PASUTRI

PASUTRI
Gundah


__ADS_3

Mampir yuk :


🔥TERJERAT CINTA PRIA DEWASA🔥



.


.


.


"Kenapa kamu menyendiri disini..?"


Seiyna berniat ingin mencicipi dessert, saat Bima pamit untuk ke toilet sebentar.


Tak disangka Seiyna malah melihat sosok Riri yang juga berada disana, sendirian sambil menikmati sebuah hidangan.


"Aku tidak menyendiri, tapi aku sedang menikmati ini.." jawab Riri sambil menunjuk isi piring kecil miliknya yang berisikan puding coklat lengkap dengan vla susunya.


Seiyna hanya meliriknya sejenak sambil kembali memfokuskan diri kearah meja yang telah dipenuhi aneka dessert, alias hidangan pencuci mulut.


"Seiy, itu siapa sih..?" Riri tidak bisa menghentikan rasa ingin tahunya begitu beberapa saat yang lalu melihat Sean muncul diiringi seorang gadis cantik yang kini telah nimbrung akrab dengan Daddy Tian, Mommy Arini, juga Sean.


Seiyna nampak mengangkat wajahnya sedikit guna mendapati siapa yang dimaksud Riri sebelum akhirnya kembali fokus kehidangan diatas meja.


"Sepertinya itu Elsa, anak tunggal Pak Agung Baskara, kolega dekat bisnis Daddy dalam beberapa tahun terakhir ini."


"Ohh.." Riri ber'ohh' ria. Entah kenapa hatinya seolah dijalari perasaan aneh melihat pemandangan akrab dua keluarga itu. Seperti ada rasa ngilu dan sakit yang diam-diam mengendap perlahan didalam sanubarinya yang membuat Riri merasa gundah.


"Akhir-akhir ini Mommyku selalu memaksa Kak Sean agar segera menikah, karena Mommy tidak suka dengan pergaulan Kak Sean yang selalu dikelilingi wanita. Apalagi pas kejadian dengan Kak Rei yang waktu Kak Sean kepergok sedang bersama Liliyana, Mommy jadi tambah illfeel. Tapi karena Kak Sean tidak kunjung serius dengan satu wanita, Mommy jadi suka menjodoh-jodohkan Kak Sean dengan beberapa kolega Daddy yang sering menawarkan maksud yang sama. Ya seperti Pak Agung Baskara itu.."


Seiyna telah menjelaskan panjang lebar tanpa diminta. Riri tercenung mendengarnya, jantungnya berdebar gelisah, sebelum akhirnya berucap lirih.


"Apa Kak Sean menerima begitu saja dijodohkan seperti itu?" tanyanya tanpa bisa mencegah rasa penasarannya yang membumbung.

__ADS_1


Seiyna terlihat mengedikkan bahunya acuh. "Entahlah.. mana berani aku menanyakan hal itu langsung kepadanya. Kamu ini seperti tidak mengenal kakakku saja.."


Seiyna terlihat mengunyah potongan kue yang baru saja diambilnya.


"Mommy pernah bilang bahwa Kak Sean itu benar-benar titisan Daddy waktu masih muda. Dingin, playboy, tidak ada seriusnya sama wanita. Jadi Mommy berkesimpulan bahwa Kak Sean pasti mau saja dinikahin, ya karena Kak Sean juga tidak pernah benar-benar menolak maunya Mommy. Makanya, Ri, feeling aku kayaknya Kak Sean bakal benar-benar nikah sama Elsa.."


"Benarkah..?"


"Iya. Seperti yang aku bilang tadi, kedekatan Pak Agung Baskara dengan Daddy selama beberapa tahun terakhir pasti jadi point penting juga.."


"Begitu ya..?" imbuh Riri malas-malasan.


Seiyna mengangguk sambil menatap Riri yang masih saja menatap kedepan sana, dimana Elsa terlihat begitu cepat membaurkan diri bersama kedua orangtuanya dan Sean.


Kakaknya yang ibarat kulkas itu bahkan beberapa kali terlihat melontarkan senyumnya, entah apa yang sedang mereka bicarakan diujung sana.


"Yang aku tau Elsa itu barusan kelar kuliahnya. Jebolan Columbia University di Amerika Serikat dengan hasil cumlaude. Keren yah, Ri, predikat cumlaude disitu kan hanya diberikan pada top dua puluh persen dari total ribuan mahasiswa."


"Hmm.." lagi-lagi hanya berdehem, membuat Seiyna kembali menoleh kearah Riri.


"Oh iya, Seiy, sebentar aku sudah harus pulang sama Daddy dan Mommyku yah.." pamit Riri.


"Loh.. kok pulang sih, Ri..? stok ghibah kita kan masih banyak.." Seiyna menatap Riri protes.


