PASUTRI

PASUTRI
Perdebatan panjang


__ADS_3

Double UP..!!


"Arini.. apa lagi sih yang masih membuatmu tetap tidak bisa menerima keputusanku, padahal aku sudah menjelaskan semuanya.." dalam hati Tian sedikit putus asa dengan setiap penolakan Arini, meskipun ia tidak menampakkannya.


"Apa lagi..? mana bisa kamu bertanya apa lagi..?" Arini terlihat melotot menentang sepasang mata Tian yang menyorot tegas. "Sayang.. Seiyna tidak melakukan apa-apa. Bagaimana bisa kamu menghukumnya seperti itu..?" suara Arini terdengar memekik. Arini sungguh tidak bisa menerima keputusan Tian yang sepihak seperti ini.


"Berbohong dan kelayapan di club malam, apa itu yang menurutmu tidak melakukan apa-apa..?"


"Tapi Seiyna tidak melakukan apa yang dituduhkan semua orang.."


"Apa kamu sudah melihat foto-fotonya..?" pungkas Tian masih dengan wajahnya yang datar, seolah suara Arini yang semakin lama semakin naik satu oktaf demi satu oktaf tidak bisa mempengaruhi ketenangan dan pengendalian diri seorang Sebastian Putra Djenar.


Arini terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk ragu.


"Apa kamu juga melihat videonya..?" usut Tian lagi dengan nada yang semakin dipenuhi penekanan dalam setiap kalimatnya.


Kali ini Arini bahkan telah menatap Tian dengan ekspresi protes. "S-Sayang, apa maksudmu.. menanyakan semua itu.."


"Bagaimana menurutmu?" ujar Tian lagi seolah tidak peduli dengan usaha protes Arini yang terlihat mulai tergeragap gugup dengan pertanyaan Tian yang meluncur beruntun.


"Aku.." kali ini Arini benar-benar telah kehilangan perbendaharaan katanya. "Baiklah.. fine.. Sayang, apa yang kamu inginkan sebenarnya..?" ujarnya memberanikan diri menatap sepasang mata Tian yang menyorot tajam.


"Mengajakmu berpikir menjadi oranglain." pungkas Tian lagi, sanggup membuat Arini tertunduk kelu dengan bulir bening yang kembali menganak sungai.


"J-jadi.. itu artinya kamu bahkan tidak mau mempercayai Seiyna.. kamu.. kamu juga berpikir seperti orang lain.. bahwa Seiyna.. Seiyna telah.."


Tian menggeleng perlahan. "Tidak. Sayang.. kamu salah lagi." lirih Tian.


Meskipun selama ini Tian selalu lemah jika melihat Arini menangis, namun kali ini Tian telah membulatkan tekad agar hatinya jangan sampai dilemahkan terlebih dahulu jika dirinya benar-benar menginginkan yang terbaik untuk masa depan Seiyna.


Tian tau persis bahwa wanita seperti istrinya ini, memanglah selalu sulit untuk diajak mengerti dengan jalan pikirannya. Arini selalu membuat segala sesuatunya semakin rumit karena sebagian besar hanya memakai hati dalam menilai semua persoalan, sementara Tian justru sebaliknya. Lebih mengedepankan logika dan cenderung menyepelekan hati. Untuk itulah kali ini Tian memilih menguatkan hatinya sendiri, dengan membiarkan Arini dengan tangisnya.

__ADS_1


"Kita adalah kedua orangtua Seiyna. Kalau bukan aku dan kamu yang melindunginya dan mempercayainya, lalu siapa lagi..?"


Tian menarik nafas perlahan, begitu berat.


"Aku mempercayai Seiyna, sama seperti dirimu. Kalau pun ia berbuat salah dan mengecewakanku, maka sebagai orangtua, aku tetap akan memaafkannya.. sama juga sepertimu. Arini sayang, kita berdua adalah orangtua, yang bisa menerima dan memaafkan apapun kesalahan Sean maupun Seiyna, sementara orang lain belum tentu bisa menerimanya.."


"Tapi kamu sudah melanggar kesepakatan kita, Sayang. Sejak Seiyna hadir didalam rahimku, kamu sudah berjanji untuk tidak lagi membuat keputusan semena-mena dalam kehidupan kita berdua, terlebih jika itu menyangkut kehidupan anak-anak kita kelak..!"


"Aku tau.."


"Lalu kenapa hari ini kamu melakukannya lagi..? kamu telah membuatku kecewa dengan keputusanmu atas kehidupan Seiyna, tanpa meminta pertimbanganku terlebih dahulu..!" Arini terlihat semakin meradang.


"Tadi siang aku dituntut untuk memutuskan sebuah keputusan dengan cepat. Seandainya kamu yang berada disana, dalam kondisi seperti itu, kamu pun pasti akan memahami bagaimana situasinya.."


"Kalau aku ada disana, maka aku akan memikirkan perasaan putriku terlebih dahulu sebelum aku sibuk memikirkan nama baik serta reputasi perusahaan..!"


