PASUTRI

PASUTRI
Berdebar


__ADS_3


Yang belum baca karya pertamaku, yuk mampir.. 🤗


Jangan menyerah dibeberapa bab awal yang membosankan, karena sesungguhnya kisahnya benar-benar limited edition. Ashiyaaappp.. 😅


...


Bima menutup pintu dibelakang punggungnya, sekaligus memutar kenop rosetnya.


Matanya langsung tertuju pada sosok cantik dalam balutan setelan baby doll pendek bercorak Masha and the Bear.


'Tumben.. biasanya juga hello kitty..'


Bathin Bima iseng, saat melirik Seiyna yang asik tenggelam dalam kesibukannya mengutak-atik ponsel, tanpa peduli dengan kehadirannya.


Saat Bima menaruh tas diatas nakas, tatapan Bima langsung tertuju pada kresek berlogo sebuah toko obat yang berwarna biru tua.


Tangan Bima terulur meraih kresek kecil tersebut dan alisnya sontak mengerinyit saat menyadari salep luka didalamnya yang ia beli di toko obat untuk Seiyna masih tersegel dalam kemasan, menandakan bahwa salep yang dibelinya tadi siang itu belum digunakan sama sekali.


"Seiyna, kenapa tangannya tidak diolesi salep..?" ucap Bima sambil menatap Seiyna yang duduk santai berselonjoran kaki diatas ranjangnya.


"Males ah.."


Bima mengerinyit lagi mendengar jawaban asal-asalan itu.


"Lagian gak ada yang bantuin juga.." ucap gadis itu masih dengan wajah acuh, berpura-pura tenggelam dalam kesibukannya yang sedang mengecek beberapa akun sosial media yang ia punya, yang followersnya selalu saja bertambah setiap kali Seiyna mengeceknya, meskipun ia tidak terlalu aktif di media sosial.


Bima terlihat membuka kemasan kotak kecil tersebut, kemudian mendekati Seiyna dengan salep ditangannya. "Masa begitu saja harus dibantuin sih, Seiy." ujar Bima dengan intonasi yang seperti biasa. Tenang dan lembut.


Seiyna memilih membisu, membuat Bima berdiri bingung sebelum akhirnya menatap lagi Seiyna penuh ragu.


"Kalau aku yang bantu olesin salepnya boleh tidak..?" ujar Bima berhati-hati, namun berubah lega campur berdebar begitu melihat Seiyna menganguk dan langsung melipat kedua kakinya. Seolah memberi Bima keleluasaan untuk duduk disana, meskipun tanpa menjawab atau sekedar mengangkat wajahnya dari ponsel.


'Dasar gadis yang sangat manja..'


Bima membathin, mau tak mau bibirnya tersenyum menyaksikan sikap Seiyna yang begitu khas.


Bima menghempaskan tubuhnya kepinggiran ranjang, sambil membuka penutup salep tersebut dengan cara memutarnya.

__ADS_1


"Mana tangannya yang lecet?"


Untuk yang pertama kalinya Seiyna menatap Bima. Ia menaruh dulu ponsel keatas ranjang sebelum menyodorkan telapak tangan kanannya yang lecet akibat perbuatan Rendi tadi siang.


Bima membisu, diam-diam menelan ludahnya begitu ia mulai mengolesi salep tersebut keatas kulit halus yang terlihat memerah ditelapak tangan Seiyna, letaknya berdekatan dengan pangkal ibu jari.


Masih dalam diam Bima tak habis pikir, kenapa jantungnya kini seolah sedang ditabuh orang gila. Berdebar keras, berdetak tak karuan.


Ini adalah kali kedua Bima menyentuh telapak tangan mungil yang super halus itu.


Pertama saat akad nikah mereka, dimana ia memasangkan cincin dijari manis Seiyna yang kemudian disambut Seiyna dengan mencium punggung tangannya, lalu dirinya pun membalas dengan menempelkan bibir di dahi Seiyna dalam hitungan detik.


Dan yang kedua.. ya sekarang ini..!


Sementara itu Seiyna pun merasa hal yang sama. Dadanya berdebar keras seiring dengan rasa dingin yang menjalar di sekujur tubuhnya.


Separuh berasal dari dinginnya salep, namun sebagian besar diakibatkan oleh kulitnya yang meremang saat tersentuh jari Bima yang menyapu kulit telapak tangannya dengan perlahan.


Tatapan keduanya terfokus ditempat yang sama. Sama-sama memperhatikan bagaimana punggung tangan yang lebar milik Bima, dengan tekstur kuat lengkap dengan tonjolan urat disepanjang pergelangan, terlihat sangat kontras dengan jemari tangan Seiyna yang seputih susu, ditambah permukaan kulit yang sangat halus.


