PASUTRI

PASUTRI
Menutupi kesalahan


__ADS_3

Double UP nih.. 🤗


.


.


.


"Bang Bima.. aku minta maaf karena tidak bisa membantu, Abang, terkait dengan keputusan Daddy.." Sean berucap perlahan memecah keheningan yang bertahta diantara dirinya dan Bima setelah sekian lama.


Saat ini Sean dan Bima tengah duduk diteras depan, berteman malam yang semakin larut dan pekat.


Bima terlihat mengangguk kecil. "Tidak ada yang perlu dimaafkan, Sean. Bagiku keputusan Pak Tian tidak ada bedanya dengan sebuah perintah, sehingga aku bisa menerima apapun keputusan itu.."


Kemudian nafas Bima terhembus berat sebelum kembali berucap.


"Aku malah justru kasihan memikirkan perasaan Seiyna.. karena bagaimana mungkin kehidupan Seiyna harus terjebak denganku seperti ini..?"


Sean terdiam. Ia memahami apa yang menjadi beban pikiran sekaligus penyesalan Bima, sehingga wajar saja jika Bima merasa rendah diri.


Tapi satu hal yang membuat Sean kembali mengagumi sosok Bima adalah karena Bima bisa bertanggung jawab dengan apapun, sekalipun itu diuar dari kesalahannya.


Sementara dirinya..?


Hhhh.. Sean merasa dirinya adalah pribadi yang sebaliknya, pengecut kerdil yang tidak berguna.


Jangankan bisa mengakui kesalahan dan bertanggung jawab, menelpon atau sekedar mengirim message untuk menanyakan keadaan Riri pun, hingga detik ini.. Sean enggan melakukannya.


"Riri bagaimana, Sean..?" tanya Bima, sepertinya bisa membaca apa yang sedang bercokol dibenak Sean yang membisu disebelahnya.


Sean terlihat mengangkat kedua bahunya.


"Tidak mencoba menghubunginya lagi..?"


Sean menggeleng. "Untuk apa, Bang..? kita berdua telah sepakat untuk melupakan semuanya dan menganggapnya tidak pernah terjadi apa-apa.."


"Mana bisa begitu..?" kilah Bima.


"Itu kemauan Riri, Bang.."


"Iya kalau apa yang dia ucapkan sesuai dengan kata hatinya.."


Alis Sean bertaut menerima ucapan Bima. "Maksud Abang..?"


"Wanita sangat suka membohongi perasaannya sendiri. Terkadang saat ia mengangguk hatinya menolak.. dan saat ia menolak.. padahal hatinya ingin.."

__ADS_1


Lagi-lagi Sean terdiam mendengar kalimat Bima.


"Aku harus pergi," pungkas Bima sambil beranjak dari kursi teras.


"Mau kemana, Bang..?"


"Kantor pusat. Pasca kejadian tadi siang, dalam beberapa hari kedepan Pak Tian ingin penjagaan dirumah ini dan dikantor pusat dinaikkan level ke siaga.." ungkap Bima. "Jadi aku harus memantaunya terus selama satu kali dua puluh empat jam nonstop.."


Mendengar itu Sean terlihat manggut-manggut. Pantas saja tadi sore Sean bisa melihat jika didepan gerbang penjagaan personilnya seolah bertambah tiga kali lipat dari biasanya.


Ternyata Daddy telah mengantisipasi semuanya hingga sedetail mungkin.


"Bukankah pelaku sudah diringkus tadi sore, Bang?" tanya Sean lagi seolah ingin memastikan kebenaran berita yang ia dengar menjelang maghrib tadi, bahwa seorang pria berusia diatas tiga puluh tahun, yang merupakan pelaku peretasan situs resmi indotamagroup.com sekaligus penyebaran foto dan video Seiyna dan Bima itu telah berhasil diringkus oleh pihak berwajib.


Bima terlihat mengangguk. "Iya benar, tapi pengakuan tersangka belum sepenuhnya meyakinkan karena seolah masih ada pihak yang menjadi dalang utama yang sedang ia sembunyikan identitasnya.." ujar Bima lagi menjelaskan panjang lebar.


"Pasti ada orang yang terlibat didalamnya, Bang. Tidak mungkin orang itu berani mengambil resiko sebesar itu jika hanya beralasan iseng semata.."


"Itulah yang sedang menjadi fokus penyelidikan polisi saat ini." ujar Bima lagi sambil mengantongi ponselnya. "Aku pergi, Sean.."


"Baiklah, hati-hati, Bang.."


Bima pun menganguk sebelum benar-benar beranjak dari hadapan Sean, mendekati mobil rubicon warna hitam pekat miliknya yang terparkir tak jauh dari teras depan rumah keluarga Djenar yang megah.


Keesokan paginya, Arini yang tengah mempersiapkan sarapan dengan dibantu beberapa orang maid mendadak teringat akan sesuatu.