"Astaga, Sayang.. jadi kamu malah berpikir aku hanya memikirkan masa depan dan nama baik Indotama Group saja? kamu menyangsikan perasaan serta tanggung jawabku terhadap masa depan Seiyna..?" Tian nampak terhenyak mendengar kalimat Arini yang saat ini sedang dibantahnya. Tian merasa tidak bisa menerima tuduhan Arini kepadanya.


"Sayang.. kamu benar-benar telah membuat hatiku sakit mendengarnya.." Tian nampak menyentuh dada kirinya yang mendadak terasa ngilu, membuat Arini yang menyaksikan pemandangan itu langsung terlihat panik. Ia telah mendekat hanya demi menyentuh Tian.


"Sayang, kamu tidak apa-apa, kan?" bertanya dengan wajah yang panik dan dipenuhi penyesalan. "Maafkan aku, Sayang.." lirihnya lagi, dua buah bening kembali luruh seolah menemani segenap rasa bersalahnya.


Tian terlihat menggeleng perlahan, mencoba tersenyum untuk menenangkan hati Arini yang langsung bergejolak, mendapati wajahnya yang sempat meringis.


"Sayang, sungguh aku tidak bermaksud menyakiti hatimu.. maafkan aku.." kilah Arini yang semakin berbalur penyesalan.


Arini telah menatap Tian dengan penuh rasa was-was, seolah ingin menenangkan adrenalin Tian yang sempat menggelegar karena perkataannya barusan.


Tian tidak menolak saat Arini mengambilkan segelas air mineral diatas meja kerjanya dan bahkan membantu Tian untuk meneguknya, begitu tubuhnya terhempas lunglai diatas kursi kerja miliknya, sementara Arini tetap berdiri mengawasi Tian dengan jarak yang begitu dekat, seraya bersandar dimeja kerja Tian dengan jemari yang mengelus punggung tangan Tian dengan lembut.


Sungguh, Arini sangat menyesal telah mengucapkan sesuatu yang telah melukai hati Tian tanpa sengaja.

__ADS_1


Tian terlihat menghembuskan nafasnya beberapa kali sebelum kemudian membiarkan pandangannya mengarah lurus kedepan.


"Lebih dari dua puluh tahun yang lalu, aku telah memutuskan masa depan Rico dan Meta, begitupun dengan Rudi dan Laras.." ujar Tian lirih, pandangannya sedikit menerawang seolah ingin membuat benaknya kembali ke masa itu. "Memang benar.. pada awalnya, semuanya tidak selalu berjalan mulus tanpa rintangan. Tapi buah dari semua keputusanku sekarang bisa kita lihat sendiri."


Kemudian Tian terlihat menatap penuh kearah Arini yang masih berdiri membisu disampingnya, sambil terus mengelus punggung tangannya.


"Lalu katakan padaku, apakah sesulit itu untukmu mempercayaiku..? dan sekarang ini.. siapa yang tidak bahagia dengan keputusanku..?"


Arini terus membisu, tanpa kata. Namun kali ini Tian bisa melihat jika Arini sedang menggigit bibirnya kuat-kuat, berusaha keras menahan luapan perasaan yang ada didalam dirinya.


"Sekarang Rico dan Meta sudah memiliki menantu, sementara Laras bahkan masih bisa hamil kembali diusia Rudi yang sudah tidak muda lagi.."


Imbuh Tian usai mengkilas balik hasil dari keputusan tangan besi miliknya untuk Rico, Meta, Rudi dan Laras, yang awalnya sempat menuai beberapa kejadian yang tak menyenangkan dalam setiap kisahnya, namun saat ini malah telah memetik kebahagiaan tertinggi dalam kehidupan yang sudah pasti tak ada duanya.


"Kita berdua bahkan telah menghadapi semua itu terlebih dahulu. Lalu kenapa kamu masih meragukan semuanya..? apakah kamu tidak pernah berpikir bahwa mungkin saja jalan takdir Seiyna memang harus dilalui seperti ini.."


Kepala Arini terlihat menggeleng samar. "Tapi garisan tangan manusia tidak selalu sama.." meskipun mengucapkannya dengan nada yang mulai bercampur kepasrahan, namun Arini memang terlihat belum bisa menyerah dengan begitu mudah.


Sebagai seorang ibu, bagaimana mungkin hatinya tidak goyah..?


Saat mendapati putrinya menangis seraya memeluk kedua kakinya serta memohon pengampunannya.


Seiyna telah menangis dengan begitu keras.. karena menolak keputusan Tian, yang menginginkan dirinya menikah dengan seorang pria, yang nyaris seumur hidupnya telah menjadi pengawal kedua orangtuanya juga dirinya.


Yah.. seorang pria.. yang hanya seorang pengawal biasa..


.


.


.

__ADS_1


Next Bab boleh, tapi jangan lupa authornya di SUPPORT dulu yah.. 🥰


__ADS_2