
Double Up..!!
"Bagaimana kabarmu..?"
Akhirnya Sean yang mengambil inisiatif untuk membuka kebisuan yang bertahta sekian lama diantara dirinya dan Riri, karena Sean tau bahwa Riri tidak mungkin membuka mulutnya terlebih dahulu, sebelum ia sendiri yang memulai pembicaraan mereka.
Selama ini, meskipun Sean sangat sering bertemu Riri baik dirumah mereka maupun saat Riri sedang bersama Seiyna dirumahnya, mereka memang tidak begitu sering bertegur sapa.
Tidak seperti Rei yang lebih mudah akrab dengan lingkungannya, Sean justru sosok yang sebaliknya. Dingin, kaku dan serius, sehingga keberadaannya sering disegani oleh Seiyna apalagi Riri.
"Baik, Kak.." menjawab singkat tanpa berani menoleh.
Kemudian hening kembali.
Terus seperti itu hingga kira-kira dua puluh menit kedepan, dimana mobil Sean akhirnya memasuki gerbang utama rumah keluarga Djenar, yang sedang dalam penjagaan super ketat sejak kemarin siang.
XXXXX
Hari mulai beranjak sore saat Tian berjalan mendekati mobilnya yang baru saja terparkir tepat didepan lobby kantor pusat Indotama Group yang megah.
Tian cukup kaget menyadari siapa yang keluar dari pintu depan mobilnya yang kemudian bergegas membukakan pintu samping mobil untuknya.
"Loh, Bim..?" alis Tian sontak berkerut nyata.
"Iya, Pak..?" Bima pun melakukan hal yang sama, menautkan kedua alisnya menyadari keterkejutan Tian saat melihat sosoknya.
"Kenapa kamu masih ada disini..?" tanya Tian keheranan.
Bima terlihat bingung mendapati pertanyaan sang bos besar yang terdengar aneh itu. "M-maksudnya apa, Pak..?"
"Besok pagi kan kamu akan menikah, untuk apa sekarang masih bekerja?" protes Tian yang sungguh tidak menyangka jika saat ini masih bisa menemukan Bima, calon menantu pilihannya, yang masih saja sibuk dengan pekerjaan dan tanggung jawabnya sehari-hari yang memang membawahi seluruh divisi keamanan Indotama Group dan keluarga Djenar secara keseluruhan.
"Jangan bilang kalau kamu lupa jika besok adalah hari pernikahanmu.." imbuh Tian lagi begitu meihat ekspresi Bima yang terlihat agak salah tingkah.
"Tidak, Pak. Mana mungkin saya lupa.." ujar Bima seraya mengigit bibirnya diam-diam, menutupi kegugupan dan rasa tidak nyaman yang menderanya.
"Masih memanggil, Pak..?"
"M-maaf.. Dadd.." ralat Bima semakin risih, apalagi menyadari beberapa pasang mata anak buahnya yang berada di divisi keamanan serta beberapa karyawan lainnya yang berada disekitar mereka ikut mengawasi interaksi pembicaraan dirinya dengan sang calon mertua saat ini.
Rekayasa pernikahannya dengan putri bungsu Ceo Indotama Group yang digagas langsung oleh pak Tian itu memang tidak diketahui oleh rekan-rekan kerjanya begitupun dengan semua karyawan yang ada di Indotama Group.
__ADS_1
Karena begitu berita buruk itu merebak, laksana anak panah yang melesat pesat dari busurnya, mendadak nama Bima menjadi dua kali lipat lebih populer dari sebelumnya.
Selama ini seorang Bima Sanjaya dikenal sebagai salah satu dari tangan kanan kepercayaan Sebastian Putra Djenar.
Bujangan tampan yang begitu cool itu bahkan dipercayakan menjadi kepala divisi keamanan diumurnya yang tergolong cukup muda. Dua puluh delapan tahun. Padahal jabatan tersebut sebelumnya selalu dipegang oleh orang yang lebih senior secara umur dan pengalaman kerja. Tapi mengingat catatan sejarah Bima yang ayahnya juga merupakan salah satu orang kepercayaan Ceo Indotama Group dibidang yang sama, serta kemampuan Bima yang bisa dibilang jauh melebihi ayahnya Beni Sanjaya semasa aktif mengabdi, jadi wajar saja jika Bima bisa mendapatkan kepercayaan penuh dari Pak Tian dengan begitu mudah.
Bicara tentang Bima Sanjaya tentu tak akan lepas dari fisik pria itu yang mempesona. Tidak heran jika Bima cukup diidolakan kaum hawa, terlebih dilingkup kantor pusat Indotama Group.
Karena itulah saat peristiwa foto dan video Bima bersama putri bungsu Ceo Indotama Group beredar luas, disusul dengan penyataan resmi Pak Tian yang akan menikahkan putrinya dengan Bima sesegara mungkin, ibaratnya telah menjadikan hari itu menjadi hari patah hati massal dari para kaum hawa yang mengidolakan Bima selama ini.
Sementara diberbagai media masa nama dan reputasi Bima seolah berbanding terbalik.
Bima dicap sebagai baji ngan tidak tau malu, yang dengan nekad memperdayai putri bungsu Ceo Indotama Group yang cantik, polos dan tergolong belia, sehingga ibarat mendapatkan rejeki nomplok Bima yang hanya pengawal biasa bisa didaulat oleh Ceo Indotama Group langsung untuk menikahi putrinya, menjadikan Bima menantu pertama di keluarga Djenar dalam sekejap mata.