"Bik, tolong bawakan semua itu kemeja makan yah.." ujar Arini seraya menunjuk dua buah nampan berisi nasi goreng spesial, telur mata sapi dan omelet kepada para maid, sementara dirinya sendiri telah menyambar ponselnya yang sejak tadi tergolek diatas meja yang ada ditengah dapur moderennya.


Arini baru saja teringat janjinya kepada Seiyna semalam, karena saat hendak menjelang tidur Seiyna meminta dirinya untuk bisa bicara dengan Meta agar mau mengijinkan Riri menginap dirumah selama dua hari kedepan, sampai hari pernikahan Seiyna tiba.


"Halo, Rin.. ada apa? apakah terjadi sesuatu lagi..?"


Suara dengan nada khawatir milik Meta terdengar jelas dari seberang sana.


"Tidak.. tidak.. semuanya tetap berjalan seperti yang telah diputuskan Tian." jawab Arini yang entah kenapa tiba-tiba merasa hatinya kembali diliputi rasa sendu.


"Arini.. yang sabar yah. Kamu harus bisa mempercayai keputusan Tian, karena Tian pasti memutuskan apa yang menurutnya terbaik untuk Seiyna.."


"Iya, Meta. Meskipun semua ini terasa berat tapi aku berusaha untuk menerimanya. Mau bagaimana lagi.. Tian sudah memutuskan untuk menikahi Seiyna dengan.. dengan.."


Tergeragap, karena tenggorokan Arini kini seolah tercekat, akibat kesedihan yang kembali memeluk hatinya.


Sesungguhnya Arini sangatlah menyukai kepribadian Bima. Arini juga tau bahwa Bima adalah pria yang baik. Tapi status Bima selalu membuatnya merasa was-was.. karena kesenjangan yang ada diantara Bima dan Seiyna.


Hhhh.. Arini bahkan tau bagaimana rasanya kesenjangan, tapi entah kenapa ia masih saja merasa enggan.

__ADS_1


Mungkinkah karena selama ini ekspektasi Arini akan masa depan Seiyna terlalu tinggi..?


Bisa jadi. Tapi pada kenyataannya, Seiyna juga masih terlalu muda untuk menghadapi pernikahan tanpa cinta, serta diwarnai perbedaan status ekonomi dan sosial yang begitu lebar.


Arini takut semua itu akan berujung pada kegagalan. Rasanya sungguh seperti sebuah mimpi buruk yang terus mengintai dari balik benaknya..!


"Arini, jangan berpikir pesimis seperti itu. Hatimu akan sakit kalau kamu tidak bisa ikhlas menerima kenyataan.."


"Iya Meta.. Tian juga mengatakan hal yang sama. Saat ini aku sungguh sedang berusaha melakukannya.."


Tarikan nafas Meta terdengar menyapa gendang telinga Arini, dan untuk sejenak keheningan sempat bertahta diantara pembicaraan mereka yang terjeda.


"By the way ada apa menelponku sepagi ini, Rin? apa ada yang bisa aku bantu..?"


Tanya Meta lagi memecahkan keheningan yang ada, sekaligus mengingatkan Arini tentang tujuan awalnya menelpon Meta.


"Oh iya, aku hampir lupa. Begini Meta, aku ingin meminta bantuanmu agar bisa mengijinkan Riri menginap dirumah selama dua hari kedepan. Seiyna mau Riri bisa menemaninya sampai hari H dari pernikahannya tiba." Arini telah menjelaskan maksud dari tujuannya menelpon Meta.


"Oh.. kirain ada apa. Baiklah, aku pasti akan mengijinkan Riri untuk menemani Seiyna. Untuk masalah itu kamu jangan khawatir yah.. lagipula kasihan Seiyna.. dia pasti sangat sedih menghadapi semua ini sendirian. Mungkin dengan kehadiran Riri bisa sedikit membantu.."


Arini menarik nafasnya lega mendengar kalimat Meta tersebut.


"Itu memang benar, Meta. Aku bisa saja menemani Seiyna satu kali dua puluh empat jam, tapi sepertinya Seiyna membutuhkan teman yang sepadan untuk bisa diajak ngobrol. Dan siapa lagi kalau bukan Riri..?"


"Iya, Rin.. aku mengerti, biar aku yang akan meminta ijin Daddynya terlebih dahulu.."


"Kalau begitu aku akan menyuruh Sean untuk menjemput Riri sepulang kantor. Biar bisa barengan kesininya.." tukas Arini lega. "Meta, terima kasih atas pengertianmu.." suara Arini terdengar serak melambat, mungkin jika berhadapan langsung dengan Meta maka tangisnya akan pecah begitu saja.


"Iya, Rin.. sama-sama. Kalau ada apa-apa tidak usah sungkan yah.."


Ujar Meta lirih, merasa begitu prihatin dengan keadaan Arini yang terlihat sangat terpukul menghadapi prahara yang tengah menimpa keluarga Djenar kali ini.


.


.


.


Bersambung..


Favorite kan yukk..!!


Dan jangan lupa LIKE, COMMENT, VOTE, RATE novel ini yah..🤗


Lophyuu all.. 😘

__ADS_1


__ADS_2