
Saat Seiyna pertama kali masuk kedalam kamar vvip dimana Riri menginap dia mendapati semua anggota keluarga Djenar dan keluarga Wijaya masih berada didalam sana tanpa terkecuali.
"Sendirian Seiy, Bima mana?" Tian bertanya sambil menatap lekat putri bungsunya yang terlihat masuk seorang diri.
"Tadi cuma nganterin sampe depan pintu, Dadd, katanya mau memantau situasi keamanan diluar, soalnya pas masuk tadi diluar ramai sekali."
Tian terlihat manggut-manggut sambil langsung mengeluarkan ponselnya, dan berjalan keluar. Sedangkan Seiyna langsung menghambur kearah Riri yang nampak tersenyum begitu menyadari kehadiran Seiyna.
Meskipun masih terbaring lemah diatas ranjang pasien dengan selang infus yang menancap di salah satu pergelangan tangannya, namun wajah Riri terlihat berseri.
"Riri, bagaimana keadaanmu..?" Seiyna yang menempatkan diri disisi ranjang tepat bersebelahan dengan Mommy Meta langsung meraih jemari Riri yang satunya.
"Sudah enakan, Seiy.." ucap Riri terlihat sekali kegembiraannya begitu mendapati kehadiran Seiyna.
"Sini, Seiyna duduk disini saja, nanti Mommy pindah kesana dengan Mommymu.." ujar Meta sambil berdiri dari duduknya, agar Seiyna bisa leluasa melepas rindu dengan sang bestie.
"Terimakasih Momm.." Seiyna tersenyum senang sambil menghempaskan tubuhnya keatas kursi.
Meta tersenyum sebelum kearah kedua gadis itu bergantian sebelum kemudia memilih bergabung disofa bersama semua anggota keluarga, minus Tian yang tadi terlihat keluar dari ruangan tersebut sembari menelpon.
"Ri, ponakan aku gimana..? sehat kan?" bisik Seiyna ditelinga Riri seolah malu terdengar yang lain.
"Iya sehat.." Riri balas berbisik, ia pun merasa sangat malu hati, meskipun disisi lain ia bahagia tak terkira karena beban berat yang akhir-akhir ini sangat mengganggu benaknya kini seolah terangkat tak bersisa.
Pada akhirnya baik Sean maupun kakaknya serta kedua orang tua mereka telah mengetahui semuanya. Dan meskipun sempat terjadi insiden yang sangat mencekam tapi begitu dirinya siuman semuanya terlihat membaik.. ya.. hanya wajah Sean yang tidak baik-baik saja karena sekarang pria itu bahkan terus mengenakan masker dan topi. Mungkin malu dengan kondisi wajah tampannya yang sudah tidak berbentuk lagi akibat bogem-bogem mentah yang terus menerus ia terima dari Rei dan Daddy Tian.
"Kalau sudah enakan, ingat yah, kamu berhutang cerita yang selengkap-lengkapnya sama aku." todong Seiyna to the point membuat pipi Riri bersemu, namun meskipun demikian Riri tetap mengangguk, sehingga mereka berdua terlihat tertawa kecil berbarengan, mengundang tatapan ingin tau dari para penghuni sofa diujung sana.
XXXXX
"Kamu yakin akan menjaga Riri sendirian, Sean?"
"Yakinlah Momm.."
"Tapi.."
"Mommy pulang saja dengan Daddy kerumah, istirahat yang tenang, biar aku yang menjaga Riri disini." ujar Sean meyakinkan kedua calon mertuanya yang sejak tadi pagi nyaris tidak beranjak dari kamar vvip yang ditempati Riri.
"Sean benar, Momm, sebaiknya kita memang pulang saja, biar Sean disini. Lagipula besok siang Riri sudah diperbolehkan pulang kerumah.." Rico menambahkan guna menepis rasa khawatir istrinya.
Dan Meta pun akhirnya mengalah. Ia mendekati Riri yang sejak tadi hanya mengawasi pembicaraan mereka tanpa kata.
