PASUTRI

PASUTRI
Permintaan Maaf


__ADS_3

"Kenapa tidak diangkat?" Nisa memberanikan diri bertanya begitu Rei telah mengacuhkan dua kali panggilan telpon yang sepertinya masih dari orang yang sama.


"Ngapain? gak penting banget.." seloroh Rei sambil ngeloyor begitu saja kearah ranjang, langsung menghempaskan tubuhnya disana dengan sikap acuh.


Melihat pemandangan itu membuat Nisa mengerinyit heran. Semakin penasaran dengan siapa gerangan si penelepon sehingga ia memutuskan untuk memburu Rei yang tengah terlentang dengan mata terpejam.


"Rei.." usiknya, yang tau pasti bahwa meskipun mata Rei terpejam sempurna, tapi Rei tidak mungkin bisa tidur secepat itu.


"Hhmm.."


"Siapa sih..?"


Menanggapi pertanyaan kepo Nisa, guratan bibir Rei malah menyunggingkan seulas senyum.


"Rei..!"


"Mau tau banget apa mau tau aja..?" bertanya sambil membuka sebelah matanya, mengintip Nisa yang berdiri tepat disebelahnya dengan tawa mengejek.


"Ish..!" mengetahui niat Rei yang sengaja ingin menggodanya membuat Nisa refleks menyambar guling yang tersusun diatas kepala Rei dan langsung menimpuk wajah tampan yang sedang tersenyum usil itu.


"Aduhh.." Rei sontak terkejut, tak menyangka sama sekali jika Nisa nekad melakukan hal itu kepadanya.


"Rasain.." Nisa memeletkan lidahnya sambil buru-buru berniat menghindar namun tak disangka Rei telah mendahului gerakannya dengan menyambar pergelangan tangan mungilnya secepat kilat dan menariknya kembali.


"Tidak semudah itu melarikan diri..!" usai berucap demikian Rei telah benar-benar menarik pergelangan tangan Nisa hingga terhuyung kebelakang dan..


Bukk..!


Tubuh Nisa jatuh begitu saja menimpa tubuh Rei dengan posisi terlentang menghadap langit-langit kamar yang berwarna putih bersih.


"Aaaa.. Rei, apa-apaan sih..?!" panik Nisa begitu menyadari betapa memalukannya posisi tubuhnya saat ini yang sedang menggencet tubuh kekar Rei yang berada tepat dibawahnya.


"Egh.. maaf.. maaf.." Rei yang berada dibawah tubuh Nisa juga tak kalah panik menyadari posisi tubuh mereka yang terasa begitu aneh. Mending kalau berhadap-hadapan, kan bisa kelihatan seperti sedang berpelukan.. tapi ini kedua tubuh mereka dua-duanya menghadap keatas dan saling bertindihan.


Nisa yang menggeliat dan tak sabar memberontak dari posisi yang memalukan itu akhirnya memilih menggulingkan tubuhnya kesamping tubuh Rei.


"Oh.. astaga bukan main.." Rei refleks bergumam tanpa sadar, membuat Nisa mendongak guna mendapati wajah Rei yang seolah tanpa dosa.

__ADS_1


"Apanya yang bukan main..?" sembur Nisa dengan tatapan horor.


"Aku tidak menyangka, ternyata kamu berat juga, Nis.."


Nisa melotot mendengarnya. "Kamu mau bilang aku gendut..?"


"Tidak.. tidak gendut.. hanya saja lumayan.."


"Lumayan apa..?" kejar Nisa lagi penuh selidik.


Rei menggeleng cepat, ia memilih tidak mengatakannya, takut jika Nisa akan semakin kesal karena kenyataannya yang ada dipikiran Rei adalah bayangan tentang semon tok apa sih tubuh Nisa sebenarnya, apalagi saat mengingat kembali moment saat pan tat gemoy Nisa mendarat mulus tepat diatas adik kecilnya. Awalnya memang terasa sakit karena sedikit terbentur, tapi kemudian saat merasakan tubuh Nisa yang bergerak-gerak gelisah diatas tubuhnya.. si adik dengan polosnya ikut-ikutan gelisah.


Bukk..!


"Aduhh..!" Rei tersentak dari lamunannya lagi begitu guling yang sama kembali mendarat mulus diwajahnya. "Nisa, apa-apaan sih..?!" protesnya.


"Aku mencurigai pikiranmu..!" cibir Nisa, tangannya kembali mengayun hendak menimpuk wajah Rei kembali namun kali ini Rei telah bertindak tegas dengan menahan laju pergerakan guling tersebut diudara, menepis guling yang seolah berubah menjadi senjata andalan Nisa sehingga guling itu menggelinding jatuh kelantai, sementara kedua tangan Nisa telah ia kumpulkan satu keatas kepala gadis itu, menguncinya hanya dengan satu tangannya yang mencengkeram dengan kuat.