"Gila yah, trus kalau aku tidak pulang kerumah, malam ini aku harus tidur dimana? ya kali aku harus tidur bertiga sama kamu dan Bang Bima.."


"Ap-pa..?? ihh.. Riri.." wajah Seiyna langsung mencebik saat menyadari arah kalimat Riri yang bicara sambil menahan tawanya.


"Lah iya kan, masa aku tega mengganggu malam pertamanya pengantin baru sih..?"


"Ri, jangan ngadi-ngadi ya.." Seiyna terlihat cemberut, membuat Riri akhirnya mengalah sambil tersenyum.


"Iya deh maaf, Seiy, aku kan cuma becanda. Lagian melihat kamu menggandeng lengan Bang Bima terus sepanjang acara bikin aku salfok tau tidak?"


"Jangan mulai.." Seiyna melotot galak.

__ADS_1


"Akh, Seiyna.. seriusan kalian berdua kelihatan serasi banget malam ini."


Seiyna mencebikkan bibirnya lagi. "Just a play. Semuanya hanya sandiwara, Ri, tadi sebelum kesini, Bang Bima bela-belain mengingatkan aku agar jangan bersikap kaku, karena nantinya semua interaksi kami sekecil apapun itu akan jadi konsumsi publik kedepannya."


Riri yang mendengarnya mendadak tercenung. "Memangnya kamu tidak bisa membuka hati sama sekali yah, Seiy. Kan Bang Bima juga baik. Orangnya juga ganteng kok.."


"Bagaimana mau membuka hati? seumur hidup aku sudah melihat dia berseliweran didepan mataku. Sejak kecil aku sudah kenal Bang Bima, Ri. Karena waktu ibunya meninggal, Bang Bima sering sekali dibawa uncle Beni kesini dan bermain bersama Kak Sean."


Kemudian setelah menarik nafas sejenak, Seiyna kembali menatap Riri dengan tatapan yang penuh kesedihan, sangat berbanding terbalik dengan keceriaan yang ia tampilkan didepan semua orang disepanjang acara.


"Aku sudah memikirkannya, Ri. Sebentar, mau tak mau aku harus membicarakannya dengan Bang Bima.."


"Kamu mau bicara apa, Seiyna? tolong jangan bicara sembarangan, pikirkanlah dulu baik-baik agar apapun keputusanmu kamu tidak akan menyesalinya dikemudian hari."


"Aku sudah memikirkannya. Keputusanku sudah bulat, Ri. Aku harus menegaskan posisi Bang Bima yang seharusnya. Justru kalau aku tidak mengatakannya sejak awal.. maka aku akan menyesal seumur hidupku."


"Seiyna.."


"Ri, aku masih ingin meneruskan kuliah, masih banyak cita-citaku yang belum sempat aku wujudkan. Saat ini Daddy bahkan telah mengurus semuanya tentang pendidikanku agar bisa dilakukan dengan metode jarak jauh. Kesalahanku yang kemarin telah membuat Daddy tidak lagi mengijinkan aku kembali kekampus yang sama. Dari segi itu saja, aku telah kehilangan kebebasan masa remajaku dalam sekejap.."


Riri bisa melihat kesedihan yang terpancar jelas diwajah Seiyna. Diam-diam dia pun merasa iba.


"Yasudah kalau tekadmu sudah bulat dan tidak bisa ditawar lagi. Tapi ingatlah satu hal, Seiy, katakan semuanya dengan baik, mintalah pengertian Bang Bima untuk segala keinginanmu dan rencana masa depanmu. Dan yang paling penting, jangan membuat Bang Bima merasa tersinggung dengan apa yang nanti akan kamu utarakan, karena biar bagaimanapun, saat ini status Bang Bima adalah suamimu.."


Mendengar semua masukan Riri yang menandakan kepedulian yang besar sahabatnya itu untuknya membuat Seiyna tidak bisa menahan haru. "Iya, Ri aku mengerti. Terimakasih ya atas semua nasehatmu kepadaku. Aku janji semuanya akan kuingat dengan baik.." ujar Seiyna sambil menaruh piring kecil berisi sisa potongan kue keatas meja dan memeluk tubuh sahabatnya itu dengan erat.


"Apapun yang akan kamu jalani, aku harap kamu akan terus berbahagia, Seiy.." ujar Riri setelah Seiyna melepas pelukannya. "And i'll be there for you.." bisik Riri dengan senyum tulus, yang nyaris tidak bisa ia pertahankan begitu lama, saat matanya kembali menangkap sosok Elsa yang berdiri diujung sana.. tepat disebelah Sean.. tersenyum bersama..


.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


Thx And Loophyuu all.. 😘


__ADS_2