
"Sean, jangan lupa sebentar sore pulangnya jemput Riri yah.."
Langkah Sean yang baru saja menuruni anak tangga menuju ruang makan sejenak terhenti. Wajahnya langsung menatap Mommynya dengan raut protes.
"Kenapa harus Sean sih, Momm..?" ujarnya sambil menarik salah satu kursi makan yang ada disana dan menghempaskan tubuhnya.
"Kenapa harus kamu? lah.. memangnya kenapa kalau Mommy menyuruhmu? tidak boleh?" balas Arini sambil menuangkan air mineral dimasing-masing gelas yang telah tertata diatas meja.
"Yah.. tidak apa-apa sih, Momm, tapi.."
"Mommy sudah bilang ke Mommy Meta kalau kamu yang akan menjemput Riri.."
Mendengar itu Sean terdiam. Bukan apa-apa.. selain enggan bertemu Riri, sebenarnya Sean juga merasa enggan bertemu Mommy Meta.
Mommy Meta adalah wanita yang hangat dan suka sekali memanjakan seperti halnya Mommy Arini, itu yang membuat Sean sering merasa risih karena selalu diperlakukan begitu baik.
Apalagi saat menyadari dirinya telah merusak Riri, anak kesayangan Mommy Meta dan Daddy Rico..
Mengingat semua itu Sean selalu merasa lehernya seolah tercekik sesuatu yang tak kasat mata.
Rasa bersalah selalu menampar dirinya setiap saat, sementara sisi hatinya yang lain enggan mengakui dan bertanggung jawab.
"Sean.."
"Iya, Momm.. nanti sepulang kantor Sean kesana.." ujar Sean mengalah seperti biasa, karena dalam hal seperti ini Mommy Arini sama sekali bukan sosok yang bisa dibantah dengan mudah.
"Kemana Sean..?" Tian terlihat muncul diantara mereka, dengan penampilan rapi sama halnya seperti Sean.
Pria itu nampak menarik kursi yang paling ujung dan duduk disana setelah sebelumnya mencium pipi Arini sekilas yang masih saja sibuk menata sarapan diatas meja.
"Menjemput Riri sebentar sore, Dadd.." ujar Sean menjelaskan.
"Ohh.." Tian terlihat manggut-manggut.
"Seiyna belum bangun yah, Sayang?" tanya Arini seraya menatap Tian, begitu tersadar putrinya belum juga berada dimeja itu untuk sarapan.
"Masih tidur. Biarkan saja, semalam tidurnya sepertinya juga kurang nyenyak.."
Arini mengangguk setuju, karena ia juga bisa merasakan kegelisahan Seiyna semalam yang tidur bersama mereka berdua, sehingga sama halnya dengan pemikiran Tian, Arini pun sengaja tidak berusaha membangunkan Seiyna untuk memaksanya sarapan pagi ini.
__ADS_1
XXXXX
"Ri.."
Meta melongokkan kepalanya dari balik pintu kamar Riri.
"Iya, momm?" Riri mengangkat kepalanya dari layar laptop yang menyala.
"Ayo turun, Sean sudah ada dibawah.."
"Iya Momm.." ujar Riri lirih, sambil menutup jendela laptopnya tempat ia mengerjakan tugas dari kampus, sebelum akhirnya menaruh cursor di icon power dan meng-klik perintah shut down.
Saat melakukan semua itu diam-diam benak Riri tengah memikirkan bagaimana ia harus bersikap nantinya saat bertemu Sean untuk pertama kalinya, setelah kejadian malam itu.
Pagi tadi Riri telah mendengar Mommy menceritakan isi telpon Mommy Arini. Intinya Mommy Arini mengutarakan keinginan Seiyna yang menginginkan agar dirinya menginap dirumah megah keluarga Djenar.
Rasanya saat itu Riri ingin menolaknya saja, apalagi saat tau Sean yang akan menjemputnya. Tapi akhirnya Riri tidak jadi protes apalagi menolaknya.
Selain merasa kasihan dengan Seiyna yang sedang memikul beban berat setelah namanya menjadi gunjingan buruk seantero negeri akibat kasus foto dan video yang terkesan mesra bersama Bang Bima dimalam itu, Riri juga yakin Seiyna pasti merasa sangat sedih karena Daddy Tian telah memaksa Seiyna menikah dengan Bang Bima, pria yang sama sekali tidak pernah masuk dalam list daftar tipe pria idaman Seiyna yang selama ini cenderung lebih tertarik dengan pria-pria borjuis selevel mereka yang kebanyakan anak pengusaha sukses, atau anak para pejabat tinggi di negeri ini. Bukan yang kaleng-kaleng.
