
"Sayang.. ini Daddy.. jangan nakal didalam sana yah, jangan buat Mommy sakit lagi.. oke..?"
Riri yang kini duduk berselonjor kaki tertawa kecil melihat tingkah Sean yang sejak tadi terus memeluk dan bicara dengan perutnya dibawah sana.
Posisi tubuh Sean berbaring menelungkup sambil wajah tampannya bertumpu di pangkuan Riri.
Tangan pria itu bahkan tidak pernah lelah mengelus dan membelai, bibirnya terus mengecup, dan kepalanya begitu sering tenggelam hanya untuk mengendus kulit perut Riri yang masih terlihat cukup datar bak seorang yang sedang gemas.
Ini adalah sisi dari seorang Sean yang benar-benar baru kali ini diketahui Riri, karena selama ini, pria dingin yang bahkan sepertinya tidak terlalu suka bicara apalagi dengan sembarang orang itu kini malah terlihat begitu manja, lembut, dan sangat penyayang.
"Siang ini kita akan menemui nenekmu yah sayang.."
Mendengar itu alis Riri bertaut. "K-Kak.. apakah kita.."
"Iya, kita temui Mommyku dulu. Aku butuh seseorang yang harus berada dipihakku untuk melindungiku sebelum Daddy akan menghancurkan aku.." ujar Sean ringan, seolah tanpa beban.
"M-menghancurkan..?" mata Riri serentak melotot.
Inilah yang Riri takutkan sejak awal. Perihal mengapa ia menyembunyikan semuanya karena Riri juga begitu takut untuk menghadapi Mommy dan Daddy. Belum juga dengan Rei, kakaknya yang terkenal over protektif itu.
Mendapati ketakutan Riri, Sean pun bergegas bangkit. Ia duduk melipat kaki disisi gadis yang sedang diliputi kekhawatiran tersebut.
"Jangan khawatir, aku memang harus menerimanya, sebagai pertanggungjawaban dari kesalahanku padamu. Belum juga saat aku harus menghadapi Daddy dan Mommymu.. juga kakakmu Rei.."
"Kak, aku takut.." cicit Riri dengan wajah memucat, namun Sean malah tersenyum datar menanggapinya.
"Tidak perlu takut. Lama atau cepat aku memang harus menghadapinya."
"Tapi bagaimana kalau Daddy dan Kak Rei memukulmu? aku juga tidak mau Daddy Tian menghancurkanmu.. semua itu terdengar menakutkan.."
Kali ini Riri bahkan telah merengek sambil menarik ujung kaos Sean. Bulir air matanya jatuh berlomba-lomba disana, tapi yang ada Sean malah tertawa.
"Kak Sean, kenapa malah tertawa sih?! aku benar-benar takut, Kak..!!" protes Riri kesal, masih sambil menangis melihat Sean yang malah menertawakan dirinya.
"Ha.. ha.. ha.."
"Kak Sean..!!"
"Iya.. iya maaf.. aku hanya tidak menyangka kamu bisa mengkhawatirkan aku begitu rupa.." berucap lagi sambil mengulum senyum.
"Ishh..!" Riri semakin kesal, karena Sean malah menggodanya.
"Iya.. iya.. maaf.." Sean menarik tubuh Riri lagi kedalam pelukan. "Maaf yah.. Mommy.." bisik Sean lembut ditelinga Riri, mampu meredam kekesalan hati Riri yang berganti dengan perasaan bahagia, hanya dengan mendengar Sean menyebutnya 'Mommy'.
Riri bahkan masih merasa semua yang terjadi ini seperti mimpi.
Sejak tadi terus berada didekat pria yang sangat ia inginkan selama ini, dan mendapatkan semua curahan kasih sayang melimpah.
Mereka terus berpelukan seperti itu dalam diam.
"Riri, meskipun semuanya terlambat tapi aku tetap ingin mengatakannya." Sean berucap saat memecah keheningan diantara mereka. "Maafkan aku. Maafkan aku karena telah membuatmu menderita seperti ini.." lirih suara Sean terdengar.
"Maafkan aku juga, kak, karena telah menyembunyikan semua ini darimu.." jawab Riri dengan nada yang sama lirihnya.
