PASUTRI

PASUTRI
Duri


__ADS_3

"Ini kak.."


Riri menyerahkan sapu tangan yang sudah terlipat rapi itu kearah Sean, yang langsung menerimanya.


"Terima kasih kak, maaf, lama mengembalikannya.."


Sean menggeleng perlahan. "Tidak apa-apa. Aku punya banyak sapu tangan."


Kali ini Riri tidak lagi menanggapinya. Ia hanya berdiri salah tingkah dihadapan Sean dan hanya mengangkat wajahnya sesekali.


Sean terlihat bangkit dari duduknya, memposisikan diri yepat dihadapan Riri.


"Ri, sebenarnya.. ada yang mau aku bicarakan." ungkap Sean akhirnya, sambil menatap gadis yang terus terlihat salah tingkah dihadapannya itu.


"B-bicara apa, kak..?"


"Mari duduk dulu," Sean berjalan mendekat, meraih dua bahu Riri begitu saja dan menuntunnya kesofa panjang.


Meskipun menurut, tak urung jantung Riri langsung berdebar. Riri bisa merasakan bahunya langsung menghangat ketika Sean menyentuh keduanya sekaligus.


Begitu Riri terduduk disofa, Sean pun ikut duduk disebelahnya.


"Begini Riri.." Sean mulai angkat bicara, sambil menatap dalam Riri yang duduk menunduk di sampingnya. "Aku.. maksudku, kamu.. kamu mungkin sudah mendengar semua ini.."


"Mendengar apa kak.." lirih.


"Tentang Elsa."


Tenggorokan Riri tercekat begitu Sean menyebut nama wanita cantik yang tadi telah diantar Sean kerumahnya.


"Kamu pasti tau kan, bahwa orangtua kami hendak menjodohkan aku dan Elsa."


Riri tetap membisu. Hatinya terasa sakit, tapi ia bingung harus menanggapi Sean seperti apa. Riri bahkan belum mengerti apa maksud Sean mengungkapkan semua hal yang menyakitkan itu kepada dirinya.


"Riri.. aku minta maaf.." Sean kembali berucap lirih setelah terdiam untuk beberapa saat. "Aku sungguh menyesal telah melakukan kesalahan yang sangat besar kepadamu.."


Riri menggeleng lemah. "Aku yang salah, Kak.."


Sean terdiam lagi, meskipun dalam hati juga membenarkan ucapan Riri.


Sungguh, saat ini Sean bukan sedang ingin membela diri.


Tentang dirinya yang brengsek.. Sean akan mengakuinya. Tapi sebrengsek apapun dirinya, Sean berani bersumpah bahwa meniduri Riri sama sekali tidak pernah terlintas dalam benaknya..!


Sejujurnya, hingga detik ini Sean bahkan sulit mempercayai mengapa kejadian buruk dimalam itu bisa terjadi.


Selama ini Riri dimatanya sudah tak lebih dari Seiyna. Sean benar-benar menganggap gadis dihadapannya ini hanya sebatas adik, yang bahkan seumur hidupnya, Sean telah melihat Riri tumbuh besar didepan matanya.

__ADS_1


Tidak ada perasaan cinta apalagi hasrat ingin merusak masa depan Riri seperti kekhilafan yang telah ia lakukan, kalau saja dimalam itu Riri tidak memprovokasi akal sehatnya sehingga ia menjadi lupa diri dan lupa segala-galanya.


Lupa bahwa Riri adalah gadis yang selama ini sudah dianggapnya sebagai adik sendiri..


Lupa bahwa dimata Mommy dan Daddy, Riri seistimewa Seiyna..


Lupa bahwa Riri adalah putri kesayangan Mommy Meta, Ayah Rico, dan juga adik kesayangan Rei sahabatnya, yang seharusnya ia jaga bersama..


Karena dimalam itu Sean hanya melihat Riri pure sebagai wanita dewasa yang menawan.. yang dengan sangat mudah mengacaukan akal sehat serta pengendalian dirinya..!


"Apa yang harus aku lakukan, Ri. Apakah aku harus mengakui semua perbuatanku kepadamu..?"


Riri menggeleng cepat. Dalam sekejap ia telah menjadi sangat ketakutan dan panik. "Tidak kak.. tidak.. jangan.."


Riri hampir menangis, ia tidak sanggup membayangkannya. Semua kesalahannya, dan perbuatannya, pasti akan mengecewakan hati Mommy dan Daddy.. dan Riri tidak sanggup melukai hati mereka.


"Kalau aku tidak mengakuinya, maka aku dan Elsa.."


Mengambang.


Saat ini Sean benar-benar tidak tau apa yang harus ia lakukan. Desakan orangtua kedua belah pihak terus-menerus menuntut keputusannya, apalagi Elsa telah mengatakan kesediaan dirinya untuk menjalani perjodohan dengan dirinya.


Sean merasa sangat bingung, meskipun sebenarnya ia juga ingin menyetujuinya.


Elsa wanita yang sempurna, untuk bisa menjadi pendamping hidupnya dimasa depan. Cantik, terpelajar, dan yang terpenting adalah memiliki latar belakang keluarga yang juga baik, dan bisa mengimbangi derajat keluarga Djenar.