Mengingat bahwa selama ini dirinya selalu bersemangat setiap kali berencana menginap bersama Seiyna, lalu jika kali ini Riri tiba-tiba enggan dan menolaknya apakah itu tidak akan terlihat aneh?
"Laptopnya mau dibawa juga?"
"Iya, Momm, tugas kampus lagi banyak. Riri mau bawa laptop juga biar dirumah Seiyna nanti bisa nyicil bikinin tugas sedikit-sedikit.."
"Oh ya sudah. Kalau begitu tas Riri biar Mommy yang bantu bawain," ujar Meta seraya menyambar sebuah bag berukuran kecil yang ada diatas ranjang sambil mengamit bahu Riri agar segera keluar dari kamar, menemui Sean yang sejak tadi telah menunggu diruang tamu.
XXXXX
"Sean, lama tidak kesini lagi yah.."
"Iya, Momm.." Sean terlihat salah tingkah menjawabnya, menyadari bahwa sejak hubungannya dengan Rei memburuk, dirinya memang tidak pernah lagi menginjak rumah yang biasanya begitu sering ia datangi ini.
"Komunikasi dengan Rei bagaimana? masih belum nyambung juga..?"
"Belum, Momm.. sepertinya nomorku juga di blokir Rei.."
"Masa sih? separah itu?" Meta terlihat terhenyak. "Bukannya sebelum berangkat kemarin kalian janjian ketemu..?"
__ADS_1
"Rencananya memang mau selesain masalah bertiga dengan Bang Bima. Tapi malah.. " mengambang. Tanpa sengaja Sean melirik Riri sekilas yang langsung menunduk jengah mendapati tatapan refleks Sean padanya.
"Mommy sudah tanya Nisa tentang kejadian malam itu, tapi kata Nisa dia juga kurang paham.." imbuh Meta. "Memangnya apa yang terjadi sih, Sean? kenapa hubungan persahabatan kalian bisa berubah menjadi kesalahpahaman yang besar seperti itu..?"
Kali ini Sean terdiam, ia juga bingung bagaimana harus menanggapi kalimat Mommy Meta, sekaligus salah tingkah sendiri mencari alasan dihadapan Riri yang sudah jelas-jelas mengetahui dengan pasti sumber pesoalan dari kesalahpahaman Sean dimalam itu.
"Ya sudah, tidak usah dipikirkan. Biarkan saja Rei tenang dulu, mungkin setelah kembali nanti Rei bisa diajak bicara baik-baik."
"Aku harap juga begitu, Momm." ujar Sean lesu, tak bisa dipungkiri hatinya cukup sedih jika mengingat hubungannya dengan Rei yang telah merenggang sedemikian lebar.
"Sebaiknya kalian berangkat sekarang. Sampaikan salam Mommy untuk Mommy dan Daddymu.. untuk Seiyna juga ya.."
"Iya, Momm, nanti akan aku sampaikan." kemudian Sean mengambil alih tas Riri yang sejak tadi berada didalam genggaman Meta. "Pergi dulu, Momm."
"Iya, hati-hati dijalan.."
Sean mengangguk takjim sambil beranjak keluar dengan menentang bag milik Riri.
"Mommy, aku pergi dulu yah." Riri memeluk Meta untuk berpamitan.
"Iya, Sayang, hati-hati dijalan, dan jangan lupa hibur Seiyna agar dia tidak selalu teringat dengan kesedihannya." ucap Meta seraya mengecup dahi Riri sekejap.
Riri mengangguk mengiyakan, dan Meta memilih mengantar putrinya itu sampai keteras depan, dimana mobil SUV milik Sean telah terparkir disana.
Meta bahkan terus berdiri disana, sampai mobil Sean berlalu dan hilang dari pandangannya..
.
.
.
Bersambung..
Follow my..
Ig. khalidiakayum
fb. Lidia Rahmat
__ADS_1
Like, comment, favorite, vote, pliss 🤗
Thx and Lophyuu all.. 😘