
Nisa merasa ekpektasinya ternyata terlalu tinggi.
'Dinner Special..?'
Ini sungguh diluar perkiraan awal Nisa.
Nisa bahkan merasa sangat malu saat menyadari berbagai bayangan manis yang melintas dibenaknya sejak tadi yang telah membayangkan begitu banyak hal-hal yang berbau romantisme.
"Nisa, memangnya kalau makanannya kamu pelototin satu persatu kamu bisa kenyang?"
Rei berucap sambil menikmati chicken teriyaki and veggie foil packs, yakni menu ayam teriyaki yang dipanggang selama kira-kira lima belas sampai dengan dua puluh menit bersama sayuran, dengan dibungkus alumunium foil, untuk mendapatkan rasa dan tekstur yang juicy.
Menu itu merupakan salah satu menu andalan hotel Mercy S selain beberapa olahan steak yang juga merupakan menu primadona.
"Nisa.." panggil Rei lagi menyaksikan Nisa yang masih saja bengong.
"Iya Rei.. iya.." sedikit tergeragap namun dengan cepat memasukkan potongan kecil beaf steak kedalam mulutnya agar Rei tidak lagi terus menatapnya.
Dan benar saja, begitu melihat Nisa telah mengunyah makanannya meskipun dengan gerakan perlahan, akhirnya perhatian Rei tidak lagi terpusat pada Nisa.
Rei mulai sibuk mengunyah makanannya sendiri yang ada dihadapannya.
Yah.. dinner special yang dimaksud Rei sepertinya tak lebih dari cara Rei untuk menguji standar kwalitas makanan yang ada di hotel Mercy S, bukan karena Rei ingin melakukan hal yang romantis layaknya pasutri yang baru saja menikah, dan sedang melakukan honeymoon.
Buktinya, begitu pelayan yang mengantarkan layanan room service berlalu dari kamar mereka, Rei langsung membuka beberapa penutup berbahan stainless steel tersebut sekaligus dan langsung mengajak Nisa makan begitu saja, tanpa embel-embel berarti, tanpa kata-kata pembuka yang manis, apalagi sikap yang berbau romantis.
'Aku yang salah.. dan aku juga yang berlebihan..'
Dalam hati Nisa mengutuk dirinya sendiri.
Lagipula kalau mau jujur, bagaimana mungkin Rei bisa berlaku romantis secepat itu sedangkan hati Rei pasti masih merasa sakit karena bagaimanapun Rei baru saja mengalami pengkhianatan yang buruk dari kekasih sekaligus sahabat terbaiknya selama ini.
Memergoki langsung Sean dan Liliyana berada dalam satu kamar dengan penampilan Sean yang 'kusut masai' seperti itu.. mana mungkin Rei bisa move on hanya dalam kurun waktu satu hari..?
"Rei, bagaimana tanganmu..? masih sakit?" tanya Nisa seraya mengawasi punggung tangan Rei yang digunakan pria itu untuk melahap makanan dengan cekatan.
"Sudah jauh lebih mendingan.." ujar Rei masih dengan gaya cueknya yang khas.
Nisa terdiam menatap Rei, membuat Rei yang tersadar akhirnya berbalik menatap wanita itu dengan dahi berkerut.
"Ada apa dengan wajahmu..?" tanya Rei tanpa dosa. Tapi detik berikutnya pria itu malah tersenyum usil. "Jangan-jangan kamu sedang mengkhawatirkan aku yah..?"
Nisa membuang nafasnya perlahan melihat ekspresi wajah Rei yang terlihat begitu sulit diajak bicara serius. Sementara Rei dengan seenaknya malah tertawa hingga nyaris tersedak.
"Nih.. lihat sendiri.." Rei melepas sendok yang berada dalam genggamannya, menjulurkan tangannya dan menaruhnya diatas meja sehingga letak punggung tangannya yang terlihat mulai rata itu berada tepat dihadapan Nisa yang menatap pemandangan itu dengan ragu.
"Apa ini..?" mengalihkan pandangan dengan jengah.
__ADS_1
"Masih bertanya.. tentu saja aku ingin kamu memeriksanya sendiri. Coba pegang.. masih bengkak, tidak?"
Rei bersikeras dengan gemas saat melihat Nisa yang hanya menatap punggung tangannya tapi belum juga menyentuhnya.
Nisa menatap wajah Rei sekilas, yang karena Rei terlihat bersikeras akhirnya mau tak mau Nisa memberanikan diri untuk kembali menyentuh punggung tangan itu perlahan. Menyusuri setiap permukaannya yang kemarin sempat terlihat lebam dengan dada yang berdebar tak karuan.
"Jangan melakukan hal bodoh lagi.." ujar Nisa lirih. Tapi saat ia mencoba menatap sepasang mata Rei, pria itu malah terlihat sedang tersenyum menahan tawa.
"Kamu ini sedang mengkhawatirkan tanganku atau hatiku?" ujar Rei santai, dengan tujuan menggoda Nisa yang membuat semburat berwarna merah muda menggantung jelas pada kedua pipinya.
"Dua-duanya..!" pungkas Nisa dengan wajah kesal, mengetahui dirinya yang bahkan hampir menangis hanya karena mengkhawatirkan hati Rei yang terluka juga punggung tangannya yang sempat lebam, sementara Rei malah menganggap apa yang ia rasakan adalah lelucon.
Mendengar itu Rei langsung tergelak. Tawa Rei bahkan semakin kencang saat Nisa memutuskan menghempaskan punggung tangan Rei yang masih berada didalam genggamannya itu keatas meja dengan raut wajah kesal.
"Aku menyesal telah mengkhawatirkanmu begitu rupa..!" sembur Nisa dengan tangan terlipat didada, wajah manisnya juga ikut terlipat.
