PASUTRI

PASUTRI
Penyesalan


__ADS_3

Double UP..!!! 😀


Malam hampir berlalu namun baik Seiyna maupun Riri belum ada satupun yang memejamkan matanya.


Mereka berdua tidur terlentang menatap langit-langit kamar, dengan pemikiran yang menjelajah kesegala arah, sampai kemudian suara tangis Seiyna terdengar sayup-sayup memecah lirih.


Riri menolehkan wajahnya kesamping, menatap Seiyna yang telah sesegukan.


"Seiyna, kamu kenapa..?" Riri bertanya seraya mendudukkan tubuhnya, menatap penuh kearah Seiyna yang terlentang dengan berlinang air mata.


"Ri.. aku menyesal telah melakukan semua kebodohan ini.."


"Ssstt.. kamu bicara apa, Seiy?" Riri mengusap lengan Seiyna yang bergetar. Berusaha menenangkan Seiyna yang sesegukan karena menyesali perbuatannya yang nekad pergi ke The Reds semalam.


Seiyna tidak pernah tau bahwa sebesar apapun perih penyesalannya, masih lebih perih apa yang tengah Riri rasakan.


Seiyna pasti juga tidak bisa membayangkan apa yang telah ia alami dalam waktu singkat, dan Riri juga tidak mungkin mengatakannya bahwa ia telah kehilangan mahkotanya dalam semalam, ditangan kakak Seiyna yang playboy itu.


Tidak hanya itu saja, Riri bahkan tidak bisa membongkar kebusukan Rendi yang telah berhasil mengerjainya lewat segelas orange juice yang diteguknya tandas.


Riri yakin Rendi adalah dalang semua kemalangan yang telah ia alami, dan dirinya menjadi korban kebrengsekan pria itu. Tidak hanya dirinya.. melainkan Sean juga..!


Untuk itulah meskipun Riri juga merasa benci dan sakit hati kepada sahabat Kak Rei yang saat ini sedang berselisih paham itu, Riri malah berfikir, jika semalam ia tidak bertemu Sean, mungkin pagi ini dirinya akan terbangun dengan pria yang entah siapa.


Membayangkan hal itu membuat Riri bergidik ngeri. Air mata Riri mengalir sambil menatap Seiyna. Riri tidak tau apakah air matanya itu diakibatkan oleh kesedihan Seiyna semata atau sebaliknya.. ia sedang menangisi nasibnya sendiri yang begitu malang.


Riri hanya mampu menyimpan semua kenangan buruk itu sendirian, ia bahkan tak sanggup membaginya dengan Seiyna, bahwa semalam dirinya telah dinodai Sean, yang tak sanggup bertahan dengan semua godaan yang ia lakukan diluar kendali kesadaran dirinya.


"Riri.. apa benar kamu tidak apa-apa..? aku telah mencarimu kesana kemari tapi aku sama sekali tidak bisa menemukanmu.." Seiyna terlihat bangkit dari tidurnya, ikut mendudukkan dirinya keatas ranjang, membuat posisi mereka berdua kini duduk berhadap-hadapan.

__ADS_1


Riri menggeleng. "Kan sudah kubilang, aku tertidur dikursi dekat toilet, dan Kak Sean menemukan aku disana.." ujar Riri lagi-lagi berbohong.


Seiyna menatap Riri lekat. Sebenarnya Seiyna sedikit menaruh curiga dengan sikap Riri yang terlihat seperti menyimpan sebuah kejanggalan, tapi Seiyna tidak tau apa yang sebenarnya sedang disembunyikan oleh Riri dari dirinya.


"Satu hal yang sedikit melegakanku adalah karena Kak Sean sama sekali tidak murka dengan perbuatanku. Padahal aku sudah ketakutan setengah mati saat Kak Sean membawamu masuk kemobil Bang Bima."


"Mungkin karena Bang Bima berhasil membujuk kakakmu agar tidak memarahimu.." pungkas Riri seadanya, seraya membuang pandangan begitu mendengar nama Sean disebut. Entah kenapa Riri merasa hatinya bergelenyar aneh.


Riri memejamkan matanya sejenak ketika tiba-tiba kejadian beberapa jam yang lalu seolah melintas dibenak Riri.


Semua yang telah dilakukan Sean seolah terekam dengan jelas.


Cara Sean membelainya.. menciumnya.. bergerak dengan irama yang tak senada.. melenguh.. menghentak..


"Ri..!"


"Eghh.. i-iyya.. appa..?"


"Egh, t-tidak.. aku.. aku.. aku hanya sedang memikirkan Kak Rei. Kak Rei dan Kak Nisa akan ke bandara pagi ini dan aku harus pulang sebelum mereka pergi.." Riri memberi alasan yang tiba-tiba saja meluncur begitu saja dari bibirnya.


"Kak Rei dan Kak Nisa jadi pergi..?"


"Iya, Seiy.."


"Kalau begitu aku akan menyuruh Mang Jamil untuk mengantarmu pulang begitu hari mulai terang.."


Bertepatan dengan itu suara Adzan Shubuh terdengar berkumandang, menandakan pagi benar-benar siap kembali.. mengusir pergi sebuah malam yang begitu buruk.


"Aku tidak mau tidur lagi.. aku takut kesiangan.." pungkas Riri.

__ADS_1


"Kalau begitu kita turun kebawah aja yuk.. kita nge-teh sambil menunggu hari sedikit terang.."


Riri pun mengangguk setuju. "Yukk.."


Dengan antusias Riri nyaris melompat kebawah ranjang, mengikuti jejak langkah Seiyna yang terayun ringan seolah ingin mengenyahkan perasaan buruk akibat penyesalan yang tak kunjung lekang, manakala..


"Aduhh.."


Seiyna refleks menoleh begitu mendengar rintihan Riri yang lepas dari bibirnya begitu saja.


"Ri, kamu kenapa?" tanya Seiyna dengan ekspresi wajah prihatin saat mendapati wajah Riri yang sedikit meringis.


"T-tidak.. tidak apa-apa.." Riri menggeleng dengan wajah pucat, ia tidak menyangka mendapati wajah Seiyna yang tersenyum untuk pertama kalinya dipagi ini seolah membuat Riri lupa jika rasa tidak nyaman yang terus mengganjal di area kewa nitaan nya mendadak terasa perih akibat pergerakannya yang terburu-buru.


"Apanya yang sakit, Ri..?" Seiyna menatap Riri curiga.


"Tidak.. tidak ada.. hanya sedikit tidak nyaman karena bergerak terburu-buru."


"Tidak nyaman..?" ulang Seiyna.


"Sudah jangan dibahas lagi. aku tidak apa-apa." seraya menyunggingkan seulas senyum. "Ayo buruan.. katanya mau nge-teh..?" Riri berinisiatif melewati Seiyna dengan melangkahkan kakinya lebih dahulu.


Meihat itu mau tak mau Seiyna mengikuti tubuh Riri yang telah berlalu dihadapannya.


Seiyna berada tepat dibelakang tubuh Riri yang berjalan mendahuluinya, manakala alis Seiyna sedikit beradu saat menyadari seolah ada yang berubah dari setiap pergerakan langkah Riri. Tidak seperti biasanya. Ada yang aneh.. tapi entah apa..


.


.

__ADS_1


.


Sebelum NEXT like and support dulu yuk.. 🥰


__ADS_2