
Begitu mereka telah berada didekat mobil tersebut, Sean nampak menurunkan kaca mobil yang ada disampingnya.
"Kalian duduknya dibelakang saja yah.." Sean berucap singkat, serta-merta mengurungkan niat Seiyna yang hendak meraih gagang pintu depan, berganti dengan membuka pintu belakang.
Beriringan Seiyna dan Riri masuk kedalam mobil Sean tanpa protes.
"Oh.. ada kak Elsa rupanya. Halo kak.." Seiyna menyapa ramah, begitu menyadar kehadiran seorang wanita cantik yang terlihat duduk manis disamping Sean, yang kini telah menginjak pedal gas, membuat mobil yang dikendarainya pun melaju perlahan meninggalkan area parkiran kampus yang agak lenggang.
"Halo juga Seiyna.. dan.. Riri kan..?" sapa Elsa ramah sambil sedikit memutar tubuhnya untuk bisa menyapa Seiyna dan Riri yang duduk dibangku belakang.
"I-iya kak.." Riri mengangguk kikuk.
"Maaf yah.. tapi nanti tidak keberatan kan pulangnya agak muter sedikit untuk mengantar aku dulu..?" tanya Elsa lagi dengan kalimat dan senyumnya yang super ramah.
"Iya Kak.. tidak apa-apa kok. Santuy kita sih. Iya kan, Ri.." colek Seiyna.
"Oh egh.. i-iya kak.. tidak apa-apa.." jawab Riri gugup.
Sesaat kemudian suasana mobil sempat hening sejenak, sebelum Elsa terdengar bertanya kepada Sean tentang sesuatu menyangkut pekerjaan, yang sepertinya pekerjaan tersebut kini sedang mereka tangani bersama-sama.
Tak lama kemudian, sebuah diskusi panjang antara Sean dan Elsa yang tanpa campur tangan Seiyna dan Riri yang tentu saja tidak mengerti dengan pembahasan tersebut, pun berjalan dengan akrab dan seru.
Elsa yang terlihat begitu luwes terlihat sangat mampu mengimbangi pembawaan Sean yang cool. Dan semua itu sangat terlihat dari bagaimana besar perhatian Sean, yang terlihat cukup antusias dan serius dalam menanggapi setiap pembicaraan Elsa.
Seiyna terlihat memasang headset dan menyandarkan tubuhnya menikmati alunan lagu yang berasal dari ponselnya, sementara Riri memilih membuang muka keluar kaca jendela mobil yang gelap, meskipun sesungguhnya Riri bahkan tak bisa berhenti menyimak diam-diam setiap pembicaraan Sean dan Elsa yang terus berlanjut seru, yang terkadang diselingi dengan tawa renyah milik Elsa, serta senyum tipis Sean.
'Cantik.. dan smart..'
Begitu penilaian Riri setiap kali melihat Elsa tersenyum dan tertawa dengan penuh pesona didepan sana, tepat disamping Sean.
Mereka terlihat sebagai pasangan yang sangat serasi dan berimbang.
'Apakah mereka telah menjadi sepasang kekasih..? sepertinya mereka sudah sangat akrab..'
Entah kenapa melihat semua itu membuat hati Riri tiba-tiba merasa ngilu. Dadanya pun ikut-ikutan terasa sesak, terlebih saat menyadari saat ini Mommy Arini dan Ibunya Elsa sedang gencar melakukan mediasi untuk bisa sesegera mungkin meresmikan keinginan mereka yang hendak menjodohkan Kak Sean dan Elsa.
Semakin hari Riri merasa semakin tidak bisa memungkiri perasaannya, karena sejak kejadian dimalam itu, Riri selalu memikirkan Sean, nyaris setiap waktu.
Beberapa saat kemudian mobil yang dikendarai Sean tiba didepan pagar rumah Elsa.
"Terima kasih yah, Sean,"
"Oke, Cha.." angguk Sean dengan senyum, saat menanggapi Elsa dengan menyebut nama panggilan gadis itu dengan begitu akrab.
Pria dingin itu terlihat mengangguk saat Elsa melambaikan tangannya, sebelum wanita cantik itu berbalik dan masuk kedalam pagar rumah yang tinggi.
"Pindah kedepan, Ri. Tadi rutenya telah memutar, jadi sebaiknya aku akan antar Seiyna dulu baru terakhir kamu.." ujar Sean seperti biasa, dengan nada bicara yang datar, serta minim ekspresi. Berbeda jauh saat ia melepas Elsa pergi dengan seulas senyum.
Riri tidak membantah, dia menuruti titah Sean terlebih saat menyadari Seiyna malah ketiduran dengan earphone ditelinga.
__ADS_1
Riri pun turun, dan menggantikan posisi Elsa meskipun sedikit enggan.
Kemudian sepanjang pejalanan yang tersisa hanya diisi keheningan, sampai mobil Sean memasuki gerbang utama keluarga Djenar.
"Seiyna.. bangun Seiy.."
"Sudah sampai rupanya.." Seiyna menguap kecil, sambil menegakkan punggungnya. Ia terbangun begitu Sean menggoyang lututnya beberapa kali.
"Aku duluan yah, Ri.." usai membenahi tasnya, tanpa berlama-lama Seiyna pun melompat turun dari mobil Sean.
"Iya, Seiyna.."
