PASUTRI

PASUTRI
Hari pertama di kota pertama


__ADS_3

Hotel Mercy S di kota S


Setelah melewati penerbangan kurang lebih satu jam, kemudian menempuh perjalanan dari bandara ke hotel kira-kira lima belas menit, untuk yang pertama kalinya Rei dan Nisa menginjakkan kaki di lobby Hotel Mercy S yang seperti sebagian besar jaringan Hotel mercy lainnya, berlokasi strategis di jantung kota S.


Kesan pertama Rei dan Nisa yang saat ini secara diam-diam bertindak sebagai tamu hotel biasa, begitu tiba disana nyaris sama.


Hotel Mercy S ini masih terlihat nyaris sama bagusnya dengan hotel Mercy pusat dan terlihat masih sangat bisa bersaing dengan hotel bintang lima lainnya.


"Ini lumayan loh Rei.." ujar Nisa sambil menyibak tirai jendela kamar yang lebar berwarna coklat tua.


"Bukan lumayan lagi.. masih bagus banget ini.." ujar Rei seraya menghempaskan tubuhnya keatas tempat tidur queen.


Rei menekan tombol remote televisi yang ada ditangannya dan mulai memilih-milih chanel yang tersedia.


"Bukannya sebaiknya kita jalan-jalan, Rei? sambil melihat-lihat apa yang kurang dari hotel ini yang perlu dibenahi.."


"Hmm.."


Nisa melotot melihat tanggapan pria itu yang terlihat acuh, malah dengan santainya memelototi saluran sport yang menayangkan pertandingan kick boxing dari layar televisi yang ditontonnya.


"Rei.." panggil Nisa agak kesal karena merasa diacuhkan.


"Hmm.."


"Rei..!"


"Astaga.. apa lagi sih, Nisa ??" Rei menautkan alisnya menatap Nisa yang berdiri tegak diujung jendela.


"Bukannya perjalanan kita ini untuk bekerja..? lalu kenapa belum apa-apa malah santai..?" tanya Nisa dengan raut wajah yang kesal karena sejak tadi seolah diacuhkan.


"Ini yang aku lakukan sekarang juga bekerja.."


"Sejak kapan menonton televisi itu bekerja..?"


Rei mengambil sebuah bantal lagi dan menaruhnya dibelakang untuk menyangga punggungnya.


"Kamu lupa kalau pekerjaan kita dalam beberapa waktu kedepan itu adalah jalan-jalan, menikmati fasilitas dua belas Hotel Mercy yang ada?" kemudian menatap Nisa sambil tersenyum usil saat menyadari wajah Nisa yang terlihat mencebik. "Kesini.." panggilnya membuat alis Nisa kembali bertaut.


"Apa?"


"Aku bilang kesini.." ujar Rei lagi, kali ini tangannya ikut-ikutan memberi kode dengan melakukan gerakan khas seseorang yang sedang memanggil.


Nisa yang awalnya agak ragu akhirnya mengayunkan langkahnya untuk mendekat dengan perlahan.


"Ya ampun lama sekali.. ayo cepat kesini.."

__ADS_1


"Mau apa sih?" Nisa malah menghentikan langkahnya saat bertanya, berusaha menyembunyikan kegugupan yang tiba-tiba mendera.


"Kesini.." ujar Rei lagi-lagi, kali ini disertai gerakan tangannya yang menepuk perlahan pinggir tempat tidur yang berada tepat disampingnya.


"Untuk apa..?" masih bertanya, tetap enggan mendekat karena bahkan debar jantung Nisa kini mulai terasa menggila.


Melihat pemandangan Nisa yang malah menatapnya dengan tatapan aneh membuat Rei nekat bangkit dari ranjang superior tersebut, mendekati Nisa yang malah terlihat mundur selangkah demi melihat sosok Rei yang mendekatinya dengan langkah pasti.


"Rei, kamu mau apa..??"


Nisa masih belum bisa berfikir jernih manakala tubuhnya terasa melayang karena Rei yang tiba-tiba membopongnya, dan menghempaskannya keatas ranjang.


"Aku tidak mau apa-apa. Memangnya otakmu ini sedang memikirkan apa..?!" Rei mengetuk kepala Nisa dengan buku jarinya sambil melotot.


Kemudian dengan gayanya yang cuek seperti biasa Rei naik keatas tempat tidur yang sama, kembali keposisi mula-mula dan kembali bersandar nyaman disana.


"Nikmati saja semua fasilitas hotel ini, seperti kata Mommy.. anggap saja kita lagi honeymoon.. bukan bekerja!"


