
Sudah LIKE dan SUPPORT bab sebelumnya kan..?
Kalau sudah.. lanjut.. 🤗
.
.
.
Malam ini, menurut informasi yang didapat Bima, salah seorang anak pejabat tinggi akan mengadakan private party di The Reds. Itu berarti khusus untuk malam ini, The Reds telah dibooking penuh hanya untuk yang terundang, dan sudah pasti tidak terbuka untuk publik.
Namun bagi Bima dan seorang Sean Argano Putra Djenar, mendapatkan akses untuk masuk ketempat ini bukanlah hal yang rumit.
Persoalan mengapa Sean begitu ngotot ingin berada dalam private party malam ini adalah karena Sean mengetahui, bahwa Liliyana dan teman-teman modelnya juga merupakan barisan tamu undangan yang akan menghadiri private party.
Dan yang lebih menguatkan keinginan Sean lagi.. karena sepertinya saat ini Liliyana sedang melakukan upaya pdkt pada sang anak pejabat yang berulang tahun, yang dengar-dengar bahkan telah memiliki kekasih.
"Dasar buaya betina.."
Rutuk Sean dalam hati, menyadari bahwa Liliyana benar-benar tipe wanita yang sangat suka mencari peluang untuk mendekati para pria borjuis, sedangkan sahabatnya Rei selalu saja termakan pembelaan diri dari buaya betina itu, acap kali Liliyana terciduk melakukan aksi mendekati pria tajir, sama seperti yang pernah terjadi padanya diwaktu yang lalu.
"Pokoknya malam ini tidak boleh gagal, Bang. Sebelum Rei berangkat besok.. Rei harus tau terlebih dahulu belangnya wanita sinting itu.." ujar Sean geram dipenuhi tekad yang meluap, yang disambut anggukan santai dari kepala Bima. "Sebaiknya kita tunggu Rei didalam saja, Bang.." usul Sean lagi sambil menenggak minuman kalengnya hingga tandas.
__ADS_1
Bima lagi-lagi mengangguk, mengiyakan kalimat Sean. "Sini kalengnya, biar sekalian aku buang.." ujar Bima seraya mengambil alih kaleng kosong yang ada ditangan Sean.
Bima berjalan kebelakang mobilnya dimana tadi ia sempat melihat tong sampah disana. Namun usai membuang dua kaleng kosong kedalam tong sampah, saat Bima berbalik sepasang mata Bima mendadak menyipit.
"Seiyna..?"
Bima bergumam perlahan seolah pada dirinya sendiri saat tanpa sengaja ia melihat sekelabat bayangan seorang gadis bertubuh ramping dengan rambut panjang terurai, baru saja melintasi parkiran menuju pintu masuk The Reds.
Bima tidak mungkin salah mengenali Seiyna, namun saat memikirkan bahwa teramat sangat tidak mungkin jika gadis belia yang memasuki The Reds itu adalah anak gadis majikannya, sekaligus adik semata wayangnya Sean yang saat ini tengah bersamanya, mendadak Bima sedikit meragu.
"Bang Bima, ada apa..? kenapa diam disitu..?"
Saat Bima menoleh, ia tengah mendapati wajah Sean yang sedang melongok kearahnya.
Bima kembali melangkah mendekati Sean yang nampak telah siap untuk beranjak masuk, memilih menyimpan rasa penasarannya akan sosok gadis yang sangat mirip Seiyna itu untuk dirinya sendiri.
'Aku harus memastikannya..'
Dalam hati Bima membathin, sebelum mengiyakan ajakan Sean untuk masuk kedalam The Reds saat itu juga, memilih menunggu Rei didalam sana.
XXXXX
Seperti sedang terdampar di planet lain.
__ADS_1
Mungkin itulah kalimat yang paling tepat untuk menggambarkan apa yang dirasakan Seiyna dan Riri begitu menginjakkan kaki pertama kali didalam gedung yang dipenuhi hingar bingar music house yang menghentak.
Baru sekitar lima langkah melewati pintu The Reds, Riri telah kehilangan keberaniannya. Riri bahkan nyaris menangis saat membujuk Seiyna untuk kembali, namun yang ada kehadiran Rendi yang memang telah menanti kehadiran Seiyna membuat langkah kaki mereka berdua bukannya berbalik arah, namun semakin masuk kedalam, melintasi hiruk-pikuk bejubel manusia yang sedang asik bergoyang mengikuti hentakan musik, larut dalam euphoria pesta, menuju kearah ruangan yang semakin remang dengan cahaya berkelap-kelip yang khas tempat hiburan malam.
Seiyna nampak sangat bahagia saat Rendi menggenggam jemarinya, dan gadis itu bahkan tidak keberatan sama sekali begitu Rendi langsung menariknya menuju sebuah private room, dimana beberapa orang teman-teman Rendi yang didominasi kaum Adam itu nampak telah duduk disofa besar, dengan meja didepannya yang penuh berisikan cawan dan botol-botol minuman yang bertebaran.
Baik Seiyna maupun Riri langsung bisa mengenali beberapa orang teman Rendi yang merupakan kakak tingkat mereka berdua dikampus, namun beberapa orang diantaranya juga merupakan wajah-wajah asing.
"Cieee.. the new best couple kita udah ada nih. Sudah resmi nih, bro..? siap go public..?" Roni, salah seorang kakak tingkat terdengar menggoda Rendi dan Seiyna yang muncul dihadapan mereka dengan jemari bertaut. Celetukan pria itu disambut dengan antusias oleh semua yang berada diruangan itu, yang kemudian memfokuskan diri pada sang pemilik pesta yang sedang berultah, yang malam ini terlihat telah menggandeng wanita yang baru lagi.
Wajah Seiyna sontak merona malu namun Rendi malah menarik bahu Seiyna untuk merapat padanya.
"For the last of my life.." ucap Rendi, gombal, semakin membuat teman-temannya antusias menggoda dengan berbagai celetukan.
"Halahh.. Seiyna, jangan mudah percaya dengan kalimat manis. Kemarin sama yang model itu Rendi juga mengatakan kalimat yang sama. For the last of my life.. basi lo.." kali ini suara lantang seorang wanita yang terdengar. Kalau tidak salah namanya Dewi, kakak tingkat juga, kekasih Roni, pria pertama yang menggoda Rendi dan Seiyna.
Konon dulunya Dewi juga pernah menjadi kekasih Rendi. Mungkin itulah sebabnya kalimatnya terdengar lumayan judes. Masih agak gagal move on rupanya.
.
.
.
__ADS_1
LIKE dan SUPPORT dulu bab nya baru lanjut yah.. 🤗