PASUTRI

PASUTRI
Salah siapa


__ADS_3

"Telepon dari siapa, Rei..?"


Nisa bertanya sambil melongokkan kepalanya dari balik lemari begitu melihat Rei kembali dari balkon hotel yang selalu saja menjadi tempat favorite pria itu.


"Mommy.." ujar Rei singkat sambil duduk ditepi ranjang, masih dengan ponsel ditangan ia memperhatikan Nisa yang sedang mengemasi beberapa pakaian yang baru saja diantar pihak laundry hotel, langsung memasukkannya kembali kedalam koper tanpa membukanya dari kemasan plastik bening terlebih dahulu.


Rencananya hari ini mereka akan bertolak kekota Y, usai menghabiskan waktu tiga hari di Hotel Mercy S yang berada di kota S.


"Pasti membahas tentang pemberitaan tadi siang.."


"Hhmm.."


"Lalu bagaimana..? apa Seiyna tetap akan menikah dua hari kemudian dengan Bang Bima?"


Rei mengangguk. "Pastilah. keputusan Daddy Tian, mana mungkin bisa berubah..?" kemudian setelahnya Rei tercenung sejenak. "Entah kenapa memikirkan kejadian yang menimpa Seiyna ini, aku jadi merasa ada yang janggal.."


"Bukankah Mommy sudah mengatakan bahwa Riri tidak terlibat dalam kenekadan Seiyna malam itu.."


"Iya, tapi tetap saja aku merasa aneh.."


"Apanya yang aneh..?" tanya Nisa dengan dua alis berkerut.


"Karena terlalu banyak hal kebetulan yang terjadi disaat yang bersamaan. Seperti sebuah ketidaksengajaan yang berakhir diluar rencana.." Rei terdiam sejenak, seolah merenungi alur kejadian dimalam itu.


Rei bersyukur saat mendengar bahwa Riri tidak terlibat dalam kejadian Seiyna yang nekad pergi ke The Reds, padahal posisi Riri sedang menginap dengan Seiyna, yang meninggalkan Riri dikamarnya semalaman karena Riri menolak pergi, sementara Seiyna tetap nekad menuju The Reds karena terperdaya mulut manis lelaki.


Tapi kenapa semuanya terasa semakin aneh dan tidak sinkron diotak Rei?


Terlebih saat Rei menyadari, dimalam yang sama, Sean dengan sedikit memaksa telah membuatnya menyerah sehingga setuju menemui Sean malam itu di The Reds, tapi entah kenapa sesampainya disana Sean malah bermesraan dengan Liliyana?


Seharusnya Sean menghapus semua kesalahpahaman dirinya tentang persoalan LIliyana. Tapi kenapa dirinya malah memergoki Sean berada didalam salah satu kamar cottage milik The Reds?


Entahlah..


Rei sendiri pusing bagaimana caranya menghubungkan benang kusut disetiap kejadian pada malam itu, karena sejak malam itu juga sampai detik ini, Rei telah menaruh kontak Sean dan Liliyana kedalam daftar hitam didalam ponselnya, sambil tak lupa memprotect nomor asing, guna mencegah Sean maupun Liliyana yang akan mencoba menghubunginya lewat nomor yang lain.


Semua kejadian yang menyangkut Sean dan Liliyana dimalam itu, benar-benar telah melukai keseluruhan hati Rei, mencederai rasa kepercayaan dalam menilai cinta, kesetiaan, persahabatan, dan semua embel-embel te tek bengek sejenisnya.


"Masih memikirkan kejadian malam itu..?"


Nisa menghempaskan tubuhnya tepat disisi Rei yang terdiam.


"Masih saja mengingatnya..?" bertanya lagi meskipun pertanyaan pertama belum juga mendapat respon berarti.


"Kejadiannya baru tiga hari yang lalu, bagaimana bisa langsung lupa?" seloroh Rei sambil merebahkan setengah tubuhnya diatas ranjang, namun kedua kakinya masih menjuntai dilantai.


Melihat Rei yang malah rebahan membuat Nisa menarik ujung kaos Rei dengan gemas. "Kok malah tidur sih, bukannya kita harus check out..?"


"Hhmm.."

__ADS_1


"Rei, kebiasaan jelekmu diubah dong.."


"Kebiasaan jelek apa..?" ujar Rei dengan alis bertaut, nada suaranya menandakan ia tidak terima dengan penilaian Nisa.


"Kamu suka sekali menunda segala sesuatu lalu menggampangkannya.."


"Dan kamu terlalu tegang menghadapi sesuatu, dan sangat suka mengomel.."


"Apa katamu? aku terlalu tegang dan suka mengomel..?!" ulang Nisa sambil melotot, tidak menyangka bisa mendengar penilaian Rei yang seperti itu kepada dirinya.


