
Lama setelah tangis Seiyna mereda, seiring dengan curah hujan yang ikut mereda.. Bima hanya bisa menatap Seiyna dengan perasaan campur aduk.
Rasanya ingin memeluk dan menenangkan.. tapi yang ada Bima hanya mematung sambil menatap Seiyna tanpa kata.
"Seiyna, sebaiknya kamu tidur.." Bima mengacak puncak rambut Seiyna, namun Seiyna malah menepis tangan Bima begitu saja, sambil menarik dirinya menjauh.
"Aku tidak mau."
"Lah..?"
"Kenapa sih Abang selalu memperlakukan aku seperti anak kecil..?"
"Karena kamu memang masih kecil. Ayo tidur." pungkas Bima lagi mencoba mengacuhkan aksi protes Seiyna yang kini sedang menatapnya dengan tatapan kesal.
"Kalau masih kecil mana mungkin bisa menikah.." bergumam pelan, namun Bima diam saja, berpura-pura tidak mendengar.
"Ayo tidur.." Bima malah memperbaiki letak bantal, menepuk-nepuknya sedikit agar semakin terlihat nyaman.
"Berhenti memperlakukan aku seperti itu.."
"Sudah malam.."
"Abang ih..!"
"Tidur, Seiyna.."
Seiyna malah membisu, menatap Bima dengan keki, namun detik berikutnya entah mendapat dorongan keberanian darimana tiba-tiba dengan secepat kilat Seiyna telah beringsut mendekati Bima, membuat Bima terkejut karena nyaris tak menyadari pergerakan Seiyna.
"Seiyna.. k-kamu.."
Terlambat.
Dengan kenekadan yang mencapai seribu persen Seiyna telah menabrakkan bibirnya begitu saja kebibir pria dingin itu.
Bima yang berusaha menarik dirinya tak bisa lagi mengelak, hanya bisa termanggu dengan sepasang mata melotot mendapati wajah Seiyna dengan mata yang terpejam berada begitu dekat, tepat didepan matanya.
Bima menelan ludahnya saat menyadari saking dekatnya mereka, teramat dekat, sampai-sampai Bima bahkan bisa melihat setiap helai bulu mata yang membingkai sepasang mata Seiyna yang terpejam, sementara bibir mereka masih menempel satu sama lain dengan kaku, seolah telah membeku bersama.
Lambat laun Bima bisa merasakan bibir tipis diatas bibirnya, yang awalnya hanya menempel disana dalam diam kini mulai bergetar halus.. menandakan Seiyna sedang dilanda kegugupan.
Pastinya.
Karena setelah begitu nekat menabrakkan bibirnya Seiyna sendiri bahkan tidak tau apa yang harus ia lakukan.
Seiyna bahkan lupa bagaimana caranya bernafas, sehingga kini ia gelagapan sendiri. Gugup.. malu.. bercampur aduk, apalagi saat menyadari usaha nekadnya tidak direspon Bima sama sekali..!
__ADS_1
"Maaf, Abang.." berucap demikian dengan begitu lirih. Dan saat Seiyna mengerjap sambil menjauhkan wajahnya lagi, sebuah bulir bening membasahi pipi Seiyna.
Sungguh Seiyna menyesal telah menjadi sekonyol ini dimata Bima, jika tau pria itu masih bisa mengacuhkannya setelah aksi nekadnya yang memalukan.
Seiyna tertunduk dalam. Ia baru saja ingin beringsut menjauh manakala tangan kokoh Bima telah menahan lengannya dengan sigap.
"Seiyna, maaf.." ucap Bima saat sepasang mata mereka kembali bertaut lekat, dan detik berikutnya Bima benar-benar menunduk untuk meraih bibir yang telah menghancurkan semua pengendalian dirinya.
'Tidak lagi.. aku tidak bisa lagi menahannya..'
Bima melu mat bibir Seiyna semakin dalam, mengabaikan segenap rasa terkejut dalam diri gadis itu.
"Katakan saja, apa aku telah melakukan kesalahan..?" bisik Bima dengan suara berat disela-sela cumbuannya di bibir yang seolah tak puas ia lahap.
Seiyna menggeleng pelan. "Tidak Abang.. tidak ada yang salah.." jawab Seiyna dengan nada suara yang penuh keyakinan namun gemetar.
"Yakin tidak akan menyesal..?" tanya Bima lagi kali ini berusaha menahan diri seraya menjeda sentuhannya, menatap Seiyna dengan utuh.
Bima merasa, mungkin ini adalah batas terakhir dari kesabarannya. Karena jika Seiyna tidak kunjung mencegahnya sekarang, maka Bima sendiri pun tidak yakin bisa menahan dirinya lebih lama.
Saat ini tidak ada lagi yang bisa mengingatkan Bima untuk mengembalikan akal sehatnya. Yang ada diotak Bima hanya satu saja, menjadikan Seiyna miliknya seutuhnya terlebih dahulu, selebihnya biarlah dirinya yang akan berjuang.
