PASUTRI

PASUTRI
Sah


__ADS_3

Follow my IG. khalidiakayum


Follow my Fb. Lidia Rahmat


.


.


.


"Sah.."


"Sah.."


"Sah.."


Ucapan 'sah' bersahut-sahutan dari para saksi tersebut seolah menjadi tonggak awal dari sebuah masa depan yang baru.


Ijab qabul yang terucap dengan tenang, mantap, dan penuh keyakinan dari bibir Bima telah melegakan semua wajah tegang didalam ruangan itu, terlebih Tian, yang saat itu menggenggam tangan Bima penuh rasa haru yang mendobrak hingga kedinding ulu hati saat dirinya melafakan kalimat ijab sebagai ucapan penyerahan putrinya Seiyna kepada Bima, yang telah menerimanya dengan sekali lafal.


Usai Bima menyematkan sebuah cincin mungil bermata diamond yang indah dijari manis Seiyna, Seiyna pun mencium punggung tangan Bima, yang dibalas Bima dengan mencium dahi Seiyna.


Namun demikian, semua gerak keduanya terlihat jelas, begitu kaku satu sama lain.


Saat memeluk Arini, Seiyna tidak bisa lagi membendung tangisnya yang tersendat, terlebih saat berada dipelukan Tian.. tangis Seiyna semakin menjadi, pecah begitu saja bak sebuah tanggul yang ambrol dalam sekejap.


Dan prosesi akad nikah yang sederhana namun begitu khidmat itupun selesai sudah dengan dipenuhi keharuan, yang tersisa hanyalah tangisan haru yang teramat mendalam. Beberapa orang yang menghadirinya bahkan ikut terbawa suasana haru yang tercipta dengan sendirinya.


Hari ini, ruang tengah kediaman Keluarga Djenar yang besar telah disulap begitu indah dipenuhi rangkaian bunga dengan nuansa yang didominasi putih dan pink, sementara ditaman belakang yang luas juga telah disulap dalam sekejap untuk persiapan acara resepsi sebentar malam, dengan konsep private party untuk para tamu undangan dengan jumlah yang terbatas.


"Cantiknya kamu, Seiy.." Riri berbisik sambil membalas pelukan Seiyna yang begitu erat ditubuhnya.


"Kamu juga cantik, Ri.." Seiyna menatap Riri takjub yang terbalut kebaya modern minimalis.


"Akhirnya.. resmi juga jadi Nyonya Bima Sanjaya.." bisik Riri menggoda Seiyna yang langsung melotot kesal.


"Ishh.. apaan sih.." Seiyna merenggut dengan wajah cemberut, sebelum akhirnya memilih menghempaskan tubuhnya disisi Riri yang duduk disalah satu kursi yang letaknya disudut yang begitu strategis, sehingga dari tempat mereka duduk saat ini, semua pemandangan diruang keluarga itu bisa mereka berdua awasi dengan jelas, dimana sebagian besar tengah menikmati sajian yang ada dengan pembicaraan-pembicaraan akrab, termasuk pemandangan Bima dengan balutan jas putih yang sedang asik mengobrol dengan Sean, serta seorang pria yang entah siapa.


Tatapan Riri dan Seiyna seolah terkunci kearah yang sama, tanpa kata.


"Aku benar-benar wanita yang buruk, Ri. Tapi hingga detik ini, menyadari aku menjadi istri pengawalku sendiri rasanya belum bisa aku terima.."


Riri mengalihkan pandangannya kearah Seiyna yang duduk terpekur disampingnya.


"Ssstt.. Seiyna, kamu ini bicara apa..? jangan mengatakan hal seperti itu lagi, tidak enak jika didengar orang lain.. apalagi kalau didengar Bang Bima.."


Mendengar kalimat Riri, Seiyna hanya mengedikkan bahunya acuh dengan senyum getir dibibirnya.


"Kalau kamu jadi diriku, apakah kamu bisa menerimanya, Ri..?" lirih suara Seiyna lagi, kali ini sepasang kelopak matanya kembali berkaca-kaca.

__ADS_1


Mendengar kalimat pesimis Seiyna yang bergetar membuat Riri yang kini balik terpekur.


Untuk beberapa saat lamanya Riri tidak mampu mengatakan kalimat apapun.. sampai akhirnya Riri telah berucap lirih.


"Entahlah, Seiy.. aku juga tidak tau, apakah aku bisa menjadi seorang yang begitu berlapang dada menerima kenyataan seperti yang kamu hadapi saat ini. Tapi satu hal yang pasti.."


Riri menatap Seiyna dalam-dalam, hingga kedua manik mata mereka bertaut satu sama lain.


"Kalau aku jadi dirimu, maka aku akan sangat menghargainya.."


"Jadi maksudmu.."


"Bagaimanapun, Bang Bima adalah pria yang baik. Bang Bima tidak melakukan kesalahan dimalam itu, ia hanya berada di situasi yang membuatnya terlihat bersalah, dan Bang Bima mampu menerima kesalahanmu. Tidak semua pria bisa bertanggung jawab layaknya pria sejati.. seperti Bang Bima, Seiyna.."