Sean sedikit mengurai pelukan tersebut. "Aku tidak habis pikir.. bisa-bisanya kamu hanya diam setelah mengetahui semua ini. Memangnya kamu sedang merencanakan apa..?" alis Sean bertaut saat menatap lekat wajah halus Riri, sehingga tangannya tak tahan untuk membelai pipi yang mulus itu.
"Tidak ada, Kak. Aku hanya takut mengatakannya kepada siapapun. Aku hanya berpikir untuk menjaganya saja karena aku tidak tau harus melakukan apa. Aku takut, tapi aku juga tidak ingin ketakutanku mempengaruhi sedikit keberanianku yang tersisa untuk menghadapi semua ini.."
"Riri, terima kasih.." Sean mendekap tubuh mungil itu lagi.
Riri mendongak guna mendapati sepasang mata kelam milik Sean. "Terima kasih untuk apa?"
"Karena kamu telah menjaga milikku dengan baik.." desis Sean, segenap hatinya sungguh terenyuh karena menyadari, meskipun dalam ketakutan dan kesedihan, Riri tidak pernah berpikir untuk menghilangkan janinnya. Malah sebaliknya berusaha menjaganya dengan baik, meskipun pria brengsek yang seharusnya bertanggung jawab malah tidak peduli sama sekali.
Tidak menjawab, tapi Sean bisa merasakan Riri semakin mempererat lingkaran tangannya, semakin membuat tubuhnya masuk dalam pelukan Sean.
Matahari pagi mulai membias dari balik tirai jendela kamar manakala Sean kembali membaringkan tubuh Riri keatas peraduan.
Keduanya terlihat sangat menikmati manakala mereka berdua terus bercumbu dipagi hari.
Namun kemesraan keduanya terjeda begitu nada dering yang terdengar dari ponsel Sean berdering dengan volume rendah.
__ADS_1
"Sebentar.." bisik Sean sambil bangkit guna meraih ponselnya. Alisnya bertaut begitu mengetahui identitas penelpon.
'Tumben Mommy menelpon sepagi ini. Ada apa..?'
Bertanya dalam hati sambil memutuskan untuk menerima panggilan tersebut.
"Halo, Momm..?"
"Sean, kamu dimana? semalam kamu tidak pulang yah..? saat ini Mommy berada didalam kamarmu dan kamu tidak ada.."
"Aaaa.. i-iya Momm, ada apa..? kenapa Mommy mencariku sepagi ini?" Sean menjawab dengan sedikit tergeragap.
"Sean, Mommy memberimu waktu untuk berpikir, bukannya dipergunakan sebaik mungkin tapi malah seperti ini. Lagi-lagi tidak pulang kerumah, astaga Sean.. kapan kamu berubah sih..? Daddy mu saja dulu tidak senakal dirimu.."
Sean memutar bola matanya, menyadari Mommy yang selalu tak pernah bosan mengomel dan berakhir dengan membandingkan dirinya dengan sifat Daddy dimasa lalu.
"Baiklah Momm.. maaf.."
Mau berkata apa lagi selain 'maaf'..?
Karena lebih baik minta maaf daripada harus berdebat panjang dengan wanita super power seperti Mommy.
Disaat yang bersamaan Riri terlihat beringsut turun dari ranjang.
"Aku mau ke dapur.. aku haus.."
Begitu kira-kira gerak bibir Riri saat menatap Sean yang masih berada dalam pembicaraan di ponsel.
Sean mengangguk.
"Bawakan aku juga segelas air. Aku juga haus.."
Ujar Sean lewat gerakan bibir tanpa suara, yang disambut Riri dengan anggukan tanda mengerti, sebelum gadis itu menyelinap keluar melewati pintu kamarnya.
"Momm.. memangnya ada apa mencariku sepagi ini..?" tanya Sean begitu punggung Riri menghilang dibalik pintu.
"Huhhhfhh.."
"Mommy hanya ingin memberitahu, bahwa Daddy mendadak harus ke Malaysia pagi ini."
"Jadi Mommy akan ikut Daddy..?"
"Begitulah.."
"Momm, tapi aku harus bicara dengan Mommy dulu.." pungkas Sean begitu mengingat misinya untuk membawa Riri menemui Mommy terlebih dahulu.
"Tunggu saja sampai Mommy kembali. Tidak sampai seminggu.."
"Tapi ini penting, Momm.."
