
"Sean..? k-kamu..?!"
Ponsel yang ada ditangan Sean langsung meluncur kelantai.
"Halo..?! Halo Sean..?! Seaaann..?!"
Sean masih bisa mendengar sayup-sayup suara Mommynya yang berteriak panik dari seberang sana, sama seperti dirinya yang juga panik begitu mendengar bentakan keras yang berasal dari daun pintu kamar Riri yang terbentang.
'Matilah aku..'
Bathin Sean di detik-detik terakhir saat ia menyaksikan si pemilik suara yang bertubuh tinggi atletis dengan wajah yang membelalak marah itu telah melesat kearahnya secepat peluru.
"R-Rei jangan..!!"
Bugh..!
Terlambat.
Suara teriakan Nisa yang disertai usahanya menahan lengan pria itu seolah tak ada gunanya, karena begitu Rei bergerak maju, satu tinju kanannya langsung menghantam pelipis kiri Sean dengan telak, hingga membuat Sean terjengkang.
"Ku rang ajar, apa yang sedang kamu lakukan dikamar adikku..?!"
Sean mengusap pelipisnya yang seolah mati rasa sambil mencoba bangkit meskipun terhuyung akibat bogem mentah yang bersarang tepat diwajahnya. "Rei, tenang dulu. Aku bisa menjelaskannya.. aku.."
Desh..!!
Sebuah tendangan melayang tepat kearah perut, kembali membuat Sean terjengkang dilantai, meringis dengan kedua tangan yang memegang perutnya.
"Rei, kendalikan dirimu.." Nisa mencoba menghalau, namun lagi-lagi percuma, karena dengan mudahnya Rei melepaskan diri dan kembali bergerak maju.
Rei menyeringai geram sambil menunduk sejenak, hanya demi mencekal kerah kaos yang dipakai Sean, memaksa pria yang tak berdaya itu berdiri, dan emosinya semakin terbakar saat menyadari bahwa ia baru saja mengenali kaos berwarna hitam serta celana boardshort merk salah satu fashion sport terkenal yang dikenakan Sean tak lain adalah miliknya.
"Sia lan..! Kamu bahkan berani sekali memakai pakaianku.."
"Rei tolong dengarkan aku du.."
Bughh..!!
Sebuah bogem mentah kembali bersarang telak, membuat Sean kembali terjengkang dilantai.
Kali ini Sean merasa hidungnya nyeri bukan main. Terang saja.. karena ternyata darah segar telah mengucur deras dari sana.
"Rei, hentikan, kamu tidak boleh terus memukulnya.."
Dengan nekad Nisa telah benar-benar menggunakan tubuhnya untuk menghalangi Rei yang seolah tidak puas, sehingga kembali mendekati Sean yang terkapar dilantai, dengan wajah lebam dan mengucur darah.
"Kenapa tidak boleh?!" Tatapan Rei menggelap saat melihat Nisa yang terus menghalanginya mendekat, terus mencoba melindungi Sean dari amukan emosinya yang menggila.
"Rei.. aku mohon cukup. Dia berdarah.." pungkas Nisa dengan wajah memohon.
"Lalu kenapa kalau dia berdarah? Kamu takut dia mati..?! Aku tidak peduli. Biarkan saja dia mati!! Baji ngan ini.. tidak puas menggoda Liliyana, sekarang malah merusak adikku..!! Minggir Nisa..!!"
__ADS_1
Rei menepis tubuh Nisa kesamping, yang karena emosi yang telah membuatnya kalap Rei bahkan tidak bisa lagi mengontrol kekuatannya, sehingga Nisa terhuyung dan terjerembab disisi ranjang milik Riri.
Praanngg..!
"Kak Rei, hentikan..!!"
Gelas berisi air mineral yang ada ditangan Riri terlepas dari tangannya begitu saja, dan pecahannya berhamburan kelantai manakala Riri tiba didepan kamarnya yang mendadak terdengar gaduh.
Sepasang mata Riri terbelalak saat menyadari pemandangan dimana Rei kakaknya telah menepis Nisa hingga jatuh terhuyung, kemudian kakinya kini terangkat hendak menendang Sean yang terkapar tak berdaya bersimbah darah nyaris diseluruh wajahnya.
Kaki Riri yang telanjang telah melintasi lantai yang penuh pecahan beling, namun perihnya tak ia rasakan hanya demi berlari secepatnya kearah Sean dan memeluk tubuh pria itu kuat-kuat, tepat disaat Rei melayangkan tendangan yang keras.
Desshh..!!
"Aaaaaa..!!"
Riri menjerit kuat-kuat saat merasakan pinggangnya yang nyeri luar biasa, akibat tendangan Rei yang sedianya untuk Sean, malah bersarang tepat ditubuhnya yang telah menjadi tameng.
"Riri..!!" Sean berteriak kencang begitu melihat Riri yang meringis kesakitan dengan wajah memucat seperti mayat, sementara Rei yang tak menyangka Riri akan senekad itu hingga memakai tubuhnya sendiri guna melindungi Sean membeku ditempatnya.
"Rei..!! Kamu gila..!!" Umpat Sean mencoba bangkit dan memapah tubuh Riri dengan susah payah.
Sepasang mata Sean nampak panik dan berurai air mata ketika menyadari kepala Riri yang telah terkulai tanpa daya diatas dadanya.
Rei masih terpaku, masih tidak percaya jika dirinya telah menyakiti adiknya sekuat itu, terlebih saat menyaksikan Sean yang telah menangis keras sambil memeluk Riri dibawah sana.
"Baji ngan..! Kalau sampai terjadi sesuatu kepada Riri dan janinnya.. aku bersumpah akan menghabisimu..!!"
