PASUTRI

PASUTRI
Sok acuh


__ADS_3

"Ri, kamu sakit apa sih?" Seiyna menatap Riri yang duduk tenang diatas tempat tidur.


Ditangan Riri ada sebuah novel berjudul 'Ceo Tampan dan Istri Rahasia', yang merupakan novel kesayangan Riri yang tak pernah bosan dibacanya.


(Eeeyaa.. 😅 maapkan kehaluan author, yang berkhayal novel pertama bakal dicetak sama NovelToon kayak novel pemes lainnya..🤭.


Yukk "Amin" kan bersama.. 🤗)


"Aku cuma masuk angin biasa, Seiy.." jawab Riri dengan wajah yang terlihat lesu seperti orang yang kehilangan gairah hidup.


"Masuk angin biasa kok sampai bolos kuliah berhari-hari..?"


"Yah.. namanya juga lagi gak enak badan.." kilah Riri lagi, meskipun demikian Riri masih mencoba tersenyum.


"Ri, mommy Meta sama Daddy Rico tau tidak sih kalau kamu sedang sakit..?"


Riri menggeleng lemah. "Jangan sampai taulah. Aku juga sudah wanti-wanti bik Atun agar tidak keceplosan saat bicara demgan Mommy. Kasian Seiy.. nanti Mommy langsung panik pengen cepat balik kesini lagi padahal kan urusannya Daddy belum selesai.."


Dalam hati Seiyna membenarkan juga apa yang dikhawatirkan Riri karena sudah pasti Mommy Meta akan langsung panik kalau mengetahui Riri sakit.


"By the way.. kamu sudah ke dokter belum?"


Riri yang terdiam membuat alis Seiyna bertaut serentak.


"Kamu belum ke dokter, Ri?"


"Ss.. sudah kok, Seiy.. sudah.."


Alis Seiyna semakin bertaut melihat kepanikan Riri.


"Jangan bohong.."


"Sudah, Seiy, serius.. kemarin dokter Erlan sudah kesini kok.. trus aku dikasih obat sama vitamin. Tuh.." kilah Riri sambil menunjuk keatas nakas dimana sebuah kemasan mirip kemasan obat memang berada disana. Wajah Riri juga terlihat bersungguh-sungguh demi bisa meyakinkan Seiyna yang masih menatapnya curiga.


"Ya sudah.. kalau begitu obatnya jangan lupa diminum. Vitaminnya juga.." ujar Seiyna kali ini dengan intonasi suara yang menunjukkan perhatiannya.


"Iya Seiy, jangan khawatir, aku minum obatnya teratur kok.." ujar Riri buru-buru seolah ingin agar Seiyna kembali bersikap seperti biasa dan tidak lagi menaruh curiga.


"Cepat sembuh dong, Ri, aku sepi nih kalau kamu gak ada. Kamu kan tau sendiri di kampus aku juga gak boleh terlalu dekat sama semua orang kecuali sama kamu.." wajah Seiyna terlihat kuyu.


"Aku juga pengen banget kekampus, Seiy.. kangen sama es degannya.."


"Dihh.. kirain kangen sama aku..!"


Riri tergelak kecil melihat wajah Seiyna yang ngedumel lucu. Seiyna memang selalu terlihat manja seperti itu tapi meskipun demikian, Riri tau persis bahwa gadis itu memiliki hati yang super baik dan sangat perhatian.


"Oh iya, Ri.. tau gak, semalam Mommy aku berdebat hebat sama Kak Sean." pungkas Seiyna tiba-tiba.


Mendengar itu tawa Riri langsung menghilang dalam sekejap, berganti dengan ekspresi yang sulit diartikan Seiyna.


"Memangnya.. kenapa, Seiy..?" tanya Riri hati-hati tidak ingin Seiyna curiga mendapati dirinya yang selalu saja berdebar setiap kali mendengar semua hal yang menyangkut Sean.


