
'Tomi sudah menunggu di parkiran. Maaf, aku tidak bisa menjemput lagi..'
Saat membaca sederet kalimat yang dikirimkan Bang Bima dilayar ponselnya, rasanya Seiyna ingin membanting benda pipih tersebut saat itu juga.
Entah kenapa Seiyna merasa sangat kesal. Nyaris seminggu setelah pembicaraannya dengan Bang Bima dimalam itu, sejak saat itu pula Bang Bima bahkan benar-benar tidak pernah menjemputnya lagi.
'Apa Bang Bima memang sengaja ingin membuatku kesal..?'
Seiyna terlihat misuh-musuh sendiri.
Entahlah.. yang jelas tidak hanya tidak datang menjemput, akhir-akhir ini Bang Bima juga selalu pulang lebih larut dari biasanya.
Seiyna nyaris menekan balik nomor ponsel yang telah mengiriminya pesan singkat itu. Nomor ponsel siapa lagi kalau bukan nomor ponsel Bang Bima..?
Untung saja sebuah kesadaran akan rasa gengsi telah menahan perbuatannya, karena kalau tidak Seiyna pasti sudah mempermalukan dirinya sendiri karena membuat keributan dengan Bang Bima, hanya karena masalah sepele dimana dirinya yang kesal ingin dijemput Bang Bima, bukan anak buahnya seperti beberapa hari terakhir ini.
Suasana hati Seiyna saat ini benar-benar sangat buruk.
Selain terus memikirkan Bang Bima yang tidak kunjung memperlakukan dirinya sebagai nomor satu, dikampus Seiyna juga telah merasa sangat bosan dan kesal, karena Riri yang biasanya menjadi satu-satunya temannya di kampus tidak masuk kuliah selama berhari-hari.
Lengkaplah sudah kekesalan hati Seiyna.
Tadi, usai jam kuliah terakhir selesai Seiyna mencoba menelpon Riri. Suara Riri terdengar sangat lemas khas orang yang sedang tidak enak badan, membuat Seiyna berkeinginan untuk menengok kondisi Riri sepulang kuliah.
Keseharian Seiyna dikampus memang sudah tidak seperti biasanya. Sekarang Seiyna bukan lagi sosok ceria yang bisa bergaul dengan siapa saja karena peraturan ketat dari Daddy sangat jelas, mengijinkan Seiyna kembali ke kampus namun harus membatasi pergaulan, serta interaksi dengan semua orang.
Dan Seiyna harus tunduk pada peraturan tersebut mau tak mau, tidak lagi memiliki keberanian untuk melanggarnya sedikitpun.
"Hi, Seiyna, tumben sendirian..?" suara seorang pria menyapa gendang telinganya.
Rendi.
Mendapati pemandangan itu Seiyna memilih membuang muka sambil meneruskan langkahnya, menuruni satu persatu anak tangga di gedung sayap kiri tempat perkuliahannya tanpa mempedulikan kehadiran Rendi.
Bukan apa-apa, Seiyna juga merasa sangat kecewa dengan pria yang saat ini sedang berusaha mensejajari langkahnya itu, mengingat karena menghadiri ulang tahun Rendi-lah sehingga ia terjebak dalam pernikahan konyol dengan Bang Bima. Sementara disaat terburuknya, pria itu malah menghilang..!
"Seiyna, aku minta maaf.."
Seiyna terus melangkah menyusuri selasar, menuju tempat parkir, tanpa mempedulikan perkataan serta kehadiran Rendi yang terus mengejar langkahnya.
"Seiyna.." dengan terpaksa Rendi harus nekad menangkap pergelangan tangan gadis itu untuk menghentikan laju pergerakan Seiyna meskipun harus menerima pelototan galak.
"Lepaskan..!" Seiyna menghentakkan tangannya kesal.
"Akan aku lepaskan, tapi tolong dengarkan aku sebentar, lima menit saja.."
"Tidak..!"
Seiyna kembali melangkah, begitu usahanya menghempas kuat cengkeraman tangan Rendi di pergelangan tangannya terlepas sudah.
"Baiklah, dua menit.."
"Aku bilang tidak..!"
"Baiklah.. satu menit."
Wajah Seiyna melotot marah.
"Seiyna, please satu menit. Aku tidak akan berhenti sebelum kamu mengetahui semua kebenarannya.." terus memohon tanpa gentar.
