PASUTRI

PASUTRI
Setuju menikah


__ADS_3

Seiyna tertunduk tanpa daya. Harapannya untuk mendapatkan pembelaan dari Mommy ternyata tidak mendapatkan hasil seperti yang ia harapkan, malah sebaliknya, Daddy terlihat semakin bersikeras.


Seharusnya Seiyna sudah mengetahuinya sejak awal bahwa semua usahanya itu sangat mustahil. Tapi toh ia masih juga berusaha mencoba mencari celah lewat Mommy, meskipun pada dasarnya, jika segala sesuatu sudah mendapat campur tangan Daddy maka semuanya seolah tidak ada gunanya lagi. Percuma. Karena Daddy yang telah membuat keputusan maka mau tidak mau Seiyna harus menerimanya.


Seiyna tau Mommy telah berusaha dengan segala kemampuan untuk menyelamatkannya dari keputusan Daddy yang memaksa Seiyna untuk menikah dengan Bima, dan itu terlihat jelas dari seberapa sembab sepasang mata Mommy saat keluar dari ruangan kerja Daddy.


Namun meskipun Bima sendiri juga telah mengutarakan penolakan dan keberatannya, nyatanya Daddy tetap pada pendiriannya


"Bima, seandainya ayahmu, Beni Sanjaya masih hidup, beliau juga pasti akan kecewa melihatmu yang hingga detik tetap menolak apa yang sudah aku putuskan.." ungkap Tian seraya menatap Bima tajam.


"Pak Tian.. maafkan aku. Penolakanku bukan karena aku sedang menolak Seiyna apalagi menolak keputusan Pak Tian. Tapi semata-mata karena aku sadar siapa diriku.."


"Yang dikatakan Bima itu benar, Sayang. Mana mungkin Bima yang hanya pengawal bisa menikahi Seiyna.."


"Arini."


Tegur Tian seraya menatap tajam Arini yang telah menyela begitu saja kalimat Bima yang bahkan belum selesai terucap sepenuhnya.


"Bukankah tadi kita sudah mendapatkan titik kesepakatan sebelum kita melangkah keluar dari ruang kerjaku? kenapa sekarang kamu memulainya lagi..?"


Arini terlihat menggeleng gugup. "Sayang, aku.. aku hanya.. aku hanya mencoba menjabarkan warna perasaan Bima. Itu saja.." elak Arini gelagapan.


Tian terlihat menarik nafasnya dalam-dalam. "Aku tau, hari ini dihadapan kalian semua, aku sedang berdiri sendirian. Tidak ada satu orang pun yang bersedia untuk berdiri disampingku dan mendukung keputusanku dengan lapang dada.."


Saat mengatakannya, Tian menatap satu persatu wajah-wajah tertunduk milik Arini, Seiyna, Bima, bahkan Sean.


Saat ini intonasi suara Tian tidak lagi terdengar mengeras, melainkan cenderung lirih.


"Baiklah.. aku mengerti. Bisa jadi keputusanku ini keliru, dan detik ini juga aku akan mengalah. Aku akan mengalah kepada kalian semua.."


Mendengar kalimat Tian tersebut empat kepala yang masing-masing tertunduk dalam diam itu sontak mendongak nyaris bersamaan, terkejut bercampur heran, serta sedikit sanksi.

__ADS_1


"Lalu kemudian tolong katakan padaku, apa yang harus aku lakukan..? haruskah aku kembali mengundang wartawan dan meralat semua keputusan yang telah aku buat dan aku katakan tadi siang..? disaat seluruh negeri ini telah mendengar pernyataanku.. perlukah aku melakukan semua itu demi kalian..?"


Empat wajah tersebut masing-masing terlihat menelan ludah kelu, seolah baru saja menyadari sebuah sebab akibat yang luput dari pemikiran mereka.


"Lalu apa yang harus aku katakan..? apa setelah aku meminta maaf tentang pemberitaan putriku yang telah menjadi buah bibir diwajah pubik, aku harus meminta maaf lagi karena telah membohongi semua orang dengan sebuah pernyataan..?"


Hening. Perkataan Tian ibaratnya sebuah tamparan keras di udara.


"Aku telah membohongi seluruh masyarakat dinegeri ini dengan sebuah pernyataan resmi. Aku melakukannya begitu saja tanpa pertimbangan, sebagai seorang Ayah yang merasa gagal jika tidak bisa secepatnya membebaskan nama baik putriku dari kecaman.. hinaan.. trending berita yang buruk.."


'Daddy.." Seiyna bangkit dari duduknya serta merta, langsung menghambur memeluk Tian yang berdiri dihadapan mereka dengan wajah yang kaku, menekan beribu rasa getir yang bercampur satu diulu hatinya.


Terasa begitu nyeri, dan sakitnya benar-benar bisa membuat Tian seolah merasa sedang sekarat.


