
Rei berlari kencang sambil membopong tubuh Riri, menyusuri selasar depan rumah sakit Indotama Medical Centre.
Rasanya ia bahkan tidak bisa membuang waktunya sedetik pun hanya demi menunggu para perawat mengambilkan brankar dorong pasien, sehingga ia memutuskan berlari membopong tubuh Riri ke Unit Gawat Darurat.
Dibelakangnya Sean dan Nisa mengejarnya dengan langkah yang juga tergesa.
"Maaf, Pak.. sebaiknya semuanya menunggu diluar dulu.."
Seorang perawat telah memerintahkan ketiganya untuk berada diluar begitu Riri telah terbaring diatas ranjang Unit Gawat Darurat, masih dalam keadaan tak sadarkan diri.
"Tunggu dulu, suster.. Riri.. adikku.."
"Maaf Rei, tunggulah diluar sebentar, kalian juga.." dokter Erlan tampak muncul dari pintu dengan langkah tergesa, langsung mendekati ranjang pasien dimana Riri terbaring tak berdaya sambil memasang stetoskop dikedua telinganya.
"Mari Pak.." Suster yang tadi kembali mengingatkan Rei yang masih mematung dengan wajah cemas, sambil mempersilahkan Rei keluar, namun pria itu baru bergeming manakala Nisa telah memaksa menarik pergelangan tangannya.
"Ayo Rei, kita menunggu diluar saja."
Mau tak mau Rei pun menuruti ajakan Nisa yang terus menariknya keluar, melewati tubuh Sean yang masih berdiri tegak dengan wajah berantakan. Lebam, bercampur air mata, serta darah yang mengering.
"Sean, ayo keluar dulu, dokter Erlan butuh waktu untuk memeriksa Riri." ujar Nisa mengingatkan Sean yang belum juga bergeming.
Sean terlihat menunduk sejenak sambil menghembuskan nafasnya dengan berat.
"Mari, Pak.." suara suster yang kembali terdengar, mau tak mau membuat Sean menatap kearah wajah pucat Riri sejenak, sebelum akhirnya mundur perlahan dan keluar dari sana dengan langkah gontai.
Sean memilih duduk disalah satu bangku panjang yang ada didepan ruang Unit Gawat Darurat, sementara Rei terduduk dilantai agak jauh dari dirinya, dengan posisi punggung bersandar, menempel didinding.
Sepasang mata Rei terpejam kuat dan dadanya bernafas turun naik masih tak beraturan.
'Oh God.. kalau terjadi sesuatu dengan Riri dan bayinya, aku sungguh tidak bisa memaafkan diriku sendiri..'
Rei terpekur sedih, dadanya seolah tercabik-cabik dengan perih saat menyadari dirinyalah penyebab Riri terbaring lemah diatas ranjang pasien Unit Gawat Darurat didalam sana.
Dua buah tangan yang lembut terasa menyentuh dan meremas pelan dua buah dengkulnya yang terlipat, membuat Rei sontak membuka matanya.
Rei mendapati Nisa yang sedang berjongkok tepat dihadapannya, dengan ponsel ditangan setelah tadi wanita itu terlihat menerima panggilan masuk, begitu mereka baru saja keluar dari pintu Unit Gawat Darurat.
"Daddy dan Mommy sudah diparkiran dan.." ujar Nisa mengambang, dengan mata bergerak-gerak.
"Dan apa..?"
Nisa terlihat menarik nafas berat sambil melirik Sean yang terlihat terpekur kalut diatas bangku panjang.
"Daddy Tian dan Mommy Arini juga.."
__ADS_1
Rei menelan ludahnya kelu. Matanya ikut melirik Sean sejenak sebelum akhirnya melengos kesal..
Rei merasa kemarahannya bahkan belum berkurang sedikitpun untuk pria yang entah bagaimana ceritanya bisa membuat dirinya lengah, sehingga dengan leluasa telah membodohi Riri adiknya yang polos, tanpa membuatnya curiga sedikit pun.
'Dasar playboy brengsek..!'
Rei menggeram dalam hati.
"Saat tadi aku menelpon diperjalanan kesini, Mommy dan Daddy telah sampai dirumah. Dan begitu mereka berdua hendak menyusul kemari.. mobil Daddy Tian dan Mommy Arini malah tiba disana juga. Aku tidak tau apa yang membuat Daddy Tian dan Mommy Arini bisa muncul dirumah secara bersamaan.. tapi yang jelas, mereka semua sudah tau kalau Riri hamil, dan Sean yang harus bertanggung jawab.."
"Dasar baji ngan.." rutuk Rei semakin kesal, tangannya terkepal ingin kembali menghajar wajah Sean, namun urung ketika tersadar sedang berada dirumah sakit, sehingga ia tidak boleh membuat keributan.
Nisa terlihat meremas dua kepalan tangan Rei kedalam genggamannya, seolah ingin meredam kemarahan Rei yang kembali membuncah.
Bertepatan dengan itu, terdengar suara tapak kaki tergesa yang beradu dengan lantai selasar.
Suara itu berasal dari empat orang yang sedang berjalan mendekat, yang semua wajahnya diliputi ketegangan yang teramat sangat.