Kini langkah Seiyna benar-benar terhenti. Sepasang kelopak matanya menatap Rendi nanar.
"Kebenaran? kebenaran apa lagi..?!" mau tak mau bertanya juga karena memang merasa sedikit penasaran.
Rendi menyimpan senyumnya dalam hati saat menyadari sorot mata Seiyna yang geram bercampur rasa ingin tau yang kentara.
__ADS_1
'Dasar bodoh..'
Rendi bergumam dalam hati mendapati sikap Seiyna, tersenyum menang.
Seiyna pastilah tidak menyadari, bahwa Rendi telah mengawasi pergerakan Seiyna selama beberapa hari, guna menunggu waktu yang tepat.
Dan kesempatan itu akhirnya datang juga manakala Rendi mengetahui jika selama beberapa hari belakangan Seiyna tidak lagi dijemput oleh mobil rubicon hitam milik suami Seiyna.. yang hanya dengan auranya saja mampu menciutkan nyali Rendi, tidak juga oleh kakaknya Sean.. yang memiliki tampang sedingin es balok, dan yang juga tak kalah penting, bahwa selama beberapa hari belakangan juga, Seiyna selalu terlihat sendirian tanpa si gadis kuper yang bernama Riri.
"Rendi, cepat katakan apa maksudmu dengan kebenaran..?!" desak Seiyna tak sabar.
Rendi memperlihatkan wajahnya yang sedih dan memelas, mencoba menarik rasa iba Seiyna untuknya. "Kebenaran bahwa aku sangat menyesal tidak diberi kesempatan untuk memperjuangkan dirimu hanya karena aku telah berada dibawah ancaman.."
Rendi yang bisa menangkap kilatan rasa terhenyak bercampur penasaran dikedua kelopak mata Seiyna tersebut sedikit bersorak dalam hati.
"Seiyna, kamu bahkan tau bahwa aku tidak pernah meninggalkanmu. Di The Reds waktu itu justru kamulah yang meninggalkan aku. Aku sudah berusaha mencari dirimu malam itu, sepanjang malam terus mencarimu, tapi aku tidak menemukanmu dimanapun.."
Seiyna terdiam, saat ingatannya kembali ke peristiwa tersebut.
Seiyna pun membenarkan perkataan Rendi bahwa memang benar, dirinyalah yang meninggalkan Rendi pada malam itu.
Seiyna yang sangat mengkhawatirkan Riri yang tak kembali, justru berbuntut dirinya sendiri yang malah kepergok Bang Bima sedang berkeliaran di club tersebut.
"Besoknya, kakakmu Sean dan pria yang saat ini menjadi suamimu diam-diam datang menemuiku."
Seiyna melotot tak percaya. "Maksudmu Kak Sean dan Bang Bima..?"
Rendi terlihat melengos sebelum akhirnya mengangguk. "Mereka datang hanya untuk mengancam dan memberikan aku ultimatum agar menjauhimu. Aku belum bisa berpikir apapun Seiyna.. aku belum bisa memikirkan langkah apa yang harus aku lakukan untuk bisa mempertahankan dirimu manakala keesokan harinya aku sudah dibuat terkejut melihat semua berita tentang hubunganmu dengan pengawal Daddymu yang menggemparkan jagad publik.."
"Berhenti.."
"Aku hancur mendengar Daddymu bicara ke media bahwa kamu memang berpacaran dengan pengawal rendahan itu..!"
"Aku bilang berhenti, dan jangan ungkit hal itu lagi..!" pekik Seiyna sambil menutup kedua telinganya dengan kedua telapak tangannya.
'Itu adalah ungkapan kebenaran, yang bagiku sama sekali tidak berguna..'
Rendi telah mengungkapkan kebenaran, tapi entah kenapa Seiyna malah memilih tidak ingin mendengarnya. Hatinya sakit saat mendengar Rendi merendahkan Bang Bima.
Melihat sikap penolakan Seiyna, membuat Rendi nekad, mencoba meraih tubuh Seiyna, namun gadis itu malah mundur dua langkah untuk menghindar.
Rendi yang tidak ingin membuang kesempatan nekad mencekal kedua lengan Seiyna namun..
"Jangan sentuh aku..!!"
'Plakk..!!'