Rasanya Tian belum pernah mengalami hujatan yang begitu menyakitkan seperti saat ini. Meskipun selama ini Sean cukup sering membuatnya pening dengan berbagai kisah petualangan putra sulungnya yang sering berkencan dan berganti wanita setiap saat, tapi berita tentang keburukan akhlak putrinya yang menyebar kemana-mana.. rasanya sungguh sulit ia terima.


Hal itulah yang membuat Tian tidak lagi berpikir dua kali saat mengambil keputusan besar.


Karena selain kekhawatirannya akan keberanian Seiyna yang telah berani melanggar nasehat hanya demi menemui seorang pria disebuah club malam, Tian semakin merasa berkali-kali lipat lebih paranoid, hanya dengan membayangkan pergaulan Seiyna kedepannya.


Dan semua ketakutan itu telah mengarah pada sebuah jalan keluar, yang selama ini belum pernah terpikirkan dibenak Tian sama sekali, yakni menyerahkan Seiyna kepada orang yang ia percaya bisa menjaga dan melindungi putrinya dengan baik.


Tian merasa takut jika ia terlambat menyediakan masa depan yang baik untuk Sean Terlebih Seiyna disaat umurnya sekarang bahkan tidak muda lagi.


"Daddy, maafkan aku. Aku telah membuat Daddy sedih seperti ini.. aku telah mengecewakan Daddy dan membuat Daddy malu.."


"Sssstt.. sudah, jangan menangis lagi.." bujuk Tian seraya mengusap punggung Seiyna yang terisak sambil memeluknya dengan erat.


"Aku janji mulai detik ini aku akan mendengarkan Daddy dan tidak akan pernah melanggar perintah Daddy dan Mommy lagi.." lirih suara Seiyna kembali menyeruak serak diantara derai air matanya.


"Daddy percaya padamu, Sayang.. karena kamu adalah putri Daddy yang baik.." ujar Tian sambil mencium ubun-ubun Seiyna, mencoba terus menenangkan putrinya yang semakin memeluk erat seraya terisak hebat disana.

__ADS_1


Melihat pemandangan itu Arini hanya bisa menyusut kedua matanya yang kembali menghangat dalam diam, sedangkan Sean dan Bima tertunduk dalam.. tak kuasa menatap adegan yang sanggup mengoyak kerasnya hati siapapun yang melihatnya.


XXXXX


"Mommy.. boleh tidak Mommy meminta ijin Mommy Meta agar Riri bisa menginap dirumah ini lagi, dan menemani aku selama dua hari ini..?" Seiyna memeluk lengan Arini. Pipinya bahkan menempel erat disana.


Ini bukan yang pertama kalinya Seiyna meminta tidur dikamar Tian dan Arini, karena gadis itu memang sering bertingkah seperti itu setiap kali ia merasa ingin bermanja-manja.


Dan malam ini Seiyna telah merengek lagi, agar dirinya bisa tidur dikamar kedua orangtuanya, benar-benar memposisikan dirinya diantara Arini dan Tian meskipun sejak tadi tubuhnya terus membelakangi Tian, memilih menyamping kearah Arini dan memeluk erat disana, seperti kebiasaannya selama ini.


"Iya, Sayang.. Mommy akan menelepon langsung Mommy Meta besok pagi, untuk meminta Riri kesini yah.." ucap Arini lembut seraya mengusap kepala Seiyna dan mengecup pipi Seiyna berkali-kali.


"Terima kasih, Momm.." Seiyna semakin mengetatkan pelukannya, membuat Arini tersenyum mendapati tingkah polah putrinya yang masih teramat sangat kekanak-kanakan itu.


"Sama-sama, Sayangku.." ucap Arini seraya mengelus punggung Seiyna penuh kasih sayang.


Seiyna memang masih sangat manja dengan Arini, sebaliknya Arini juga selalu memperlakukan Seiyna tak ubahnya dengan memperlakukan balita.


Karena itulah mendapati kejadian yang telah mengguncang jiwanya tadi siang sempat membuat Arini merasa down, meskipun akhirnya mencoba bangkit sekuat tenaga, kembali menjadi sosok wanita kuat yang bisa menjadi pegangan, tumpuan dan sandaran bagi Seiyna. Mencoba tetap tegar meskipun kenyataannya hatinya begitu sakit menerima kenyataan.


Tian yang saat ini masih duduk dengan bersandar dikepala ranjang sambil memangku sebuah laptop, hanya melirik sejenak kedua wanita yang sangat ia cintai dengan sepenuh jiwanya itu.


Meskipun sejak tadi hanya diam dan tenggelam pada aktifitasnya mengevaluasi beberapa laporan interen milik Indotama Group yang masuk dari masing-masing divisi sejak tadi sore, namun tak urung telinganya tetap bisa menyimak pembicaraan ringan antara Arini dan Seiyna yang ada disampingnya itu dengan seulas senyum.


.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


Jangan lupa Like dan Favoritekan yah.. 😀


Lophyuuuuuu 😘


__ADS_2