Nisa membiarkan tawa Rei yang renyah terus terdengar hingga pria itu yang membuatnya usai dengan sendirinya.
Sesaat kemudian, dengan gaya cool yang khas, Rei terlihat memindahkan kursi yang sedang ia duduki tepat kesebelah Nisa.
'Pria ini mau apa lagi..? belum puas menggodaku dan membuatku malu..?'
Nisa bergumam dalam hati. Ia bisa merasakan jika saat ini tatapan hangat Rei sedang mengawasinya lekat.
"Jangan terlalu khawatir, dan jangan sampai semua persoalanku mengganggumu.." kini suara Rei terdengar begitu serius, tidak ada lagi satu pun nada canda didalamnya.
Nisa terpana, hatinya ikut merasa ngilu mendapati kenyataan itu, kenyataan bahwa seberapa dalam cinta Rei untuk Liliyana sehingga bisa membuat kesedihan Rei sangat terlihat.
"Tidak ada satupun persoalanmu yang bisa menggangguku. Aku justru senang bisa berada disisimu disaat hatimu sedang sulit.. meskipun aku tidak tau apa yang harus aku lakukan untuk mengembalikan hatimu seperti semula.."
Rei terlihat menggeleng dengan senyum getir. "Tenang saja, lagi pula aku bukan orang yang baperan. Aku tidak mungkin tumbang hanya karena patah hati, meskipun itu juga bukan berarti aku bisa dengan mudah mengalihkan hati.. apalagi mempermainkannya.."
Nisa terdiam. Ia tidak tau harus mengatakan apa, karena bagi Nisa sendiri cinta adalah hal yang tidak begitu ia pahami.
Nisa bahkan merasa bahwa ia begitu terlambat jatuh cinta. Disaat teman-teman seusianya sibuk nge-date dan berganti pacar, Nisa malah sibuk mengurusi anak-anak panti yang juga merupakan rumah tempat dirinya dibesarkan.
Nisa baru merasakan rasa ketertarikan pada seorang pria sejak ia mengenal Rei dibangku perkulihan, itupun Nisa hanya menyimpan rasa sukanya dalam diam.
Nisa sadar betul siapa dirinya, ia tidak mungkin mengharapkan seorang Reindra Affan Wijaya untuk bisa membalas perasaannya.
Lagipula siapa yang tidak mengenal Rei?
Rei termasuk jajaran mahasiswa elite yang sangat populer dikampus pada jaman mereka kuliah dulu.
Anak sulung sekaligus pewaris utama dari salah seorang pengusaha sukses pemilik beberapa perusahaan besar di tanah air itu, juga merupakan salah satu donatur terbesar dikampus mereka sampai saat ini.
"Nisa, coba ceritakan padaku tentang kisah cintamu.."
__ADS_1
"Tidak ada yang menarik." pungkas Nisa seraya pura-pura berkonsentrasi meneruskan memakan beaf steaknya yang telah tertunda sekian lama sehingga saat Nisa mengunyahnya, steak itu kini terasa mulai dingin.
"Kamu pernah patah hati tidak sih..?" tanya Rei seraya menatap wajah lembut Nisa dengan rasa penasaran.
"Hhhmm.."
"Jadi.. pernah..?!" sepasang mata Rei terlihat berkilat nyaris tak percaya karena yang ia lihat Nisa adalah sosok gadis lembut yang tidak mungkin ada pria yang tega menyakiti hatinya.
"Hhmm.."
Rei terdiam, membuat Nisa terheran dalam hati.
"Nisa, berjanjilah satu hal padaku, karena aku tidak mau hatimu sakit lagi.." ujar Rei dengan nada lirih, namun menyiratkan kesungguhannya.
"Berjanji tentang apa..?"
"Jangan jatuh cinta padaku dalam 100 hari ini, karena sudah pasti.. aku tidak mungkin bisa membalasnya.."
XXXXX
"Sayang, kenapa makanmu sedikit sekali..?"
Meta menatap Riri yang belum apa-apa telah menaruh sendok dan garpunya keatas meja.
"Riri kenyang, Momm. Riri duluan yah, Momm.. Dadd.."
Gadis berambut panjang nan lurus itu terlihat beranjak dari kursi makan, mendekati Meta dan Rico untuk mencium pipi kedua orangtuanya masing-masing sebelum akhirnya beranjak kearah tangga, menaikinya satu persatu dengan wajah yang tertekuk.
"Riri kenapa yah, Dadd..?" Meta menatap Rico yang terlihat kembali meneruskan makannya.
"Mungkin dia sedih karena tidak ada lagi orang yang bisa menggodanya.." ucap Rico seadanya, yang mengira kelesuan Riri karena rasa kehilangan Rei yang biasanya begitu sering mempermainkan adik kecilnya itu.
Meta tercenung sejenak. Rei memang tipe kakak yang begitu complicated. Terkadang Rei terlihat begitu melindungi Riri hingga nyaris terkesan posesif, disisi lain Rei juga memiliki hati yang hangat sehingga begitu memperhatikan Riri hingga hal-hal terkecil, namun disisi lain Rei juga bisa berubah menjadi pribadi yang super duper usil yang mampu membuat Riri kesal, ngambek , bahkan tak jarang sampai menangis karena godaan dan keusilan Rei.
Mendengar argumen Rico membuat Meta merasa suaminya itu ada benarnya juga.
Meta berusaha menepis segala perasaan buruk yang terlalu berlebihan dalam mengkhawatirkan setiap langkah Rei dan Riri, terlebih Riri yang mulai beranjak dewasa.
.
.
.
Bersambung..
LIke and Support yah 😀
__ADS_1
Thx and Lophyuuu all.. 😘