
Dua puluh menit berada didalam kamar mandi tidak serta membuat nyali Seiyna cukup kuat untuk membuka pintu tersebut dan keluar dari sana.
"Bagaimana ini..? aku takut sekali.." desis Seiyna sambil menatap kaca cermin yang ada didepan wastafel.
'Tok.. tok.. tok..'
Seiyna nyaris terjengkang saking terkejutnya mendengar ketukan pintu kamar mandinya sendiri.
"Seiyna.. kamu tidak apa-apa kan..?" suara Bima terdengar dari balik pintu. Nada khawatir tersirat jelas dalam nada suaranya.
Wajar saja, mengingat setelah masuk kesana Seiyna tidak lagi keluar hingga dua puluh menit lamanya dan hal itu membuat Bima mau tak mau merasa khawatir.
"Aaa.. aku baik-baik saja, Abang.." sahut Seiyna gelagapan. Akhirnya dengan memberanikan diri melangkah kearah pintu, dan menyentuh gagangnya dengan maksud membuka.
Pintu terpentang.
Yang pertama kali tertangkap oleh sepasang mata Seiyna adalah seraut wajah khawatir milik Bima yang berada tepat dibingkai pintu.
"Kamu kenapa, Seiyna..? kamu tidak apa-apakan..?"
Seiyna menggeleng. Sedikit gugup.
"Apa kamu sedang tidak enak badan..?" tatapan mata Bima terus lekat pada gadis itu.
Seiyna kembali menggeleng lesu.
Bima terlihat membuang nafas berat sebelum akhirnya berucap..
"Baiklah, aku akan panggilkan dokter Danu.." Bima langsung berbalik sambil meraih ponselnya yang ada diatas nakas. Berusaha hendak menghubungi dokter Danu.
"Abang tidak perlu menghubungi dokter Danu. Aku kan tidak sakit.."
"Tapi wajahmu pucat.." tutur Bima tanpa menghentikan gerakan tangannya yang langsung menekan salah satu angka dipermukaan layar, karena nomor kontak dokter Danu memang berada disalah satu list nomor panggilan cepat yang ada di pengaturan ponselnya.
Dokter Danu adalah dokter pribadi keluarga Djenar. Sehari-harinya beliau bekerja di Rumah Sakit Indotama Medical Centre, sebagai salah satu dari sekian banyak jejeran dokter senior yang ada disana.
"Ihh, Abang, kan sudah aku bilang aku tidak sakit..!"
Seiyna nekad mengambil alih ponsel Bima yang telah menempel ditelinga pria itu, dan langsung membatalkan proses panggilan yang bahkan belum sempat terhubung ke nomor yang dituju, sebelum akhirnya mengembalikan ponsel itu kepada pemiliknya.
Bima menerima kembali ponselnya dari tangan gadis itu dengan kedua alis bertaut. "Seiyna.. kamu.."
__ADS_1
"Aku kan sudah bilang bahwa aku tidak sakit. Aku hanya merasa cemas. Wajahku pucat karena aku sedang ketakutan." pungkas Seiyna yang telah berusaha sepenuh jiwa dan raga agar bisa mengumpulkan seluruh keberaniannya sehingga bisa mengucapkan apa yang sejak awal telah ia rancang untuk ia katakan kepada Bima, malam ini juga.
"Ketakutan..?" alis Bima terlihat mengerinyit.
"I-iya.. ketakutan."
"Ketakutan..?" Bima bahkan sampai mengulang kata tersebut dua kali saking dirinya tidak yakin dengan pendengarannya sendiri.
'Apakah Seiyna merasa ketakutan akibat kehadiranku didalam kamarnya..?'
Bima membathin gundah.
Sejujurnya situasi seperti inilah yang selama dua hari ini telah mengganggu tidurnya, aktifitasnya, bahkan jalan nafasnya..!
Kenyataan bahwa sudah pasti semua ini sangat berat bagi Seiyna untuk bisa melaluinya.
"Bang Bima, aku mau bicara.." Seiyna berucap sambil menundukkan wajahnya.
Bima menelan ludah kelu. Meskipun Seiyna belum mengucapkan kalimat apapun tapi dari dirinya pribadi, sepertinya bahkan bisa menebak kemana arah dan tujuan dari pembicaraan yang ingin diutarakan Seiyna untuknya.
"Kita duduk disana saja.." ajak Bima lembut sambil menunjuk satu set sofa mini berwarna pink, seperti biasa memiliki motif karakter hello kitty yang menjadi kegemaran gadis itu.
