
Pesta yang cukup meriah..
Sean sedang mengawasi semua itu dari sisi kolam renang yang sedikit temaram, dengan sebatang rokok ditangan.
Sengaja mencari lokasi yang sepi agar tak terlihat, sekaligus untuk menghindari celotehan panjang Mommy jika ketahuan merokok masih diarea rumah.
Saat sepasang matanya menangkap dikejauhan sana Bima dan Seiyna sedang tersenyum bersama Mommy, Daddy dan beberapa orang kolega bisnis Daddy, Sean mendadak tercenung sejenak.
Sesungguhnya Sean bahkan tidak menyangka jika Seiyna telah begitu cepat melangkahi dirinya dengan menikah lebih dahulu, disaat Seiyna masih berumur sembilan belas tahun.
Namun kenyataan bahwa Seiyna menikah dengan Bima cukup membuat Sean lega.
Seperti halnya keyakinan Daddy, setidaknya Sean juga merasa tidak perlu khawatir lagi, saat harus melepas Seiyna ketangan Bima.
Lamunan santai Sean tidak bertahan lama ketika ia melihat kesibukan dari beberapa orang pengawal yang berada tak jauh dari tempatnya.
Melihat aktifitas yang terlihat sedikit aneh itu refleks Sean bangkit dan mendekat, berusaha mencari tau penyebab gerak-gerik kepanikan tersebut.
"Ada apa? apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Sean kepada beberapa pengawal yang bertugas menjaga gerbang.
"Pak Sean, kebetulan Pak," salah seorang dari mereka menjawab begitu menyadari Sean sudah berada diantara mereka.
"Memangnya ada apa?" alis lebat Sean terlihat bertaut.
"Terjadi insiden kecil didepan gerbang utama, Pak."
"Insiden kecil?" ulang Sean dengan nada heran.
"Seperti yang Pak Sean ketahui situasi gerbang utama sangat ramai oleh kehadiran para wartawan yang penasaran dengan jalannya resepsi, serta siapa saja yang masuk di list undangan. Lalu tiba-tiba ada seorang pria yang meringsek maju dari kerumunan, yang dengan sengaja menabrakkan diri kebarisan pengawal yang mencoba menahannya, tapi tiba-tiba dia seperti sengaja menjatuhkan diri juga.."
"Lalu..? apa dia terluka..?" Sean bergegas melangkahkan kakinya kearah gerbang, diikuti beberapa pengawal tadi.
"Itu dia, Pak, setau kami dia hanya tergores di lutut, dan kami juga telah memberikan betadine serta plester luka. Tapi beberapa jam kemudian polisi datang dan menangkap dua orang pengawal yang diduga mendorong pria itu dengan tuduhan korban yang terluka dibagian kepala, dan lengan yang seperti tergores benda tajam sehingga mendapatkan delapan jahitan.."
"Loh.. kok bisa begitu sih..?"
"Makanya Pak Sean, tadinya kami ingin memberi tau Bang Bima tentang hal ini, tapi malah bertemu Pak Sean lebih dulu.." masih dengan langkah tergesa pengawal itu mencoba membeberkan kronologi kejadian yang menimpa dua rekannya yang telah digelandang polisi.
__ADS_1
"Untuk apa memberitahu Bang Bima? masa kalian tidak mengerti kalau sekarang adalah hari pernikahannya? bagaimana bisa Bang Bima mengurusi hal beginian disaat seperti ini?" Sean berdecak, membuat beberapa orang tersebut sontak menunduk.
"Habisnya Bang Bima telah berkali-kali berpesan untuk tetap melaporkan keadaan yang terjadi dalam situasi apapun, Pak.."
"Tidak usah." pungkas Sean cepat. Sungguh Sean tidak ingin merusak suasana pesta yang sedang berjalan dengan meriah itu, hanya karena persoalan sepele.
"Bagaimana kalau nanti Bang Bima bertanya.."
"Katakan saja tidak terjadi apa-apa dan semua baik-baik saja. Aku yang akan bertanggungung jawab kalau dia memarahi kalian.." bertepatan dengan itu Sean telah tiba digerbang depan.
Kehadiran para wartawan masih ada diluar sana, jauh diluar gerbang utama, dan berada dalam jarak yang aman.
"Jadi polisinya sudah pergi?" tanya Sean lagi memastikan, kepada beberapa orang pengawal yang berdiri siaga didepan pos keamanan.
"Iya, Pak, mereka membawa Adi dan Danu."
Sean mengeluarkan ponselnya, menghubungi pengacara keluarga Djenar agar bisa melakukan upaya awal bagi dua orang anak buah Bima yang ditangkap polisi karena tuduhan palsu.
"Aku kan sudah bilang, aku lupa membawa undangan. Tapi Ayah dan Ibuku ada didalam sana.."