Mereka berdua saling bertatapan, namun sepasang mata Seiyna terlihat bersinar indah. Memancarkan perasaaan menggebu dan mendamba dalam waktu yang bersamaan, kepala gadis itu pun menggeleng.
Kedua lengan Seiyna melingkar manis di leher Bima, tatapannya terlihat begitu yakin saat menatap Bima dengan senyumnya yang terkembang sempurna. "Tidak Abang, aku tidak akan menyesal.."
"Seiyna.."
Bima sedikit terkesima mendengar penuturan Seiyna yang terucap tanpa ragu, sebelum akhirnya memantapkan hatinya.
Dengan penuh keyakinan tangan Bima telah bergerak tegas, menarik atasan piyama mini milik Seiyna keatas melewati kepalanya, sehingga tubuh yang putih mulus tanpa cacat sedikitpun itu terlihat sempurna dimata Bima.
Seiyna pun melakukan hal yang sama. Tanpa canggung jemari lentiknya ikut membantu Bima saat meloloskan kaos berwarna biru navy yang melekat ditubuh atletis milik Bima.
Bima mengecup setiap inchi tubuh yang bak porselen mahal tersebut tanpa jarak, terus mengajak gadis itu bergumul dan bercumbu, sambil bahu-membahu meloloskan semua yang melekat ditubuh mereka tanpa bersisa, sehingga bertebaran tak beraturan dilantai kamar yang dingin.
Cuaca buruk yang ada diluar sana tidak sedikitpun menyurutkan semangat keduanya dalam mewujudkan cinta yang sedang menggelora.
Hujan kembali turun dengan deras..
Angin kembali berhembus dengan kencang..
Suara petir kembali menggelegar diatas langit..
"Seiyna.." bisik Bima diantara riuhnya alam yang mengamuk, seolah cermin dari luapan perasaan mereka yang menderu. "Aku sayang kamu.." kembali berbisik lembut, seiring dengan tubuh mereka yang mulai menyatu perlahan.
__ADS_1
"Aku juga sayang Abang.."
Ucap Seiyna lirih, membalas ungkapan hati Bima sepenuh hati, terlihat meringis kecil begitu menyadari dibawah sana, mahkotanya telah terkoyak perih.
Bima mencium sekujur wajah Seiyna yang dipenuhi bulir keringat yang bercampur air mata kebahagiaan, yang terpancar jelas diwajah cantik itu, sebelum akhirnya mulai bergerak perlahan dan hati-hati diantara dinding-dinding lorong yang sempit.
Seiyna menggigit bibirnya kuat-kuat, mengatur nafasnya yang memburu, yang seolah saling berkejar-kejaran dengan nafas Bima yang sedang memacu diatasnya.
Desa han yang lolos satu persatu dari bibir tipis milik Seiyna seolah menjadi suplemen penyemangat, membuat Bima semakin yakin untuk bergerak lebih cepat, menghentak kuat, terus mengajak Seiyna menggapai puncak cinta diantara badai diluar sana.
"Bang Bima.." lirih Seiyna disela-sela nafasnya yang tersendat, menyadari ada sesuatu yang seolah hendak keluar berhamburan dari kedalaman inti tubuhnya yang sedang dikuasai Bima.
"Iya Sayang.." jawab Bima sambil menyesap seluruh permukaan kulit dibawahnya yang berkilau karena keringat, terus memberikan tanda bahwa semua yang ada didiri gadis itu kini telah menjadi miliknya seutuhnya, sekaligus mempercepat ritme percin taan saat menyadari tubuh dibawahnya nyaris bergelin jang hebat.
"Aku cinta Abang.. aku sangat mencintai Abang.." ucap Seiyna, sekujur tubuhnya gemetar karena sebuah pelepasan yang indah, yang membuatnya memeluk tubuh kekar Bima erat-erat.
Bima tersenyum, memilih mengecup lembut bibir Seiyna yang dipenuhi ungkapan cinta yang terlontar bertubi-tubi untuknya.
Usai melambatkan ritme sejenak demi Seiyna, tubuhnya telah kembali bergerak cepat.
Bagi Bima.. waktu yang sebentar tidak mungkin cukup untuk melemahkan staminanya yang prima. Dan Bima pun tidak keberatan.. jika bisa memberikan lagi keindahan untuk Seiyna.
Sekali..?
Dua kali..?
Atau berkali-kali..?
Intinya tidak mungkin hanya sebentar, karena semuanya terlalu indah, jika harus berakhir dengan segera..
.
.
.
Bersambung..
Ijinkan author meminta maaf karena telat up dengan double up. Semoga sukses membuat kalian kepanasan.. 😅
Follow my IG. @khalidiakayum
FB. Lidia Rahmat
Like and vote jangan lupa gaiss.. 😍
__ADS_1
Thx and Looopphyuu all.. 😘