
Rei memilih bertahan untuk tidak mengusik, tapi sayangnya yang dibawah sana tidak mau diajak kompromi.
"Ih.. Rei.." Nisa mendadak membuka matanya, kantuk yang menguasainya seolah terbang begitu saja saat menyadari ada sesuatu yang bergerak-gerak aneh di area perutnya.
Rei terlihat menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Hehe.. maaf Nis, padahal sudah aku tahan, tapi 'dia' terus melawan.." Rei terkekeh, dengan ekspresi wajah yang sedikit salah tingkah saat sedang menyalahkan salah satu bagian tubuhnya yang hebat.
Mendengar itu seraut wajah Nisa telah merona, terlebih saat menyadari bahwa didalam selimut, tubuhnya masih polos tanpa sehelai benang pun.
"Oh iya, Nis.. tadi Mommy sedang mencoba menghubungi ponselmu.." bisik Rei sambil memainkan ujung rambut Nisa yang tergerai.
"Mommy Meta..?" mata Nisa mendadak membesar.
Rei mengangguk. "Hmmm.. Mommy ingin bertanya kepadamu, tapi karena kamu tidur jadi aku mewakilimu untuk menjawabnya."
"Mewakiliku untuk menjawab?" tanya Nisa yang mengulang kalimat terakhir Rei. "Memangnya Mommy bertanya tentang apa..?"
Rei menatap Nisa lekat dengan sebuah senyum penuh makna. "Mommy hanya ingin tau, kalau cucunya sudah dibikin atau belum."
Wajah Nisa pun semakin merona mendengarnya.
"Tapi aku sudah mengatakan kepada Mommy agar tidak lagi memikirkan hal itu. Karena aku dan menantu kesayangannya sedang berusaha membuatnya.."
"Apaan sih Rei.. memangnya kamu tidak merasa malu? bisa-bisanya mengatakan hal itu kepada Mommy. Memangnya kue mau dibuat..?" protes Nisa berusaha menyembunyikan perasaan malu yang menggerogoti dirinya.
"Iya, kan memang harus dibuat, Nis, kalau tidak dibuat lalu bagaimana..? memangnya bisa jadi sendiri..?" kilah Rei sambil menatap Nisa yang malah menaikkan bibirnya dua centi. Kemudian dengan tatapan yang polos ia telah menatap Nisa dengan lembut. "Nis.."
"Hmmm.."
"Bikin lagi yuk.." ajaknya dengan senyum yang nakal, jemarinya mulai mengelus perlahan punggung polos Nisa yang seputih susu.
Nisa melotot kecil mendengar ajakan itu. Sejujurnya ia benar-benar merasa enggan karena saat ini tubuhnya pun seolah ingin remuk karena ulah Rei pada beberapa kali aktifitas mereka beberapa jam yang lalu.
"Kasihan Mommy, sudah menunggu.." imbuh Rei lagi berlagak memasang wajah sendu.
"Modus. Kenapa nama Mommy dibawa-bawa lagi..? jadi alasannya cuma karena keinginan Mommy..?"
"Egh, bukan.. Nisaaa.." Rei langsung menghalangi usaha Nisa yang hendak berbalik memunggunginya lagi. "Baiklah.. baiklah.. aku mengaku.." ucap Rei akhirnya, mencegah Nisa ngambek beneran.
"Mengaku apa?"
"Mengaku kalau sebenarnya aku yang menginginkan kamu.."
Nisa mencibir.
"Mau ya Nisa.." menangkup pinggang Nisa didalam selimut.
__ADS_1
Diam.
"Sayang.." merayu sambil mulai mengelus menggoda.
"Ish, apa sih, Rei.." protes Nisa yang merasa geli dengan aktifitas tersembunyi itu.
"Lagi ya.."
Rei kembali memohon dengan sepenuh hati, kali ini dengan nekad melu mat penuh bibir Nisa, sementara dua jemari yang sejak tadi sudah berjalan-jalan kesana-kemari dibawah selimut semakin berani memprovokasi. Usai keduanya meremas lembut si kembar milik Nisa yang berukuran lumayan super, kini sebelah tangannya mulai menyusuri area eksklusive.
Desa han yang lembut, lolos satu persatu begitu saja dari bibir Nisa, yang semakin tidak kuat menahan aksi Rei yang seolah sengaja melakukan stimulasi khusus di titik-titik sensitive tubuhnya dalam waktu bersamaan.
"Rei..!" Nisa memekik panik.
"Tidak apa-apa.. just enjoy it, baby.. just get it out.."
Bisik Rei disela-sela ciu man dan luma tan yang panjang, sementara kedua tangannya terus memacu tanpa jeda, yang ada malah meningkatkan powernya.