Kini posisi tubuh mereka berhadap-hadapan langsung, sehingga Bima bahkan bisa menyaksikan dengan jelas bagaimana besar kegugupan Seiyna yang ada didepannya.
"Baiklah.."
Seiyna menarik nafasnya sepenuh rongga, berusaha menguasai dirinya sebaik mungkin agar terlihat tenang.
"Bang Bima, sebelumnya aku minta maaf jika apa yang akan aku utarakan ini akan menyinggung perasaan Abang nantinya. Tapi mau bagaimana lagi.. aku juga tidak mungkin hanya diam dan tidak mengatakan apa-apa, karena semua ini juga menyangkut kehidupan aku dan Bang Bima kedepannya."
Seiyna sengaja berdiam diri sejenak untuk memberi kesempatan, kalau-kalau Bima ingin menyela kalimat panjangnya barusan, namun ternyata Bima hanya diam, tetap pada posisi mula-mula, duduk tenang dihadapan Seiyna dengan ekspresi wajah yang belum menampakkan gelagat jika dirinya ingin menyela.
"Aku yakin Bang Bima pasti paham dengan maksudku, kan..? karena seperti yang Abang ketahui, sejak awal aku sudah mengatakannya dengan jelas bahwa aku belum siap menjalani sebuah pernikahan. Aku terpaksa menyetujuinya karena aku tidak ingin membuat Daddy kembali kecewa berlipat ganda, hanya karena menerima penolakanku yang merupakan buntut dari kesalahan besar yang sudah aku perbuat.."
Kali ini meskipun tetap diam, namun Seiyna bisa melihat jika Bima terlihat mengangguk perlahan beberapa kali, seolah ingin membuat Seiyna tenang saat mengetahui bahwa dirinya bisa memahami dan menerima apa yang sedang berusaha diutarakan Seiyna saat ini.
Entahlah..
"Maafkan aku, Abang, tapi bisakah Abang terus menganggapku sebagai Seiyna seperti yang dulu, dan tidak akan pernah berubah..? aku ingin Bang Bima terus menjagaku seperti yang diinginkan Daddy dan.. saat ini.. anggaplah kita hanya sedang berbagi kamar.."
Hening.
__ADS_1
Seiyna tertunduk saat menyadari Bima masih terlihat duduk diam ditempat duduknya, tanpa ekspresi berarti.
Seperti yang dikenal Seiyna selama bertahun-tahun, Bang Bima memang merupakan sosok yang cukup tenang dalam menghadapi situasi apapun namun cukup tanggap dengan segala perkara.
Tak heran jika Bang Bima bisa mengambil hati Daddy dengan mudah, yang kalau mau jujur sikap Bang Bima bahkan begitu mirip Daddy. Selalu bisa menghandle segala situasi pelik dengan wajah yang dingin. Wajar saja jika Daddy sangat menyukai Bang Bima.
"Baiklah, Seiyna. Terserah padamu. Karena sejak awal aku juga sudah bertekad akan mengikuti apapun yang kamu inginkan, yang pastinya semua itu tentu sudah kamu pikirkan dengan matang, apa yang menurutmu baik dan tepat untuk dirimu sendiri.."
Bima terlihat menarik nafasnya sejenak.
"Kalau mengenai bagaimana caranya aku harus menganggapmu, kamu tidak perlu mengkhawatirkannya. Bertanggung jawab atas dirimu, itu sudah menjadi tugas utamaku sejak awal, dan aku akan terus seperti itu.."
Mendengar semua ucapan yang terdengar bijak tersebut Seiyna merasa lega bukan main. Akhirnya ia berhasil mengutarakan semua unek-unek yang ada dihatinya yang pada awalnya terasa begitu sulit saat ia harus memulai.
"Aku tidak keberatan, tapi dengan satu syarat.."
"Syarat..?"
"Kita berdua harus mampu menjaga sikap kita diluar sana, agar tidak membuat masalah yang baru lagi.."
"Aku mengerti.." Seiyna mengangguk cepat, tak bisa dipungkiri, kini hatinya sungguh lega.
"Bagaimana.. masih ada lagi yang ingin kamu sampaikan..?" Bima menatap Seiyna dengan senyum yang teduh.
Seiyna menggeleng.
"Kalau begitu tidurlah.." titah Bima lagi.
"Tapi.."
"Jangan khawatir, aku akan tidur di sofa.."
.
.
.
Bersambung..
Support dong.. pliss.. Loophyuu all.. 😘
__ADS_1