"Ri, sebenarnya Mommy mau disini, tapi Daddy dan Sean terus memaksa Mommy pulang kerumah."
"Baiklah Momm, tapi janji besok pagi mommy sudah disini lagi ya.." pinta Riri dengan tatapan memelas, sambil memeluk pinggang Meta kuat-kuat.
Sesungguhnya Riri belum puas melepas rindu dengan Mommynya, tapi disisi lain Riri juga kasihan kalau harus memaksa Mommy menginap semalam di rumah sakit untuk menemaninya.
"Iya.. Mommy janji, pagi-pagi sekali Mommy kesini, sekalian bawa sarapan untuk kamu. Oh iya.. besok mau dibawain apa?" tanya Meta sambil mengelus perut datar Riri dengan kasih sayang.
"Rendang sama es degan boleh gak, Momm..?" pinta Riri dengan wajah bersungguh-sungguh.
"Masa sarapan sama rendang dan es degan sih, Ri..? bisa gak diganti sama yang lain..?"
"Aku maunya itu aja, Mom. Gak bisa makan yang lain.."
__ADS_1
"Tapi.."
"Sudah, tidak apa-apa, besok pagi nanti Daddy yang bawakan rendang sama es degannya.." pungkas Rico secepat kilat.
"Ih, Daddy apa-apaan sih, main kudeta peran aku aja.." protes Meta sambil melotot kearah Rico tanpa ampun.
"Lah.. kamu kan keberatan bawain rendang sama es degannya.."
"Bukannya keberatan tapi.. ya sudahlah besok pagi Mommy bawain kesini.." ujar Meta mengalah, demi keinginan cucu pertama mereka.
"Nah gitu dong, jangan bilang tidak sama calon cucu daddy.."
Mendengar kalimat pongah Rico, Riri dan Sean pun tertawa tergelak, terlebih saat melihat bibir Meta yang naik dua centi kearah Rico.
"Ya sudah, Sean, jaga Riri dan cucu Daddy yah. Jangan sampai kenapa-napa lagi.."
"Siap Dadd.." jawab Sean tegas, wajahnya dipenuhi kebahagiaan, terlebih saat Rico menepuk bahunya berkali-kali, sebelum mengamit lengan Meta untuk berlalu dari kamar vvip itu.
"Dagh Sayang.. jaga baik-baik cucu Mommy yah.."
Riri mengangguk begitu mendapati peluk dan cium Meta dikedua pipinya.
"Sean, Mommy pergi dulu ya.."
"Iya, Momm.. hati-hati dijalan.."
XXXXX
Sepeninggal Rico dan Meta, Sean menghempaskan tubuhnya kesamping Riri yang terlihat menatapnya sambil menahan tawa.
"Hehe.." Riri terkekeh lagi. "Kak, kenapa wajahmu bisa hancur lebur seperti itu..?" tanya Riri sambil menahan tawa, pura-pura bertanya padahal tadi Mommy Arini sudah menceritakan kisah menegangkan yang terjadi saat ia masih berada diruang unit gawat darurat dalam keadaan tak sadarkan diri.
"Tanyakan kepada kakakmu yang emosian itu." ucap Sean sambil menyentuh pelipis kirinya yang masih saja terasa kebas hingga detik ini.
"Bukannya Daddy Tian juga ikut memukulmu..?"
Mendengar itu Sean terlihat meringis. "Kalau itu bukan hanya memukul lagi. Kamu tau tidak? kalau bukan karena Daddymu, mungkin nyawaku sudah melayang.."
Riri terhenyak, refleks menutup mulutnya dengan sebelah tangannya yang bebas, begitu Sean sedikit mendongak, guna memperlihatkan bekas cekikan yang berwarna biru keunguan diseputaran area lehernya.
"Kasihan sekali kamu, Kak.." ucap lirih Riri dengan wajah terpekur sedih.
Sean tersenyum melihat gadis itu tertunduk penuh penyesalan. "Jangan sedih begitu, karena yang terpenting semua badai sudah terlewati.." ujar Sean singkat.