"Kan selama ini Kak Sean selalu mangkir terus kalau ditanyain kesediaannya menikah. Jawabnya selalu nanti.. nanti.. tapi kamu tau sendiri kan, Mommy aku orangnya pantang menyerah sekaligus pemaksa ulung. Kata Mommy semalam, Mommy gak akan memaksa lagi kalau dalam tiga hari Kak Sean bisa membawa gadis pilihannya sendiri. Kalau Kak Sean tidak kunjung membawa gadis yang ia cintai.. maka Kak Sean harus tunduk pada kemauan Mommy untuk segera melamar Kak Elsa.."


Mendengar penjelasan panjang lebar Seiyna, secara tak sadar sanggup membuat Riri terpana untuk beberapa saat lamanya.


"Ya ampun. Riri.. biasa aja kali, kagetnya kok segitu amat..?"

__ADS_1


"Oh.. egh.. mmh.. gak Seiy, aku.. aku memang kaget mendengar kegigihan Mommy Arini, sama persis dengan Mommyku waktu memaksa Kak Rei menikah dengan Kak Nisa tempo hari.." Riri salah tingkah sendiri. Ulu hatinya mendadak nyeri, perutnya pun ikut-ikutan ngilu campur mual.


Riri mati-matian menyimpan semua itu dalam hati, hanya dengan membayangkan bahwa saat ini dirinya benar-benar tidak lagi memiliki harapan.


"Hmm. Iya, Ri, aku sih yakin Mommy punya seribu satu cara untuk menaklukkan hati Kak Sean."


Riri hanya membisu, berpura-pura sibuk membenahi selimutnya yang teronggok dibawah kakinya.


Detik berikutnya Seiyna terlihat menarik nafasnya perlahan, sambil melirik jam tangannya Seiyna terlihat mengeluarkan ponsel dari dalam tas.


"Ya sudah kalau begitu aku pulang dulu yah, Ri. Masih pengen disini tapi kamu kan tau aku berada dalam masa percobaan dari Daddy, jadi aku mesti on time sampai dirumah.." berucap sambil mencari nama Tomi didaftar kontaknya, dan begitu menemukan Seiyna langsung melakukan panggilan untuk nomor tersebut.


"Iya Seiy, hati-hati dijalan yah. Kamu sama Bang Bima kan?" tanya Riri berbasa-basi, namun bibir Seiyna malah naik dua centi karenanya.


"Tidak Ri. Aku dianterin Tomi, salah satu anak buah Bang Bima." wajahnya terlihat mangkel saat berucap.


Riri ingin menanggapinya namun panggilan Seiyna untuk Tomi keburu direspon dari seberang sana.


"Iya, Nona Seiyna..? ada apa..?"


"Tomi, bawa mobilnya kedepan teras yah. Aku mau turun sekarang." titah Seiyna mampu membuat Tomi yang ada diujung pembicaraan sedikit terhenyak.


"Tapi Nona Seiyna, sekarang aku sedang dalam perjalanan kerumah Nona. Hampir sampai malah.."


Mendengar jawaban aneh dari Tomi, tak ayal Seiyna langsung terhenyak bingung.


"Loh.. kok pulang duluan sih, Tom? trus aku pulangnya nanti bagaimana..?"


"Maaf Nona, tadi aku disuruh Bang Bima pulang duluan.."


"Bang Bima..?" ulang Seiyna sedikit tercekat.


Mendengar penjelasan Tomi membuat Seiyna sejenak termanggu. Perasaan bahagia langsung menyergapnya begitu rupa.


Seiyna tidak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang terkejut sekaligus gembira, hanya karena mendengar penjelasan Tomi bahwa Bang Bima berada diteras rumah Riri, sedang menunggunya.


'Semoga saja Tomi tidak berbohong. Awas saja kalau bohong..!'


Seiyna kembali menyimpan ponselnya kedalam tas sambil bergumam dalam hati, masih harap-harap cemas.


"Ciiee.. segitu senangnya yah Non dijemput sama suami sendiri..?" ujar Riri yang sejak tadi terus memperhatikan setiap perubahan ekspresi wajah Seiyna yang berubah-ubah, sehingga tak ada setitik pun ekspresi dari wajah sahabatnya itu yang luput dari pantauan Riri.


