PASUTRI

PASUTRI
Mengikuti saran Mommy


__ADS_3

Nisa mematut dirinya sekali lagi, didepan cermin besar.


Dadanya berdebar penuh kegugupan, terlebih saat kembali mengawasi sosoknya yang terpantul jelas dipermukaan cermin.


"Ya, ampun.. sepertinya ini berlebihan.." berucap panik pada dirinya sendiri dengan wajah yang frustasi.


Gaun tanpa lengan berwarna dusty pink itu nampak menempel ketat ditubuhnya.


Nisa bisa saja dengan narsis mengakui dirinya sungguh cantik dan sexy memakai gaun pilihan mertuanya itu, namun tetap saja begitu memakainya rasa kepercayaan dirinya langsung terbang begitu saja.


Yah.. ini memang gaun pilihan ibu mertuanya. Siapa lagi kalau bukan Mommy Meta?


Dan semua kegugupan serta rasa insecurenya ini berawal dari tadi sore.


Karena tidak tau harus melakukan apa, iseng-iseng Nisa membuka lemari yang berisikan beberapa pasang pakaiannya.


Sebelum sempat berpamitan untuk pergi ke pusat kebugaran yang menjadi salah satu fasilitas yang ada di hotel, Rei telah mengatakan akan mengajaknya dinner di cafe and lounge milik Hotel Mercy yang sedang mereka tempati ini.


Bukan apa-apa, tapi mendadak Nisa teringat bahwa ia bahkan tidak membawa pakaian yang cukup bagus untuk dipakai dinner sebentar malam.


"Apa aku perlu membeli baju baru yah? kalau aku tidak berpakaian yang layak, nanti aku akan membuat Rei malu.." ucap Nisa saat itu, seolah sedang berucap pada dirinya sendiri.


Baru saja hendak menimbang sejenak, apakah dia harus menelpon Rei untuk minta ijin keluar sebentar karena disekitar Hotel juga ada mall yang memiliki beberapa toko pakaian yang bagus, tiba-tiba ponsel Nisa sudah berdering terlebih dahulu.


Nama Mommy Meta yang ingin menghubunginya lewat panggilan video call itu tercetak jelas dilayar ponselnya, membuat Nisa langsung menggeser icon hijau dengan penuh semangat.


"Assalamualaikum, Momm.." sapa Nisa dengan sumringah.


"Waalaikum salam, Nis. Bagaimana kabar kalian..?" dilayar ponsel Nisa, Mommy Meta sedang tersenyum saat mendapati wajah Nisa, menantu pilihannya.


"Alhamdulillah, baik Momm."


"Rei mana?" tanya Meta begitu menyadari putranya tidak terlihat batang hidungnya, karena biasanya Rei akan langsung muncul begitu saja setiap kali mengetahui Meta menelpon atau melakukan video call.


"Tadi katanya pamit mau nge-gym, Momm.."


Mendengar itu Mommy Meta terlihat manggut-manggut. "Oh ya.. lalu kamu lagi ngapain itu?" tanya Mommy Meta lagi.


"Ini, Momm.. Nisa lagi bingung.."


"Bingung kenapa?"

__ADS_1


"Rei mau mengajak Nisa makan malam, tapi kayaknya Nisa tidak membawa baju yang sesuai.."


"Ya sudah, beli saja baju yang baru, begitu saja kok repot. Kamu sudah dikasih credit card sama Rei kan?"


"Iya Momm, tapi Nisa bingung harus membeli baju yang seperti apa.."


"Tidak usah bingung, pergi saja ke toko pakaian atau butik yang bagus nanti sesampainya disana kamu hubungi Mommy pake video call biar Mommy bantu pilihkan gaun yang tepat.. yang bagus.. yang sexy.."


"Kok sexy sih, Momm? Nisa risih ah kalau pakai yang sexy.." kilah Nisa dengan wajah yang langsung bersemu merah.


Mendapati pemandangan itu yang ada Mommy Meta malah tertawa.


"Nisa, kamu itu harus lebih agresif." ujar Mommy Meta kemudian sambil tersenyum-senyum penuh makna.


"Agresif?" wajah Nisa semakin merona saat mengulang sepatah kata itu. Kepalanya pun menggeleng malu. "Nisa malu, Momm.."


"Egh..?" mendapati itu Mommy Meta terlihat mendekatkan wajahnya seolah ingin memastikan sesuatu. "Nisa.." panggil Mommy Meta kemudian, kali ini dengan ekspresi wajah yang lebih serius.


"Iya, Momm..?"


"Jujur sama Mommy yah.."


