
Jam dua dinihari..
"Malam ini aku akan pulang ke apartemen.." pungkas Bima memutuskan dengan bulat hati, sambil melirik kearah Sean yang bersandar di bemper mobilnya sambil memijat keningnya yang sedikit pening.
Karena banyak masalah.. iya, karena pengaruh alkohol.. juga iya.
Memang terdengar sangat buruk, tapi pada kenyataannya godaan duniawi memang cukup menggiurkan untuk dijadikan kambing hitam setiap manusia, saat harus menorehkan catatan dosa.
"Aku tidak mungkin masuk kekamar adikmu dengan keadaan seperti ini." kilah Bima lagi sambil menghirup dalam-dalam sebatang rokok yang menghias disela-sela jemarinya.
Masih tak ada tanggapan.
Bima melirik kearah Sean yang masih membisu disampingnya.
"Sean.. sejak tadi, kamu mendengarkan aku tidak sih..?"
"Dengar, Abang mau pulang ke apartemen kan?" ujar Sean terlihat kalut, kemudian ia balas menatap Bima. "Terserah Abang, tapi sebelum itu, antarkan aku dulu menemui Riri.."
Mendengar itu Bima terkesiap. "Ini jam dua dinihari, Sean. Kamu sudah gila ya?" pungkas Bima lagi.
"Ayolah, Bang Bima, tolong carikan cara agar malam ini aku bisa menyelinap kedalam rumah keluarga Wijaya."
"Kalau ketahuan, aku dan kamu bisa digelandang aparat, Sean.. bisa heboh lagi seantero jagat.."
"Memangnya siapa juga yang ingin ketahuan..?"
Bima melengos mendapati kalimat yang terucap dengan nada acuh tersebut. "Untuk apa datang kesana seperti pencuri? kamu kan bisa datang besok pagi dengan baik-baik kalau kamu benar-benar ingin bertemu dengan Riri..?"
"Tapi aku maunya sekarang, Bang, mumpung lagi punya asupan keberanian extra. Kalau menunggu besok pagi bisa-bisa nyaliku sudah ciut lagi bahkan menghilang.." kilah Sean memberi alasan guna bisa memaksa Bima untuk menuruti pemikiran nekadnya saat ini.
"Tapi Sean.."
"Bang Bima.. please.."
XXXXX
Bima menepuk kedua bahunya yang sedikit kotor akibat bekas pijakan sepatu Sean.
Begitu Sean berhasil memanjat pagar samping rumah keluarga Wijaya yang tingginya mungkin lebih dari dua meter, dengan secepat kilat Bima pun berusaha langsung menghilang dari tempat itu, sebelum ada orang yang memergoki keberadaannya.
"Dasar nekad.." desis Bima, yang berjalan tergesa kearah mobil Sean yang terparkir disisi jalan, begitu melihat tubuh Sean yang telah menghilang karena pastinya telah melompat kedalam halaman rumah besar tersebut.
Bima pun berlalu dari sana dengan mengendarai mobil Sean, menuju apartemen miliknya dengan kecepatan sedang.
Sementara itu,
Riri baru saja kembali dari kamar mandi, untuk buang air kecil sambil mengelus perutnya perlahan.
Semenjak mengetahui hasil positif dari test pack yang iseng-iseng ia lakukan diam-diam beberapa hari yang lalu itu, tidur Riri semakin tak pernah tenang. Selalu merasa ketakutan dan gelisah, dikejar rasa bersalah, sehingga ikut berimbas pada kacaunya jadwal tidur sekaligus kondisi kesehatannya yang menurun.
Sampai detik ini Riri bahkan belum bisa memutuskan apa yang harus ia lakukan, kepalanya rasanya mau pecah jika harus memikirkan semua yang sedang dialaminya saat ini. Lelah berpikir seorang diri.. dan rasanya tidak bisa mengatakan hal yang jujur kepada siapa pun. Akh..
Riri telah mendudukkan dirinya ditepian ranjang, manakala ponselnya terdengar mengalunkan nada dering.
__ADS_1
'Siapa sih yang menelpon tengah malam begini..?'
Pikir Riri saat melirik jam wekernya yang jarumnya menunjukkan nyaris pukul tiga dini hari, namun sepasang mata Riri langsung melotot saat melihat sebuah nama yang tertera jelas dilayar ponselnya.
'Kak Sean?'
Bathinnya memekik. Rasa senangnya menjalar begitu saja kerelung hati, bercampur rasa gugup saat memutuskan untuk menerima panggilan yang terus memperdengarkan dering yang sama.
"H-halo, Kak..?"
"Riri.."
Riri menahan nafasnya begitu suara berat yang selalu membuatnya rindu, terdengar menyapu gendang telinganya.
"Riri.." suara Sean terdengar lagi karena tak kunjung mendapatkan respon dari Riri.
"Egh.. i-iya Kak, ada apa menelpon malam-malam begi.."
