
Bima memang hendak menuju ke pos depan, tapi guna menetralisir perasaannya yang masih cenat-cenut tak karuan akhirnya ia memilih berbelok ke dapur, berpikir bahwa segelas air mineral dingin mampu menetralisir adrenalinnya yang mengamuk didalam sana.
"Bang Bima, ada yang bisa saya bantu..?" seorang maid yang kebetulan berada didapur menyapa Bima dengan ramah.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin minum segelas air mineral dingin.." tukas Bima sambil tersenyum tipis, meraih sebuah gelas yang berjejer di rak, sebelum kemudian mendekati kulkas besar yang ada disudut ruangan.
Maid tersebut mengangguk takjim, sambil senyumnya terkembang sempurna begitu mendapati menantu tampan keluarga Djenar tersebut belalu-lalang di area dapur.
'Gantengnya gusti.."
Begitu kira-kira kalimat yang berseliweran diotak maid yang masih terlihat berusia muda tersebut.
Memang sudah sewajarnya setiap wanita mengagumi Bima, karena Bima memang tampan dan sangat berkharisma.
Dan sudah bukan rahasia lagi kalau baik dirumah keluarga Djenar, maupun dikantor pusat, Sean dan Bima merupakan sesuatu yang bisa dikategorikan pemandangan yang sangat menyegarkan.
Namun jika Sean bak seorang pangeran berhati dingin yang sulit terjamah, Bima justru sebaliknya.
Bima terkenal dengan kepribadiannya yang tenang dan sangat ramah. Meskipun Bima menduduki jabatan strategis yang membuatnya sangat dihormati semua orang, namun Bima juga begitu pandai menempatkan dirinya sehingga ia bisa dengan mudah disukai siapapun, dan dimanapun ia berada.
Rasanya tak heran jika seorang Sebastian Putra Djenar memilih pria itu menjadi menantunya. Karena Bima benar-benar sosok yang berkwalitas. Tak peduli yang sebaya bahkan orang yang lebih tua, semuanya selalu bisa dengan mudah dekat, akrab, menyapanya dengan hangat, namun tak lupa menaruh hormat.
"Kamu kenapa..? sakit ya..?"
Maid itu terhenyak mendapati Bima yang sudah berada dihadapannya dengan tatapan menaksir-naksir.
"Aa.. t-tidak Bang Bim.." ia pun menunduk malu karena kepergok melamun sambil menatap lekat sosok Bima yang rupawan.
"Kalau kerjaannya sudah kelar, sebaiknya beristirahat saja, karena ini juga sudah larut malam.."
"I-iya Bang Bim, terima kasih.." hati sang maid pun berbunga-bunga mendapati perhatian kecil Bima. Alhasil ia terus menatap kagum kearah Bima, bahkan hingga punggung Bima menghilang dibalik tembok.
Bima memutuskan untuk melewati teras samping. Berencana menuju pos depan dan menghabiskan waktu disana dengan menyambut tantangan Mang Rojak dalam permainan catur.
Namun langkah Bima yang terayun ringan itu terhenti manakala ia melihat sosok tubuh Sean yang termenung disamping kolam, dengan tatapan kosong sambil menghisap rokoknya dalam-dalam, terlihat gundah-gulana.
Melihat pemandangan itu Bima pun memutuskan untuk mendekati Sean.
Dari penampilannya yang belum berubah Bima langsung bisa menebak kalau sejak tadi Sean belum juga naik kekamarnya setelah obrolan mereka di garasi.
__ADS_1
"Sean, sedang apa kamu sendirian disini?"
Sean menoleh ketika mendapati sosok Bima telah berdiri tegak, dengan kedua tangan masing-masing yang tersimpan disaku celana kiri dan kanan.
"Bang Bim, keluar yuk.." ajak pria tampan itu tiba-tiba, mengacuhkan pertanyaan Bima diawal.
Bima tercenung sejenak. Ia ingin menolak tapi yang ada Sean keburu melempar kunci mobilnya kearah Bima, membuat Bima otomatis menangkapnya.
"Abang yang bawa." ujar Sean cuek sambil bangkit dari duduknya, ngeloyor begitu saja melewati tubuh Bima yang masih berdiri keheranan.
"Egh, Sean.. tapi.."
"The Reds lagi free for ladies malam ini.."
"Astaga.." Bima memijat pelipisnya sebentar sebelum berbalik mengejar langkah Sean yang menuju garasi.
Istilah free for ladies memang identik dengan event rutin yang biasa diadakan The Reds, yang membuat pengunjung khusus wanita bisa memasuki tempat hiburan malam itu secara gratis, sehingga dengan sendirinya suasana pasti akan lebih ramai dan meriah dari biasanya karena sudah pasti ditempat itu nantinya akan bertabur wanita-wanita cantik.