Satu-satunya wanita dari sekian banyak wanita yang bisa mengimbangi dirinya serta pola pikirnya, tidak seperti wanita-wanita sebelumnya yang hanya mengandalkan fisik semata.


Ibaratnya, Elsa merupakan paket komplit, sangat memenuhi segala aspek dan kriteria untuk bisa menjadi pendamping hidup seorang penerus utama dari keluarga Djenar.


"Kak Sean, apakah kakak menyukai kak Elsa..?"


"Aku menyukainya.."


Desh..


Seperti ada yang terhempas begitu saja dari dalam sanubari Riri, mendengar kalimat yang terucap spontan tersebut.


"Maksudku.. aku menyukai kepribadian Elsa. Dia baik, dewasa, dan terpelajar.." ralat Sean sambil menarik nafasnya sepenuh rongga. "Meskipun buatku pribadi, sebenarnya semua itu pun bukan hal yang begitu penting, tapi kamu pasti tau kan.. aku adalah pewaris utama Indotama Group, yang kelak akan memikul tanggung jawab yang besar itu dalam waktu dekat. Jadi aku tidak bisa seenaknya menentukan sesuatu hanya berdasarkan apa yang aku inginkan.. dan apa yang aku mau.."


Sean menatap dalam-dalam Riri yang terus membisu dihadapannya.


"Tapi disisi lain aku juga sadar, bahwa aku memiliki sebuah tanggung jawab, yang membuatku berhutang padamu. Riri, aku tau kamu masih belia.. masih ingin kuliah.. masih ingin menikmati masa muda.."


Sean menarik nafas sejenak, sementara Riri tetap membisu, memilih menyimak semua ungkapan hati pria yang diam-diam telah mencuri hatinya dengan sempurna.


"Kamu tau tidak, Ri? melihat hubungan Seiyna dan Bang Bima setiap hari telah menjadi beban tersendiri buatku. Aku jadi membandingkan Seiyna seperti dirimu, dan menjadi takut untuk memaksakan diri, menjalani sesuatu yang jangankan dua belah pihak, satu pihak saja yang enggan.. maka itu akan terus menjadi duri dalam kehidupan.."

__ADS_1


'Duri..?'


Riri kembali membathin nyeri. Kalimat terakhir Sean begitu menohok ulu hatinya.


Mungkin saat ini Sean sedang bicara tentang perumpamaan Seiyna menjadi dirinya. Riri pun tau bahwa sejauh ini Seiyna tidak bahagia dengan pernikahannya. Yang Sean tidak tau adalah jika Seiyna tidak bisa menerima keberadaan Bang Bima.. perasaan Riri malah sebaliknya. Riri sangat mendambakan Sean.. tapi apa gunanya jika pria itu tidak menginginkannya..?


Sean benar. Pewaris Indotama Group membutuhkan istri yang baik, dewasa, terpelajar, dan sederajat.


Elsa adalah figur sempurna, Sean bahkan telah mengakuinya sejak awal pembicaraan.. bahwa ia menyukai wanita itu.


Lalu untuk apa Riri berada disana.. jika hanya akan mengacaukan masa depan Sean..?


'Duri dalam kehidupan..?'


Tidak. Riri mencintai Sean dengan tulus dan sepenuh hati. Tapi Riri juga tidak mau kelak dirinya menjadi duri dalam kehidupan orang yang dia cintai.


"Kak Sean menyukai Kak Elsa..?" tanya Lirih lagi, seolah ingin memastikan kembali.


"Tidak ada pria yang tidak menyukai wanita seperti Elsa.."


"Kalau begitu jangan pikirkan aku lagi, kak.."


Sean terhenyak, terlebih saat menatap sepasang mata Riri yang juga sedang menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa ia artikan makna didalamnya.


"Ri.."


"Kak Sean benar, aku masih muda dan masa depanku masih panjang. Meskipun aku telah menorehkan kesalahan dimasa lalu, tapi aku tidak mau mengecewakan Mommy dan Daddy untuk kedua kalinya.."


"Riri.." Sean tercekat mendengar kalimat itu, yang diiringi dua buah bening yang bergulir dan jatuh.


"Mari lupakan, Kak. Karena aku juga tidak ingin mengingatnya. Aku mau melupakannya. Aku tidak mau mengingatnya.. aku mohon, kak, tolong jangan mengungkitnya lagi.."


"Riri.." Sean tak bisa menahan dirinya lagi. Ia merengkuh gadis yang sesegukan dihadapannya itu kedalam pelukannya. "Maafkan aku, Ri.. maafkan aku.."


Ungkapan permintaan Sean yang terucap berkali-kali tidak serta-merta membuat perasaan Riri membaik, malah sebaliknya, isaknya semakin tak terbendung.


Sementara Sean terus merengkuh bahu gadis itu kuat-kuat, membiarkan tangis Riri pecah disana.. membasahi kemejanya..


.


.


.


Bersambung..


Favoritekan dong.. jangan lupa Like, comment, dan vote juga yah..🤗

__ADS_1


Thx and Lophyuu all.. 😘


__ADS_2