"Hmm.." balas Rei cuek tidak kunjung bangkit dari rebahannya meskipun saat ini bukan hanya bajunya saja, sekarang Nisa malah sudah menarik pergelangan tangannya sekuat tenaga, mencoba membangunkan tubuh kekar Rei dari atas ranjang, mengikis kesabaran Rei sehingga balas menarik tangan Nisa dengan sekali hentak, hingga tubuh gadis itu telah terlempar keatas tubuhnya. Menindihnya dengan sempurna


"Rei.. kamu.."


Bukk..!


"Aaaa..!"


"Sssttt.."


Wajah Nisa bersemu merah, menyadari dadanya yang menempel ketat dengan dada Rei yang ada dibawahnya.


Nisa berkelit, ingin bangkit secepat kilat, tapi pinggangnya telah tertahan tangan besar Rei yang menekan kuat disana.


"Rei..!!"


"Hhmm.."


"Lepas..!"


"Iya.."


"Aku bilang lepas..!"


"Iyaaaa.."


Dua kali mengatakan 'iya' tapi kenyataannya Nisa malah merasakan pinggulnya semakin tertekan pada sesuatu yang mengganjal aneh dibawah sana, yang membuat dadanya berdebar seperti sebuah tambur yang sedang dipukul orang gila.


Tidak tahan menahan gejolak perasaan karena posisi tubuh yang terlalu intim membuat Nisa nekad mencubit perut Rei dengan keras.


"Aduhh.."


Rei terdengar mengaduh, dan cengkeraman yang menahan pinggang Nisa pun refleks mengendur.


Nisa mempergunakan kesempatan itu dengan menggulingkan tubuhnya kesamping. Tapi manakala Nisa berusaha bangkit, yang ada pergelangan tangannya telah dicekal kuat.


"Tidak semudah itu melarikan diri." ujar Rei dengan wajah yang masih meringis karena sisa rasa perih dikulit perutnya.


"Siapa juga yang mau melarikan diri. Aku mau berbenah.."

__ADS_1


"Berbenah apa lagi? bukankah barusan katamu semuanya sudah siap..? tinggal check out saja..?"


"Iya tapi.."


"Sstt.." tiba-tiba saja tubuh Rei telah merapat begitu dekat dan langsung memeluk tanpa aba-aba, membuat Nisa menggeliat berusaha melepaskan diri dari pelukan Rei yang malah tertawa namun tak kunjung mengalah.


Tiga hari selalu bersama membuat Rei semakin nyaman dengan keberadaan Nisa. Ibarat seorang teman yang mengasikkan yang bisa diajak bercerita, berdiskusi, sekaligus sangat menyenangkan untuk digoda.


Nisa adalah tipe gadis sederhana cenderung konservatif. Tapi disisi lain ia punya sisi menarik yang bisa memancing rasa ingin tau Rei karena cara Nisa merespon segala sesuatu terlihat sangat unik.


Contohnya tadi.. saat mereka begitu intim.. bisa-bisa nya Nisa menghadiahi cubitan diperut yang terasa cukup sakit. Menolak dengan tegas, padahal debar jantung gadis itu bisa dirasakan Rei dengan jelas didadanya.


"Bisa tidak jangan terlalu sering membantah..?" pungkas Rei seraya menatap sepasang manik mata yang berjarak begitu dekat.


"Kamu sendiri? bisa tidak berhenti berbuat usil seperti ini?" balas Nisa malah ngotot membiarkan kedua mata mereka bertaut rapat.


"Aku tidak sedang berbuat usil."


"Dan aku tidak sedang bercanda!"


"Lalu kenapa pipimu merona..?" bisik Rei perlahan, sambil menahan senyum.


"Apa sih..!" Nisa meledak begitu saja, menyadari lagi-lagi Rei berhasil mendapatkan pemandangan memalukan dari ekspresi wajahnya yang tidak pintar berbohong.


Mendengar itu tawa Rei ikut pecah berderai. "Aku sudah memperingatkanmu sejak awal. Kalau kamu jatuh cinta kepadaku.. itu bukan salahku.." ujarnya acuh.


Selorohan Rei itu sengaja menggoda Nisa, yang malah tercenung lama mendapati kalimat Rei itu.


"Cih.. malah melamun.." cibir Rei lagi.


"Rei.."


"Apa..?"


Nisa menyentuh pipi Rei sekilas, membuat hati Rei sedikit tersentil dengan perlakuan sambil lalu tersebut. "Lalu bagaimana kalau justru kamu yang jatuh cinta padaku..? apakah itu juga salahku..?" bisik Nisa lirih.


"A-pa..?!" Rei terhenyak. Namun detik berikutnya pria itu malah mengulum senyum, menggelengkan kepalanya berkali-kali sambil berucap pesimis.


"Tidak mungkin.. tidak lagi.."


.


.


.


Bersambung..


Like, Coment, Favorite, Rate, tip, semuanyaaaa.. 😅

__ADS_1


Loophyuuu all.. 😘


__ADS_2