"Tentang keputusanmu kan? tidak usah khawatir, Mommy akan menelpon Ibunya Elsa, agar begitu Mommy kembali kalian akan langsung bertunangan.."
"Bukan seperti itu, Momm.." potong Sean cepat dengan nada kalut.
"Apa maksudmu? bukannya kemarin kita sudah bicara? kamu sendiri yang mengatakan terserah.."
"Tapi Momm.."
"Sudahlah Sean, Mommy tidak mau mendengar apapun, apalagi keberatanmu.."
"Momm.."
"Setelah ini Mommy akan langsung menelpon Nyonya Agung Baskara.."
"Mommy, aku bilang jangan..!"
"Sean, apa kamu sekarang sedang membentak Mommy..?"
"B-bukan begitu Momm. Tapi.. tapi.. makanya Mommy jangan pergi dulu, aku ingin mempertemukan Mommy dengan seseorang.."
"Kamu ingin mengecoh Mommy..?"
__ADS_1
"Ya ampun Mom, please.."
"Katakan kenapa?"
Sean menelan ludahnya yang terasa kelu. "Karena.. karena.."
"Karena apa?"
"Momm, aku ingin berkata jujur. Maafkan aku.. aku.. telah membuat kesalahan.."
Hening.
"S-Siapa..?"
Arini merasa nada suaranya terdengar mulai bergetar, mungkin karena dirinya sudah mulai bisa menebak kemana arah pembicaraan Sean.
"Mommy satu-satunya harapanku. Tolonglah aku Momm, please.."
"Siapa, Sean..?!"
Suara diseberang terdengar mengeras tak sabar, membuat Sean kini menahan nafasnya.
"Riri.."
"A-apa..?! R-Riri.. anak Mommy..?!"
"Iya, Riri anak Mommy Meta, anak Mommy juga.." mengatakan hal itu karena pada kenyataannya selama ini bagi Mommy, Riri diperlakukan nyaris tak ada bedanya dengan Seiyna, begitupun sebaliknya Seiyna dimata Mommy Meta.
"S-Sean, kamu.. kamu.. benar-benar keterlaluan..! melakukan hal ini kepada Riri..? Mommy tidak akan memaafkanmu..! cepat katakan dimana kamu sekarang..?!"
"Aku.."
"Jangan katakan kamu lagi-lagi mengendap-endap kesana disaat Riri sendirian.."
Sean menggaruk belakang kepalanya, bingung menjawab karena pada kenyataannya tebakan Mommy tak ada satupun yang meleset.
"Sean, kamu benar-benar keterlaluan..!!"
"Mommy, please.. tolonglah aku Momm, aku tidak tau bagaimana harus melindungi diriku dari Daddy."
"Itu lebih baik."
"Momm, please.. kalau tidak bisa melakukannya demi aku, tolong lakukan demi Riri. Karena saat ini.. Riri.. Riri sedang.. mengandung cucu Mommy.."
Ponsel ditangan Arini nyaris terlepas. Perasaannya terasa bercampur aduk, namun mendengar Sean mengatakan bahwa ia akan memiliki seorang cucu, Arini tak bisa memungkiri bahwa hatinya ikut bahagia.
"C-cucu Mommy yah, Sean..? kamu.. tidak sedang membohongi Mommy kan..?"
Sepasang mata Arini tiba-tiba tergenang. Sangat terharu dan bahagia luar biasa.
"Iya, mom.. anakku, itu artinya cucu mommy." bisik Sean bangga namun tak kalah haru, menyadari suara Mommynya yang telah terisak diseberang.
Bersamaan dengan itu, suara pintu kamar Riri terdengar diketuk dari luar dengan perlahan, sebelum akhirnya terbentang sempurna.
Sean yang mengira itu Riri langsung menatap kearah dimana daun pintu itu terbentang, sebelum akhirnya sepasang matanya melotot kaget, bibirnya bergetar hebat, seiring dengan ponsel yang ada ditangannya yang meluncur kelantai begitu saja..
"Sean..? k-kamu..?!"
.
.
.
Bersambung..
"Hayooo.. siapa coba, yang nge-gep Sean lebih dulu..?" 😅
Double up..!!
Banyakin like, support, vote nya doooonggggg.. 😀
__ADS_1
Thx and Lophyuu all.. 😘