"Dagh Riri.. sampai ketemu besok di kampus.."
"Dagh Seiyna.." Riri membalas lambaian tangan Seiyna sebelum mobil Sean kembali berlalu untuk mengantarnya kerumah.
Seperti yang sudah-sudah suasana hening kembali bertahta diantara mereka. Hanya lagu Fire On Fire milik Sam Smith yang mengalun lembut dari perangkat audio mobil yang canggih milik Sean.
"Kapan Daddy dan Mommymu kembali..?" tanya Sean berbasa-basi, menyapa Riri untuk yang pertama kali.
"Paling cepat bulan depan, kak," jawab Riri sambil menunduk.
Sejak awal Riri memang paling kikuk jika harus berhadapan dengan sosok Sean yang sifatnya sangat jauh berbeda dengan Bang Bima yang hangat dan tenang, maupun kakaknya Rei yang meskipun galak dan sedikit tertutup, namun memiliki sifat cukup usil dan suka bercanda.
Dimata Riri selama ini Sean benar-benar merupakan sosok dingin dan sedikit menakutkan lewat auranya yang datar itu.
Yah.. kecuali dimalam itu.
Pria itu begitu lembut, terus memeluknya dengan hangat, membelainya penuh perasaan, mendaratkan ciuman-ciuman yang lembut sepanjang malam.. tapi sayangnya, begitu keluar dari kamar cottage nomor tujuh milik The Reds, Sean seolah langsung kembali ke pengaturan awal. Dingin.. dan tak tersentuh.
"Apa kabar kakakmu Rei dan istrinya..?" Sean bertanya lagi.
"Baik Kak, sekarang mereka sudah berada dikota M.."
Sean terlihat menganggukkan kepalanya, masih dengan pandangan yang lurus kearah jalanan yang ada didepan sana.
Sejenak suasana kembali hening.. sebelum akhirnya..
"Lalu.. kamu..? bagaimana denganmu..?"
Riri tersentak mendengar pertanyaan itu. "Egh.. anu.. aku.. baik, Kak." Riri mengutuk kegugupan yang terus melandanya itu. "Oh iya, Kak, aku.. sebenarnya mau mengembalikan sapu tangan.." ujar Riri lagi saat teringat akan sapu tangan Sean yang telah menghuni lemari pakaiannya sebulan ini.
Sean terlihat sedikit mengerinyit seolah sedang berusaha mengingat sesuatu sebelum akhirnya kembali mengangguk.
Yah. Sapu tangan.
Sean ingat bahwa ia telah memberikan sapu tangannya kepada gadis ini untuk menghapus air matanya, sesaat setelah prosesi akad nikah Seiyna selesai.
Tak terasa, mobil yang mereka tumpangi telah memasuki area kompleks salah satu perumahan mewah, dimana rumah keluarga Wijaya berada.
__ADS_1
Saat mengenali mobil Sean, seorang satpam dengan cekatan langsung menekan tombol open sehingga pintu pagar itu terbuka secara otomatis.
Mobil Sean berhenti sempurna tepat didepan selasar.
"Aku akan mengambil sapu tangannya dulu. Kak Sean mau tunggu disini atau didalam saja..?"
"Didalam saja."
Riri sedikit tercengang mendapati jawaban spontan Sean atas tawarannya, yang sejujurnya hanya sekedar basa-basi. Tak menyangka jika Sean benar-benar menerima tawarannya tersebut.
"B-baiklah kalau begitu mari masuk dulu, Kak." ujar Riri lagi masih saja kikuk.
Riri pun bergegas turun, diikuti Sean yang telah mematikan mesin mobilnya terlebih dahulu.
"Duduk dulu, Kak, mau minum apa? biar aku minta Bibik.."
"Air mineral saja. Aku hanya sedikit haus." ujar Sean sambil menghempaskan tubuhnya ke sofa yang ada diruang tamu.
"Baik, Kak. Tunggu sebentar ya.."
Riri masuk kedalam, menuju kearah dapur untuk mencari keberadaan Bik Atun.
"Bibik.." panggil Riri.
"Iya Non.. ada apa..?"
Benar dugaan Riri, wanita paruh baya itu memang berada disana.
"Bawakan segelas air mineral kedepan yah, Bik. ada Kak Sean didepan, habis mengantar Riri pulang dari kampus.."
"Oh iya, Non." Bik Atun mengangguk takjim namun tak urung menautkan alis meihat ekspresi wajah Riri yang terlihat pucat sambil menutup hidungnya dengan telapak tangan. "Ada apa, Non..?"
"Tidak apa-apa, Bibik masak apa sih? kok baunya menyengat begini..?"
"Bibi hanya bikin sup ayam buat makan siang non Riri.."
"Ih.. gak mau, Bik. Aku pusing mencium baunya. Lagian aku juga tidak lapar.." imbuh Riri yang merasa kepalanya pening mendadak.
Akhir-akhir ini Riri memang merasa dirinya sedikit aneh. Ia mendadak menjadi sensitive terhadap aroma-aroma tertentu, apalagi aroma makanan.
Riri pun bergegas keluar dari dapur, meninggalkan Bik Atun yang melongo begitu saja, melihat keanehan itu.
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1
Favoritekan novel ini, Like comment, Vote, dan support yang banyak biar author makin semangad up nya.. 💪
Thx and Lophyuu all.. 😘