"Cepat buka jendela kamarmu." pungkas Sean tanpa menunggu kalimat basa-basi Riri selesai.
Riri terhenyak mendengar titah yang tegas tanpa embel-embel itu.
"A-apa..?"
"Hhh.. aku bilang, buka jendela kamarmu.."
"T-tapi Kak.."
"Cepatlah, Riri.. aku sekarang ada diluar."
"Halo..? halo.. Riri..?"
Sayup-sayup suara Sean yang terdengar bak orang berbisik itu masih terdengar, dan Riri nyaris terjengkang karena detik berikutnya terdengar suara ketukan dikaca jendelanya yang berada dilantai dua itu.
Seolah mendapat keberanian yang entah darimana datangnya, Riri akhirnya memutuskan untuk bangkit dan menuju kearah jendela yang masih setia diketuk perlahan dari luar tersebut.
Begitu sampai, Riri pun memberanikan diri untuk menyibak tirai jendelanya dan Riri nyaris tidak percaya saat melihat sosok Sean yang telah ia rindukan sekian lama benar-benar berdiri disana dengan ponsel yang masih menempel ditelinga.
"K-Kak Sean.." desis Riri perlahan, penuh kegugupan, sementara diluar sana Sean terlihat seolah memberi isyarat agar Riri segera membuka pengait jendela.
Riri yang tersadar akhirnya pun membuka pengait tersebut, membuat Sean segera menarik daun jendela kamar Riri, guna mendapatkan celah agar tubuh kekarnya bisa masuk kedalam kamar Riri secepatnya.
"K-Kak Sean kenapa.."
"Aku dengar kamu sakit.." pungkas Sean tanpa menunggu kalimat Riri terucap sempurna.
Riri mengangguk kecil. "Aku.. aku memang sedang tidak enak badan, Kak, tapi mungkin hanya masuk angin biasa.."
"Benarkah..?"
Riri mengangguk perlahan sambil tertunduk jengah mendapati tatapan Sean yang terus lekat padanya.
Sean merasa hatinya berdesir, saat melihat kondisi Riri yang hanya dalam beberapa hari terlihat kurus dan sangat pucat. Terkesan begitu rapuh.
__ADS_1
"Ini sudah larut malam, kenapa Kak Sean datang kesini? lalu.. kenapa.. kenapa muncul dari jendela..?"
"Aku.."
"Pulang. Pulang saja, Kak.." dengan cepat Riri terlihat mendorong dada bidang Sean dengan kedua telapak tangannya, seolah ingin mengusir pria itu secepatnya agar keluar dari kamarnya.
Sean terkesiap menerima sambutan Riri atas kehadirannya. Tidak. Ini malah tidak bisa disebut sambutan, melainkan penolakan..!
"Egh, tapi Ri.."
"Kakak harus pulang.." terus mendorong tubuh Sean tanpa ampun.
"Riri.. tunggu sebentar.."
"Jangan sampai ada yang melihat Kak Sean disini karena aku takut.."
"Just stoped it..!" Sean menangkap kedua tangan Riri yang terlihat sangat bersikeras mendorong tubuhnya agar kembali kearah jendela dengan gigih, dalam sekali gerakan.
"Kak.." Riri terkesiap mendapati wajah Sean yang mengeras disana, sambil mengunci kuat kedua pergelangan tangan Riri tanpa ampun.
Pria itu terlihat menahan amarahnya..!
"Kamu tau tidak..? untuk datang menemuimu, aku nekad melompati pagar rumahmu yang sangat tinggi dan memanjat pohon yang tumbuh disamping jendelamu. Enak saja menyuruhku pulang begitu saja..!"
Sean berucap kesal sambil mengendurkan cekalannya di kedua pergelangan tangan Riri, menurunkan kembali tirai jendela, dan kemudian mengaitkan lagi pengaitnya seperti sedia kala.
Detik berikutnya Sean telah menatap lekat Riri yang berdiri salah tingkah dihadapannya.
"Kemari.." ujar Sean sambil menarik salah satu pergelangan tangan Riri dan membawanya mendekati ranjang dengan motif hello kitty.
Sean terus menuntun Riri menuju ranjang, tak peduli dengan rasa enggan serta aura protes yang tercetak jelas dikedalaman bening mata Riri yang terlihat cekung.
"K-Kak Sean.. m-mau apa..?" Riri bertanya gelagapan, meskipun demikian kakinya tetap melangkah mengikuti keinginan Sean yang seolah menuntunnya.
"Mau numpang tidur." ujar Sean cuek.
"Egh..?"
.
.
.
Bersambung..
"Idihh.. heran aku sama kalian.. pasti baper lagi kan..? hwayoloh.. ngaku..!!" 🤪
Follow my IG. @khalidiakayum
FB. Lidia Rahmat
Like and vote jangan lupa gaiss.. 😍
__ADS_1
Thx and Looopphyuu all.. 😘