XXXXX
"Sayang.. kita harus kerumah Rico dan Meta sekarang..!" Arini terlihat tergesa-gesa saat menerobos kedalam kamar dimana Tian terlihat sedang mengancingkan kemejanya didepan cermin besar.
"Egh..? Apa..?"
Tanpa aba-aba Arini telah menarik lengan pria itu keluar dari kamar.
"Arini, kamu ini sedang apa?" tanya Tian keheranan, yang tubuhnya tertarik begitu saja oleh tarikan tangan Arini yang mencekalnya kuat-kuat. "Lagipula untuk apa sepagi ini kerumah Rico dan Meta? bukankah mereka berdua masih di Melbourne..?"
"Justru karena mereka tidak ada makanya kita harus kesana secepatnya."
"Sepertinya Rei juga belum kembali.. apa.. terjadi sesuatu dengan Riri?"
"Sudah, jangan bertanya." pungkas Arini seolah semakin mempercepat langkahnya, sementara diwajahnya kepanikan telah menggantung dengan jelas.
Yah, panik. Tentu saja.
Arini benar-benar sedang khawatir. Karena terakhir sebelum pembicaraannya dengan Sean terputus, Sean masih berada dikamar Riri, lalu seseorang yang menurut kecurigaan Arini adalah Rei telah memergoki putranya disana.
Dalam benak Arini telah membayangkan hal-hal buruk, karena bagaimanapun juga, sebagai seorang kakak laki-laki, sudah pasti Rei akan mengamuk saat mengetahui keberadaan Sean sepagi ini, didalam kamar adik perempuannya, terlebih dengan hubungan keduanya yang bahkan belum pulih.
Arini sungguh khawatir. Ia sangat mengkhawatirkan Sean, namun lebih khawatir lagi jika keributan antara Rei dan Sean akan berimbas pada keselamatan calon cucunya.
__ADS_1
Akhh.. memikirkan hal itu membuat pikiran Arini semakin kacau.
"Kalau tidak bertanya lalu bagaimana aku bisa tau permasalahannya, Sayang.." gerutu Tian mulai kesal, namun malah dihadiahi pelototan galak.
"Aku akan mengatakannya dimobil, kita harus tiba disana secepatnya..!"
"Tapi pagi ini kita harus.."
"Lupakan Malaysia, lupakan bisnis, lupakan pekerjaan. Cukup ikuti aku saja, sebelum semuanya terlambat!!"
Meskipun dengan alis mengerinyit namun akhirnya Tian memilih mengalah.
Sementara itu pada perjalanan yang menuju ketujuan yang sama..
Rico dan Meta baru saja menginjakkan kaki ditanah air pada beberapa menit yang lalu, usai melewati sebuah penerbangan panjang nyaris sebelas jam lamanya.
Kini mereka berdua berada didalam mobil, begitu Rico terlihat menarik tubuh Meta untuk masuk kedalam pelukannya.
Sebuah kaca mata hitam besar yang bertengger diwajah Meta sepertinya tidak mampu menutupi kesedihan yang ada dibaliknya.
Rico tau persis dibalik pemandangan kaca mata hitam besar yang terlihat arogan itu, sesungguhnya wajah Meta istrinya sedang begitu kuyu.
Istrinya itu nyaris tidak menyentuh makanan sedikitpun sejak kemarin, kurang tidur, dan terus menangis sepanjang waktu.
"Tenangkan dirimu, Mommy, bukankah kita sudah membicarakan hal ini sebelumnya, dan kita berdua telah sepakat untuk merangkul Riri." bisik Rico seolah tak penah lelah menguatkan hati Meta. "Sayangku.. bagaimana nanti kamu bisa menjadi penawar kesedihan putri kita, jika kamu tidak bisa menguatkan hatimu sendiri..? tolong jangan seperti ini.. kasihan Riri nanti.."
"Maafkan aku, Dadd. Tapi aku tidak bisa menahannya. Aku sudah berusaha, tapi air mata ini.. air mata ini terus mengalir tanpa aku inginkan.." ucap Meta pilu dengan nada sesegukan.
Rico tau hati meta sedang hancur, sama seperti hatinya. Tapi bagaimana mungkin Rico menampakkannya sementara disisi lain ia harus menjadi tiang yang kuat, tempat Meta bersandar dari segala kesedihan dan kerapuhan, juga tempat putrinya bersandar sebagai tumpuan.
Semua kesedihan ini berawal dari telpon dokter Erlan.
Dokter Erlan yang merupakan dokter pribadi keluarga Wijaya itu dengan sangat menyesal akhirnya memutuskan memberikan informasi yang sebenarnya pun begitu sulit untuk ia ungkapkan, dimana putrinya sendiri selama ini bahkan tidak pernah mengatakan apapun.
"Maafkan aku Pak Rico dan Ibu Meta, sebenarnya aku sudah berjanji kepada Riri untuk tidak mengatakan semua ini. Karena menurut Riri, dia sendiri yang nantinya akan mengatakannya langsung kepada Pak Rico dan Ibu Meta saat kembali ke tanah air. Tapi setelah saya memikirkannya lagi, saya merasa saya harus mengatakan hal ini secepatnya. Saya takut jika terjadi sesuatu.. yang bisa menjadi kemungkinan terburuk.. yang nantinya akan mempengaruhi mental dan psikis Riri.."
Suara isakan Meta kembali terdengar lirih. Membuat Rico semakin mengencangkan pelukannya kebahu wanita itu, membuat air mata Meta luruh, tumpah ruah didada Rico begitu saja.
.
.
.
Bersambung..
Follow my Ig. @khalidiakayum
Fb. Lidia Rahmat
Banyakin like, support, vote nya doooonggggg.. 😀
__ADS_1
Thx and Lophyuu all.. 😘