah seharusnya kamu menjelaskannya kepada Rei? kenapa kamu tidak mengatakannya..?"
Sean membisu, sepasang matanya menatap Bima dengan nanar.
Jangankan berkata jujur kepada Rei, Sean bahkan bingung haruskah ia mengatakan semuanya kepada Bima?
"Dia bersamamu kan?" pungkas Bima tanpa ragu.
Sean sedikit terhenyak, sibuk menerka apa maksud Bima dengan menyebut 'dia', namun mulut Sean tetap memilih bungkam.
"Aku baru mendapat informasi dari salah seorang anak buahku yang aku tugaskan khusus untuk memantau aktifitas Liliyana seharian ini." Bima berucap lagi, seraya terus mengawasi setiap gerak tubuh Sean yang semakin terlihat gelisah, tak ada satupun yang lepas dari pengawasan mata awas Bima. "Aku kaget saat mengetahui, bahwa ternyata sampai saat ini.. Liliyana masih berada dalam sesi pemotretan.."
Sean kembali terhenyak mendengar kenyataan itu, namun tetap berusaha tenang dan mengendalikan dirinya sekuat tenaga, meskipun tatapan Bima terus mengawasinya lekat nyaris tanpa kedip.
"Sean.. sejujurnya aku pun masih tidak mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku tidak ingin mempercayainya, tapi pada kenyataannya aku telah benar-benar kecewa padamu.."
"Bang Bima.." ujar Sean terdengar semakin gundah namun semua itu tak menyurutkan tekad Bima untuk menghentikannya memperoleh kebenaran.
"Katakanlah sejujurnya.."
"Bang Bima, aku hanya.."
"Gadis mabuk yang ada didalam kamarmu.. itu Riri kan..?"
Dan Sean tidak bisa lagi melarikan diri semakin lama, karena ternyata Bima benar-benar telah memegang kartu as-nya.
Sean hanya bisa tertunduk dalam diam, larut dalam penyesalan yang menghantam setiap dinding hatinya.. sebelum akhirnya menganguk lemah tanpa kata..
.
.
.
Bersambung..
Like and Support jangan lupa yah.. 😀
Thx and Lophyuu all.. 😘
__ADS_1