PASUTRI

PASUTRI
Menolak menikah


__ADS_3

Sean, Seiyna, dan Bima. Saat ini mereka bertiga sedang berada diruang tengah lantai dua, menanti dengan rasa was-was disertai kadar ketegangan yang sama.


Sementara itu.. pintu ruang kerja Tian yang berada diujung sana masih mengatup rapat.


Hari ini sungguh memiliki begitu banyak kejutan, dan terasa sangat melelahkan.


Setelah peristiwa peretasan situs resmi indotamagroup.com tadi siang yang telah mengundang rasa ingin tau awak media yang serta merta mengepung kantor pusat Indotama Group dalam waktu singkat, dalam waktu singkat juga Tian telah memberikan pernyataan resmi secara langsung, yang juga tak kalah menggegerkan.


Hasil dari semua kejutan yang terjadi dalam sekejap itu telah membuat Arini seolah terpukul berkali-kali.


Foto-foto mesra Seiyna bersama Bima lengkap dengan video berdurasi empat belas detik sudah cukup mengguncang bathinnya sebagai seorang ibu, kini malah kembali ditambah dengan pernyataan Tian yang akan menikahi Seiyna dengan Bima tanpa melibatkan pendapat dirinya terlebih dahulu.


Tadi saat Tian dan Sean tiba dirumah, Seiyna memang telah tiba lebih awal. Seiyna bahkan telah berhasil meyakinkan Arini bahwa sekalipun benar ia telah melanggar kepercayaan kedua orangtuanya dengan nekad keluyuran dimalam hari, dan Bima yang memergoki keberadaannya di The Reds, namun Seiyna bahkan berani bersumpah bahwa dirinya tidak melakukan hal tak senonoh apapun dengan Bima, seperti yang seolah ingin ditunjukkan oleh foto-foto beserta video tersebut.


Keputusan sepihak yang diambil Tian telah membuat Seiyna tersentak terlebih Arini. Seperti halnya Seiyna, Arini pun menolak menerima keputusan Tian, sehingga perdebatan pun tak terhindari, yang membuat Tian memutuskan untuk mengajak Arini meneruskan perdebatan diruang kerja Tian, meninggalkan Sean dan Seiyna diruangan tersebut, yang kemudian tak berapa lama, Bima pun hadir disana.


"Seharusnya Kak Sean bisa menjelaskannya, tapi kenapa kakak diam saja..? kenapa malah jadi begini..?"


Seiyna menatap Sean yang duduk membisu di sofa dengan wajah dipenuhi air mata. Disebelahnya ada Bima yang juga hanya membisu tanpa kata.


Sikap kedua pria itu yang sama-sama membisu membuat emosi Seiyna seolah semakin tersulut.


Yah.. Seiyna tau ini semua adalah kesalahannya. Dirinyalah yang pertama membuat kekacauan karena nekad menghadiri party ulang tahun Rendi di The Reds malam itu.


Baiklah.. Seiyna bisa mengakui semua itu, dan Seiyna pun rela menerima hukumannya. Tapi kenapa ia harus menerima kenyataan seperti ini?


Daddy telah membuat pernyataan resmi didepan media bahwa dua hari kemudian ia akan menikah dengan Bima.


Menikah..?! dengan pengawal biasa seperti Bima..?!


Tidak.. tidak.. ini gila..!


"Kak Sean.. Bang Bima.." Seiyna merengek kesal, seraya menatap kedua pria dihadapannya berganti-ganti. "Apapun yang terjadi, aku tidak mau menikah..! ini tidak adil..!"


"Diamlah, Seiyna.. ini semua juga karena ulahmu.." pungkas Sean tak kalah kesal menerima rengekan Seiyna yang tanpa henti.


"Tapi Kak Sean tau sendiri bahwa aku tidak melakukan apa-apa seperti yang semua orang tuduhkan!!" protes Seiyna lagi dengan ekspresi wajah tak terima.


Seiyna merasa wajar saja ia merasa geram, karena keadaan yang menimpanya saat ini tak lepas karena ulah Sean juga, yang asik bermesraan dengan LIliyana sehingga tidak segera mengantarkan Riri. Seiyna bahkan ketiduran dimobil Bima saking lamanya mereka berdua menunggu Sean kembali.

__ADS_1


"Iya, aku tau.." tukas Sean acuh.


"Lalu kenapa kakak tidak menjelaskannya kepada Daddy..?"


"Aku sudah mengatakannya berkali-kali, tapi Daddy lebih mempercayai foto-foto dan video itu daripada perkataanku. Lalu aku bisa apa..?"