"Ada apa, Momm?" mau tak mau alis Nisa ikut mengerinyit mendapati wajah serius Mommy meta yang ada diseberang sana.


Nisa merasa dirinya tidak perlu lagi menanyakan 'melakukan apa' karena bahkan dirinya terlalu paham dengan apa maksud yang terkandung dalam ucapan Mommy Meta.


Nisa terdiam cukup lama, hatinya dipenuhi kesedihan karena belum bisa menyenangkan hati kedua orangtua Rei terlebih Mommy Meta yang begitu ingin mendapatkan cucu.


Lagian bagaimana mau melakukannya, mereka berdua bahkan tidak pernah begitu intim, selain jika Rei yang suka menggodanya dengan sengaja memeluknya beberapa kali, untuk membuatnya malu setengah mati. Tapi begitu mereka bicara serius, Rei malah selalu mewanti-wanti Nisa untuk tidak jatuh cinta padanya.


"Duhh.. bagaimana sih, sudah tidur seranjang dua minggu masa belum juga dibikin cucu Mommy sama Daddy..?"


Nisa terhenyak mendengar celetukan Mommy Meta. Kesenduan yang memeluk dirinya sesaat kini berganti dengan rasa malu yang teramat sangat.


"Mommy ih.." protes NIsa.


Rasanya Nisa ingin terjun bebas dari lantai tujuh tempat dimana dirinya dan Rei menginap, mendengar kalimat Meta.


"Nisa, Mommy serius, sekarang ini justru kesempatanmu untuk mengejar cinta Rei, karena setelah semua yang terjadi, Rei pasti tidak mungkin berharap kepada Liliyana lagi.."


Nisa termanggu mendengar kalimat Mommy Meta. Dalam hati dirinya membenarkan juga, tapi apa daya ia terlalu malu dan takut dengan penolakan Rei.

__ADS_1


"Tidak usah mengkhawatirkan jika Rei akan menolakmu. Percaya sama Mommy.." ujar Mommy Meta lagi kali ini dengan nada super yakin tapi sedikit perlahan, layaknya orang yang sedang berbisik.


"M-maksud Mommy apa..?"


"Sssstt.. Mommy akan mengatakan rahasianya kepadamu," suara Mommy Meta terdengar semakin berbisik.


"Rahasia..?"


"Iya, Rahasia.." suara diseberang sana terdengar semakin dipenuhi keyakinan. "Dengar baik-baik yah, Nisa, Mommy bisa menjamin bahwa jika kau mengkhawatirkan Rei akan menolakmu maka itu tidak mungkin terjadi.."


"Tapi, Momm.."


"Mommy tau betul seperti apa Daddynya Rei.. jadi sudah pasti kan.. buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya.."


Nisa menelan ludahnya. Mendengar perkataan Mommy Meta saja ia tidak berani menyimpulkan apa maksud yang sebenarnya, ditambah lagi sekarang Mommy Meta menggunakan majas perumpamaan.


"Aduh Nisa.. kenapa belum mengerti juga sih..?" Suara yang sejak tadi berbisik-bisik kini terdengar memekik gemas.


"Bukan begitu, Momm.. tapi.. tapi.."


"Tidak ada tapi-tapian. Malam ini kamu harus bisa menggoda Rei. Sudah. Itu saja intinya."


"Ya ampun Mommy.. tapi bagaimana mungkin Nisa bisa melakukannya? Nisa tidak pernah menggoda pria.."


"Gunakan instingmu sebagai wanita. Kamu mencintai Rei kan..? lakukan saja yang ingin hatimu lakukan. Jika kamu ingin selalu dekat dengannya, yah dekati. Jika kamu ingin bermanja dengannya.. yah bermanja saja.. ingin mencium.. yah cium saja dia.."


Otak Nisa semakin pening mendengar nasehat yang agak bar-bar dari ibu mertuanya sendiri. "Tapi, Momm.."


"Tidak ada tapi-tapian. Ingat Nisa, kamu istri Rei yang sah. Hal itu sudah menjadi salah satu kewajbanmu juga. Tidak berdosa sama sekali menggoda suami sendiri.. malah sebaliknya, yang ada itu akan menjadi ladang pahala buatmu.." iming-iming Mommy Meta terdengar begitu tepat mengusik sanubari Nisa.


Nisa termenung lama sebelum akhirnya menjawabnya meskipun dengan hati yang masih diliputi keraguan. "Baiklah.. Momm.. Nisa akan mencobanya.."


.


.


.


Bersambung..


Support dong beb.. Pop novel ini merangkak.. 😭

__ADS_1


Thx and Lophyuu all.. 😘


__ADS_2