PASUTRI

PASUTRI
Rencana bertemu Sean


__ADS_3

"Rei.. maaf.."


Rei membisu mendengar kalimat Sean yang terucap dengan lirih itu.


"Banyak yang ingin aku katakan, tapi sepertinya waktunya masih kurang tepat, karena kelihatannya kamu masih enggan dan aku dengar besok kamu juga akan keluar kota dalam waktu yang lumayan lama.."


Mendengar kalimat Sean yang panjang Rei masih membisu. Namun meskipun demikian Rei juga membenarkan ucapan Sean. Hatinya memang belum bisa diajak berkompromi dengan kehadiran Sean lagi apalagi harus mendengar penjelasan Sean. Rasa kesalnya pada sahabat masa kecilnya itu belum juga terobati, setidaknya untuk saat ini.


"Rei.. sebelum pergi besok, bisa tidak aku menemuimu..?"


"Untuk apa..?' sahut Rei masih dengan nada suara yang dingin.


"Tidak untuk menjelaskan apa-apa.. hanya ingin bertemu saja.."


"Hehh.."


"Rei aku serius."


"Hehh.."


"Rei.. pliss.. demi dua puluh tahun lebih persahabatanku denganmu, aku mohon.. pliss.."


Rei terdiam sejenak. Disisi lain dirinya enggan mengiyakan keinginan Sean karena masih merasa kesal jika harus bertemu Sean, disisi lain ia juga merasa sedikit rindu.


Perjalanannya dengan Nisa untuk mengunjungi dua belas jaringan hotel Mercy di dua belas kota yang berbeda tentu saja bisa menghabiskan waktu yang lumayan lama. Dalam kurun waktu itu ia juga pasti tidak bisa bertemu Sean.


"Baiklah.. dimana..?" akhirnya hati Rei pun luluh.


"Bagaimana kalau tempat biasa..?" pungkas Sean bersemangat begitu mendapatkan angin segar pertanda mulai luluhnya hati Rei.


Sementara 'tempat biasa' yang ia maksudkan adalah tidak lain 'The Red", sebuah tempat hiburan malam terkenal di ibukota, tempat yang memang begitu sering mereka berdua datangi setiap kali hang out.


"Baiklah.." putus Rei akhirnya, sebelum kemudian memutuskan mengakhiri pembicaraan dengan Sean di sore itu.


XXXXX


"Hai bocilku, sayang.. mau kemana kamu..? udah rapi aja.." Rei yang baru saja turun dari tangga dengan penampilan yang sudah rapi, wangi dan menawan langsung mengacak ubun-ubun Riri yang sedang berada di meja makan, sibuk membenahi ranselnya yang berwarna pink dengan motif kartun Hello KItty yang menjadi favoritenya.


"Ish.. kapan sih Kak Rei mau berhenti dengan kebiasaan Kakak yang suka mengacak rambutku..?!" sembur Riri kesal karena menyadari setiap kali Rei melakukan hal itu maka rambutnya yang telah ia tata dengan baik sekalipun pasti akan berantakan dalam sekejap mata.

__ADS_1


Rei tertawa. "Nanti.. kalau kamu sudah punya suami, baru aku bisa berhenti mengusilimu.. bocilkuuu sayaaangg... mmmmuah.." Rei malah dengan gemas menarik dua pipi Riri sekaligus, menguyel-uyelnya dengan gemas sebelum akhirnya mendaratkan ciuman didahi Riri yang sontak memukul punggung Rei berkali-kali begitu Rei berbalik.


"Kak Rei.. ishh..! jangan suka cium Riri lagi, Riri kan sudah gede..! ciumin Kak Nisa aja dong.. kan istrinya.." omel Riri sambil menggosok gasak dahinya yang bekas dicium Rei dengan kesal, bertepatan dengan kalimat Riri, Meta muncul dari arah dapur, membawa beberapa peralatan makan untuk makan malam.


"Lagian ditanyain mau kemana gak mau dijawab.."


"Mau belajar buat persiapan UTS minggu depan.." jawab Riri dengan wajah yang masih cemberut.


"Belajar kok malam-malam begini..? modus kamu yah.. mana weekend lagi.." seloroh Rei, kali ini kalimatnya terdengar serius dengan tatapan matanya yang penuh selidik saat menguliti Riri dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun.


"Riri sudah ijin, Rei.. mau belajar sekalian nginep dirumah Seiyna.." Meta menengahi sebelum kembali terjadi peperangan antara Rei dan Riri.


"Tuh.. dengarkan apa kata Mommy.." Riri memeletkan lidahnya kearah Rei yang sontak melotot.