"Tapi itu kan tidak benar..!!"


"Seiyna.. tenangkan dirimu.."


"Bagaimana bisa tenang..? aku tertidur dimobil Bang Bima karena kakak tidak langsung menjemput Riri..!"


"Seiyna..!" bathin Sean bergolak panik begitu mendengar Seiyna telah menyebut nama 'Riri'.


Tapi Seiyna yang kadung kesal malah tidak menyadari kegugupan yang membingkai samar diwajah Sean.


"Lagipula kenapa sih harus menikah dengan Bang Bima..? aku tidak mau, Kak..! aku tidak mau dengan Bang Bima..!!"


"Seiyna..!!"


Seiyna terdiam mendengar bentakan keras Sean. Kakinya bahkan mundur selangkah demi melihat Sean berdiri dari duduknya dengan wajah memerah marah.


Bima yang sejak tadi hanya bisa memijat pelipisnya kalut menyaksikan adu mulut kakak beradik yang tak kunjung usai itu akhirnya juga ikut berdiri dari duduknya, memilih berjalan kearah balkon yang ada dilantai dua rumah megah keluarga Djenar. Berdiri disana sambil mengarahkan pandangannya jauh tanpa arah.


Hati Bima sungguh gundah, saat ini Bima bahkan merasa dirinya sedang tidak bisa berpikir dengan jernih.


Bima bisa memahami mengapa Seiyna terlihat sangat menolaknya. Tentu saja.. siapa juga yang ingin menikah dengan situasi yang seperti ini..?


Kalau bisa memilih, Bima juga ingin menolaknya, tapi ia bahkan tidak yakin apakah bisa membuka mulutnya dihadapan Pak Tian begitupun dengan Ibu Arini.


Dan kalau Bima saja begitu ingin menolaknya.. lalu apalagi Seiyna..? mana mungkin gadis itu bisa menerima kenyataan, jika pada akhirnya, ia harus menikah dengan seorang pengawal rendahan seperti dirinya?


Dalam keadaan pikiran yang kalut seperti ini rasanya minimal Bima ingin sekali menghisap sebatang rokok yang ada disakunya, namun sayangnya rumah keluarga Djenar adalah tempat yang terlarang untuk asap rokok. Karena jangankan dirinya, Sean bahkan Pak Tian saja tidak bisa merokok dengan bebas didalam rumah ini, jika tidak ingin bermasalah dengan Ibu Arini.


"Bang Bima.."


Suara merdu namun serak milik Seiyna menyapu gendang telinga Bima.


Bima menoleh kearah gadis yang ternyata telah berdiri dibelakangnya dengan sepasang mata yang sangat sembab. "Ada apa, Seiy..?" tanya Bima perlahan.

__ADS_1


"Abang.. aku tidak mau menikah.." air mata Seiyna kembali bercucuran.


"Aku juga tidak menginginkannya."


"Bang Bima harus bisa menolak, Daddy.."


Bima menghela nafasnya berat. "Aku akan mencoba menolaknya.."


Detik berikutnya Seiyna telah sesegukan dihadapan Bima, membuat Bima menjadi semakin serba salah. Alhasil Bima hanya mematung tanpa kata.. hanya menatap bahu Seiyna yang bergerak turun naik tak beraturan.


"Seiyna.." panggil Bima lagi perlahan. "Tolong berjanjilah untuk bertanggung jawab pada apapun yang telah kamu lakukan, dan jangan lagi membawa nama Riri. Kamu bahkan tau sendiri bahwa hubungan Sean dan Rei sedang tidak baik-baik saja. Jangan ditambah lagi.."


Meskipun masih tenggelam dalam isak tangis yang tertahan, namun Bima merasa lega begitu melihat jika kepala Seiyna mengangguk kecil mengiyakan.


Seiyna memutuskan untuk membelakangi Bima, yang hanya bisa menatap punggung Seiyna dalam diam.



Sementara disana..


Lewat ujung matanya..


Bima juga bisa melihat Sean yang sedari tadi melirik kearah mereka berdua.



Detik berikutnya Sean terlihat membuang nafasnya yang seolah tercekat lama, sebelum kemudian kembali tertunduk dalam diam..


.


.


.


Bersambung..


LIKE, COMMENT, HADIAH, RATE, VOTE.. 🥰


Bagi yah.. authornya manja.. 😅

__ADS_1


Thx and Lophyuu all.. 😘


__ADS_2