
Double up .!!
...
Malam sudah sangat larut, manakala Rei terjaga oleh bunyi ponsel Nisa diatas nakas yang terdengar mengalunkan nada dering tanpa henti.
'Siapa sih yang menelpon Nisa tengah malam begini?'
Rei membathin penasaran. Lengannya yang panjang tetap bersikeras menjangkau ponsel tersebut meskipun telah hening, melewati tubuh Nisa yang meringkuk didalam dekapannya.
Rei tersenyum dalam hati begitu menyadari Nisa tidak memasang lock apapun pada ponselnya. Karena itu dengan sekali usap layarnya, Rei sudah bisa menguasai ponsel tersebut.
'Mommy..?'
Rei membathin, begitu nama 'Mommy Meta' tertera jelas dilayar ponsel Nisa dengan status panggilan tak terjawab.
'Kenapa menelpon malam-malam begini? akh.. semoga saja tidak terjadi apa-apa.'
Setelah berpikir sejenak Rei akhirnya mencoba bangkit dari tidurnya.
Rei memindahkan kepala Nisa yang awalnya berbantal lengannya, menaruhnya dengan hati-hati keatas bantal. Ia tersenyum saat melihat Nisa yang menggeliat kecil sebelum akhirnya kembali terkulai pulas.
'Kasihan.. pasti dia kelelahan setelah aku mengajaknya bermain hingga beberapa ronde..'
Dalam hati bergumam usil. Rei tersenyum lagi, kali ini senyum dibibirnya dipenuhi rasa bangga karena telah berhasil menjadi pria yang begitu hebat di mata Nisa.
Detik berikutnya dengan gerak perlahan karena tak ingin mengusik Nisa, Rei turun dari ranjang. Menyambar celana boxernya yang tergeletak dilantai, memakainya terlebih dahulu sebelum kemudian berjalan menjauhi ranjang dengan bertelan jang dada, mendekat kearah sofa.
Rei memutuskan untuk menekan balik nomor mommy lewat ponsel Nisa juga, karena merasa malas jika harus mengaktifkan ponselnya kembali. Dan baru di dering kedua, panggilan Rei sudah di respon oleh sebuah suara yang sangat familiar.
"Halo.. Nisa.. kenapa tidak menelpon mommy sih? Mommy menunggu telponmu sejak tadi.."
Rei menautkan alis mendengar suara Mommy yang ibarat orang sedang berbisik dari seberang sana.
"Kok malah diem sih, Nisa. Bikin Mommy tambah penasaran aja. Ayo cepat ceritakan, tidak usah sungkan apalagi malu. Bagaimana hasil dari gaun pilihan Mommy? bisa bikin Rei klepek-klepek kan..? iya kan..?"
Rei menggaruk kepalanya mendengar suara kenes Mommynya.
"Nisaaa.. duhh, malah diem aja. Ayo dong bilang.. cucu Mommy sama Daddy sudah dibikin belum..? Nisa, ih.."
"Ini aku, Momm.." mau tidak mau pada akhirnya Rei membuka suara juga begitu mendengar nada suara Mommy Meta yang semakin tidak sabar.
"Rei..?!"
Meta terpekik. Separuh kaget, separuh malu. Tidak menyangka jika putranya telah mendengar langsung dari mulutnya, apa yang telah ia lakukan kepada Nisa menantunya, untuk menggoda putranya sendiri.
__ADS_1
"Rei.. anu.. anu.. sebenarnya Mommy hanya mau menanyakan keadaan kalian saja.."
Meta sangat gugup. Untung saja Rei tidak bisa melihat bagaimana gugup dirinya sehingga Rico yang baru saja memasuki kamar mereka bahkan harus memicingkan mata keheranan saat melihat istrinya yang sedang menelpon sambil mengigit ujung selimut dengan wajah kikuk.
"Kami baik-baik saja, Mom.." suara Rei terdengar lagi.
"Lalu.. Nisa..??"
"Nisa sudah tidur."
"Ah.. oh.. ya sudah, kalau begitu Mommy tutup saja telponnya. Sebaiknya kamu juga beristirahat, apalagi besok pagi mau berangkat ke kota D.."
"Momm, sebentar.."
Meta urung menjauhkan ponsel dari telinganya. Ia sedikit salah tingkah saat Rei malah menghalanginya untuk mengakhiri pembicaraan begitu saja.
Bukan apa-apa, tapi karena Meta merasa dirinya telah terciduk terang-terangan. Baru kali ini Meta merasa sangat malu dihadapan putranya sendiri.
"Ada apa, Rei..?"
Hening. Rei terdiam sejenak sebelum akhirnya berucap perlahan.
"Mommy tidak perlu mengkhawatirkan tentang hal itu.."