"Masih berani menimpuk suami..? tidak takut dosa..?" ancam Rei menatap penuh Nisa yang sedang berada dibawahnya, namun yang ia dapat malah tatapan mengejek wanita itu.


"Cihh suami.."


"Canda suami.." ejeknya lagi masih dengan tawa yang sama, membuat Rei yang entah mendapat dorongan darimana tiba-tiba saja telah mencondongkan wajahnya kewajah Nisa, menyisakan jarak kurang dari dua centi.


"Egh..?" Nisa langsung terdiam dengan wajah memerah, saat menyadari wajah Rei telah begitu dekat dengan wajahnya sendiri. Jantungnya berdebar keras.. nafasnya tercekat..


"Aaaa..!!"


Suara terpekik dari bingkai pintu yang terpentang menyadarkan Rei dari aksi gila yang hampir mengalahkan logikanya.


Saat ia dan Nisa sama-sama menoleh, mereka berdua melihat sosok Riri yang nampak shock dan salah tingkah begitu menyadari bahwa sepertinya ia telah melakukan kesalahan besar dengan muncul ditempat yang salah, juga diwaktu yang salah.


"M-maaf Kak Rei.."


"Dasar bocil..!" Rei mengutuk kesal sambil turun sekaligus dari atas tubuh Nisa dan dari ranjangnya.


Rei melangkah mendekati Riri yang terlihat memerah, malu setengah mati karena tanpa sengaja telah menjadi saksi hidup, saat menyaksikan posisi yang telah begitu intim antara Kakaknya dan Kakak iparnya itu.

__ADS_1


"Makanya jangan main masuk kamar oranglain dengan gaya nyelonong kayak maling..!" omel Rei, namun Riri malah mendengus mendengarnya.


"Jangan salahin Riri dong.. lagian sudah tau mau bermesraan tapi pintunya tidak dikunci.." Riri membela diri sebelum sebuah jitakan gratis khas Rei Kakaknya mampir kejidatnya dengan sukarela.


"Cihh.. ya sudah, cepat katakan mau apa kamu kesini?" ujarnya galak, sambil kemudian berucap sangat lirih dengan intonasi yang dongkol. "Mengganggu saja.."


Riri terlihat cemberut sambil mengacungkan ponselnya kehadapan Rei. "I-ini.. Kak Sean, mau bicara dengan kakak katanya.. penting.." ucap Riri seraya menyerahkan ponselnya yang ternyata sudah sejak tadi berada dalam mode panggilan yang tersambung dari Sean.


Ternyata setelah gagal menghubungi ponselnya, sahabatnya yang playboy itu malah menghubungj ponsel Riri.


Mendapati kenyataan itu, meskipun dengan enggan karena tidak punya alasan lagi untuk menghindar akhirnya Rei menerima juga ponsel Riri.


"Ada apa lagi..?" itu adalah kalimat pertama yang terlontar dari bibir Rei, mengiringi langkahnya yang terayun menjauh kearah balkon kamarnya.


"Maaf.. mengganggumu.."


Rei membisu begitu mendengar suara Sean yang ada diseberang. Hatinya sedikit tersentil setelah menyadari ada setitik kerinduan disudut hatinya untuk Sean, karena seumur hidup ia mengenal Sean, ini adalah konflik pertama mereka yang membuat mereka berdua saling tidak bicara satu sama lain.


Sejak kecil Rei sudah mengenal Sean. Mereka sering bermain bersama, bahkan bisa dibilang tumbuh bersama. Sean dan dirinya selalu disekolahkan ditempat yang sama oleh kedua orangtua mereka yang juga merupakan sahabat dekat. Saking dekatnya.. saat Rei memutuskan untuk meneruskan kuliah di salah satu universitas ternama dalam negeri, Sean pun ikut membatalkan niatnya untuk meneruskan study ke luar negeri tanpa bisa dihalangi oleh kedua orangtunya.


Yah mereka berdua memang terlalu sering bersama, sudah seperti saudara. Untuk itulah Rei merasa sangat marah, menyadari Sean bahkan mencoba menggoda Liliyana, yang notabene merupakan pacarnya. Rei tau Sean punya banyak wanita.. tapi.. kenapa juga harus Liliyana..?


Tidak. Ini bukan karena Liliyana, melainkan karena dirinya. Bagaimana mungkin Sean tidak memandangnya sedikitpun. Apakah arti sahabat, bagi Sean tidak ada artinya?


"Katakan saja apa yang mau kamu katakan. Tidak usah basa-basi.." pungkas Rei datar.


Hening sejenak.. sebelum akhirnya..


"Rei.. maaf.."


.


.


.


Pliss sebelum lanjut di LIKE dulu yah, Author mau kejar target untuk novel ini biar bisa dapat level untuk kontrak, menjelang CTIR tamat.. 🤗

__ADS_1


Sudah LIKE, yuk gaskeuunn.. bab selanjutnya.. 🥰


__ADS_2