Suara merdu seorang wanita yang berasal dari dalam pos penjagaan keamanan itu telah mengusik pendengaran Sean, membuat Sean yang hendak kembali kepesta usai menjelaskan kronologis secara terperinci pada pengacara via telpon mendadak urung.
"Ada wanita muda yang sejak tadi memaksa masuk, Tuan.."
Sean berbalik dan melongokkan kepalanya. Disana ia mendapati seorang gadis cantik dengan balutan gaun berwarna ungu muda sedang menjelaskan sesuatu dengan bersungguh-sungguh untuk bisa meyakinkan petugas yang ada dihadapannya.
"Maaf Nona, kami tetap tidak bisa mengijinkan Nona masuk kesana, karena Nona tidak membawa serta undangan. Tapi kalau benar kedua orangtua Nona berada didalam dan menjadi salah satu tamu diacara resepsi, maka Nona bisa menunggu mereka dengan sabar ditempat ini.."
"Ada apa ini?" Sean yang melihat kejadian itu memutuskan masuk dan bertanya agar bisa mengetahui secara pasti letak persoalannya.
"Nona ini ingin memaksa masuk ke pesta, Pak. Tapi dia tidak memiliki undangan.."
Mendengar itu Sean nampak mendekat. "Siapa namamu?"
"Namaku Elsa. Elsa Adinda Baskara.." menjawab dengan penuh keyakinan, serta kepercayaan diri yang kuat.
"Baskara..?" ulang Sean pada nama yang terdengar familiar ditelinganya tersebut.
__ADS_1
"Iya Baskara, itu adalah nama Ayahku. Lengkapnya Agung Baskara. Apakah kamu mengenalnya..? kalau kamu mengenalnya itu artinya kamu bisa menolongku, pliss.." telapak tangan gadis cantik bernama Elsa itu nampak bersatu didepan dadanya. Sepasang matanya bersinar penuh permohonan.
"Lalu kenapa kamu tidak datang bersama Ayahmu saja?" tanya Sean.
"Aku baru saja tiba ditanah air karena pesawatku delay dan Ayah bersikeras menyuruhku untuk menyusulnya ketempat ini. Naasnya undanganku tertinggal.. ponselku juga. Karena terburu-buru hendak menghadiri pesta resepsi ini, aku telah meninggalkan semuanya di tas yang sama." Elsa nampak meringis saat menjelaskan panjang lebar tentang duduk perkara mengenai kesulitan yang sedang ia hadapi saat ini, yang diakibatkan oleh keteledorannya sendiri.
Sean menatap gurat wajah Elsa yang dipenuhi ungkapan permohonan. Harus diakui, gadis ini memang mewarisi sebagian besar garis wajah seorang Agung Baskara.
Sean bisa mempercayai jika gadis ini berkata jujur, akibat kemiripan wajah yang begitu nyata, tapi tentu saja dirinya tidak bisa serta merta percaya begitu saja.
"Kalau begitu ikut denganku saja, agar aku bisa mengawasimu langsung." putus Sean.
"Baiklah.. terimakasih.." Elsa pun mengangguk bersemangat, tanpa membuang waktu dan bicara lebih banyak ia telah mengekori langkah lebar milik Sean.
Sepanjang perjalanan tak ada yang bicara diantara mereka, sebelum akhirnya mereka sampai dihalaman belakang rumah keluarga Djenar yang terlihat meriah, dan suara Elsa tiba-tiba terdengar.
"Itu ayahku!" Elsa memekik begitu melihat sosok Agung Baskara yang sedang berbincang akrab dengan Pak Tian.
Tanpa tercegah Elsa melesat cepat mendahului Sean, menuju kearah ayahnya, Agung Baskara. "Ayah.."
Gadis bernama Elsa itu terlihat begitu gembira, langsung memeluk Ayah dan Ibunya bergantian yang terlihat tak kalah terkejut dengan kehadirannya.
"Elsa, ayo sapa dulu Om Tian dan Tante Arini, Nak." ujar pria bernama Agung Baskara itu.
"Halo, Om.. Tante.. salam kenal, aku Elsa."
"Wah, cantik sekali.." Arini menatap gadis itu dengan takjub, tepat disaat yang sama, Sean pun telah bergabung disana.
"Terimakasih, Tante, Tante juga cantik.." puji Elsa dengan keramahannya, yang dengan mudahnya bisa mengambil hati semua orang dalam sekejap.
Dan Elsa pun menatap Sean dengan takjub, manakala detik berikutnya suara Pak Tian terdengar menyela pembicaraan awal yang langsung terasa akrab tersebut.
"Elsa perkenalkan, ini Sean.. anak sulung Om.." ujar Pak Tian bangga, sambil menepuk bahu Sean berkali-kali.
.
.
__ADS_1
.
Next..