PASUTRI

PASUTRI
Semakin terikat


__ADS_3

Waktu terindah adalah saat aq membaca semua coment dan menerima semua dukungan baik di novel ini maupun lewat promo sukarela kalian. 🤗


Maaf sering buat kalian menunggu, karena up nya lelet. Sungguh aku suka sekali kisah PASUTRI, tapi jadi tidak bersemangat karena pop novel ini hancur banget, sampai tamat gak ada hasilnya, karena yang baca hanya reader bawaan novel Ceo Tampan dan Istri Rahasia, itupun hanya sebagian kecilnya. (Sediihh.. 🥺)


Sekali lagi maaf, jika kisahnya harus berakhir. Sengaja aku bikin selesai tapi kayak menggantung, agar jika suatu saat hati ini tergerak maka akan aq lanjut (Tapi gak mau janji 😑)


Tapi kalau dengan tamat, PASUTRI bisa dapat panggung di NovelToon, maka kemungkinan besar akan aq teruskan. (Kalau dapat panggung yah 😌)


So, jangan di unfavorite-kan novel ini yah.. pliiss.. 🙏


...


"Selamat atas pernikahanmu, Sean, semoga kamu bahagia.."


Sean menaruh ponselnya kembali keatas nakas. Memilih tidak membalas chat singkat dari Elsa, yang memberikan ucapan selamat atas pernikahannya dengan Riri.


Bukan tidak menghargai ucapan tersebut, tapi Sean lebih ingin mengenyahkan semua pemikiran-pemikiran yang ada diotaknya tentang apapun, memilih fokus pada wanita yang didalam tubuhnya kini sedang bersemayam sosok mungil yang merupakan bagian dari dirinya.


Hanya dengan membayangkan hal itu saja, Sean sudah merasakan hatinya seolah dipenuhi kelopak bunga mawar. Indah, wangi, dan membahagiakan.


Baru kali ini Sean merasakan perasaan yang sangat spesial seperti itu, dan rasanya sungguh luar biasa..!


"Lelah..?'


Sean menatap Riri yang sedang memijat betisnya sendiri. Gadis itu terlihat menganguk kecil, sebelum kembali meneruskan pergerakan jemarinya yang kembali memijat dua buah betisnya yang terasa kaku usai resepsi yang melelahkan.


Sean tersenyum sambil mendudukkan dirinya disamping Riri, langsung ikut memijat sepanjang betis milik Riri tanpa aba-aba.


"Biar aku saja," ujarnya masih dengan senyum yang sama.


Riri yang awalnya terlihat enggan akhirnya menarik kedua tangannya, membiarkan Sean menggantikan apa yang telah ia lakukan sejak tadi.


Untuk sejenak tak ada yang bicara diantara mereka.


"Riri.." panggilan Sean yang perlahan terdengar mengurai keheningan yang ada.


"Iya, kak..?"


"Kalau kamu butuh sesuatu, jangan sungkan untuk mengatakannya." ujar Sean sambil mendongak, guna mendapati wajah Riri disana, yang juga sedang menatapnya dengan tatapan yang masih saja sulit Sean artikan maknanya.


"I-iya baiklah, Kak.."


"Aku ingin, kedepannya kita bisa membicarakan tentang semuanya. Jangan menyembunyikan sesuatu, dan katakan saja jika ada sesuatu yang mengganjal dihatimu.." Sean kembali berucap, yang lagi-lagi disambut anggukan kecil oleh Riri.


Sean merasa ia memang harus mengatakan semua itu, oleh karena sifat Riri yang sedikit tertutup. Karena meskipun Sean telah mengenal Riri sejak kecil, bukan dalam arti dia juga mengenal dengan baik sikap Riri seperti apa.


Sungguh selama ini Riri sangat luput dari perhatian Sean, karena sepanjang waktu, Sean tidak pernah melihat gadis itu dengan istimewa.


Dan kalau saja malam itu, Riri tidak terpengaruh obat perangsang, yang membuat gadis itu bertingkah liar, diluar kendali dan membuat Sean lupa diri, sehingga Riri hamil setelah kekhilafan yang terjadi.. Sean bahkan tidak yakin apakah Riri dan dirinya benar-benar bisa berakhir menjadi pasangan suami istri seperti saat ini..?