"Pulanglah ke apartemenmu setelah ini. Istirahat yang banyak agar besok bisa melewatinya dengan mudah." ujar Tian dengan sendirinya sebagai isyarat bagi Bima untuk tidak ikut serta dengannya disore itu, yang hendak mengunjungi salah satu aset Indotama Group yang diatasnya terdapat bangunan tua yang rencananya akan segera dirobohkan dan dibangun kembali menjadi sebuah area perkantoran, sebelum kemudian langsung pulang kerumah.
"Baik.. Dadd.." Bima mengangguk takjim, sebelum akhirnya menutup pintu mobil yang dinaiki Tian, tetap menunduk sampai mobil itu benar-benar berlalu dari lobby kantor pusat.
Begitu mobil yang ditumpangi Tian menghilang dari pandangannya Bima pun melangkahkan kakinya terlebih dahulu ke pos penjagaan terdekat yang ada disisi kiri lobby kantor pusat, mengabaikan beberapa pasang mata yang masih saja setia menguntit pergerakannya.
"Kenapa tidak langsung pulang saja, Bang Bim.. itu tadi disuruh Pak Tian pulang loh.." ujar Mang Surip, salah satu satpam yang usianya nyaris mendekati masa produktif, begitu melihat Bima yang malah menarik sebuah kursi dan duduk diatasnya sambil mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celananya.
"Rokok, mang.." ujar Bima, mengacuhkan kalimat Mang Surip, sambil menaruh bungkusan rokok tersebut keatas meja, yang langsung disambut suka cita oleh pria yang mulai berumur itu.
"Bang Bima, bagaimana rasanya mau jadi menantu keluarga sultan..?" suara Mang Surip terdengar memecah keheningan yang ada.
Bima meringis mendengar pertanyaan polos Mang Surip tersebut. "Biasa saja, Mang.."
"Ahh.. bohong kamu, masa iya biasa saja, selain itu kamu juga mau punya istri secantik Nona Seiyna.. beruntungnya kamu Bang Bim.."
Selorohan lepas Mang Surip membuat Bima tersenyum kecut, sambil kembali menghisap rokoknya dalam-dalam kemudian membuang asapnya keudara.
"Oh iya.. besok mau akad nikah, sudah latihan belum..?" tanya Mang Surip tiba-tiba, begitu tersadar bahwa selama ini Bima hidup seorang diri usai ayahnya meninggal beberapa tahun yang lalu.
"Latihan apa mang?" pungkas Bima acuh.
"Banting tangan.."
"Apaan banting tangan, Mang..?"
"Ijab qabul.."
Bima nyaris tertawa mendengar istilah Mang Surip tentang 'banting tangan' yang ternyata artinya Ijab qabul itu.
__ADS_1
"Semalam sempat buka yubube, Mang.. nyari referensi.." ujar Bima lagi separuh malu mengakui. Lagipula Bima juga tidak mau membuat dirinya malu dihadapan Pak Tian jika besok gagal mengucapkannya dikesempatan pertama.
"Lah.. trus? sudah bisa belum..?"
"Tidak tau, Mang.. aku cuma hafalin kalimatnya saja sesuai yang diucapin orang-orang itu, sambil menyesuaikan mas kawinnya.." Bima memilih berkata jujur, mumpung tidak ada orang lain yang mendengar.
Lagipula Bima juga bingung entah harus bertukar pikiran dengan siapa padahal Bima ingin minimal bisa bicara dengan satu orang saja yang bisa mengerti tentang kegelisahannya.
Mendengar itu Mang Surip nampak menepuk jidatnya pelan. "Ampun deh.. jangan main-main sama ijab qabul, Bang Bim.. berat itu loh perjanjiannya.." Mang Surip nampak menatap Bima dengan pandangan bersungguh-sungguh.
"Perjanjian? perjanjian apa lagi, Mang..?" alis Bima bertaut karena sejauh ini Bima hanya tau bahwa ia telah berjanji pada Pak Tian untuk bersedia menikahi Seiyna, yang saat itu seolah tidak memberikannya pilihan untuk menolak.
'Memangnya masih ada lagi perjanjian yang lebih penting dari perjanjian dengan Ceo Indotama Group yang hebat itu..?'
Bima membathin heran.
"Perjanjian antara Bang Bima dengan yang diatas sana, Bang.." tukas Mang Surip menjelaskan. "Bang Bima harus tau, bahwa saat Ijab qabul terucap, Arsy-Nya berguncang karena beratnya perjanjian yang dibuat oleh seorang pria di depan Tuhannya, dengan disaksikan para malaikat dan manusia. Makanya Bang Bima.. saat seorang pria menikah, maka semua yang berhubungan dengan istrinya, termasuk dosa-dosanya, akan menjadi tanggung jawab suami seutuhnya.."
Bima menggaruk telinganya yang tidak gatal mendengar semua penjelasan Mang Surip yang panjang lebar sekaligus komplit. Tapi sayangnya semakin lama memikirkannya kepala Bima seolah semakin pening.
'Kenapa kesannya jadi se-ribet ini sih..? timbang mau nikah setingan aja serepot ini..'
Bima bergumam dalam hati, namun detik berikutnya Bima telah balas menatap wajah Mang Surip dengan bersungguh-sungguh.
"Ya sudah, Mang.. kalau begitu, buruan ajarkan aku cara mengucap ijab qabul yang benar.."
"Ahsiyapp bossku.." ujar Mang Surip dengan wajah berbinar, langsung mengambil asbak yang ada dibawah meja dan mematikan nyala rokoknya disana, membuat Bima mau tak mau juga ikut mematikan rokoknya kedalam asbak yang sama.
.
.
.
Bersambung..
Follow my..
Ig. khalidiakayum
fb. Lidia Rahmat
Like, comment, favorite, vote, pliss 🤗
__ADS_1
Thx and Lophyuu all.. 😘