"Sean.. tunggu. Tunggu sebentar.. aku.."
"Sudahlah, Bang Bima. Aku juga tau sebenarnya pikiran Abang juga lagi suntuk kan..?" Sean refleks berbalik dan menatap Bima lekat.
Sean pasti telah menebaknya, dan sialnya tebakan pria itu sama sekali tidak meleset, padahal Bima tidak pernah membahas perkembangan hubungannya dengan Seiyna, kepada siapapun.
Selama ini hubungan diantara dirinya dan Seiyna secara kasat mata terlihat adem ayem.
Sikap manja Seiyna sangat membantu kelancaran sandiwara diantara mereka, karena Seiyna memang sejak dulu seperti itu. Manja, ingin selalu diperhatikan, dan ingin selalu dituruti kemauannya.
Mungkin dimata orang lain itu terlihat sangat manis, namun pada kenyataannya Sean yang sudah hafal sifat Seiyna dan Bima luar dalam, bisa dengan mudah membaca kebohongan, sehingga saat ini bisa membuat Bima mati kutu.
"Kami para pria memang sering berbuat salah, Bang, tapi sungguh, wanita itu merupakan makhluk yang teramat sangat sulit. Tak jarang kita bisa mengalahkan keegoisan kita dengan mudah, tapi mereka sendiri justru lebih mementingkan perasaan gengsinya.. bapernya.."
"Sean.."
"Aku mengatakan hal yang benar, Bang. Aku tidak akan menyangkalnya bahwa aku adalah pria brengsek yang melakukan kesalahan. Aku bahkan sudah berusaha berdamai dengan semua keegoisanku, aku juga sudah pernah menanggalkan semua pandanganku tentang gambaran masa depanku sendiri, tentang dengan siapa seharusnya aku melalui semua itu. Tapi 'dia' malah ingin aku menghilang saja dengan membawa semua dosa ini.." suara Sean terdengar bak sebuah keluhan yang keluar dari dalam lubuk hatinya yang terdalam.
Bima tau persis, bahwa yang dimaksud Sean dengan 'dia' itu sudah pasti Riri.
"Sean.."
__ADS_1
"Lalu aku harus bagaimana, Bang? 'dia' saja se-angkuh itu. 'Dia' juga tidak ingin menuntut tanggung jawabku." terus menyebut 'dia' sebagai gambaran kekecewaan dan kekesalan yang menggunung.
"Bukankah tadi kamu sendiri yang mengatakan bahwa wanita adalah makhluk yang teramat sangat sulit? lalu kenapa sekarang masih bertanya lagi..?" kilah Bima.
Sean terlihat melengos, kemudian dia menatap Bima sejurus. "Lalu bagaimana dengan Bang Bima?" tanya Sean tiba-tiba, sambil tersenyum masam.
"Egh.. aku..? aku kenapa memangnya..?" tanya Bima dengan tampang yang rada blo'on.
Sean terlihat menyeringai. "Susah tidak menghadapinya..?"
"Apa..?!" Bima nyaris tersedak salivanya sendiri mendengar kalimat Sean yang terucap tanpa keraguan, seolah sedang menodongnya untuk mengungkapkan kejujuran.
"Seiyna. Adikku itu juga merepotkan Abang, kan..?"
Bima menelan ludahnya. "Aku tidak pernah berpikir bahwa Seiyna merepotkan. Dia hanya bersikap manja.. dan itu wajar saja.."
Sean malah tergelak mendengar sanggahan Bima yang terdengar begitu ngotot.
"Kamu ini.. belum juga minum sudah mabuk duluan. Ngaco..!" pungkas Bima sambil menekan lock otomatis mobil Sean lewat kunci kontak yang telah sejak tadi berada ditangannya.
Bima terlihat memutar langkahnya kesisi kemudi tanpa berpikir dua kali.
Entahlah..
Bima bukannya sedang ingin melakukan pemberontakan, namun ia malah berpikir bahwa ajakan Sean malam ini patut dicoba, karena sejujurnya Bima pun merasa perlu melepas semua ganjalan dan kepenatan bathinnya yang tak kunjung usai.
Melihat itu Sean tersenyum penuh kemenangan, tanpa membuang waktu sedetik pun Sean bergegas naik kesisi yang lain.
Detik berikutnya, mobil berjenis Sport Utility Vehicle keluaran terbaru serta limited edition itu telah melesat mulus, keluar dari gerbang utama rumah keluarga Djenar dengan kecepatan sedang, membelah pekatnya jalanan malam yang mempesona.. bertabur lampu jalan di kiri-kanan..
.
.
.
Bersambung..
Like, comment, favoritekan, vote.. GO.. GO.. GO.. 😍
__ADS_1
Thx and Loopphyuu all.. 😘