Seiyna terdiam, menyaksikan sepasang mata Riri yang bersinar sendu, seperti ada sebuah luka didalamnya.


"Riri.. kamu kenapa..?"


Seiyna menyentuh kedua bahu yang menyiratkan kegelisahan samar, yang jika dirinya tidak jeli maka pemandangan itu pasti akan terlewat begitu saja.


"Riri.. katakan padaku ada apa..?"


Riri mendongak, saat ia memberanikan diri menatap Seiyna, wajahnya telah dipenuhi air mata.


"Riri, kamu.."


"T-tapi.."


"Hari ini kamu cantik sekali, Seiy. Aku bahagia untukmu. Saking bahagianya aku sampai terharu begini.." Riri telah menangis dengan sukses, hingga kedua bahunya turun naik, tapi ia berusaha sekuat tenaga menaruh seulas senyum dibibirnya, seolah ingin meyakinkan Seiyna bahwa dirinya baik-baik saja.


"Aaaaa.. Ririii.. apaan sih, melihatmu seperti ini membuatku ingin menangis juga."


"Tidak, tidak, jangan menangis, nanti make up diwajahmu rusak." larang Riri buru-buru ingin mengusap pipinya sendiri dengan punggung tangannya, tapi pergelangan tangannya tiba-tiba telah terhenti diudara.


Riri terkesima melihat jari jemari kokoh khas seorang pria terlihat begitu kontras saat melingkari pergelangan tangannya yang mungil.


Rasa hangat telah menjalar dari sana.. hangatnya mengalir begitu cepat, dalam waktu singkat telah sampai kerelung jiwa Riri yang terdalam.


"Pakai ini." suara itu terdengar datar.


Dengan sekali gerakan jemari kokoh milik Sean telah membalikkan telapak tangan Riri hingga tengadah, dan dengan tangan yang satunya lagi, Sean menaruh sebuah sapu tangan berwarna caramel diatas telapak tangan Riri yang berkeringat dingin.


"Kamu akan merusak wajahmu sendiri, kalau mengusap wajahmu dengan menggunakan tanganmu seperti itu." ucapan datar Sean terdengar sambil lalu, seiring dengan tubuh pria itu yang juga berlalu dengan acuh.


Meskipun sedikit ragu, akhirnya Riri menyusut beberapa bening yang ada dipipinya hati-hati, dengan sapu tangan Sean yang menguarkan aroma yang khas pria itu.


"Cih, dasar kulkas.."


Riri terhenyak mendengar umpatan lirih Seiyna yang masih berada disampingnya, yang ditujukan untuk kakaknya sendiri yang telah menjauh.

__ADS_1


"Oh iya, Ri. Kak Rei dan Kak Nisa belum kembali yah?" ujar Seiyna lagi begitu teringat sejak tadi ia tidak melihat kedua sosok itu.


"Belum, Seiy. Perjalanan mereka akan memakan waktu yang lama, minimal dua bulan." jawab Riri, berusaha mengalihkan fokusnya kembali ke Seiyna, setelah tadi telah tercuri sempurna oleh kehadiran Sean yang tiba-tiba.


Seiyna manggut-manggut mendengarnya.


"Private party sebentar malam kayaknya lumayan meriah deh, Ri, meskipun terbatas, tapi akan ada beberapa penyanyi solo terkenal yang akan hadir.." Seiyna berujar lagi, kali ini membahas konsep private party yang merupakan kejutan manis yang diberikan Daddy Tian dalam waktu yang relatif singkat.


"Aku sudah tau, Mommy Arini sudah mengatakannya padaku tadi pagi terlebih dahulu, bahwa Daddy Tian sengaja mengundang mereka untuk memeriahkan acara sebentar malam.."


"Aku merasa tidak sabar.." Seiyna berucap riang, wajahnya kini terlihat berseri-seri.


"Apanya yang tidak sabar..?"


"Aku tidak sabar menunggu nanti malam.."


"Nanti malam..?" alis Riri bertaut sempurna mendengar kalimat bernada ambigu itu.


"Iya, nanti malam. Aku tidak sabar mendengar lagu it's only me langsung dari penyanyi aslinya.."


Mendengar itu Riri terlihat sedikit melengos. "Kirain tidak sabar untuk MP.."


"MP..?"


"Iya MP.."


"MP apaan sih..?" dua alis Seiyna yang terukir rapi terlihat nyaris bertaut.


"Malam Pertama.." bisik Riri tepat ditelinga Seiyna.


Mendengar bisikan itu wajah serius Seiyna sontak memerah seluruhnya.


Seiyna menatap marah kearah Riri yang malah tengah tersenyum usil kepadanya.


"Ririiii..!"


Wajah Seiyna telah memerah, kesal campur malu, layaknya buah tomat yang sedang matang sempurna..


.


.


.


Bersambung..


Berikan Like, comment, FAVORITE-KAN jangan lupa, Vote, hadiah.. semuanya.. 😀


Thx and Lophyuu all.. 😘

__ADS_1


__ADS_2