PASUTRI

PASUTRI
Pipi yang merona


__ADS_3

"Sepertinya kami juga harus pamit pulang, karena hari mulai larut.." Rico mengucapkan pamitnya kearah Tian dan Arini, sesaat setelah sepasang pengantin baru yang tak lain Bima dan Seiyna telah beranjak masuk atas titah Tian beberapa saat yang lalu.


Disisi kiri dan kanan Rico ada Meta dan Riri putrinya yang terlihat sudah agak mengantuk.


"Co, terima kasih sudah datang yah.." ujar Tian sambil merangkul sahabatnya itu.


"Kamu ini bicara apa.. tentu saja aku harus datang. Pernikahan Seiyna, tidak ubahnya dengan pernikahan putriku sendiri.." ucap Rico.


Meta terlihat memeluk Arini dengan hangat.


"Akhirnya kita sama-sama memiliki anak yang telah menikah.." ujar Arini kearah Meta sambil terus merangkul sahabat terbaiknya itu.


"Iya, Rin.. kita benar-benar sudah tua.." pungkas Meta yang kemudian disambut tawa kecil oleh mereka semua.


Hari memang sudah mulai larut, sehingga para tamu pun sudah berpamitan silih berganti sejak beberapa saat yang lalu, menyisakan Rico beserta keluarga kecilnya.


"Oh ya, Tian.. Sean mana?" tanya Rico, matanya terlihat menoleh kesana-kemari saat ia tidak bisa menangkap bayangan putra sulung Tian yang tampan itu.


"Aku menyuruhnya mengantarkan Agung Baskara dan keluarganya kedepan, sampai sekarang malah belum kembali.." jawab Tian.


"Sepertinya rencana pernikahan aliansi dengan Baskara corp akan segera terwujud yah.." Rico berucap sambil tersenyum.


Tian mengangguk-anggukkan kepalanya. "Aku pribadi menyetujuinya, tapi semuanya aku kembalikan kepada Sean.."


"Sayang, kamu selalu mengatakan seperti itu. Kalau kamu tegas, memangnya Sean bisa apa..?" celetuk Arini gemes sendiri karena bahkan ia sendiri pun sudah tidak sabar ingin menikahkan Sean secepatnya.


Sungguh Arini sangat mengkhawatirkan pergaulan putra sulungnya itu yang begitu populer diantara para gadis, sementara Riri yang mendengar pembicaraan itu memilih menunduk dalam diam, meskipun hatinya terasa ngilu tanpa sebab.


"Biar bagaimana pun pendapat Sean kan juga perlu.." pungkas Tian kearah Arini yang terlihat ngotot.


"Kalau mau mendengar pendapat Sean tidak mungkin Sean akan langsung setuju. Tapi kalau kamu yang memutuskan, mau tak mau dia harus mendengarkan.."


Mendengar kalimat jutek Arini yang dibarengi dengan bibirnya yang mencebik dua centi, membuat Tian menggeleng-gelengkan kepalanya, Rico tersenyum tipis, sementara Meta bahkan tertawa terang-terangan.


"Arini, kamu sama sekali tidak berubah yah.. kalau kesal, pasti mulutnya naik dua centi!"


Mendengar ejekan Meta yang dibarengi tawa membuat Arini melotot galak. Namun bukannya takut Meta malah semakin menertawakannya.


"Maaf deh.. maaf.." ujar Meta masih dengan sisa tawanya menyadari Arini yang sedang dalam mode ngambek seperti kebiasaannya, diusianya yang bahkan tidak muda lagi.


"Sayang, pokoknya aku tidak mau tau. Kamu harus bisa memaksa Sean agar mau menikah dengan Elsa. Diantara beberapa putri kolega bisnis, Elsa terlihat yang paling memenuhi kriteria. Cantik, ramah, pinter lagi.. cocoklah dengan Sean.."


"Tadi aku juga sempat memperhatikan interaksi Sean dan Elsa.. keduanya bahkan mudah sekali akrab.."


"Nah kan.." Arini mengangguk cepat menanggapi pendapat Meta.

__ADS_1


"Baiklah.. aku akan mencari kesempatan membicarakannya dengan Sean secara serius. Semoga saja setelah ini Sean dan Elsa juga bisa semakin dekat.. karena nantinya Elsa juga akan lebih banyak menghandle pekerjaan ayahnya, dengan begitu pasti bisa semakin sering bertemu Sean.." ucap Tian lagi.


"Egh.. itu Sean.." pungkas Rico begitu menangkap sosok tinggi nan tampan Sean yang telah berjalan kearah mereka.


"Ada apa, Dadd..?" tanya Sean dengan alis bertaut begitu ia telah berdiri tepat diantara kedua orangtuanya beserta Daddy Rico, Mommy meta dan.. Riri.


"Daddy Rico sudah mau berpamitan.." ujar Tian kearah putranya itu. "Oh ya.. bagaimana, Om Agung sudah pulang..?"


"Sudah, Dadd.."


"Lalu bagaimana dengan Elsa..?" tanya Arini dengan gegabah, membuat alis Sean kembali bertaut.


"Bagaimana apanya, Mom?"


Mendengar pertanyaan balik itu Arini mendadak tergeragap, sementara Tian telah mengusap pelipisnya menyaksikan ketidaksabaran Arini seperti biasa.


"Sean.. maksud Mommymu mau menanyakan apa Elsa juga sudah pulang? begitu.." Meta terlihat mencoba meluruskan.


