
Dan begitulah akhirnya.. awal mula mengapa saat ini Nisa bahkan takut untuk keluar dari toilet, sementara diluar sana ada Rei yang tentu saja sudah menanti dirinya dengan tidak sabar.
Tadi sore usai bicara dengan Mommy Meta, Nisa telah berusaha menelpon Rei terlebih dahulu. Tapi berhubung panggilannya tidak kunjung direspon karena mungkin Rei sedang tidak memegang ponselnya, maka Nisa memilih mengirim sebuah pesan agar bisa dibaca pria itu.
Isinya tidak lain yakni meminta ijin Rei untuk pergi ke toko pakaian atau butik yang ada di mall, yang letaknya tidak seberapa jauh dari hotel Mercy Y.
Tepat disebuah sebuah toko pakaian branded di mall tersebut sesuai perjanjian, Nisa kembali melakukan video call di nomor Mommy Meta, untuk meminta pendapat ibu mertuanya dalam menentukan model gaun yang akan dikenakan Nisa nantinya.
Dan hasilnya tidak lain adalah gaun yang Nisa kenakan saat ini, gaun yang telah menahan langkah Nisa untuk keluar dari kamar mandi sejak tadi, saking modelnya yang terlihat begitu sexy saat ia kenakan.
Sejak awal Nisa telah menolak mentah-mentah gaun pilihan mertuanya itu, karena selain harganya yang cukup mahal, Nisa juga merasa risih dengan model gaun yang bagian atasnya terbuka sempurna. Namun Mommy Meta terus bersikeras, sehingga membuat Nisa mengalah.
Nisa tau, bahwa masih terlalu dini jika dirinya berharap bisa membuat Rei terpesona, serta mengharapkan cinta Rei berpaling kepadanya secepat kilat.
Tapi disisi lain, Nisa juga seperti dikejar waktu, karena 100 hari bukanlah waktu yang cukup panjang, dan mereka telah menghabiskan waktu tersebut kurang lebih dua minggu dengan hubungan yang seolah berjalan ditempat.
Rei adalah sosok yang baik bahkan teramat baik dimata Nisa, meski terkadang Rei bertingkah konyol dan sedikit usil.
Namun sayangnya selama dua minggu menjadi pasangan suami istri tidak ada yang berubah diantara mereka. Karena jangankan Rei, Nisa sendiri pun begitu takut membuka diri dan memulainya.
Nisa menatap lagi pantulan dirinya didepan cermin.
Mencoba menguatkan diri..
Mengumpulkan keberanian..
Sebelum akhirnya memutuskan untuk semakin memantapkan hati dan melangkahkan kakinya kearah pintu.
Gagang pintu kamar mandi itu terasa semakin dingin begitu beradu dengan telapak tangan Nisa yang juga sedingin es, tapi mau tak mau, Nisa harus tetap maju, tidak bisa mundur lagi.
"Bismillah.."
Bibir Nisa berucap lirih, sambil mengawali langkahnya keluar seiring pintu yang terpentang.
Lagi-lagi diujung sana, disebuah sofa dekat jendela, tempat favorite Rei yang saat ini terkesan agak temaram. Rei duduk tenang sambil memainkan ponsel ditangan. Tampan, dan menawan seperti biasanya.
"Rei, aku sudah siap.." Nisa berucap setelah menghalau segala rasa gugup yang mengungkungnya.
Berusaha menekan suaranya semaksimal mungkin agar tidak bergetar, berusaha berdiri tegak dengan segenap kepercayaan dirinya yang tersisa, dan mulai menahan nafas begitu Rei terlihat mengangkat wajahnya dari ponsel yang ada ditangan pria itu.
"Baiklah.. ayo kita berangkat seka.."
Mengambang..
Karena detik berikutnya Rei hanya bisa terpaku menatap Nisa yang berdiri sambil tersenyum lurus padanya.
Gaun terbuka berwarna dusty pink, dengan aksesoris pita besar didada kiri yang terbuat dari simpul warna senada, seolah mempertontonkan seluruh bagian atas dari tubuh yang putih bak pualam, nampak melekat begitu pas ditubuh Nisa.
Rambut panjang wanita itu dibiarkan tergerai.. sebagian terlihat meriap didadanya.
Glek.
Rei bahkan bisa mendengar bunyi air liurnya yang tertelan melewati tenggorokannya.
Lama mereka terperangkap dalam diam sebelum akhirnya Rei bangkit dari duduknya, melangkah perlahan mendekati Nisa yang diam-diam menggigit bibirnya kuat-kuat.
"Mmm.. Nisa.. kamu.. kamu sedang apa? kenapa berpakaian seperti ini..?" pertanyaan aneh itu nampak terlontar begitu saja ketika jarak yang tersisa dari mereka kira-kira kurang dari satu meter.
__ADS_1
"Aku.. aku.. baju ini.." Nisa tergeragap, tak menyangka kalimat seperti itu yang menjadi kalimat pertama Rei saat merespon penampilannya.
Tatapan lekat Rei yang nyaris tak berkedip kini mengawasinya dari bawah keatas, atas kebawah, terus seperti itu hingga berkali-kali, membuat Nisa semakin risih dibuatnya.
"Jadi, tadi kamu meminta ijin pergi ke mall sebentar untuk membeli baju seperti ini..?"
'Baju seperti ini..?'
Tenggorokan Nisa tercekat. Wajahnya mulai merona, dialiri rasa panas.
Nisa tidak menjawabnya, namun hanya mengangguk samar, dengan otak yang dipenuhi spekulasi, tentang penilaian seperti apa yang sedang bercokol diotak Rei melihat penampilannya yang agak seronok untuk wanita biasa-biasa saja seperti dirinya.
Apakah Rei menganggap dirinya aneh..?