Bagi Seiyna pemandangan itu membuatnya merona, ia bisa merasakan kekuatan seorang pria hanya dengan melihat pemandangan pergelangan tangan Bima yang baru kali ini ia memperhatikannya dengan seksama, namun bagi Bima justru sebaliknya.


Bathin Bima kembali terusik, hanya demi menyadari bagaimana sempurnanya putri seorang Sebastian Putra Djenar.


Bima yang seolah tersadar dengan cepat menuntaskan kegiatannya tersebut, bermaksud hendak beranjak secepatnya dari kedekatan yang mulai membuatnya tak nyaman.


"Abang.." Dengan tangan satunya Seiyna menahan kaos Bima, yang hendak menarik diri.


"Iya..?" Bima menyembunyikan rasa terkejutnya, menyadari tangan kiri Seiyna sedang menahan ujung kaos hitam yang dipakainya, sehingga seluruh pergerakan tubuhnya yang hendak beranjak menjauh tertahan ditempat semula.


"Lecetnya bukan cuma disitu.." ekspresi wajah malu-malu dengan suara bernada merajuk manja khas Seiyna, seperti biasa seolah sebuah simphony yang begitu indah ditelinga Bima.


"Masih ada lagi ya? ya sudah sini, biar diolesin sekalian.." ujar Bima berusaha bertingkah sewajar mungkin padahal hatinya sendiri tak karuan.


Bima menelan ludahnya ketika hanya dalam hitungan detik Seiyna telah kembali selonjoran.


Dan dengan dirinya yang kini duduk tepat dihadapan Seiyna, membuat gadis itu dengan acuh menaruh kedua kakinya diatas paha bima begitu saja.


"Egh.. Seiyna.. ini.. ini.." Bima tergeragap.

__ADS_1


"Lutut." pungkas Seiyna cepat, malah tersenyum geli melihat Bima yang terlihat gelagapan.


"Aaaa.. apa..?"


"Lutut aku juga lecet, Abaaanng.." sambil menunjuk kedua lututnya yang memerah dengan bibir yang naik dua centi.


"Oh, egh.. iya.. baik.. baiklah.." Bima mengangguk cepat, berusaha menetralisir setiap inchi kegugupan yang melanda dirinya, terlebih saat melihat kedua betis yang sangat putih, mulus, dan sempurna, kini bertengger manis diatas pahanya.


Glek.


Bima telah bergerak dengan gesit.


Mengolesi kedua lutut yang memerah masih dengan salep yang sama, kemudian berdiri dengan cepat dari duduknya setelah menekuk sedikit kedua kaki Seiyna agar bisa meloloskan dirinya.


Seiyna terkejut melihat gerakan Bima yang secepat kilat. "Abang, ada apaan sih? buru-buru banget?" protes Seiyna begitu melihat gerak-gerik Bima yang seolah sedang dikejar hantu.


"Seiyna, aku baru ingat, malam ini aku belum sempat mengecek langsung pos depan.." ujar Bima sambil berjalan cepat menuju pintu kamar, membukanya, dan langsung menghilang dibalik pintu. Meninggalkan Seiyna yang terbengong heran diatas tempat tidur.


Saat berada diluar kamar Bima terlihat menyentuh dadanya yang berdebar, juga melirik kebawah sana, kebagian tubuhnya yang mendadak seperti memiliki nyawa sendiri karena bangun begitu saja tanpa dikehendaki.


'Astaga Bima, dasar otak mesum..! sejak kapan kamu menjadi sememalukan ini, Bim..?'


Bima mendesis putus asa. Ia berjalan menjauhi pintu kamar Seiyna sambil terus-menerus menanamkan dalam hati, bahwa kedepannya ia harus lebih bisa mengendalikan dirinya lagi.


'Ingat baik-baik, Bima. Dia adalah Seiyna. Seiyna Arianti Djenar, putri kesayangan seorang Sebastian Putra Djenar. Sudah menjadi tugas dan kewajibanmu untuk menjaganya, dengan seluruh jiwa dan ragamu! tolong.. berhentilah memikirkan hal-hal manis lainnya, diluar tugas dan kewajibanmu itu..!'


.


.


.


Bersambung..


Follow yuk!


Ig. @Khalidiakayum


Fb. Lidia Rahmat

__ADS_1


Like, Comment, Vote, dan berikan semua dukunganmu untuk PASUTRI 🙏


Thx and Lophyuu all.. 😘


__ADS_2