"Tentu saja sudah pulang. Lagian untuk apa Elsa tidak pulang kalau orangtuanya saja sudah pulang..?" jawab Sean dengan raut wajah bingung menafsirkan maksud pertanyaan Mommy yang memusingkan, kemudian ditambah lagi dengan penjelasan Mommy Meta yang semakin menambah pusing.


"Sudah.. sudah.. mari kita pulang.." lerai Rico yang juga ikut pusing mendengar pertanyaan Arini dan Meta untuk Sean.


"Sean antar kedepan, Dadd.." ujar Sean sopan kearah Rico, yang mengangguk sambil merangkul bahu Sean.


XXXXX


"Bagaimana pekerjaan kamu, Sean? lancar..?" Rico bertanya kearah Sean yang berjalan tepat disampingnya, sedangkan Meta dan Riri berada tepat dibelakang mereka.


"Lancar Dadd.."


"Syukurlah, kamu harus mempersiapkan dirimu dengan baik, karena nantinya, Daddymu sudah pasti akan menyerahkan masa depan Indotama Group beserta anak-anak perusahaannya ketanganmu."


Sean mengangguk kecil. "Rasanya Sean belum siap, Dadd.. tapi Daddy Tian sudah sangat memaksa dan tidak bisa ditawar lagi.." ungkap Sean kearah Rico dengan ekspresi wajahnya yang tergambar jelas betapa ia sebenarnya masih keberatan diserahi tanggung jawab sebesar itu dalam waktu dekat.


Tapi kalau bukan dirinya yang akan memegang kendali Indotama Group, lalu siapa lagi yang bisa Daddynya harapkan..?


"Oh ya, Dadd, Rei.. apa kabar..?" tanya Sean ketika tiba-tiba ingatannya tertuju pada Rei.


"Baik. Rei dan Nisa sekarang ada di kota Y, rencananya besok sore sudah mau ke kota D."


Sean manggut-manggut. Diam-diam sisi hatinya lega mendengar kabar sahabatnya itu baik-baik saja bersama Nisa istrinya.


"Kalian masih belum baikan, juga?"


Mendengar pertanyaan itu Sean hanya bisa terdiam, sedikit salah tingkah. Bagaimana mungkin bisa baikan, bahkan nomor ponselnya saja sudah diblokir Rei sejak kejadian pada malam itu.

__ADS_1


"Rei.. mungkin masih perlu waktu untuk.."


Mengambang.


"Sudah.. sudah.. kalau begitu kamu yang harus lebih bersabar. Mungkin setelah kembali Rei akan lebih tenang dan bisa diajak bicara.." pungkas Rico dengan arif saat melihat kecanggungan Sean.


Sedangkan Sean hanya bisa menganguk dan menghembuskan nafasnya perlahan mendengar nasihat Rico.


"Kelak Rei juga akan seperti dirimu. Mau tak mau harus memegang kendali atas Best Electro dan Wijaya Corp. Tapi sepertinya Daddy harus bersabar dulu untuk saat ini, sampai urusan perbaikan semua jaringan Hotel Mercy peninggalan Mommy Rei bisa pulih terlebih dahulu.. baru Daddy bisa bicara lagi dengan Rei." Rico menatap Sean lekat, kini mereka telah berada tepat disisi mobil milik Rico. "Daddy dan Daddymu Tian semakin lama, semakin tua. Kamu dan Rei satu-satunya harapan kami."


"Iya Dadd.. Sean dan Rei pasti juga akan berusaha keras agar kami tidak akan pernah mengecewakan."


"Bagus. Sudah seharusnya anak muda seperti kalian berpikir optimis." Rico kemudian menepuk bahu Sean. "Baiklah, Daddy pergi dulu.."


"Iya, Dadd, hati-hati dijalan."


Rico tersenyum kemudian langsung menaiki mobil yang pintu depannya telah dibuka oleh sopir mereka, sementara Sean dengan cekatan ikut membuka pintu belakang untuk Meta yang kemudian disusul oleh Riri.


"Mommy pergi dulu yah, Sean."


"Iya, Momm, hati-hati dijalan." ucap Sean kearah Meta yang tersenyum, sebelum detik berikutnya wanita itu terlihat sibuk mengubek isi tasnya seolah sedang memeriksa sesuatu.


"Hati-hati.." ucap Sean perlahan begitu menoleh pada Riri yang sejak tadi terlihat hanya diam menunduk, tidak bicara sepatah katapun.


"Iya kak.." sepasang mata gadis itu terlihat sedikit mengantuk saat menatap Sean dengan jengah, namun dalam keadaan temaram, Sean malah menangkap warna merona dikedua pipi Riri, yang entah kenapa membuat tangan Sean terangkat begitu saja melewati jendela mobil yang kacanya belum dinaikkan.


Sean mengelus lembut pipi Riri yang kemerahan dan terasa dingin diujung jemarinya.


Riri terlihat mematung mendapati perlakuan diam-diam itu, untuk sesaat pandangan mereka berdua terkunci satu sama lain.


Menyadari gelagat Meta yang hendak mengangkat wajahnya, dengan cepat Sean pun ikut menarik tangannya keluar secepat kilat.


Sean bahkan ikut mundur dua langkah menjauhi body mobil, seiring dengan kaca jendela disebelah Riri yang tertutup perlahan..


.


.


.


Bersambung..


Jangan baper.. jangan baper.. jangan pernah baper.. 🤪


Support yang kenceng dong 😍

__ADS_1


Thx and Lophyuu all.. 😘


__ADS_2