"Astaga Nisa. Siapa yang memberimu ide sehingga membeli baju seperti ini..?"
'Tuh kan.. Rei mengatakannya lagi. Baju seperti ini..'
Rei terlihat menatap Nisa keheranan, masih tidak percaya jika wanita konvensional seperti Nisa memiliki keberanian untuk membeli baju dengan model terbuka, bahkan mengenakannya dihadapan dirinya.
"I-ini.. Mommy.."
"Mommyku..?" pungkas Rei cepat.
Nisa mengangguk kelu.
"Jadi ini ide Mommy Meta..??" tanya Rei lagi seolah benar-benar ingin memastikan.
Lagi-lagi Nisa mengangguk lesu.
Sedetik..
Dua detik..
Empat detik..
"Wuahahaha..!!"
Tepat didetik kelima, tawa Rei pecah begitu saja, dihadapan Nisa yang menatap semua gerak-gerik pria itu tanpa berkedip.
Kepercayaan diri yang Nisa kumpulkan dengan susah payah telah menguap sudah, habis tak bersisa, saat melihat sendiri bagaimana Rei tergelak keras seolah sedang melihat badut.
Semua itu membuat harga diri Nisa terluka tanpa bisa tercegah.
"Kamu jahat Rei, aku hanya ingin membuatmu terkesan, tapi malah seperti ini!" ungkap Nisa dengan wajah memerah, marah bercampur malu.
"Ya.. habis bagaimana..? penampilan kamu lucu begini sih.." berucap disela-sela tawanya.
Nisa tak tahan lagi. Ia memutuskan untuk berlari kekamar mandi tapi yang ada, dengan sigap Rei telah menahan pergelangan tangannya begitu cepat, dan dengan sedikit gerakan pula pria itu bahkan telah memeluk tubuh Nisa dari belakang.
"Jangan marah.." bisik Rei begitu dekat ditelinga Nisa. Memeluk tubuh yang sedang bernafas turun naik dengan cepat, akibat benturan emosi yang kontras. Kesedihan bercampur kemarahan.
Punggung Nisa menempel ketat pada dada bidang yang keras, sehingga nafas Rei yang hangat ikut menerpa seluruh permukaan kulit leher dan pelipis yang halus.. membuat bulu kuduk Nisa otomatis meremang.
Nisa merasakan dadanya berdebar kencang, namun disaat yang sama dirinya juga gagal menyembunyikan kekesalannya kepada pria itu.
"Kamu menyebalkan Rei.." celetuknya, mati-matian menahan tangis.
"Tapi kamu cantik.." bisik Rei.
"Bukannya tadi kamu bilang aku kelihatan lucu..?!" Nisa meradang.
__ADS_1
"Aku berbohong.."
Nisa tak bergeming, hanya menunduk guna mendapati dua lengan kekar milik Rei sekaligus yang terkalung di antara leher dan dada bagian atasnya, ibu jari dari tangan kanan pria itu bahkan sedang mengelus lembut bahu kirinya.
"Apa keinginan Mommyku telah membuatmu tertekan..?"
Nisa menggeleng cepat. "Tidak.."
"Lalu kenapa harus bersusah payah membuatku terkesan seperti ini?"
"Aku.."
"Bodoh.."
"Apa..?!" Nisa ingin berontak tapi yang ada lengan kuat milik Rei terus memenjarakannya dengan lekat.
"Padahal sudah aku peringatkan sejak awal.. agar jangan jatuh cinta kepadaku.."
"Dasar ge-er. Memangnya siapa juga yang jatuh cinta padamu..?!" semprot Nisa kendatipun ia telah pasrah, karena kekuatan Rei menahan tubuhnya tak bisa ia kalahkan dengan pemberontakannya yang sekuat tenaga. "Lepaskan, Rei.. kamu membuatku sesak nafas.."
Hening sesaat, tapi detik berikutnya Nisa bisa merasakan belitan kedua lengan yang membelitnya itu sontak mengendur perlahan.
Nisa ingin meneruskan langkahnya yang sempat tertunda, namun lagi-lagi pergelangan tangannya keburu dicekal.
"Mau kemana?"
"Ke kamar mandi, mau melepaskan baju yang membuatku terlihat lucu dihadapanmu..!" pungkas Nisa dengan kekesalan yang memuncak, sambil menghentakkan tangannya yang masih berada dalam genggaman Rei.
"Tidak usah, ini sudah jam makan malam." kemudian tarikan nafas Rei terdengar lagi. "Tapi kita makan dikamar saja yah.."
'Tidak jadi pergi..? baiklah.. katakan saja kamu malu orang-orang diluar sana akan ikut menertawakanmu karena makan malam dengan seorang badut..!'
Nisa membathin, tapi bibirnya telah berucap lain.
"Terserah.."
"Aku pesankan room service untuk special dinner..?"
"Tidak usah. No food saja." jawab Nisa masih dengan wajah terlipat, saat menyebutkan salah satu layanan online untuk pesan antar makanan yang terkenal praktis itu.
Untuk apa susah payah memesan room service untuk special dinner..? toh luka hatinya tidak serta-merta sembuh hanya karena sebuah makan malam spesial didalam kamar.
"Baiklah.. kamu mau pesan makanan ap.."
"Terserah."
Rei menarik nafasnya perlahan, menghembuskannya dengan perlahan pula.
Rei tau Nisa sedang kesal, dan itu karena ulahnya juga.
"Baiklah.." ujar Rei lagi, memilih mengalah dan membiarkan Nisa dengan kemarahannya sejenak.
Kali ini Nisa hanya diam, sambil duduk dipinggiran ranjang tanpa kata..
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1
Support yang kenceng dong.. POP nya merangkak nih.. 🥺
Thx and Lophyuu all.. 😘