Rei menggaruk kepalanya lagi. Enggan mengatakannya dengan jelas, namun disisi lain ia juga tidak ingin membuat Mommynya tidak bisa tidur nyenyak malam ini.
"Rei.. are you okay..?"
Suara Meta terdengar khawatir disertai nafas yang terhembus berat.
"Baiklah.. maafkan Mommy.."
Setelah bertanya dengan nada khawatir, kali ini suara Meta terdengar melemah.
Kecewa, tapi Meta pun enggan menampakkannya dihadapan Rei, dan membuat Rei tertekan dengan semua keinginannya yang sepertinya mulai terasa mustahil.
Sejenak Rei menarik nafasnya. "Momm.. mulai sekarang, Mommy tidak perlu banyak berpikir. Percayakan saja semua urusan itu sama Rei dan Nisa. Mommy cukup bantu doa, biar.. cepat jadinya.."
Hening, tapi Rei tau diseberang sana Mommy Meta pasti sedang terkejut, namun bahagia.
"J-jadi.. kalian.."
"Tenang saja, Momm.. cucu Mommy dan Daddy lagi on the way.."
"Whaatt..??"
__ADS_1
Rei tidak bisa menahan tawanya saat mendengar pekik kebahagiaan dari Mommynya diujung sana.
"Nah kan.. apa yang Mommy katakan kepada Nisa memang terbukti. Kamu memang benar-benar anaknya Daddy Rico.."
Langsung nyerocos tak terkendali, seperti sifat Meta selama ini.
Meskipun Rei tidak terlalu paham dengan maksud Mommy Meta namun tak urung ia merasa sangat lega bisa membuat Mommynya sebahagia itu sebelum pembicaraan mereka benar-benar berakhir.
"Kamu ini sedang bicara apa sih? mengatakan kepada Rei bahwa Rei benar-benar anak Daddy..? lah, memang benarkan? memang Rei anak Daddy kan..?" usut Rico yang ikut penasaran dengan kalimat terakhir Meta, sesaat sebelum Meta menutup pembicaraannya dengan Rei, terlebih saat melihat wajah istrinya yang begitu ceria setelahnya.
"Iya, Rei memang anak Rico Chandra Wijaya. Fix. No debat. Karena itu pula Rei pasti akan mewarisi semua sifat Daddy. Iya kan, Dadd..?" ujar Meta mengerling sambil menahan tawanya yang hendak memecah, membuat Rico semakin menautkan alis keheranan dengan sikap absurd istrinya malam ini, namun akhirnya memilih untuk tidak bertanya lagi.
'Iya lah.. semua sifat Daddy, termasuk sifat me sumnya yang tidak bakalan kuat melihat sosok istrinya yang bening didepan mata..'
Dalam hati Meta terkikik geli.
Sementara itu nun jauh disana.. Rei masih berdiri terpaku sambil menatap ponsel Nisa yang masih berada ditangannya.
'Benar-benar anaknya Daddy Rico? apa maksudnya yah..? hhh.. Mommy ada-ada saja..'
Rei menggelengkan kepalanya berkali-kali karena tak kunjung mendapatkan petunjuk sama sekali atas pernyataan absurd Mommy Meta diakhir pembicaraan mereka barusan.
Akhirnya, Rei beranjak kearah nakas yang berada disisi ranjang, untuk menaruh kembali ponsel Nisa ketempat semula, sebelum akhirnya naik lagi keatas ranjang dengan perlahan, dan membawa masuk tubuhnya ke selimut yang sama, dimana Nisa masih tertidur dengan tubuh yang polos seperti bayi.
Perlahan Rei menyusup lebih kedalam, menarik perlahan tubuh polos milik Nisa, memaksanya agar kembali berada dalam pelukannya.
"Rei.." panggil Nisa serak, antara sadar dan tidak, masih dengan mata yang tetap terpejam.
"Iya sayang.." bisik Rei lembut sambil mendaratkan ciu man didahi Nisa yang malah beringsut semakin dekat.
Nisa seolah tidak sadar kalau saat ini, seluruh tubuh polosnya nyaris semuanya menempel ketat dengan tubuh Rei yang bertelan jang dada.
'Busyet.. kalau posisinya seperti ini si junior mana tahan..?'
Rei merasa pening sendiri. Terlebih saat melirik kebawah, kearah pemandangan dua gundukan yang menyembul indah karena sedang menggencet dada bidangnya.
Rasanya Rei ingin sekali mengikuti dorongan alami sebuah kehidupan kecil yang mendadak terbangun dan menegang dibawah sana, tapi disisi lain kasian juga jika harus memaksa Nisa untuk melakukannya lagi.
.
.
.
Next.. tapi jangan lupa di Like, Comment, Vote dulu yah.. 🤗
__ADS_1