Detik berikutnya Nisa hanya bisa termanggu melihat Rei yang kembali menyandarkan tubuhnya santai dengan remote ditangan. Tenggelam dalam siaran kick boxing yang sedang ditontonnya dilayar televisi.


XXXXX


Nisa terbangun dengan rasa terkejut yang luar biasa karena tak menyangka jika hari mulai temaram.


Meskipun kamarnya terlihat terang benderang oleh cahaya lampu kamar, namun pemandangan yang ada diluar jendela sana terlihat mulai gelap.


Kepala Nisa celingak-celinguk saat menyadari Rei tidak berada dikamar itu, sementara pintu kamar mandi nampak terbuka tanpa cahaya, secara tidak langsung menandakan bahwa tidak mungkin ada orang yang berada didalam sana.


"Rei kemana yah..?" lagi-lagi Nisa bergumam perlahan. Ia urung mengambil ponsel untuk menelpon Rei begitu melihat ponsel Rei yang sedang tercharger diatas nakas.


Akhirnya Nisa yang telah turun perlahan dari ranjang memutuskan untuk mandi sebelum malam semakin larut.


Setelah Nisa selesai dengan rutinitas mandinya, Nisa memutuskan keluar dari toilet tersebut dengan menggunakan dress polos warna dusty pink yang sedikit dibawah lutut. Sedikit terkejut saat menyadari jika Rei telah berada kembali diatas ranjang, sibuk memelototi layar ponselnya serta mengetik sesuatu disana.


Nisa menghempaskan tubuhnya kepinggiran ranjang, sambil menatap Rei yang bahkan terlihat mengacuhkan kehadirannya.


"Sedang apa..? kelihatannya sibuk banget.." ujar Nisa sambil mengosok-gosokkan rambutnya ke handuk dengan maksud mengeringkannya.


Yang ditanya malah tidak menjawab. Masih sibuk mengetikkan sesuatu yang seolah begitu panjang dilayar ponselnya, karena dua jempolnya bahkan terlihat sangat lincah menari di keyboard touch screen ponsel.


Melihat Rei yang begitu fokus disana membuat Nisa memberi pria itu kesempatan terlebih dahulu untuk menyelesaikan aktivitasnya yang entah apa.


Pukk..!


Rei terlihat melempar ponselnya keatas ranjang, begitu kegiatannya mengetik itu selesai. bersandar dikepala ranjang sambil tersenyum puas.

__ADS_1


"Tadi menanyakan apa..?" tanya Rei sambil menoleh kearah Nisa yang masih setia menggosok rambutnya dengan handuk.


Melihat pemandangan itu kedua alis Rei terlihat berkerut. Sehingga belum sempat Nisa mengulang pertanyaannya manakala Rei kembali bertanya.


"Sedang apa kamu..? mengeringkan rambut..?"


"Iya. Kenapa memangnya..?"


"Bukannya ada hair dryer dilemari wastafel?"


"Tadi sudah aku coba, tapi tidak mau menyala.."


"Rusak?" Rei masih saja bertanya dengan nada mirip interogasi.


"Sepertinya.."


"Masa sih..?" berucap demikian sambil turun dari ranjang, langsung menuju pintu toilet dimana hair dryer yang dimaksud berada disana, disalah satu rak lemari yang ada di wastafel.


Beberapa saat kemudian Rei telah muncul lagi disana dengan wajah datar, langsung meraih ponselnya yang tergeletak diatas ranjang, mengetik lagi sesuatu disana sambil berjalan kearah jendela.


Sepertinya view dari jendela memang merupakan area favorite Rei dimana pun dirinya berada. Tidak dirumah, tidak juga di hotel.


"Rei, tadi sore kamu kemana..?" Nisa memburu langkah Rei lewat ekor matanya.


"Berjalan-jalan sedikit di area hotel." menjawab tanpa menatap Nisa, yang terlihat serius dengan ketikannya, membuat Nisa urung bertanya lebih banyak.


Setelah usai dengan ponselnya Rei menatap Nisa lagi.


"Makan malamnya kita pesan room service saja, yah.. tadi aku sudah memesan layanan room service terbaik untuk dinner special malam ini.." ujar Rei penuh semangat, senyumnya pun telah terkembang sempurna.


Membuat Nisa yang menatapnya hanya bisa menahan nafasnya.


'Dinner special..?'


Entah kenapa hanya dengan membayangkannya saja Nisa sudah sangat tidak sabar..


.


.


.


Bersambung..


Maaf UP - nya Lelet.. 🤭🤭🤭🙏🙏🙏

__ADS_1


Meskipun begitu, Like and Support jangan kendor yah.. 😅


__ADS_2