Sean, Rei dan Nisa sama-sama menengok keujung selasar, dan Sean menjadi orang pertama yang berdiri menyadari kehadiran keempat orang tersebut.
"Sean.. Rei.. bagaimana keadaan Riri..??"
Meta yang telah menjadi orang yang paling tidak sabar, terlihat berlari meninggalkan ketiga orang dibelakangnya yang juga sebenarnya pun kini sedang berjalan tergesa bahkan nyaris berlari.
Rei dan Nisa pun datang mendekat.
Bugghh..!!
Ucapan Sean belum selesai manakala ia telah kembali terduduk dikursi, begitu sebuah kepalan tangan yang besar dan keras menghujam tepat diwajahnya.
"Sayaanngg..!!" Arini memekik saat menyaksikan darah segar yang kembali mengucur, kali ini tidak hanya dari hidung melainkan juga dari sela-sela bibir Sean.
"Dasar anak ku rang ajar..!! kamu sudah membuat Daddy malu dengan kelakuanmu..!!" Tian mengumpat marah.
Tian bahkan tidak hanya sedang menarik kerah kaos yang dipakai Sean, melainkan langsung menarik batang leher Sean dan langsung mencekiknya dengan sekuat tenaga.
Seumur hidupnya, baru kali ini Tian merasa sangat marah dan kecewa, hingga berani menjatuhkan tangan diwajah putra sulung yang selama ini selalu menjadi kebanggaan serta tumpuan harapannya.
"Tian..! hentikan..!" Rico menarik tangan Tian, mencoba membebaskan cekikan di leher Sean yang sepertinya bahkan tidak sedikitpun mencoba melawan kemarahan Daddynya.
"Tian..!! aku bilang lepaskaann..!!" suara Rico terdengar menegas, seraya mengeluarkan seluruh tenaganya guna menghentak tangan yang mencekik kuat tersebut hingga terlepas, kemudian dengan sigap menarik tubuh Tian menjauhi Sean yang langsung merosot lemas keatas kursi sambil memegang lehernya yang merah dan membiru.
Sean bahkan terbatuk-batuk untuk beberapa saat.
Arini menatap Meta, yang berdiri mematung menatap Sean tanpa kata, namun berurai air mata.
__ADS_1
Refleks Arini memeluk wanita yang terlihat begitu rapuh serta sarat kesedihan yang tak terungkapkan itu.
"Meta, maaf.. maafkan aku dan Tian. Ini salah kami, kami yang gagal mendidik Sean dengan baik.." ujar Arini dengan berurai air mata, membuat tangis Meta terdengar semakin tak terbendung.
Nisa yang melihat adegan haru itu nampak menyembunyikan wajahnya yang juga telah dipenuhi air mata dilengan Rei.
Sungguh dirinya tak sanggup melihat pemandangan dua orang ibu yang hatinya terluka secara bersamaan, sedang berpelukan sambil berurai air mata.
Sean terlihat menjatuhkan dirinya kelantai, beringsut mendekati kaki dua orang ibu yang telah ia khianati karena kekhilafannya yang telah menodai putri keduanya.
"Mommy.. maaf.. maafkan aku.. ampuni aku Mommy Meta.. Mommy Arini.. ini semua salahku, aku mohon, Momm.. ijinkan aku bertanggung jawab atas semua ini. Mommy aku berjanji akan menjaga Riri seumur hidupku.. aku mohon Momm.. maafkan aku, ampuni aku, Momm.. ampuni aku.." Sean tak mampu lagi meneruskan kalimatnya yang terbata-bata, karena saat ini ia telah menangis sesegukan, memohon ampun ditelapak kaki dua wanita yang telah ia sakiti hatinya dengan begitu dalam.
"Sean, bangunlah.. jangan seperti ini.. kamu anak Mommy juga.. jangan seperti ini.." ujar Meta sambil menunduk, berusaha mengangkat tubuh Sean yang bersimpuh dilantai masih sambil menangis.
Bersamaan dengan itu pintu ruangan Unit Gawat Darurat telah terbuka, seiring dengan munculnya sosok dokter Erlan disana.
Semua yang ada ditempat itu beringsut mendekat, tak terkecuali Rico dan Tian yang berdiri agak jauh dari sana.
"Dokter, bagaimana keadaan Riri..?" Sean menatap dokter Erlan dengan tatapan was-was.
"Tidak usah khawatir, Riri sudah siuman.."
"Bagaimana bayinya, dok..?" pungkas Meta tak sabar.
"Tidak apa-apa. Ibunya begitu kuat, sehingga bayinya pun baik-baik saja.."
"Alhamdulillah.."
Bersahut-sahut pujian terucap beriringan, sebagai ungkapan syukur dari refleksi kelegaan, meskipun semua mata yang berada disana.. tak ada satupun yang tidak bertelaga..
.
.
.
Bersambung..
Pasti comentnya "Masih kuraaaanngg othooor.."
Akh, dasar kalian reader kesayanganku yang manja..! klw dekat kalian mau tak cubit satu-satu saking aq gemeeuussshh..! 😅
Follow my Ig. @khalidiakayum
Fb. Lidia Rahmat
__ADS_1
Banyakin like, support, vote nya doooonggggg.. 😀
Thx and Lophyuu all.. 😘