Sean bangkit dari duduknya dan mendekatkan wajahnya begitu saja kewajah Riri yang awalnya tertunduk, kini ganti terhenyak mendapati wajah Sean yang tiba-tiba sudah begitu dekat dengan wajahnya, langsung melabuhkan rasa manis dibibirnya tanpa aba-aba.
'Kak Sean.. selalu saja seperti ini. Selalu bertindak seenaknya.. dan semena-mena. Tapi anehnya, aku malah tergila-gila dengan semua sikapnya.. perlakuannya..'
Riri bergumam dalam hati sambil meresapi luma tan bibir Sean yang begitu hangat dan membuai.
"Kamu sudah siap belum?" lirih Sean saat menarik wajahnya sedikit, menatap penuh wajah Riri yang dipenuhi semburat merah jambu.
"Siap..? siap untuk apa?" tanya Riri gelagapan, entah kenapa otaknya malah memikirkan hal-hal yang diluar ekspektasi. "Kak.. jangan aneh-aneh, ini rumah sakit.." bisik Riri separuh panik.. separuh salah tingkah.
"Astaga otakmu ini.." Sean berdecak. Sedikit terhenyak namun didetik berikutnya Sean malah tertawa pelan. "Aku tidak semaniak itu sampai mau melakukannya di rumah sakit, apalagi dalam keadaanmu yang masih mendapat asupan cairan infus seperti ini.."
__ADS_1
Riri tersentak malu, menyadari pemikirannya yang sudah out of control.
'Sungguh memalukan.. bagaimana mungkin aku malah memikirkan bahwa Kak Sean akan melakukan hal itu sih..? Riri.. dasar bodoh..'
Riri merutuk dalam hati, dengan wajah memerah yang entah harus ia sembunyikan kemana.
Riri bahkan tak kuasa menatap Sean yang baru saja menyudahi tawanya yang renyah.
"Aku sedang menanyakan kesiapanmu, karena dalam beberapa hari lagi, kamu akan resmi menjadi nyonya Sean Argano Putra Djenar.."
"Aku bahkan belum sempat dilamar, kenapa langsung menjadi nyonya..?" pungkas Riri.
"Kata siapa belum dilamar?"
"Memang belum kan.." kilah Riri dengan tatapan polos.
"Sudah.."
"Kapan..? aku merasa aku belum pernah menerima lamaran.."
"Aku bahkan mencium kaki kedua orangtuamu dan kedua orangtuaku sekaligus saat meminta ijin untuk menjadikan kamu istriku. Mana ada pria yang melamar wanita se-heroik itu..? cuma aku.." ujar Sean bangga, sambil menepuk dada.
Mendengar ucapan Sean itu sepasang mata Riri kembali berkaca-kaca.
Sungguh, Riri tak menyangka seorang Sean bisa melakukan semua itu demi dirinya, bersujud meminta ampun serta restu, dibawah kaki empat orang yang sesungguhnya telah mereka berdua kecewakan.
"Kalau masalah aneh-aneh, kamu tenang saja. Aku bisa kok menunggu sampai kita berdua sah dulu.." ucapan ringan Sean telah menerbangkan pemikiran melow Riri yang nyaris membuat air matanya kembali berlinang.
Sementara itu, Sean dengan tatapannya yang nakal kembali berucap pelan seolah berbisik..
"Kamu tenang saja. Kalau kita sudah sah, aku pasti bakal tengokin dedeknya setiap hari.."
Mata Riri membulat sempurna menerima kalimat super mesum itu, sontak ia mencubit lengan Sean dengan gemas.
"Kak Sean ih.."
.
.
.
Bersambung..
Ada yang suka cerpen yg rada mirip chat story gak? author ada konten tiktok buat up cerpen, judulnya "HATI YANG KUPILIH".
Bisa juga kepoin Instagram untuk tiap partnya. Ramein yuk. 🤗
Follow my Ig. @khalidiakayum
Fb. Lidia Rahmat
Banyakin like, support, vote nya doooonggggg.. 😀
__ADS_1
Thx and Lophyuu all.. 😘