PASUTRI

PASUTRI
Sudah seharusnya bahagia


__ADS_3

"Apa ini..?" tanya Rei kearah Nisa begitu menerima sebuah kresek dari salah seorang pegawai hotel yang mengantar pesanan Nisa kekamar mereka.


"Cadangan pembalut." jawab Nisa sambil lalu. "Persiapan yang aku bawa tinggal satu, jadi aku minta tolong dibelikan pegawai hotel.."


"Oohh.. egh, sebentar." Rei mendadak tersadar. "Kamu lagi datang bulan, Nis..?" tanya Rei dengan ekspresi wajah yang terlihat was-was.


"Hhmm.."


"Haihh.. Nisa, kenapa harus datang sekarang sih..?" protes Rei dengan wajah kesal, yang tentu saja disambut Nisa dengan terhenyak.


"Apa-apaan sih, Rei, memang ini sudah sesuai jadwalnya kan.."


"Kalau begini ceritanya bisa-bisa apa yang dikatakan Daddy bakal kejadian beneran.." sungut Rei membuat alis Nisa bertaut tak mengerti.


"Maksudnya..?"


"Iyalah, kalau begini bisa-bisa aku keduluan Seiyna. Bocah manja itu.."


Mendengar keluhan itu Nisa tidak mampu lagi menahan gelak tawanya. "Rei, pikiranmu itu ada-ada saja.."


"Huhh.." Rei menghempaskan tubuhnya yang kecewa keatas ranjang. Wajahnya cemberut sambil mengawasi langit-langit kamar president suite hotel Mercy yang mereka tempati malam ini.


"Kamar sebagus ini, sayang banget cuma dipakai tidur.." kilahnya lagi sepertinya belum move on juga dari kekecewannya karena tidak bisa menyentuh Nisa.


Mendengar itu Nisa tertawa lagi, kemudian ia menghempaskan tubuhnya perlahan disamping Rei, langsung memeluk erat pria itu.


"Anda belum beruntung.." bisik Nisa, sambil tertawa kecil, terlebih saat melihat wajah Rei yang semakin terlipat tujuh.


Sementara itu..


Disebuah kamar president suite yang lain, yang bersebelahan tepat disamping kamar Rei dan Nisa..


Bima baru saja menutup telponnya, usai menjalankan tugas dan kewajibannya manakala ia mendapati wajah Seiyna yang menatapnya sambil senyam-senyum memeluk bantal.


"Ada apa?" tanya Bima melihat senyum aneh diwajah gadis itu.


"Abang, aku juga mau seperti Riri.." berucap polos dengan tanpa rasa risih sedikitpun.


"Apa..?"


"Aku mau dedek bayi.."


Bima tersenyum mendengar rengekan itu. "Kamu kan masih kuliah, Seiy, tidak perlu buru-buru.."


Seiyna terlihat manyun mendapati kalimat Bima, namun begitu Bima baru saja merebahkan tubuhnya gadis itu sudah buru-buru merapatkan tubuhnya disana.


"Abang.."

__ADS_1


"Hmmm.."


"Kenapa Abang tidak mau dedek bayi..?"


"Siapa yang tidak mau, Seiy.."


"Tadi Abang bilang jangan buru-buru.."


"Karena kamu masih kuliah,"


"Riri juga masih kuliah.."


Bima tersenyum lagi mendengar bantahan yang ngotot itu, sebelah tangannya mengusap punggung Seiyna dengan lembut.


"Jadi intinya Abang emang gak mau punya dedek bayi.."


"Bukan seperti itu Seiyna.."


"Jadi Abang mau..??"


Tubuh Seiyna langsung bangkit. Entah kenapa mendapati sepasang mata Seiyna yang berbinar-binar sambil menatapnya Bima malah salah tingkah sendiri.


"I-iya.. pasti mau, tapi.."


"Tidak. Tidak usah pake tapi.."


"Tapi Seiyna. "


Bima menelan ludahnya begitu mendapati keceriaan Seiyna. Kepalanya akhirnya menganguk perlahan.


"Iya.."


"Kalau laki-laki dia harus mirip Bang Bima. Biar ganteng.."


Kali ini Bima tidak bisa lagi menahan perasaannya yang menghangat. Bima ikut tertawa kecil begitu mendengar Seiyna tertawa seraya membayangkan semua imajinasi indah tentang mereka dimasa depan.


"Bang Bima, kalau kembar juga bagus, trus kalau yang satu perempuan yang satu laki-laki kayaknya seru yah, Bang.. bisa punya dua sekaligus.. hihi.."


Lagi-lagi Seiyna terkikik geli. Gayanya yang kenes membuat Bima menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar imajinasi Seiyna yang semakin terdengar luar biasa.


Detik berikutnya Bima masih betah tersenyum menyaksikan Seiyna yang semakin bersemangat dengan terus menjabarkan gambaran-gambaran indah yang ada diotaknya.


"Abang, bagaimana kalau kita honeymoon..?" tiba-tiba Seiyna telah melontarkan idenya, sambil bersandar manja didada Bima.


"Kemarin waktu ditawari Daddy kamu menolak, karena katanya kuliah lagi padat.." kilah Bima mengingatkan Seiyna akan penolakannya mentah-mentah, saat Daddy Tian mengusulkan rencana honeymoon diawal mereka menikah.


"Itukan dulu. Kalau sekarang.."

__ADS_1


"Kalau sekarang gak bisa. Kerjaan aku lagi banyak." imbuh Bima setengah menggoda, membuat Seiyna melotot kearahnya.


"Ih, Abang.. ngeselin banget sih jadi suami..!" dumel Seiyna sambil berusaha bangkit kembali dengan bibir yang naik dua centi, membuat Bima bergerak cepat menarik kembali tubuh yang berniat hendak menjauh itu.


"Untuk saat ini honeymoon-nya sekarang saja, tidak perlu jauh-jauh.." bisik Bima sambil melabuhkan bibirnya keatas bibir Seiyna yang merekah indah, yang langsung menyambut sentuhan Bima dengan sejuta rasa cinta yang bergetar indah, hingga kesanubari yang terdalam.


...


Malam pun semakin larut.. namun tak mengurangi keindahannya.


Rei dan Nisa..


Bima dan Seiyna..


Sean dan Riri..


Mereka.. sudah seharusnya bahagia..


Karena mereka adalah PASUTRI muda yang sedang berusaha memupuk kadar cinta mereka, meskipun hari esok tetap akan tetap tiba, dengan segala tantangan dan ujian yang beragam didalamnya.


Mereka telah bertekad untuk mengawali semua cerita dengan cinta, dan mengakhirinya dengan cinta.


Cukup meyakini satu hal, percaya pada kekuatan cinta.. dan semuanya akan terasa mudah..


❤️❤️❤️


.


.


.


T.A.M.A.T


Untuk semua reader PASUTRI kesayanganku, aku sungguh bangga memiliki kalian. Maaf jika sering mengecewakan dengan up yang lambat, tapi aku tetap berharap, kita bisa terus bersama di karya-karya lainnya.


Jangan Unfavoritekan PASUTRI yah.. karena dukungan kalian sangat penting untuk performa novel ini.


Mari doakan agar setelah tamat PASUTRI bisa dapat posisi terbaik, doakan juga kelak agar aq bisa kembali membuat maha karya yang lebih baik. 😇


Thx and Lophyuuu all.. my reader terbaik sepanjang masa.. 🤗


Banyak cinta dari :


Rei ❤️ Nisa


Bima ❤️ Seiyna

__ADS_1


Sean ❤️ Riri



__ADS_2