"Seiyna.. kamu..?!" Rendi terhenyak mendapati tamparan keras yang tidak ia sangka bisa dilayangkan Seiyna dengan mudah kepipinya.
Refleks tangan Rendi terangkat untuk membalas. Niatnya tersebut membuat Seiyna yang terhenyak mencoba menghindar.
'Brakkk..!'
"Aduhh..!!"
Seiyna mengaduh saat tubuhnya tersungkur dilantai.
Pipinya memang terhindar dari tamparan Rendi, namun telapak tangan Rendi masih sempat singgah dengan keras di bagian belakang kepala Seiyna sehingga tubuh Seiyna terdorong kesamping dan jatuh tersungkur.
"Aku ingin memperbaiki hubungan, tapi kamu malah seperti ini.." dumel Rendi dengan wajah geram mendapati sikap keras kepala Seiyna yang terus menolaknya.
"Siapa yang sedang kamu ajak memperbaiki hubungan..? cihh.. apa kamu tidak punya kaca dirumah..? aku wanita yang sudah menikah, bagaimana bisa kamu berniat menyentuh sembarangan..!" Seiyna bangkit dengan wajah yang dipenuhi amarah.
"Apa kamu bilang? kamu adalah wanita yang sudah menikah?" Rendi terlihat tergelak sesaat. "Cih.. derajatku saja masih lebih tinggi dibandingkan suami pengawalmu..!"
"Dimataku kamu malah tidak ada harganya sama sekali. Bang Bima jauh lebih baik darimu..!"
__ADS_1
"Ap-pa..?!"
Tangan Rendi yang hendak terangkat mendadak urung begitu mendengar suara cengkerama beberapa orang mahasiswa yang mendekat kearah mereka, sementara dihadapannya Seiyna menatapnya dengan tatapan sinis.
Rendi pun tidak bisa lagi mencegah saat gadis itu berlalu dari hadapannya, dengan cara berbaur dengan sekumpulan mahasiswa yang melewati koridor tersebut.
XXXXX
"Nona Seiyna, boleh tidak kalau saya akan menunggu Nona didepan saja?" Tomi bertanya saat Seiyna hendak turun dari mobil yang telah berhenti sempurna, didepan teras rumah keluarga Wijaya.
Saat melewati pos yang berada digerbang depan, Tomi sempat melihat dua orang satpam disana sedang bermain catur, makanya Tomi berpikir masih lebih baik menunggu Nona majikannya dengan menyaksikan permainan catur daripada menunggu Nona Seiyna kembali dengan duduk bengong sendirian.
"Iya, tentu saja boleh. Nanti aku kasih tau kalau mau balik."
"Baiklah, Nona, terimakasih.."
Seiyna tidak lagi menjawab, hanya mengangguk kecil sebelum akhirnya turun dari mobil yang dikendarai Tomi.
Tomi menatap punggung sang nona majikan hingga masuk kedalam rumah keluarga Wijaya. Ia baru berencana memarkirkan mobil ketempat yang teduh manakala ponselnya telah berbunyi.
"Halo, Bang Bim.." sapa Tomi begitu menyadari Bima yang menelpon.
"Sudah sampai dimana, Tom..?"
"Dirumah keluarga Wijaya, Bang.."
"Syukurlah kalau begitu.."
Suara tarikan nafas lega Bima terdengar perlahan.
"Bang Bima, tunggu sebentar.." ujar Tomi lagi ketika ia teringat sesuatu.
"Ada apa lagi, Tom? semuanya baik-baik saja kan..?"
Nada suara Bima diseberang sana langsung berubah khawatir.
"Anu.. Bang.. tadi aku melihat, ada lecet kecil ditelapak tangan Nona Seiyna, dan celana dibagian dengkulnya agak berdebu, seperti habis tersungkur.."
"Benarkah..? memangnya apa yang terjadi, Tom?"
Suara Bima terdengar semakin khawatir.
"Saat aku tanyakan, kata Nona Seiyna ia baru saja terpeleset dan jatuh tersungkur dikoridor kampus.."
Bima terdiam.
"Bang Bima.."
"Aku akan kesana."
Putus Bima begitu saja.
"Tapi sebelum aku tiba, kamu jangan beranjak dulu dari sana.."
Pungkas Bima lagi.
"Baiklah, Bang.. aku mengerti.."
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1
Thx and Lophyuu all.. 😘