PASUTRI

PASUTRI
Hujan dan petir


__ADS_3

"Tidak. Tidak boleh.." Tian terlihat menggelengkan kepalanya berkali-kali dengan tegas, meskipun dua pasang mata dari dua wanita dihadapannya telah menatapnya dengan pandangan memohon.


"Sayang, kamu kan tau sendiri selama ini Seiyna tidak pernah tidur sendiri dalam cuaca seperti ini. Diluar sedang hujan deras, ada anginnya, ada petirnya juga. Sejak dulu kamu tidak pernah keberatan jika Seiyna tidur dengan kita, tapi kenapa sekarang.."


"Kau ini.." bukannya mengalah Tian malah terlihat melotot kearah Arini yang sejak tadi terus membujuknya demi memuluskan keinginan Seiyna untuk tidur dikamar mereka seperti biasanya.


Sementara Seiyna terlihat masih menunduk sambil memeluk kuat-kuat boneka hello kitty kesayangannya dengan bulir air mata yang berlinang.


Sebenarnya Tian sungguh tidak tega melihat pemandangan tersebut, bagaimana pun selama ini Seiyna telah tumbuh menjadi gadis super manja karena dirinya terlebih Arini yang selalu saja meluluskan apapun keinginan Seiyna dan memanjakannya.


Seiyna sendiri kali ini merasa teramat sangat sedih. Seumur hidup baru kali ini Daddynya menolak dirinya yang hendak tidur mengungsi dikamar kedua orangtuanya.


"Arini, sekarang Seiyna sudah menikah. Dia sudah punya suami. Masa iya kamu masih mengijinkannya tidur dikamar kita, apa kata Bima nanti.."


"Tapi kata Bang Bima malam ini dia tidak akan pulang, Dadd.." ujar Seiyna dengan wajahnya yang semakin memelas meminta dikasihani.


"Nanti Daddy yang akan menyuruhnya pulang. Pergilah kembali kekamarmu dan tunggu Bima disana." titah Tian tegas, mau tak mau membuat Seiyna kembali tertunduk lesu, sebelum akhirnya berjalan keluar dengan langkah gontai.


"Sayang, kamu keterlaluan.." Arini menghentakkan kakinya kesal begitu punggung lesu milik Seiyna hilang dibalik pintu kamar mereka.


Tian menggeleng-gelengkan kepalanya mendapati kekesalan Arini. Istrinya itu selalu seperti itu, terlalu memanjakan kedua anak mereka hingga batasan yang terkadang tak terjangkau akal sehat Tian.


"Sudahlah, ini demi kebaikan rumah tangga mereka juga." ujar Tian sambil beranjak mengambil ponselnya yang ada diatas nakas.


Sambil berdiri tegak menatap keluar dimana pekatnya malam yang dihiasi hujan dan angin nampak menggoyangkan seluruh daun dari segala tumbuhan yang ada diluar sana.


Tian telah menekan sederet nomor yang berada disalah satu kontak pentingnya, berusaha menghubungi ponsel Bima.


XXXXX


Awalnya Bima memang berencana tidak pulang lagi kerumah.


Ia telah memutuskan untuk menemani Sean yang sedang menjaga Riri dirumah sakit bersama beberapa orang anak buahnya, dan ia pun sudah memberitahukan Seiyna tentang hal itu.


Namun telpon dari sang ayah mertua membuat seluruh rencana Bima berubah total.


"Masih dirumah sakit, Bim?" itu kalimat pembuka ayah mertuanya begitu ia mengangkat panggilan tersebut.


"Iya, Dadd. Ada apa?"


"Pulanglah kerumah dan temani Seiyna. Seiyna selalu takut tidur sendirian kalau cuaca sedang buruk. Masa iya sudah menikah masih mau tidur sama Daddy dan Mommy lagi..?"


Bima terdiam sejenak mendengar ucapan to the point tersebut. Entah kenapa Bima bisa melupakan hal penting itu, bahwa sejak kecil Seiyna memang selalu ketakutan setiap kali terjadi hujan deras yang disertai petir dan angin kencang.