"Ish, apaan sih, Ri.." semburat merah menggantung jelas dikedua pipi Seiyna yang putih, saat harus menepis tanggapan Riri yang terucap dengan bibir yang dihiasi senyum menggoda.


XXXXX


Seiyna berjalan kearah teras depan.


Dari balik jendela yang tirainya tersibak, Seiyna sudah bisa menangkap punggung seseorang yang sangat dikenalnya sedang duduk disalah satu sofa sambil memainkan ponsel ditangan.


Bima terkejut mendapati sosok Seiyna yang tiba-tiba berdiri dihadapannya dengan wajah yang datar.


"Sudah..?" tanya Bima yang refleks berdiri saat menyadari kehadiran Seiyna.


"Apanya yang sudah..?" ucap Seiyna seolah angin lalu.


Entah kenapa saat ini Seiyna malah ingin menampakkan sikap dingin, hanya demi mengelabui perasaan senangnya bisa melihat Bima.

__ADS_1


"Ayo buruan ah.." berucap lagi sambil berjalan melewati tubuh Bima dengan gaya sok acuh.


Bima yang menatapnya hanya menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal itu sejenak, sebelum akhirnya membuntuti langkah Seiyna menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari teras.


...


Suasana jalanan sore terlihat tidak terlalu ramai saat mobil Bima meluncur dengan tenang membelah jalanan.


"Kenapa tiba-tiba datang? mana Tomi..?” berpura-pura bertanya guna memecah keheningan yang merajai sekian lama.


"Aku menyuruhnya pulang duluan."


"Kenapa..?"


"Kata Tomi tanganmu terluka.."


"Cuma lecet sedikit." pungkas Seiyna menutupi kenyataan yang sebenarnya, tidak ingin memperpanjang urusan dengan Rendi.


"Sakit tidak..?"


Seiyna ingin menggeleng, namun tiba-tiba otaknya memikirkan hal yang lain, sehingga yang terucap malah sebaliknya..


"Perih.." ujarnya lengkap dengan nada suara serta raut wajah yang terkesan memelas.


Tak ada sahutan.


Diam-diam Seiyna melirik kesamping, kewajah Bima yang datar tanpa ekspresi berarti, terus menatap jalanan sore dengan tatapan yang lurus kedepan tanpa sedikitpun menoleh.


'Huhh.. sudah berpura-pura kesakitan malah tidak diperhatikan. Lalu untuk apa tadi bertanya sakit atau tidak..?!'


Seiyna ngedumel lagi dalam hati.


Sesaat diantara mereka kembali diisi keheningan, sebelum akhirnya Bima terlihat menyalakan lampu sein kekiri, dan membelokkan mobilnya kearah toko obat dengan logo biru tua yang buka dua puluh empat jam.


Bima menarik tuas rem tangan, tanpa mematikan mesin mobilnya.


"Sebentar yah.." pria itu langsung beranjak turun dari mobil tanpa menunggu jawaban Seiyna terlebih dahulu.


Huhh..!


Seiyna menatap punggung Bima yang menjauh. Meskipun kesal namun hatinya tetap berdesir lembut.


"Astaga.. kenapa akhir-akhir ini aku malah jadi suka memperhatikan Bang Bima sih..? memangnya apanya yang membuat aku penasaran? bahkan sejak dulu aku sudah begitu sering melihatnya, sering dianter kemana-mana, tapi kenapa baru sekarang merasa deg-degan berada dekat dengan Bang Bima..!"


Seiyna mendesis kesal, bahkan dirinya sendiri merasa tidak nyaman dengan perasaan yang entah sejak kapan menghuni bilik hatinya. Terasa sangat mengganggu..!


"Jangan sampai aku menyukai Bang Bima..!"


Seiyna memperingatkan kembali hatinya yang sepertinya sedang oleng, baper dengan status suami istri yang sedang mereka lakoni dihadapan semua orang.


.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


Maaf yah.. akhir-akhir ini job mulung lagi banyak.. 😅


Thx and Lopyuuu all.. 😀😘


__ADS_2