"Kamu sendiri mau kemana Rei? rapi banget.." ujar Meta sambil menelisik penampilan Rei yang merupakan perpaduan santai tapi casual namun tetap menggambarkan bahwa lelaki itu berniat keluar rumah.


"Ada janjian dengan Sean, Momm.."


Mendengar itu Meta menatap Rei serius. "Sean? yang benar..?" tanya Meta sedikit sanksi jika Rei akan menemui Sean mengingat bahwa hubungan Rei dan Sean yang memburuk sejak kejadian Liliyana kemarin.


"Iyalah.. masa aku bohong sih, Mom.. coba tanya Riri tuh, kalau Mommy tidak percaya.."


Riri mengangguk. "Iya, Momm.. kemarin Kak Sean menelpon Kak Rei lewat ponsel Riri.."


Meta manggut-manggut, kali ini dirinya benar-benar percaya karena Riri telah mendukung Rei tentang hal itu. Tepat disaat yang sama, Nisa muncul dari dapur, membawa nampan dengan beberapa buah gelas kosong keatas meja makan.


"Momm.. Riri pergi sekarang yah.." pamit Riri dengan ceria sambil mengambil punggung tangan Meta dan menciumnya, kemudian melakukan hal yang sama kepada Rei dan juga Nisa yang sudah berada diantara mereka. "Assalamualaikum.." ucap Riri dengan senyum sebelum beranjak dengan langkah ceria.


"Waalaikum salam, sayang.. belajar yang rajin yah, besok dijemput Mang Udin gak..?"


"Gak usah, Momm.. nanti dianter Seiyna..!" jawab Riri setengah berteriak karena tubuhnya tang telah menjauh.


Sepeninggal Riri, fokus Meta kembali kearah Rei yang saat ini juga sedang menatapnya.


"Rei juga pamit sekarang yah, Momm.."


"Tunggu," pungkas Meta cepat, membuat alis Rei bertaut. "Ada apa lagi, Momm..? masih belum percaya juga kalau aku akan menemui Sean..?"


"Mommy percaya, tapi kenapa tidak mengajak Nisa sekalian..?"

__ADS_1


"Hah..?"


Raut terkejut jelas mewarnai wajah Rei dan Nisa sekaligus.


"Ahh.. itu.. itu tidak perlu, Momm.. Nisa juga males keluar malam-malam.." pungkas Nisa sambil meringis kearah Meta.


Nisa memang sedang tidak berbohong, meskipun tau bahwa Rei akan menemui Sean malam ini namun ia sama sekali tidak berkeinginan untuk ikut serta. Apalagi jika menyadari bahwa Rei dan Sean tentu membutuhkan waktu untuk bicara.


"Iya, Momm.. Nisa tidak usah ikut. Nanti kalau aku pulangnya malam bagaimana..?"


"Justru karena itu. Justru karena Mommy mengkhawatirkan hal-hal yang tidak diinginkan makanya Mommy mau Nisa ikut." ujar Meta lagi. bukan apa-apa, tapi Meta mengenal betul tabiat anak muda jaman sekarang yang begitu rentan dengan pergaulan.


Meta bukannya tidak mempercayai Rei maupun Sean, namun pada kenyataanya sepak terjang Sean cukup tersohor dikalangan wanita. Putra sulung Tian dan Arini itu benar-benar mewarisi darah casanova Tian semasa muda. Berbahaya, suka bermain-main, namun tidak pernah berniat serius pada wanita manapun. Meta bersyukur Rei sama sekali tidak mewarisi watak Rico dimasa mudanya, Rei justru sangat kalem dalam menghadapi wanita, mungkin itu sebabnya kelembutan hati putranya bisa dengan mudah dimanipulasi oleh ular betina seperti Liliyana.


Tidak. Meta tidak mau mengambil resiko, apalagi mengingat Rei baru saja menikah.


"Nisa.. pergilah bersiap dan ikutlah bersama Rei."


Nisa terlihat bimbang. "Tapi, Momm.."


"Kalau kamu tidak mau, maka Rei tidak boleh pergi.."


"Baiklah.. baiklah.." putus Rei, akhirnya ia juga yang harus mengalah menghadapi sikap keras kepalanya Mommynya.


Detik berikutnya Rei telah menatap Nisa yang masih berdiri salah tingkah diantara Mommy dan dirinya.


"Nisa, pergilah bersiap, aku tunggu didepan.." ucap Rei kemudian, yang disambut anggukan kepala perlahan Nisa, serta senyum sumringah Meta.


.


.


.


Bersambung..


LIKE and SUPPORT REI DAN NISA yah gaiss.. 😀


THX and LOPHYUU all.. 😘

__ADS_1


__ADS_2