"Iya, Dadd, aku akan pulang sekarang." Bima menjawab dengan patuh, sambil berdiri dari duduknya disalah satu kursi rumah sakit yang berjejer.


"Bim.."


"Iya Dadd..?"


Hening sejenak.


"Kedepannya, apapun pekerjaanmu, sesibuk apapun.. kamu tetap harus pulang.."


Langkah Bima terhenti sejenak, tapi tidak menyela.

__ADS_1


"Jangan biarkan seorang istri merasa cemas semalaman hanya karena menunggu suami yang tidak kunjung pulang kerumah. Entah karena pekerjaan.. apalagi jika hanya untuk melakukan hal-hal yang sudah tidak pantas lagi dilakukan. Karena dimata Daddy, kamu dan Sean.. sudah tidak ada bedanya. Semuanya anak lelaki Daddy, yang sudah sepatutnya Daddy nasihati."


Bima benar-benar terdiam mendapati nasihat tersebut. Ulu hatinya sedikit tertohok, karena ini kali pertama ayah mertuanya memberinya nasihat perihal rumah tangganya dengan Seiyna.


Bima bahkan berpikir, bahkan bukan hal yang mustahil jika kronologi kejadian semalam tentang apa yang dilakukan dirinya dan Sean telah sampai ditelinga Pak Tian.


Bima menelan ludahnya kelu. "Dadd.. aku minta maaf. Aku berjanji akan mengingat semua nasihat Daddy.." ujar Bima lagi dengan nada yang dipenuhi penyesalan.


XXXXX


Tidak berapa lama kemudian Bima pun telah melesat keluar dari area Rumah sakit Indotama Medical Centre, dengan rubicon hitam miliknya.


Melesat membelah jalanan yang lembab yang terus diguyur hujan sejak sore tadi.


Pukul sembilan malam ketika Bima memarkirkan mobilnya digarasi, kemudian berjalan masuk melewati teras samping sambil menghindari tampias air hujan yang memercik.


Sejak sore tadi cuaca yang biasanya cerah memang telah berubah dalam sekejap.


Hujan lebat disertai angin yang cukup kencang membuat suasana malam menjadi sedikit mencekam dari beberapa malam sebelumnya yang terasa syahdu.


Begitu tiba didepan pintu kamar Seiyna Bima mengetuk pintu itu terlebih dahulu, sebelum kemudian membukanya perlahan.


"Abang.."


Bima terhenyak. Sepasang matanya langsung tertumbuk pada sosok Seiyna yang duduk memeluk boneka hello kitty diatas sofa, yang setiap malam telah beralih fungsi menjadi tempat tidurnya. Sepasang mata gadis itu nampak berlinang air mata.


Bima bergegas mendekat. "Maaf.. maafkan aku, Seiyna. Aku sungguh lupa kalau kamu takut dengan cuaca buruk. Maaf ya.." ujar Bima sambil menatap lekat Seiyna dengan tatapan penuh penyesalan.


Seiyna tidak menjawab, namun hanya mengangguk kecil mengiyakan.


Seiyna menatap telapak tangan Bima yang terbuka sebelum akhirnya memutuskan untuk menyambut uluran tangan Bima yang terasa dingin, membiarkan pria itu membantu menarik tubuhnya dari atas sofa dan menuntunnya kearah tempat tidur.


Seiyna baru saja mendudukkan tubuhnya ditepian ranjang manakala suara gelegar petir kembali memecah keras diudara.


"Tidak apa-apa, hanya petir diatas langit, tidak mungkin bisa menyakitimu.." bisik Bima saat menyadari genggaman Seiyna yang menguat, didalam telapak tangannya.


"Bang Bima jangan pergi.." rengek Seiyna dengan wajah pucat pasi.


"Tidak akan. Aku janji tidak akan pergi kemana pun.." ujar Bima tersenyum lembut, sambil mengurai telapak tangannya yang menyatu erat dengan telapak tangan Seiyna.