Nisa memilih menggigit bahu pria itu kuat-kuat untuk mencegah mulutnya memekik keras, saat sebuah rasa yang luar biasa seolah mendobrak keluar dari dinding-dinding pertahanannya, sebelum akhirnya ia terkulai tanpa tenaga bahkan tanpa melakukan apa-apa.
Detik berikutnya Nisa merasa sangat malu, terlebih saat melihat senyum Rei yang seolah ikut merasa puas dengan kepuasan yang baru saja ia rasakan.
Rei bangkit, menunduk sejenak guna menge cup mesra bibir Nisa yang merekah, yang masih sedikit terengah setelah melewati gelombang kenikmatan yang luar biasa.
"Let's start the main show, baby.." bisik Rei lagi begitu dekat ditelinga Nisa, yang tentu saja tak bisa menolaknya lagi, usai dihadiahi awalan yang menakjubkan dari pria gagah yang kini terlihat sedang melepas celana boxernya dengan terburu-buru, seolah tidak ingin berlama-lama dan tidak sudi memberi Nisa kesempatan meskipun hanya mengatur nafas.
Nisa mulai terlihat sedikit panik, karena semakin Rei menekan, semakin terasa ada yang ingin terkoyak untuk yang kesekian kalinya dari bawah sana.
Saking nyerinya, rasanya Nisa ingin berontak dan menendang pria yang tanpa iba terus memaksa masuk itu.
Namun jangankan berontak, untuk menggerakkan pinggulnya bahkan Nisa tak mampu. Kedua tangan kekar Rei seolah telah mematri pinggulnya dengan kuat diatas permukaan ranjang yang mulai ikut bergerak dan berderit seiring gerakan Rei yang semakin lama semakin meningkat ritmenya.
"Masih sakit juga..?" Rei menge cup lagi bibir Nisa, disela-sela gerakan tubuhnya yang terkadang maju-mundur.. terkadang turun-naik..
Nisa mengangguk tanpa suara, berusaha menikmati sedikit kenikmatan yang masih didominasi rasa nyeri itu.
"Nanti juga enak kok.." seloroh Rei lagi, detik berikutnya wajahnya telah meringis saat mendapati pelototan kesal Nisa yang berada dibawah tubuhnya.
Wajah Nisa telah bersimbah peluh, dan dua celah bibir wanita itu bahkan gemetar menahan nyeri yang belum juga bisa terkalahkan dengan sempurna.
Anehnya pemandangan tersebut malah terlihat begitu erotis dimata Rei, sehingga membuat Rei semakin bersemangat untuk terus memacu disana, seolah tertantang mengenyahkan rasa nyeri yang tertinggal untuk Nisa.. berusaha menggantikannya dengan sejuta rasa kenikmatan dunia yang sesungguhnya..
.
.
__ADS_1
.
"Besok pagi bukannya kita harus ke bandara..?" tanya Nisa sesaat setelah Rei merebahkan tubuhnya sambil menarik kembali dirinya dalam dekapan pria itu.
"Hhmm.."
"Aku aku akan menyalakan alarm, takutnya nanti malah kebablasan tidurnya.." Nisa meraih ponselnya yang telah menunjuk pukul tiga dini hari.
"Tidak usah.." larang Rei acuh, dengan mata terpejam.
"Tapi ini masih ada beberapa jam lagi.."
"Beberapa jam lagi..? baguslah, berarti masih bisa melanjutkan program untuk membuat cucu Mommy sama Daddy.. aduuhh.."
Rei mengaduh begitu merasakan jemari Nisa yang mencubit perutnya.
"Modusss.." desis Nisa keki sambil menentang wajah Rei yang sedang menatapnya dengan tatapan protes.
"Biarin modus, yang penting kamu juga suka kan.. aduhhh..!"
"Rasakan.." Nisa memeletkan lidahnya usai kembali menghadiahi cubitan kedua di perut keras milik Rei.
"Wah.. berani kamu yah, kalau begini harus diberi pelajaran.." Rei mendadak bangkit dari rebahannya.
"Apa..? egh.."
Dan Nisa tidak bisa lagi melayangkan protesnya lagi, manakala mulutnya telah dibungkam sempurna.
"Rei kamu.."
Mengambang.
Dan Nisa pun harus pasrah saat menyaksikan Rei telah menarik selimut yang menutupi tubuhnya, dan membuangnya kelantai..
.
.
.
Bersambung..
Pagi-pagi malah ngumpul disini nyalain kompor 🔥 doang, emak-emak.. masak dulu woiiyy.. 🤪
Like, Comment, Vote,
__ADS_1
Thx and Lophyuu all.. 😘