Seminggu terakhir ini Sean benar-benar nyaris selalu berada disisi Riri. Memperhatikan setiap gerak-gerik gadis itu hingga ke yang terkecil, mempelajari sifat Riri dalam diam, dan Sean telah banyak menyimpulkan bahwa Riri benar-benar sosok pribadi yang jauh berbeda dengan Seiyna adiknya.


Jika Seiyna begitu ekspresif dalam menyikapi sesuatu, Riri adalah kebalikannya. Seiyna adalah pribadi yang menggebu, sedangkan Riri adalah tipe yang hatinya tak tersentuh. Seolah tidak bisa tersakiti dengan mudah.. namun tidak juga dengan mudah dibahagiakan..


Entahlah..


Dimata Sean.. Riri adalah pribadi yang unik, namun tidak terlalu banyak menuntut. Sean cukup menyukainya, meskipun disaat yang bersamaan selalu merasa ada yang kurang.. entah dibagian mananya.

__ADS_1


"Kak, sudah cukup." tangan Riri yang lembut menahan kedua tangan Sean. Menghentikan pergerakan jemari, sekaligus mengurai lamunan Sean hingga terburai.


"Yakin nih..?"


"Hhmmm.."


"Ya sudah, kalau begitu lanjut.."


"Lanjut..?"


"Sean menganguk sambil mengerling nakal. "Lanjut menjenguk dedek bayi.."


Dalam sekejap Sean telah mendorong lembut kedua bahu Riri agar rebah diatas ranjang empuk kamar president suite hotel Mercy, hotel mewah bintang lima yang telah berpindah kepemilikan atas nama Rei, tempat dimana dua keluarga besar mereka menginap, usai dilangsungkannya resepsi pernikahan yang megah.


Riri bersemu malu begitu mengetahui keinginan Sean yang telah menunjukkan hasratnya, langsung mengawalinya dengan sebuah ciu man yang begitu lembut dan membuai.


Sebelum perhelatan resepsi malam ini yang begitu megah, sebenarnya hanya dua hari berselang dengan Riri yang diperbolehkan keluar dari rumah sakit seminggu yang lalu, mereka telah sah sebagai pasangan suami istri, usai melangsungkan akad nikah secara sederhana dirumah kediaman keluarga Wijaya.


Dan terhitung sejak saat itu pula Sean benar-benar menepati janjinya.


Janji..?


Iya. Janji..!


Janji bahwa kelak jika mereka sah, pria itu akan selalu menengok si dedek bayi, dan Sean benar-benar melakukannya.. nyaris setiap hari..!


Mungkin bisa setiap hari kalau tidak mengingat kondisi Riri.


Dan malam pun terus merangkak semakin larut, memeluk bumi dengan segala keutuhannya.


Sehangat percin taan sepasang manusia..


Yang terus bercum bu penuh gelora..


XXXXX


"Tian, aku sungguh tidak menyangka jika pada akhirnya kita berdua akan memiliki cucu bersama-sama.. diwaktu yang bersamaan.." Rico berucap dengan senyum jumawa.


Malam ini dua keluarga besar itu telah berkumpul dan mengobrol santai di lounge milik hotel Mercy yang bernuansa cozy.


Tian dan Arini, Rico dan Meta, Rei dan Nisa, serta Bima dan Seiyna.


Semuanya merupakan empat pasang suami istri dari dua keluarga besar yang telah resmi berbesan.


Mereka duduk disebuah sofa besar sambil ngopi dan mengobrol santai, ditemani iringan instrumen musik jazz yang mengalun lembut, seolah ingin melepas lelah atas serangkaian prosesi resepsi pernikahan Sean dan Riri yang baru saja usai.


Hanya Sean dan Riri yang tidak nampak, karena keduanya telah masuk ke kamar mereka terlebih dahulu dengan dalih beristirahat, karena kondisi Riri yang sedang hamil muda.


"Kamu benar, Co, semua ini sungguh luar biasa. Aku bahkan tidak menyangka kita berdua akhirnya bisa semakin terikat seperti ini karena Sean dan Riri, sehingga bisa punya cucu barengan juga.." ujar Tian diiringi anggukan kepala semua yang berada disana.


"Dan semoga yang ini cepat menyusul.." ujar Meta sambil mengusap bahu Nisa yang duduk diantara dirinya dan Rei.