"Bang Bima.."


Diluar dugaan Seiyna malah telah menahan pergelangan tangan Bima yang hendak menjauh.


Bima menatap Seiyna kembali.


"Jangan pergi.." lagi-lagi menatap Bima dengan tatapan penuh permohonan.


"Seiyna, aku berjanji, aku akan terus berada disana.." ujar Bima sambil menunjuk sofa.


"Tidak boleh.."


"Egh..?"


"Bang Bima disini saja.."

__ADS_1


"Tapi.."


Mengambang.


Sekujur tubuh Bima telah membeku, begitu menyadari Seiyna telah memeluk tubuhnya kuat-kuat.


XXXXX


"Cuaca buruk seperti ini, membuatku mengingat Seiyna.."


Sean yang baru saja masuk kedalam ruangan nampak bergidik kedinginan sambil menatap Riri yang duduk melipat kaki diatas ranjang, sambil mengunyah potongan terakhir buah apel yang dikupas Sean beberapa saat yang lalu.


"Iya, Seiyna suka ketakutan kalau hari sedang hujan.. apalagi kalau ada petirnya seperti ini.." ujar Riri yang juga sangat mengetahui watak dan segala hal yang menyangkut Seiyna.


"Memangnya kamu tidak takut..?" usut Sean sambil mendekati Riri, mengambil alih wadah yang telah kosong dari tangan gadis itu dan menaruhnya keatas meja, menggantikannya dengan menyodorkan segelas air mineral.


"Tidak.." Riri menggeleng setelah selesai meneguk setengah isi gelas tersebut.


Sean terlihat menatapnya gemas.


"Kenapa, Kak?" tanya Riri heran.


Sean mengambil alih kembali gelas dari tangan Riri, dan mengembalikannya keatas meja.


"Kamu bisa saja tidak takut. Tapi si .kecil yang ada didalam sini masih terlalu kecil untuk tidak ketakutan mendengar suara petir.." ujar Sean, tentu saja mengada-ngada.


Sean nekad menaiki ranjang pasien yang ditempati Riri yang justru menatapnya dengan keheranan.


"Kak Sean mau apa..?" tanya Riri dengan alis bertaut begitu menyadari Sean yang telah berbaring manis diatas ranjangnya.


"Mau menemani si kecil biar tidak ketakutan, karena ada Daddynya siap menjaganya.."


Tawa Riri pecah berderai, apalagi saat melihat Sean yang menepuk-nepuk lengannya, mengisyarakatkan Riri untuk berbaring disana.


Tanpa merasa ingin membantah Riri pun akhirnya mengikuti kemauan Sean dengan membaringkan tubuhnya dengan hati-hati, tak lupa menaruh kepalanya diatas lengan yang kokoh itu.


"Kenapa sikapmu bisa semanis ini sih, Kak..?" tanya Riri tak bisa berhenti tersenyum setiap kali mendapati setiap sikap Sean yang sangat uwwu.


Sikap Sean sejak mengetahui ia telah hamil anak pria itu telah menjadi teramat sangat berbeda dengan Sean yang selama ini ia kenal sebagai sosok dingin, yang tidak pernah sekalipun terlihat bersikap manis dengan siapapun.


"Aku memang manis, dan kamu memang harus mengakuinya." bisik Sean dengan begitu percaya diri sambil menowel ujung hidung Riri dan menatapnya dengan wajahnya yang tampan plus narsis, membuat Riri memberanikan diri untuk menyentuh pipi pria itu yang terasa dingin dan begitu nyata.


Sementara itu, diluar sana hujan dan petir masih terdengar membahana, namun tak sedikitpun mengusik mereka untuk saling berbagi kasih sayang..


.


.


.


Bersambung..


Like, coment, hadiah, vote. Jangan lupa juga di favoritekan.. 🤗


Thx and Loophyuu all.. 😘

__ADS_1


__ADS_2