Nisa dan Rei menyambut selorohan Mommy mereka sambil tersenyum malu.


"Yang ini juga.." pungkas Arini sambil menatap menepuk bahu Seiyna yang sejak tadi terus saja gelendotan manja dilengannya.


"Amin.. amin.. " respon yang sama terdengar sahut menyahut.

__ADS_1


"Masih semanja itu memangnya sudah bisa diharapkan bisa saingan sama Nisa..?" tiba-tiba celetukan Rico membuat semua yang mendengarnya terhenyak sesaat sebelum gelak tawa memecah, menyisakan wajah Bima dan Seiyna yang bersemu merah.


"Daddy Rico, jangan menyepelekan aku yah.. nanti jangan kaget kalau aku yang duluan punya dedek bayi didalam perut.." ujar Seiyna sewot, malah mengundang tawa yang semakin meriah.


"Wah.. Bim, kalau kayak gini ceritanya itu artinya kamu harus kerja keras nih.." timpal Rico lagi kemudian mengalihkan wajahnya kepada Tian. "Dan kamu Tian, tolong kurangi beban pekerjaan Bima, gak kasihan kamu sama menantu sendiri..? double kerja kerasnya.."


"Daddy Rico nyebelin ihh..!!"


Terang saja Seiyna tambah sewot, sementara wajah Bima semakin memerah karena malu, mendapati godaan bertubi-tubi tersebut meskipun mencoba terus tersenyum kikuk.


"Sudah.. Daddy, sudah..!" Meta merasa perlu melerai Rico yang kalau tidak dihalangi pasti akan terus menggoda Seiyna seperti biasa, terkadang sampai membuat Seiyna menangis.


"Mommy.. stop ketawanya.." Seiyna merajuk kesal kearah Arini yang masih saja tertawa akibat ledekan Rico untuk putrinya yang manja.


"Iya.. iya.. maaf sayang.. nih sudah berhenti.." ujar Arini buru-buru menutup mulutnya begitu menyadari wajah Seiyna yang nyaris menangis.


"Sudah.. hentikan.. mari kita istirahat saja.." Tian akhirnya harus turun tangan untuk bantu melerai, menyadari sepasang mata Seiyna yang berkaca-kaca akibat ulah Rico yang tidak pernah berubah dari dulu sampai sekarang, selalu saja usil dan suka menggoda Seiyna, putri bungsunya yang manja.


Mendengar titah Tian yang telah bangkit dari duduknya, semuanya pun mengangguk setuju dan ikut bangkit berbarengan.


"Maafkan Daddy yah, daddy cuma becanda.." ujar Rico yang mendekati Seiyna terlebih dahulu dengan senyum.


"Daddy Rico ngeselin. Dari dulu suka banget godain.."


"Ya sudah Daddy minta maaf."


"Kasih hadiah dulu baru aku maafin." pungkas Seiyna keras kepala, dengan wajah yang masih terlipat.


"Bagaimana kalau boneka hello kitty yang besar..?"


"Sudah punya."


"Kalau begitu yang dua kali lipat lebih besar.." rayu Rico, mampu mengundang senyum semua orang yang menyaksikan usaha gigihnya mendapatkan maaf Seiyna.


'Dasar perayu ulung..!'


Mungkin begitu kalimat yang ada diotak Tian, Arini dan Meta yang ketiganya saling pandang melihat gaya profesional Rico yang sedang berusaha merayu Seiyna untuk mendapatkan maaf.


Ketiganya saling tersenyum sambil menahan tawa, terlebih saat melihat Seiyna yang seperti biasa dengan mudah terpancing sehingga mulai melirik Rico.


"Yang benar, Dadd.."


"Iya dong, kapan Daddy bohong.."


"Baiklah, dua kali lipat lebih besar yah.." ujar Seiyna langsung luluh, kini sepasang matanya mulai berbinar saat menatap Rico.


'Dasar bocah..'


"Ahsiyaap bosku.." pungkas Rico dengan semangat empat lima, sambil mengambil sikap hormat dengan gayanya yang konyol.


Terang saja pemandangan tersebut, mampu membuat semua orang yang ada disana kembali terpingkal-pingkal.


...


Next.. jangan lupa taburkan semua support di injury time.


Like, comment, tip, vote, semuanya.. 🤗

__ADS_1


__ADS_2